
[Season 2]
Sedangkan ditempat aslinya, teman-temannya yang lain sedang kewalahan dengan orang-orang yang terus mengganggu mereka itu. Sementara ular besar yang menjaga tempat ini sedang bergerak mendekati Yuki.
" Minggir kalian!!. " ucap Meliyana dengan kesal sekali.
" Halangi mereka. Jangan biarkan mereka pergi!. " ucap salah satu dari orang-orang itu pula, sementara sisanya yang lain juga sedang mengejar ular itu untuk menanti kesempatan.
" Arkan, pergi kearah Yuki!. " ucap Oscar tiba-tiba.
" Apa?? " sahut Arkan.
" Pergi sana! Masih banyak tanya lagi!!. " ucap Niu yang kemudian menendang punggungnya karena kesal.
" Adaw. Oke, oke. Jangan marah. " ucap Arkan menimpali, dia pasrah karena takut dengan tatapan tajam Meliyana dan Niu.
Keduanya benar-benar kehilangan kesabaran karena orang-orang yang menghalangi itu, lebih baik bagi Arkan cepat pergi sebelum dia dilempar oleh mereka berdua. Lagipula ular raksasa itu sudah semakin dekat dengan Yuki.
Namun belum juga dia sampai ditempat Yuki, Balin tiba-tiba muncul dan menghalangi Arkan.
" Kau pikir aku akan membiarkanmu?? " ucap Balin yang kelihatannya benar-benar sangat tidak suka dengan Arkan.
" Akh! Aku tidak punya waktu!. Menyingkirlah dari jalanku, Balin!. " ucap Arkan menimpali.
Kedua orang itu malah bertengkar satu sama lain, dua saudara yang tidak pernah akur barang satu detik saja. Jika saja keduanya tidak pernah saling berselisih paham sebelumnya.
" Ini gawat, Arkan benar-benar tidak bisa membantu Yuki. " ucap Meliyana sambil menatap dengan kesal kepada para pengganggu yang menghalangi mereka.
" Yue, kau saja yang pergi!. " ucap Oscar pula.
" Baiklah. Sebaliknya kalian cepat singkirkan orang-orang itu juga. " sahut Yue yang kemudian lengsung pergi kearah Yuki.
Disaat yang sama, ular raksasa itu sudah mendekati Yuki. Dia bergerak mengelilingi altar itu untuk mencapai puncak, dan ketika sudah sampai diatas... ular itu mendesis keras kepada Yuki yang tidak bisa bergerak ditempat nya.
" Gawat! Tidak sempat!. " Yue tidak bisa mencapainya sebelum serangan datang.
Tapi ketika ular itu membuka mulutnya dengan lebar hendak memakannya, dia mendapatkan serangan lain yang membuatnya jatuh dari altar itu. Membuat semua orang terkejut.
" Kalian melupakanku ya. " ucap Ethan yang telah menyerang ular itu, kemudian dia pun melirik Yuki dibelakang nya.
" Untung saja tekanan itu hilang ketika Yuki menyentuh buah itu, kalau aku terlambat ular itu pasti akan memakan nya bersama buah itu. Meskipun begitu... Aku khawatir dengan keadaan Yuki. Jika dia tidak berhasil melewati ujian itu... kesadarannya benar-benar akan menghilang sepenuh nya. " ucap batinnya pula.
Ethan pun kembali fokus kepada apa yang ada didepan nya, dia mengulurkan tangannya kearah ular besar itu dan mengikatnya agar tidak bisa membuat masalah lagi. Disaat yang sama Yue pun turun didekatnya.
" Kenapa kau tidak membunuhnya?? " tanya Yue kepada Ethan, dia merasa heran tentang alasan kenapa dia tidak langsung membunuh ular itu dalam sekali serang.
" Lihatlah apa yang ada diatas kepala ular itu. " ucap Ethan kepada Yue.
Mendengar itu, Yue pun langsung memfokuskan perhatiannya kepada kepala si ular, ada sebuah tanda disana. Dan ketika Yue tahu itu dia sangat terkejut. Tanda itu sama dengan tanda yang ada dilantai Altar yang saat ini mereka pijak.
Tanpa harus ditanya lagi, Ethan langsung membenarkan apa yang dipikirkan Yue saat ini. " Benar. Jika kita membunuh ular itu sekarang, tanda itu akan aktif. Buah itu akan menghilang, dan nyawa dari orang yang memegangnya juga akan diambil. " jelasnya.
" Jebakan yang sangat merepotkan. " ucap Yue kemudian.
" Yah, kau benar. Sekarang kita hanya perlu percaya kepada Yuki. Semoga saja dia bisa cepat menyelesaikan ujiannya. "
*****
Disaat yang sama, ketika Yuki melihat Quennevia dimasa lalu yang dipanggil 'mama' oleh anak kecil itu terus mengikuti mereka dan melihat apa saja yang terjadi dimasa lalu. Tidak ada kejadian yang berarti, semua nya baik-baik saja, bahkan bisa di bilang kehidupan mereka sangat bahagia sebagai ibu dan anak... Sampai-...
" Tidak!! Anakku!! "
Anak itu mati, semua yang ia sayangi dibantai dengan kejam. Dan orang yang melakukan nya... adalah orang-orang yang paling di percaya oleh Quennevia...
" Anak itu tidak bisa mengendalikan kekuatan nya, dia akan berubah menjadi monster! Ini adalah keputusan terbaik. "
Yuki mengetahui nya meski tidak melihat apapun lagi, situasi dimana sebab dan akibat instan karena kecerobohan dan keserakahan manusia kepada sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan.
...'Itu adalah, awal dari kehancuran. Tragedi memilukan yang diawali oleh kesalahan para manusia sendiri'...
Setelah melihat semua itu, Yuki pun kembali ke masa sekarang. Semua nya jadi sangat jelas, dan semua pertanyaan Yuki pun telah terjawab semua. Sementara itu, Ryohan yang berdiri di belakangnya pun hanya menatapnya yang diam saja itu dengan seksama, kemudian dia pun bertanya pada Yuki.
" Bagaimana menurutmu setelah melihat semua itu?? Apa kau takut padanya?? Atau mungkin membencinya?? Mungkin kau kasihan padanya. " tanyanya.
" Ya, aku kasihan padanya. Hidup terus menerus dalam lingkaran reinkainasi dengan semua ingatan yang menumpuk dalam dirinya, kepedihan masa lalu pun akan terus terasa setiap kali ingatan itu datang. Bukan hanya itu, kemalangannya terus berulang lagi dan lagi. Dia perempuan paling malang didunia. " jawab Yuki.
" Apa yang akan kau lakukan?? Menghidupkan nya kembali?? Bukankah lebih baik seperti sekarang? Dia akan terus hidup disisi kalian, dan tidak akan menderita lagi, karena semua ingatan nya terkunci. Dia juga tidak akan terluka lagi. Untuk masalah wanita pembawa bencana... bukankah sudah cukup dengan adanya Ethan? Dia bisa menyelesaikan nya meskipun tanpa Quennevia. "
Yuki terdiam. Kata-katanya tidak salah, Yigrette pernah berkata kalau mereka terlembat memberikan tubuh baru kepada Quennevia maka dia akan menghilang. Tapi dia tidak berkata kalau dia akan mati. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi itu artinya Quennevia akan tetap ada didunia meskipun tanpa tubuh fisik.
" Kau benar... Tapi maafkanlah keserakahan ku ini, aku ingin dia hidup kembali agar dia bisa meneluk ku seperti sebelumnya. Meskipun itu sangat merepotkan, tapi nyatanya aku menyukai nya. Aku juga tahu kau bukan Ryohan, cara bicara dan auramu berbeda. Jadi biar kutebak kau adalah 'Penguji' kan?? "
Pernyataan Yuki itu membuat orang yang ia pandang dihadapan nya terdiam, sementara Yuki dengan percaya dirinya tersenyum dan kembali berkata..
" 'Melewati ujian cinta dan kebencian, jiwa yang murni akan membawamu kepada ketenangan'. Itu artinya setiap orang yang ingin mengambil benda berharga harus melewati ujian dulu kan?? Apa aku benar?? " tanyanya.
Pria yang berdiri dihadapan nya pun kemudian tersenyum dan membalasnya, " Benar. Rupanya kau memang gadis paling kuat diantara yang lain nya ya, keteguhan hatimu benar-benar patut diikuti. Baiklah, kau menang. Aku akan memberikan buah itu padamu, aku juga akan memberikan hadiah spesial untukmu. " ucapnya kepada Yuki.
" Terima kasih banyak kalau begitu. " dan Yuki menerima itu dengan senang hati.
Krakk...
Dunia ilusi yang mengurung kesadaran Yuki pun mulai retak dan hancur, dengan begini Yuki pun juga bisa kembali bersama teman-temannya yang lain.
" Oh, dan satu hal terakhir... " ucap orang itu sebelum Yuki pergi dari sana, " Bagaimana kau bisa seyakin itu kalau Quennevia tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan? " tanyanya.
" Tentu saja karena Quennevia tidak sebodoh itu, dan... Karena aku adalah temannya. " ucapnya dengan pasti.
Prangg...
Setelah itu semua nya kembali ke semula...
***
Disisi lain, ketika Ethan dan yang lain nya sedang berusaha keras mempertahankan keadaan. Reruntuhan itu lagi-lagi bergetar...
" A-Apa lagi sekarang?? " ucap Carel yang kebingungan, begitu pula dengan yang lain.
Sampai kemudian perhatian semua orang teralihkan kepada cahaya putih yang berasal dari Altar membumbung tinggi ke langit. Bahkan ular raksasa itu juga mulai berhenti memberontak dan perlahan menghilang dengan sendirinya. Ethan dan Yue yang ada disana juga langsung menoleh ke belakang mereka ketika merasakan nya. Sebuah energi besar terasa mengalir kesana.
Dan Yuki yang ada ditengah-tengah cahaya itu. Tubuhnya terangkat keudara, dan kekuatannya yang langsung meningkat drastis disaat yang sama.
" Apakah Yuki sedang naik tingkat?? Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Enam.. " ucap Meliyana yang sekalian menghitungnya.
" Bagaimana bisa... dia naik tingkat sebanyak itu sekaligus?! " Balin yang melihat itu tidak bisa mempercayai hal yang terjadi didepan matanya, dan bertanya-tanya dengan kejadian itu.
Sedangkan Arkan dan yang lain langsung pergi ke Altar, ketika semua orang hanya terfokus kepada cahaya itu.
Dan ketika cahaya nya menghilang, Yuki pun kembali turun dan membuka mata nya. Ia sudah duga kalau akan disambut dengan wajah tercengang semua nya, tapi kemudian dia mengangkat tangannya yang memegang buah itu dan berkata...
" Aku mendapatkan nya, ayo pergi sebelumnya semua nya tambah kacau. " ucapnya dengan santai sekali.
Mendengar itu membuat Ethan tersadar dari lamunannya, " Oh... kau benar. Zico!. " sahut Ethan.
Mendengar panggilan itu, Zico pun segera muncul dan membesar. Ethan dan yang lain nya pun langsung naik ke punggungnya, agar Zico bisa terbang keatas ketika dirinya membuka portal ruang untuk segara pergi dari reruntuhan itu dan menghindari penyerangan dari orang-orang yang ada disana.
" Arkan, kau tidak bisa lari selamanya!!. " teriak Balin kepada adik nya itu.
" Sudah kubilang bukan aku yang membunuh kakek!! Berpikirlah logis Balin, jangan kekanakan!! " teriak balik Arkan dan dia pun langsung menghilang dari sana bersama yang lain nya.