
Disisi lain Quennevia, dia saat ini ada di sebuah kamar di tempat klan Retia itu, Lorenzo membawa nya kesana setelah penyatuan jiwa itu selesai. Quennevia membuka matanya perlahan-lahan, matanya sibuk menelisik dimana dirinya sekarang. Dan kemudian ia pun bangun dari tidur nya untuk duduk di kasur tempatnya berada itu, ia mengingat kejadian sebelum dirinya ada disana saat ini.
Ketika ia sudah mengingat hal itu, Quennevia pun turun dari kasur itu, membiarkan gaun yang dipakaikan kepada nya menyapu lantai tempatnya berpijak. Quennevia berjalan menuju pintu keluar, dan ia pun keluar dari kamar itu tanpa mengatakan satu kata pun sebelum nya, dan berjalan menyusuri tempat itu seorang diri.
Banyak dari anggota klan Retia yang berada di sana melirik kearahnya ketika ia lewat, namun Quennevia sama sekali tidak mempedulikan meraka. Jangankan bicara, bahkan menatap mereka saja tidak ia lakukan. Sampai Quennevia berjalan kearah pintu besar di depan nya saat ini.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya seolah mematuhi keinginan Quennevia sebelum ia mengatakan nya, dengan mata nya yang tetap fokus menatap ke depan dengan wajah tanpa ragu, ia pun masuk ke dalam sana. Dan didalam ruangan itu, ada Lorenzo dan Seretia yang seperti nya tengah membahas tentang kekuatan tempur klan Retia.
" Wah, kau sudah bangun. Apa sudah merasa lebih baik??. " tanya Seretia sambil tersenyum dengan santainya.
" Haruskah aku berterima kasih karena sudah menyingkirkan Nevia dan Sirius, padahal aku tidak berniat lahir kedunia yang keji ini. " jawab Quennevia datar.
Ya, seperti yang kalian pikirkan. Dia adalah jiwa Quennevia yang sesungguhnya, meskipun begitu.. diawal kebangkitan nya itu, ia masih belum bisa benar-benar mengendalikan diri dan membedakan perasaan antara dirinya sendiri, Nevia dan Sirius. Jadi terkadang mungkin ia akan bicara seolah-olah dia itu Nevia atau Sirius.
" Jangan bicara jahat seperti itu dong, padahal keduanya ingin kau lahir kedunia ini. Makanya mereka menggabungkan jiwa mereka. " sahut Seretia.
" Jelas sekali Nevia berubah pikiran, dia berencana membangkitkan kembali Sirius. " ucap Quennevia pula.
Ia menatap Seretia yang tepat ada didepannya itu dengan tajam, sesaat kemudian muncul kumpulan pedang yang berputar melingkari Quennevia. Seretia maupun Lorenzo sama sekali tidak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Quennevia.
" Sekarang.. bagaimana jika ku jadikan kepalamu itu sebagai hadiah untuk pengorbanan mereka, ya. " ucap Quennevia.
Quennevia hanya mengangkat tangannya, dan pedang-pedang itu langsung bergerak menyerbu Seretia. Tapi bukan Seretia namanya jika dia tidak bisa menahan serangan itu, ia memasang pelindung disekitarnya untuk menahan semua pedang yang terus menerus muncul entah dari mana dan menyerang nya itu.
" Ya ampun, kau agresif sekali ya, Quennevia. " ucap Seretia yang sama sekali tidak bergerak dari tempat nya.
" Makhluk seperti mu... tidak layak berkomentar tentang diriku. " sahut Quennevia.
Quennevia pun memanggil pedang matahari dan bulan miliknya, sebelumnya pedang itu hilang jatuh ke jurang ketika Lorenzo menangkap nya. Namun apapun yang terjadi dan dimana pun pedang itu berada, Quennevia bisa memanggil nya kapanpun ia mau.
Quennevia pun langsung melompat kearahnya dan mengarahkan pedangnya itu kepada Seretia, membuat pelindung yang ia buat juga hancur karena pedang itu, dan harus Seretia menghindari setiap serangan dari pedang itu dengan lebih waspada.
Karena pedang matahari dan bulan milik Quennevia itu, memang dibuat khusus untuk membunuhnya juga orang-orang seperti nya di luar sana. Makanya pedang itu sangat berbahaya bagi Seretia, apalagi jika Quennevia memakai nya dengan kekuatan penuh itu.
" Quennevia hentikan!. " ucap Lorenzo.
" Urus saja urusan mu!. " sahut Quennevia.
" Ya ampun, kalian seperti pasangan serasi yang sedang bertengkar. " ucap Seretia pula di tengah serangan yang terus dilancarkan oleh Quennevia itu. Hal itu membuat Quennevia jadi kesal.
Trangg....
" Berisik!!. " ucap Quennevia ketika senjatanya dengan senjata Seretia beradu.
Klangg...
Sementara itu Lorenzo yang hanya melihat mereka saling serang itu tengah memikirkan sesuatu untuk membuat Quennevia ada di pihak mereka. Meskipun hal itu mungkin tidak berhasil, tapi kayak dicoba, dan kebetulan sekali ada satu hal yang ingin dicoba nya. Jika saja berhasil maka keuntungan nya akan sangat bagus, tapi jika gagal maka seperti nya Quennevia memang tidak akan pernah ada dipihak mereka.
" Hei, Quennevia. Apa kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi kepada nya... kepada Kirito??. " tanya Lorenzo.
Quennevia yang mendengar nama itu pun langsung menoleh ke arah Lorenzo dengan tatapan nyalang, ia menggerakkan tangannya kearah Lorenzo. Dan dari bawahnya seketika muncul es-es runcing yang menahan Lorenzo ditempatnya, sekaligus hampir mengoyak lehernya.
" Jangan sebut nama itu dengan mulut busuk mu itu!!. " ucap Quennevia, suara nya terdengar sangat dingin.
" Sudah kuduga, meskipun kau bukan lagi Nevia tapi perasaan mu padanya masih tetap nyata bukan. Itu karena Nevia tidak menghilang, tapi dia bergabung dengan jiwa Sirius. Meski kesadaran mu bukan miliknya, namun perasaan nya masih jadi bagian dari dirimu. " ucap Lorenzo dengan santainya, sambil menyunggingkan sebuah seringai diwajahnya.
Disisi lain Seretia hanya memandangi mereka berdua dengan raut wajah agak bingung. " Kirito?? Nama siapa itu??. " batin Seretia.
Sementara itu Quennevia terdiam mendengar perkataan Lorenzo, seperti yang dikatakan nya. Dia juga mengingat semua yang terjadi saat ia hidup sebagai Nevia, dan juga merasakan perasaan yang sama dengan nya. Karena itulah ia mengerti kesedihan, kesenangan dan juga kemarahan nya. Lagipula sejak awal dirinya dengan Nevia itu satu orang yang sama, begitu pula dirinya dengan Sirius.
" Hei, apa kau tidak ingin melihat keadaan nya??. " tanya Lorenzo pula membuat Quennevia tersentak, " Aku punya caranya untuk mu bisa menyebrang dimensi, loh. " lanjut nya pula.
Quennevia yang mendengar nya terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lorenzo, namun kemudian ia pun menghilangkan semua es yang mengurung Lorenzo itu. Membuat Lorenzo semakin melebarkan senyuman yang ada diwajahnya itu, sementara Seretia terkesan melihat nya yang bisa membujuk Quennevia.
" Bagaimana aku bisa mempercayai mu??. " ucap Quennevia yang masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Lorenzo.
" Kau tidak bisa mempercayai ku, tapi kau bisa mempercayai ini. " ucap Lorenzo pula, sambil memainkan sesuatu ditangannya.
Quennevia yang melihat nya pun jadi terkejut, " Kau!! Dari mana kau dapatkan inti spirit itu?!!. " ucap Quennevia pula agak marah, sambil mengarahkan pedang nya kepada Lorenzo.
" Tenang saja, aku tidak mengambil inti spirit naga kehampaan kecil mu itu. Aku menemukan nya di reruntuhan kuno tempat nya berada, sayang sekali dia malah kabur mendekati paman mu Yulles saat aku ingin menangkapnya. Aku bisa memberikan nya padamu jika kau menginginkan nya setelah ini. " jawab Lorenzo.
Quennevia pun menurunkan pedangnya kembali, ia tengah memikirkan perkataan Lorenzo saat ini. Apakah baik baginya untuk mempercayai perkataan Lorenzo saat ini, jika memang gerbang dimensi nya masih terbuka tidak akan ada masalah jika inti spirit itu benar-benar bisa mengirim nya kembali.
" Baiklah, coba lakukan. " ucap Quennevia.
" Kau pasti tidak akan kecewa saat melihat kota kesayangan mu lagi. " sahut Lorenzo dengan sangat percaya diri.
Lorenzo pun menggunakan kekuatan dari inti spirit itu dan juga ingatan nya tentang dunia ia dan Nevia berasal sebelum nya, dan membuka portal dimensi untuk pergi ke sana. Quennevia masuk lebih dulu ke dalam portal itu sebelum Lorenzo, disisi lain Lorenzo sebelumnya mengatakan kalau itu akan baik-baik saja kepada Seretia.
Dan Seretia pun hanya mengiyakan nya saja, dia sedang dengar rencana Lorenzo tentang membangkitkan keputusan Quennevia di dunia itu, jika saja tebakan nya benar maka hal itu akan benar-benar terjadi. Itulah yang diharapkan oleh Seretia dan Lorenzo, ketika Quennevia terjebak dalam keputusan dan kepedihan nya, maka mereka bisa menariknya ke dalam kegelapan dengan lebih mudah.
Quennevia yang sudah masuk ke dalam portal dimensi itu mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang seperti lorong panjang, dan di depan sana tak jauh lagi darinya ia melihat jalan keluar dari lorong dimensi itu.
Wusshh....
Ketika ia melewati pintu keluar itu, Quennevia langsung disambut dengan angin dingin yang membuat tubuhnya menggigil di tempat itu. Matanya langsung membulat ketika melihat dimana dirinya berada sekarang.