Quennevia

Quennevia
Rantai dan Belenggu



Clak...


Gelap...


Sriiinkk..


Segera setelah memasuki pintu yang ditunjukan oleh Nevia sebelumnya, Ethan sekarang ada disebuah tempat yang sangat gelap. Ia terkadang mendengar suara tetesan air, ia juga mendengar suara sebuah rantai. Tapi semua yang ada disana hanyalah kegelapan dan keheningan. Semuanya kosong...


Begitu pula dengan pikirannya.


Clak..


Ethan sedikit terperanjat karena itu, dan akhirnya ia tersadar. Ia pun mengusap tangkuknya yang terasa dingin seolah ditetesi air, tapi tidak ada apapun yang jatuh ditempatnya.


" Ayah..??"


Felice juga tidak menjawabnya ketika ia memanggilnya. Pedang yang ia bawa tidak ada, dan ia tidak bisa memanggil mereka.


Sekarang Ethan benar-benar sendirian, itulah yang ia rasakan. Hubungannya dengan ayahnya telah diputuskan, tidak ada apapun selain dirinya sekarang. Ini adalah... Ruang isolasi tempat dimana kesadaran Quennevia terkurung.


Ethan tidak berpikir lebih panjang, ia pun langsung melangkahkan kakinya ditempat itu. Setiap langkah yang diiringi oleh suara pijakan air, semakin dalam ia masuk sesuatu mulai turun ditempat itu. Helaian bulu putih yang jatuh dan berserakan ditempat itu, menjadi satu-satunya warna lain yang ada disana.


Criikk..


Suara itu muncul kembali, dan Ethan dapat mendengar tangisan seseorang ditempat itu. Ia pun menolehkan kepalanya melihat apa itu.


Yang ia lihat adalah seorang wanita yang menangisi putrinya yang mati dipangkuannya...


" Hiks.. Maafkan aku... kumohon.. jangan ambil dia dariku.. kumohon.."


Wanita itu menangis dan terus menangis, tapi mau bagaimana pun dia menangisinya, dia tidak bisa membuat putrinya membuka matanya kembali.


Ethan hanya menatapnya dari jauh, karena dia tidak bisa melakukan apapun. Itu adalah memori yang sudah berlalu. Lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya maju, meninggalkan bayangan masalalu dibelakangnya.


Tapi bayangan lain muncul dihadapannya, sama seperti sebelumnya. Kali ini... Quennevia datang menemui Hades dan Euclide di 5 kehidupan terdahulunya dari sekarang...


[Bertahanlah Quennevia, kami akan mengusahakan apapun untuk menghentikan semuanya.]


[Kami sedang mencari kunci terakhir yang bisa membebaskanmu dari takdir ini.]


Keduanya selalu melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan, tapi Quennevia juga sudah lelah...


" Aku selalu memikirkan hal itu setiap waktu, aku berpikir apakah 100.000 tahun itu belum cukup?! Aku sudah melewati hidup dalam lingkaran kehidupan dan kematian, dan terus bereinkarnasi tanpa henti dalam kemalangan. Bahkan saat mati pun aku harus mendapatkan penghinaan dan rasa sakit! Apakah itu tidak cukup?!."


[Itu diluar kehendak kami.]


" Tapi bukan aku yang menyalahi aturan, bukan pula dia! Apakah menurut kalian pantas jika kami yang mendapatkan hukuman!."


[ .... ]


Amarah dan ketidakpuasan nya itu hal yang wajar setelah semua ini...


Tapi kedua saudaranya tidak bisa membalas perkataannya dengan pasti karena mereka juga tidak tahu.


" Namun sekeras apapun aku berpikir, tidak ada siapapun yang akan mendengarnya. Tidak akan ada yang mampu menjawab pertanyaan itu. Meski aku bisa mengatur takdir semua ciptaanku, tapi aku tidak bisa mengatur takdir ku sendiri."


Dan hal yang selalu muncul diakhirnya adalah keputusasaan karena telah kehilangan begitu banyak...


Ethan kembali melewati itu, tepat diantara mereka dan melangkah maju lebih jauh. Dan semua itu terus berlanjut, perwujudan memori terus muncul dihadapannya. Seolah menunjukan, 'seperti inilah hidupku', kepadanya.


Apakah ini perbuatan Quennevia sendiri?? Tidak.


Keputusasaan Quennevia lah yang menciptakan tempat ini, dan memenjarakan kesadaran asli didalamnya adalah apa yang dilakukan Seraphine kepadanya. Semuanya berlanjut setiap kali ia melangkah, suara teriakan dan isakan terus bergema. Semua penderitaannya dikumpulkan di tempat yang sama.


Tiba-tiba Ethan mengingat apa yang dikatakan oleh Arabel sebelumnya, 'Ibu menolak permintaan kalian untuk bangun. Beliau bilang, dia akan melihat perkembangan nya dari luar batas ruang dan waktu'. Itulah yang dia katakan.


Sekarang Ethan memikirkan itu, tidak ada yang salah sebenarnya dengan keinginan itu, kecuali tahtanya yang akan tetap kosong. Jiwanya juga tidak akan menghilang, karena dia terikat dengan dunia ini dan terus menyongsongnya agar tetap berjalan sesuai takdir yang telah kehendaki. Quennevia akan terus hidup dicelah waktu. Ethan bisa memahami rasa sakit hatinya setelah selama ini, tapi...


" Kau tahu aku akan tetap mendukungmu apapun pilihanmu, tapi aku yakin kau juga tahu kalau itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau adalah dirimu, dan dunia ini adalah milikmu."


Ethan tidak bisa menyangkal keberadaannya, karena dialah yang harus kembali. Karena itu Ethan tidak bisa membiarkannya tetap disini.


Ethan menghentikan langkahnya kemudian. Ia menatap seorang perempuan yang berdiri dihadapannya, mereka saling menatap satu sama lain. Potongan kesadaran lain.


Quennevia memiliki rambut abu-abu panjang melewati tubuhnya yang dibalut gaun ungu, hingga menyentuh lantai tempatnya berdiri, matanya merah diantara poni yang membingkai dikedua sisi wajahnya, tanpa cahaya sedikitpun. Dan dia tidak memiliki satupun ekspresi, bagaikan patung tanpa emosi.


Ketika melihatnya, dahi Ethan pun berkerut, dan ia menatapnya dengan sedih. Sesuatu menyakitinya, ia tidak berpikir kalau itu adalah sosok yang ingin dia lihat darinya.


Yang ingin ia lihat... Adalah senyumannya.


" .... Quennevia."


****


Sementara itu diluar dimensi tak dikenal...


Oscar dan yang lainnya sedang dilanda kebingungan saat ini.


" Kenapa gambarnya hilang?? Apa yang terjadi didalam?"


" Ethan baik-baik saja, kan? Dia masuk ke pintu itu... Dia tidak dalam bahaya kan?"


" Hei, Nyonya Mariana, Ethan tidak apa-apa, kan?? Hei.."


Antara Meliyana dan Niu yang langsung mengerumuni Mariana dan bertanya kepadanya dengan ekspresi gelisah, sementara yang lainnya hanya diam bingung ditempat mereka berdiri. Mariana tampaknya sangat menikmati pemandangan itu..


" Lucunya..."


Mereka semua terlihat seperti anak kecil yang merengek untuk sebuah permen, sementara sisanya penasaran dengan permen itu.


" Hehe.. Hehehe..."


[Ekhem..]


Sampai kemudian Arabel membuat suara batuk yang cukup keras, membuat Mariana tersadar. Dan ketika ia menoleh kearahnya, Arabel telah menyambutnya dengan ekspresi mencela diwajahnya, mengetahui bagaimana pikiran temannya ini berjalan. Sementara Mariana hanya mengerucutkan bibirnya sebagai jawaban 'Kau tidak asik', kepada Arabel yang menghentikan kesenangannya.


Lalu Mariana pun kembali kepada Niu dan Meliyana dan kembali tersenyum, " Tidak apa. Jangan khawatir, Ethan hanya masuk ke tempat yang lebih dalam. Sebuah tempat yang tidak bisa direfleksikan oleh kekuatan yang aku taruh di pedangnya." jelasnya sambil mengusap kepala Meliyana yang terlihat seperti akan menangis.


Oscar dan yang lainnya menghela nafas lega mengetahui hal itu, tentu saja mereka belum bisa sepenuhnya lega karena semua ini belum selesai. Tapi setidaknya mengetahui Ethan baik-baik saja adalah hal yang tidak kalah penting.


[Lebih daripada itu, kurasa kalian harus lebih khawatir dengan hal yang ada disini.] ucap Arabel tiba-tiba, membuat mereka bertanya-tanya.


" Maksudnya apa??" Arkan pun menimpalinya dengan bingung.


[Rantai hukumannya.... Rantai itu harus dilepas.] jawab Arabel kemudian.


" Tapi bagaimana caranya?? Apakah kita hanya harus memotongnya sama seperti merusaknya??" tanya Oscar pula yang juga tidak mengerti dengan maksudnya.


" Apa tidak bisa menggunakan kekuatan para dewa sekarang??" Yuki pun menanyakan pendapatnya.


Tapi itu langsung dibantah oleh Niu, " Tidak. Jika kita menyerahkan lagi tugas ini kepada para dewa, mereka bisa terbebani. Saat ini saja mereka terus berusaha menahan dan menyeimbangkan kondisi."


" Jadi harus bagaimana??"


Mereka semua berdiskusi bersama untuk memikirkan penyelesaian masalah ini, tentu saja itu harus lah cepat dan tidak mengganggu proses pembangkitan saat ini. Terlebih Ethan masih didalam, mereka tidak ingin mengambil resiko.


" Apa kakak tidak bisa memotongnya?? Meski dengan kedua pedang ditangannya, itu masih belum cukup? Jika saja kakak punya senjata yang lebih sesuai... Hah? " Sakura tiba-tiba berhenti, ia menyadari sesuatu dari pengetahuan yang ia dapatkan. " Tunggu sebentar. Bukankah sebelumnya Dewa Hades bilang kakak membelah ke 3 Dunia...? Itu artinya kakak membelah batas dimensi, kan? Menurut pengetahuan Key of Creation, hanya ada 6 senjata yang bisa melakukan itu, 2 ditangan kakak, 2 lagi ada ditangan Dewa Hades dan Dewa Euclide sendiri. 1 yang lain hilang sementara satunya lagi... Tombak yang kakak pakai itu. Tapi kenapa.. Tidak ada satupun yang menggunakan senjata mereka..??."


Itu mengganggu Sakura, dia tahu semua orang sibuk dengan peran mereka masing-masing, tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjelaskan cara atau hal yang terjadi saat ini. Mereka justru lebih banyak diam dan fokus.


Dan yang lebih menganggunya, adalah setelah Ethan yang masuk ke dalam sana. Ia juga ingin bertanya soal pendapat Oscar dan yang lainnya tentang ini, tapi ia lihat seperti nya mereka juga bingung dengan bahasan mereka sendiri, jadi ia ragu apakah tidak masalah ia menambah pertanyaan.


Karena itu dia kembali memikirkannya," Kakak juga.. padahal dua senjata terkuat itu ada ditangannya, tapi kenapa dia tidak memotong rantai hukuman?? Tidak, jika itu kak Ethan, dia mungkin mempertimbangkan itu akan merusak tubuh kak Quennevia, jadi masuk akal dia tidak menggunakannya. Terlebih... apakah rantai hukuman benar-benar bisa dipotong dari dalam?? Dewa Euclide dan Dewa Hades masing-masing sibuk menekan dampak kekuatan yang terjadi, sekalipun mereka bisa melakukan nya, itu hanya beberapa detik. Jadi apakah kami harus membuka celah?." Sakura mencoba mencari kemungkinan, tapi ia tidak merasa kalau itu juga benar.


Saat kemudian perhatiannya tertuju kepada tombak didepan sana, Tombak Pembelah Langit.


Sakura tidak bisa merasa tidak aneh dengan hal itu, kehadiran tombak itu mengganggu persepsinya.


" Tidak, ada yang salah... Tombak itu juga menggangguku. Karena dia terus berdiri ditempat kakak masuk...!! Tunggu, kenapa kakak meninggalkan tombak itu disini?? Kenapa kakak tidak membawanya? Kemampuan tombak itu juga, dia sebelumnya memotong tubuh kak Quennevia. Jika itu senjata yang lain, pasti setidaknya ada luka yang tertinggal. Disamping itu, reaksi para dewa yang lain juga aneh, ekspresi gelisah yang mereka tunjukan, mereka seperti sedang mencari sesuatu. Kalau begitu jangan-jangan..."


Melihat dan memikirkan semua itu, membuat sesuatu yang sangat gila muncul dalam dugaannya hingga membuatnya tercengang.


Dan itu adalah apa yang tidak mereka sadari dan tanyakan sejak awal...


Karena itu, akhirnya ia pun menanyakan pertanyaan yang datang terlambat itu. " Anu... Aku tahu ini tiba-tiba, tapi... apa kalian bisa melihat dimana 'Rantai Hukuman'-nya??" ucapnya memecah suasana.


Karena itu semua orang terdiam dan langsung mengalihkan perhatian mereka kepadanya, semua orang tampak terkejut. Itu benar-benar pertanyaan yang tak terduga, bahkan Oscar dan yang lainnya juga berpikir seperti itu, dan sekarang mereka sadar mereka tidak tahu dimana rantai hukuman itu berada.


Sementara itu bagi yang lain, itu pertanyaan yang sudah ditunggu-tunggu...


[Pertanyaan bagus.] Euclide lah yang menyambut pertanyaan Sakura dengan baik, [Kau benar, kami tidak bisa melihatnya. Karena itu sejak tadi kami mencarinya.] dan dia pun memberikan jawaban seperti itu.


" Ehh???" Oscar dan yang lainnya sampai ikut tercengang.


" Kenapa tidak ada yang mengatakan itu sejak awal?!! Jika kalian bicara kami bisa ikut membantu!." ucap Arkan agak kesal disana, dia tidak lagi berpikir dengan siapa dia berbicara.


Itu karena mereka membiarkan dia dan teman-temannya diam seperti batu padahal ada pekerjaan penting yang harus dilakukan. Karena itu mereka jadi memasang ekspresi tidak enak, bahkan Mariana yang sebelumnya ceria pun berubah canggung.


Sementara itu, Sakura hanya menghela nafas mendengar jawaban itu. " Sesuai dugaanku. Kalau begitu... alasan kakak meninggalkan tombak itu.. dan jika tombak tersebut dapat memotong apa yang tidak bisa dipotong.. maka tujuan sebenarnya kami disini adalah..." sekarang dia yakin dengan apa yang ia pikirkan.


" Semuanya! Tolong pinjamkan kekuatan kalian padaku. Pergilah kearah masing-masing tangan, kaki dan leher kak Quennevia." ucapnya kepada Oscar dan yang lainnya.


" Eh? Kenapa?." saat kemudian Niu menanyakan itu.


Sakura telah lebih dulu berlari maju meninggalkan mereka dibelakang. " Ada sesuatu yang terlintas dikepalaku."


" Sakura!."


Yang lainnya tidak punya kesempatan untuk bertanya apa maksud dari perkataannya, mereka saling menatap sebentar dan langsung mengejarnya yang sudah lebih dulu pergi. Sementara itu sisanya hanya melihat apa yang akan mereka lakukan..


" Anak-anak, apa kalian menemukan solusi untuk masalah kita??" tanya Misika ketika melihat mereka bergerak.


Mendengar itu, Arkan pun menoleh kearahnya dan berteriak, " Kami tidak tahu, tapi kami akan coba sebisa mungkin menyelesaikannya." ucapnya sambil terus berlari.


Mereka mulai menyebar kearah yang dikatakan oleh Sakura kepada mereka. Dimana Oscar pergi ke sisi kiri kaki Quennevia, dan Arkan ada disisi lainnya. Meliyana dan Niu mengambil alih kedua tangan Quennevia, sementara Yuki.. dia yang memegang pilihan terakhir, lehernya.


Mereka melihat kearah satu sama lain dan saling menganggukan kepala sebagai tanda...


" Semua siap diposisi!." ucap Niu setelah melihat semuanya ada ditempat mereka.


Saat itu, semua perhatian pun tertuju kepada Sakura yang hampir sampai ditempat nya, jantung Quennevia. Tempat dimana tombak yang ditinggalkan Ethan berdiri. Dia mengulurkan tangannya kearah tombak itu, bersamaan dengan mengalirnya kekuatan dalam dirinya, ia pun memegangnya.


Dan ketika itu terjadi, sebuah percikan muncul..


Prttzz... Whomm...


" Hah..!"


" ...!!"


Bersamaan dengan kekuatan yang menyebar dari tombak itu, membuat semua orang terkejut.


'Imaginary Creation' milik Sakura berasimilasi dengan sempurna bersama kekuatan dari tombak itu sendiri. Sesuatu yang tidak akan bisa kau lihat setiap saat....


[Kekuatan nya... bercampur??] bahkan Eclipse juga sampai tak bisa menahan keterkejutannya melihat itu, karena yang paling ia tahu, tombak itu adalah yang paling sulit dikendalikan dari senjata dewa yang lain.


Tapi Hades memiliki asumsinya sendiri, [..Apa karena mereka sama-sama memiliki hubungan dengan 'Imaginary Tree'??] yaitu soal asal kekuatan keduanya.


" Entahlah, tapi kelihatannya tombak itu mengerti dengan jelas apa yang diinginkan Sakura." sampai Yigrette pun menimpalinya.


Kekuatan yang mengalir itu cukup besar, perlahan berubah menjadi sebuah pertikel-pertikel cahaya dan berputar mengelilingi mereka seperti bintang-bintang. Perlahan mereka pun mengubah jalur masing-masing dan berkumpul ditempat Oscar dan yang lainnya, Sakura yang melihat itu sudah menduganya.


Perlahan apa yang tidak bisa mereka semua lihat pun tersibak diantara kegelapan.


" Aku melihatnya! Itu perlahan muncul.." ucap Oscar ketika melihat itu.


" Disini juga!." sahut Meliyana pula menimpali.


" Mereka mengikat Quennevia seperti tahanan." dan Yuki yang melihat itu mengerutkan keningnya benar-benar merasa terganggu.


Itu adalah belenggu yang menahan Quennevia, dan rantai yang saling terhubung satu sama lain yang merupakan wujud dari hukuman.


" Sudah kuduga..." Sakura mengangkat tombak yang saat ini ia pegang ditangannya, dan ia mulai memahami prinsip dari masalah ini. " ...Alasan kenapa tidak ada yang bisa melihatnya adalah karena rantai itu bukan sesuatu yang bisa dihancurkan dengan kekuatan saja. Tapi, tombak ini juga merupakan senjata yang bisa memotong apa yang tidak bisa dipotong. Jadi alasan kakak meninggalkannya disini, adalah memang untuk menghancurkan ikatan ini secara paksa." Sakura mengerti hanya tombak ini yang bisa menghancurkan rantainya.


Tapi ada masalah lain, dia tidak bisa bergerak dari tempatnya, dan ia tidak bisa melepaskan tombak ini atau semua belenggunya akan menghilang lagi. Oscar dan yang lainnya juga tidak bisa memegang tombak ini begitu saja, atau nyawa mereka akan dalam bahaya. Meski begitu ada jeda waktu sebelum kekuatan nya menghilang dan berapa lama dia bisa memastikan Oscar dan yang lainnya memegang senjata ini.


Kalau begitu...


" Semuanya, tolong dengarkan!."


Mereka hanya harus melakukan nya secepat mungkin.


" Waktu yang kita miliki adalah 5 menit sebelum kekuatan ku menghilang! Aku akan mulai mengoper tombak ini dan kalian harus menghancurkan rantainya! Apa kalian mengerti??." Sakura pun mulai memberikan komandonya kepada mereka.


Oscar dan yang lainnya mendengar itu dengan jelas, mengerti dengan rencananya saat ini. Mereka tidak berkata atau menyela, tapi masing-masing dari mereka menyunggingkan senyuman diwajah mereka masing-masing.


" Yah, mau bagaimana lagi jika memang harus seperti itu." Oscar adalah yang pertama buka suara di antara mereka, ia pun mengangkat kepalanya dan melirik Arkan disisi lainnya. " Bukankah kita sudah terbiasa melakukan ini?" ucapnya pula kemudian.


Sementara itu, Niu tertawa mendengar ucapannya. " Heh. Itu terdengar seperti 'tidak ada cara lain, jadi ayo lakukan', dan kita akan mulai menghancurkan apapun. Masalah selalu muncul setiap kali kita datang." dia merasa kalau mereka sebenarnya terlalu sering berada dalam situasi ini.


" Kami terbiasa menantang resiko!." Meliyana tidak mau kalah bersemangat dari mereka.


" Kalau begitu, tidak perlu ragu lagi!!." dan Arkan yang memang selalu seperti itu.


Disisi lain, Yuki yang mendengarkan semua itu hanya menghela nafas bersama senyuman nya. " Ayo, mereka tidak akan berhenti setelah berkata seperti itu." dan ia pun berkata demikian.


Sakura yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya mengerti. " Kalau begitu, bersiaplah." dan ia juga akan memulai rencana ini segera.


Sedangkan disisi lain, para dewa yang melihat antusiasme mereka yang begitu tinggi itu hanya tersenyum. Bahkan dimata mereka, tidak ada yang akan bisa menghentikan tekad mereka ini. Dan itulah yang membuat mereka bangga kepada anak-anak muda ini.


Dan diantara mereka, mungkin Hades dan Euclide lah yang paling senang dengan kenyataan itu.


[..Kita tidak salah memilih mereka sebagai pegangan.] Euclide berkata kepada saudaranya.


Dan Hades yang mendengar itu menutup kedua matanya, ia menganggukan kepalanya. [Kau benar.] dia harus sepakat dengan pendapatnya, karena itulah hal yang ia rasakan juga.


Berbeda dengan keadaan diluar, didalam begitu hening. Ethan masih berhadapan dengan sosok Quennevia yang muncul didepan matanya...


Mereka sepertinya terlibat percakapan yang cukup penting.