
Setelah kepulangan yang disambut dengan begitu meriah itu, semuanya segera kembali seperti sedia kala saat Kepala Akademi membawa Quennevia dan yang lainnya masuk segara sebelum ada sesuatu yang tak terduga terjadi disana.
Dan sekarang mereka semua telah berkumpul diruangan Kepala Akademi dan menerima beberapa kata darinya...
" Aku benar-benar sangat bersyukur karena kalian kembali dengan selamat, kalian pasti telah bekerja keras selama ini."
" Itu bukanlah sesuatu yang besar, Kepala Akademi. Kami hanya melakukan hal yang kami bisa untuk mengembalikan semuanya seperti seharusnya." sahut Ethan menimpalinya.
Tapi Arkan sepertinya agak tidak setuju dengan kata-katanya, " 'Bukan hal besar'?? Apa ingatanmu bermasalah, Ethan? Kau tidak ingat apa yang sudah--"
Bugh..
" ..Urk!."
" Jangan dengarkan dia, dia selalu berkhayal." sayang nya Arkan langsung dibungkam Niu yang memukul perutnya disana.
" O-Oh.. begitukah..?"
Itu harusnya pemandangan yang biasa terjadi, tapi entah bagaimana Kepala Akademi yang melihat kelakuan mereka sama sekali tidak berubah hanya bisa menggelengkan kepala. Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi kepada Arkan disana.
Saat kemudian Oscar pun mencairkan suasana dengan berkata, " Kami justru lebih senang karena melihat semuanya baik-baik saja disini, setidaknya... semua orang yang ada disinilah yang telah berusaha lebih keras menghalangi bencana yang datang saat kami tidak ada untuk membantu." ucapnya.
" Itu benar, senang rasanya bisa kembali ke Akademi." Quennevia juga menambahkan.
Kepala Akademi yang mendengar nya pun jadi semakin gembira, " Haha... Tentu saja, ini adalah sekolah kalian. Kalian harus kembali kemari. Dan tentu saja, aku juga bangga pada anak-anak muda yang telah berhasil menyatukan kekuatan dari semua pihak dan membentuk barisan pejuang tangguh demi melawan kejahatan. Aku yakin mereka dapat diandalkan." ucapnya.
" Tidak diragukan lagi."
" Tentu saja begitu."
Dan Yuki serta Ethan pun mengiyakan hal tersebut dengan yakin, mereka yakin kalau orang-orang juga telah melakukan semua usaha terbaik mereka demi menjaga benua ini.
Disamping itu, ada hal lain dulu yang perlu mereka konfirmasikan dengan orang-orang penting demi menjaga keutuhan internal aliansi ini. Karena selama ini, pasti ada banyak sekali pertanyaan dan saran serta rencana yang perlu dibahas tentang perang yang akan berlangsung didepan mata tak lama lagi.
" Ngomong-ngomong, sepertinya tidak masalah untuk lebih serius. Bagaimana dengan pertemuan dengan para utusan setiap negara nantinya?" tanya Quennevia mengenai hal tersebut.
Kepala Akademi yang mendengar pertanyaan nya pun kemudian menganggukan kepalanya, " Iya, surat soal kembalinya kalian telah dikirim ke setiap pemimpin negara yang ada. Termasuk para pendeta, dan kesatria suci dikuil. Karena wahyu telah turun... tentu saja mereka juga tidak akan diam saja. Mereka akan bergabung dengan sepenuh hati mereka karena begitulah keinginan Dewi Agung." jelasnya secara singkat.
" Ya dan Dewi yang mereka agungkan itu sekarang sedang duduk bersama kami disini, bersama dengan Dewa Matahari yang kalian cari." begitulah pikiran Oscar dan yang lainnya mendengar jawaban Kepala Akademi.
Saat kemudian Ethan menyadari tatapan Meliyana kearahnya, dan ia menaikan sebelah alisnya sebagai kode pertanyaan kepadanya.
Kira-kira begitulah pertanyaan yang diajukan oleh Meliyana kepadanya, tapi Ethan yang melihatnya hanya mengembangkan senyuman yang kemudian berusaha ia tutupi dengan tangannya sendiri dan membuang perhatian nya kearah lain.
kira-kira begitulah arti dari tanggapan Ethan.
Membuat Meliyana jadi memasang ekspresi tidak enak diwajahnya karena mengasihani Kepala Akademi yang tidak tahu apa-apa dan hanya menganggukan kepalanya tanpa sadar.
" Begitu ya, syukurlah." Bahkan Quennevia tidak mengatakan apapun dan lebih fokus menanggapi percakapannya dengan Kepala Akademi.
Pembicaraan mereka menjadi panjang ketika bahasan soal perang dimulai, Kepala Akademi memberi mereka semua informasi yang telah aliansi dapatkan tentang musuh saat ketidakhadiran mereka. Dan semua itu yang juga akan dibahas dirapat yang akan diadakan 2 hari kemudian.
Dan ketika matahari semakin tenggelam, dan bulan naik menggantikannya. Akhirnya mereka dapat beristirahat sejenak sebelum memulai semuanya dengan lebih intens. Mereka berenam keluar dari ruangan Kepala Akademi sekitar jam 7 malam, dan saat itu Sakura sedang menunggu mereka didepan ruangan itu.
" Bagaimana dengan ruangan yang kau dapatkan disini, Sakura??" tanya Quennevia padanya sembari berjalan menuju kearah ruang makan, mereka sengaja menunggu semua orang selesai makan malam lebih dulu untuk menghindari keributan.
" Yeah.. Itu, kamarnya bagus. Tapi.. Kurasa lab nya terlalu berlebihan." ucap Sakura menjawab itu dengan sedikit canggung.
" Maksudmu?"
" Sebenarnya... itu bagus. Tapi kurasa perlu penyesuaian soal tata letak dan masalah debu, lalu soal buku-buku yang berserakan. Dan juga menghindari bahan dan senjata berbahaya yang dapat menghasilkan reaksi ledak yang sama seperti sekotak TNT tergeletak disana begitu saja."
" Oh... Orang bodoh mana yang menaruh bahan peledak di laboratorium??" Quennevia bertanya-tanya karena tak habis pikir dengan hal tersebut..
Saat kemudian Ethan pun menengahinya, " Iyah, tidak ada yang menggunakan laboratorium itu selama hampir setengah abad, jadi kurasa wajar jika tempat itu berdebu dan dijadikan gudang." ucapnya.
Ya itu menjelaskan semuanya...
Tidak heran laboratorium itu berubah menjadi begitu berantakan setelah lama tak dipakai.
Itu akan menjadi pekerjaan ekatra untuk Sakura yang paling membutuhkan laboratorium itu mulai sekarang, karena dia perlu melakukan sedikit penelitian disana.
Dia mungkin mendapatkan pengetahuan soal dunia ini melalui kristal yang ia dapat dari Quennevia, tapi dia masih perlu mempelajari semuanya secara langsung agar dia dapat mengerti dengan sempurna tentang suatu hal. Itulah alasan mengapa laboratorium sangat dibutuhkan olehnya...
Saat kemudian, percakapan mereka teralihkan oleh kata-kata yang dilontarkan oleh Oscar disana.
" Haah... Aku lapar~. Bisakah kita lewati bahasan ini dulu dan segera pergi makan? Entah kenapa aku merasa tidak makan selama satu tahun sejak kita tiba disini." Meski dia tersenyum, ia mengatakan itu dengan ekspresi yang begitu lesu.
Sampai-sampai membuat yang lainnya yang melihat itu menahan tawa karena ekspresi nya yang terlihat lucu.
Lalu, Niu dan Meliyana pun menyahuti perkataannya.
" Hihi.. Kau benar. Aku juga merasa sedikit lapar saat ini."
" Aku juga tidak ingin mandi dengan perut kosong."
Mendengar hal itu dari mereka pun membuat Yuki bisa menebak kesepakatan apa yang akan dibuat. " Kalau begitu, mari pergi ke kantin dan makan sebelum kita beristirahat untuk hari ini."
" Ayo!!"
Sesuai yang ia duga, mereka langsung menyetujui hal tersebut dengan cepat.
Bahkan Meliyana, Arkan dan Oscar lah yang jadi orang paling bersemangat untuk pergi ke ruang makan saat ini.
" Aku penasaran apa yang disiapkan oleh koki di akademi untuk kepulangan kita."
" Aku harap ada steak. Aku sedang ingin makan daging."
" Aku justru berharap bisa mendapatkan sup yang hangat."
" Itu juga akan terasa enak."
Mereka mengobrol dan menebak-nebak makanan apa yang akan mereka temukan hari ini diakademi yang mereka rindukan. Sambil berjalan dengan santai dilorong yang sudah mulai terlihat gelap sejak matahari terbenam.
Selain suara mereka, hanya kesunyian yang ada disana.
Tapi sebenarnya... Ada suara lain juga yang datang dari belakang mereka, derap langkah yang terburu-buru, ketika seseorang berlari dilorong akademi yang sepi bergema. Perlahan semakin dekat.
Dan ketika ia melihat mereka, ia pun mengeluarkan suaranya.
" A... Arkan!."
" Huh??"
Suara itu menghentikan mereka. Membuat mereka yang ada disana pun langsung menoleh dan melihat siapa yang memanggil Arkan itu.
Kecuali Arkan, ketika mendengar suara itu ia seketika terpaku. Bagaimana mungkin dia tidak mengenalinya, itu adalah suara yang selalu berngaung didalam kepalanya, suara yang selalu muncul dalam mimpinya. Bahkan orang itu muncul ketika ia menjalani ujiannya.
" ...Balin??"
Saudaranya yang sudah lama tidak ia temui sejak terakhir kali mereka bertemu di reruntuhan kuno. Balin ada disana, berdiri tak jauh darinya dengan nafas terengah-engah karena berlari dari jauh secepat yang ia bisa sampai ke sana.
Itu pertemuan yang mengejutkan sekaligus membingungkan, pertemuan dari kedua saudara yang sudah lama terpisah dan berseteru. Meski Arkan tahu suatu hari, tak lama dari sekarang dia akan berhadapan dengan Balin, entah bertarung bersama atau justru saling mengarahkan pisau ke leher satu sama lain. Ia tidak menduga kalau pertemuan itu akan terjadi begitu cepat.
Sampai-sampai muncul banyak pertanyaan dalam benaknya yang sulit ia utarakan...
" Kenapa Balin ada disini? Apa yang dia lakukan? Apakah artinya Klan juga mengikutinya??"
Pikirannya sedikit kacau saat ini, karena banyaknya pertanyaan yang tak terjawab.
Sampai saat...
" Arkan, bisakah... Aku meminta waktumu sebentar?" Balin mengajukan pertanyaan itu padanya.
Arkan yang mendengar itu pun berpikir, tentu saja itu bukan masalah, karena dia juga punya sesuatu yang ingin ia katakan padanya. Jika bukan sekarang... Arkan merasa tidak akan ada lagi kesempatan yang tepat untuk melakukan itu.
Tapi sebelum memberikan jawaban, ia menolehkan kepalanya kearah teman-temannya terlebih dahulu. Masing-masing dari mereka tidak terlihat tidak keberatan dengan apapun.
Dan lalu ia pun menatap Ethan diantara mereka.
Arkan lihat Ethan, di mana dia hanya melihat ke arahnya sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya seolah memberitahunya bahwa apa yang dia pikirkan itu benar.
Jadi Arkan pun memutuskan percaya pada apa yang ia lakukan, " .... Baiklah. Kalian bisa duluan saja, teman-teman. Aku akan menyusul nanti." Jawabnya kemudian.
" Baiklah, kami pergi dulu, ya." Sahut Niu menimpalinya.
" Jangan lama-lama ya, atau aku akan memakan bagianmu juga." Sementara Meliyana justru mempermainkannya seperti itu.
" Iya, iya. Cerewet banget, sih." Arkan sampai heran dengan kelakuannya yang itu.
Tapi seperti yang mereka katakan, teman-temannya nya pergi lebih dulu dari sana. Meninggalkan Balin dan Arkan berdua saja saat ini.
Mereka bukannya tidak tahu, justru karena tahu mereka memutuskan untuk membiarkan mereka berdua. Arkan dan Balin harus menyelesaikan urusan keluarga mereka yang masih belum teratasi.
Setelah kepergian mereka, kedua saudara itu tenggelam dalam keheningan yang ada. Tidak ada yang mengatakan apapun disana, dan mereka hanya bergumul dengan pikiran masing-masing.
Situasi canggung diantara mereka terus berlanjut, sampai kemudian Balin menarik nafasnya. Dan jadi yang pertama buka suara disana...
" Arkan.. Itu.. Um.. Apa kau.. Baik-baik saja??" Balin memulainya, meskipun dengan suara dan ekspresi canggung.
" Ya??" Sementara Arkan justru tidak mengerti dengan pertanyan yang diajukan olehnya itu. Atau mungkin... Lebih ke tidak menyangka.
Balin pun kembali berkata, " Aku dengar dari para pengurus Akademi yang lain.. Mereka bilang kau mendapatkan misi dari penguasa hutan, untuk mengumpulkan benda-benda suci ke tempat yang jauh. Apa kau.. Tidak terluka??"
" Ah, tidak. Teman-teman ku ada bersama ku, jadi kami saling membantu selama perjalanan."
" Begitu, ya. Syukurlah..."
Mendengar jawaban itu, Arkan samar-samar melihat sesuatu dari senyuman yang diperlihatkan saudaranya saat ini. Dia terlihat lega... Sesuatu yang tidak biasa. Membuat hatinya tiba-tiba merasa sedikit aneh dan juga tergelitik.
" Jadi.. Soal yang ingin kukatakan, itu adalah.."
" Kakak."
Kali ini Arkan memotong ucapannya, membuat Balin yang mendengar nya sedikit terkejut dan langsung terdiam. Disaat yang sama, Arkan pun melanjutkan perkataannya.
" ...Apa ibu juga ada disini?"
Balin yang mendengar itu kembali terkejut, tapi lalu ia menundukan kepalanya. Untuk beberapa saat, ia tetap membiarkan mulutnya tertutup, sampai ia pun juga menjawab pertanyan yang ditanyakan oleh adiknya.
" ....Tidak. Ibu tidak ada disini. Aku.. Aku pergi dan menyerahkan kepemimpinan klan kepada sepupu kita."
" Kau meninggalkan klan?!"
Tidak bisa dipungkiri Arkan terkejut mendengar itu, ia tidak menyangka Balin akan melakukan itu. Orang yang selama ini melakukan apapun demi menjadi pemimpin di klan, orang yang selama ini sangat terobsesi menjadi yang terkuat, kenapa tiba-tiba ia berpaling dari posisi yang dia inginkan, padahal sudah ada didepan matanya??
Tapi Balin hanya tersenyum menanggapi itu, raut wajahnya menunjukan sesuatu tidak hanya berhenti sampai disitu. Tatapan jenuh... Dan lelah.
" Ibu ada di paviliun peristirahatan. Dia mengalami gangguan mental yang cukup parah. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku jadi orang yang memicu hal itu, tapi aku juga tidak bisa lagi menjadi seperti apa yang dia inginkan. Tidak, lebih tepatnya... Rasa bersalahku tidak dapat membiarkanku melakukan itu." Jelas Balin kemudian panjang lebar.
" Rasa bersalah..??" Tapi Arkan masih tidak mengerti apa maksudnya, tidak... Mungkin...
" Arkan.... Maaf."
Mungkin dia sedang menunggu untuk mendengar itu langsung dengan telinganya sendiri.
" Aku minta maaf untuk semua yang telah kulakukan. Selama ini, baik saat hubungan kita sedang pasang atau pun surut, tidak peduli apa yang terjadi, kau selalu ada disampingku dan menganggapku sebagai kakakmu."
Benang ikatan yang kembali bertaut.
" Tapi... Saat kau berada dalam kesulitan, aku tidak pernah bersikap seperti seorang kakak untukmu. Mengingat itu membuatku jijik pd diriku sendiri, tapi aku juga sadar kalau aku tidak pantas untuk mengasihani diriku sendiri karena itu adalah perbuatan yang kulakukan. Aku sudah membuatmu menderita dan sama sekali tidak pernah mencoba memahami perasaan dan kesepian yang kau rasakan. Sudah begitu lama, tapi baru sekarang aku menyadari kesalahanku, baru sekarang aku sadar dengan kenyataan yang terjadi. Aku sungguh malu. Aku merasa aku tidak pantas untuk bertemu denganmu lagi. Meski begitu... Aku tahu, aku perlu mengatakan ini padamu."
Air mata yang turun menandakan sebuah ketulusan, membuat takdir buruk yang memisahkan kedua saudara ini...
" Aku minta maaf... Aku benar-benar minta maaf, Arkan."
...akhirnya berakhir.
Balin mengatakan semuanya, semua yang ia rasakan. Hingga air mata pun turun membasahi pipinya, dia tetap menundukan kepalanya, sebenarnya ia tidak punya keberanian untuk menatap adiknya saat ini. Sudah sangat lama, dia tahu semua yang ia lakukan keterlaluan, dia juga tidak berharap untuk langsung dimaafkan atau tiba-tiba hubungan mereka membaik seperti mimpi.
Tapi dia hanya ingin mengatakan itu..
Apapun jawaban Arkan nantinya, dia yakin dia tidak keberatan dengan itu.
Namun Arkan tetap terdiam, ia belum mengatakan apapun untuk menanggapi pengakuan tak terduga yang dilakukan oleh saudaranya itu. Tapi kemudian, ia mengulurkan tangannya... Disaat yang sama kakinya melangkah lebih dekat, saat itu dalam sekejap ia langsung mendekap kakaknya dalam pelukannya.
Bahkan Balin yang mendapatkan pelukan tak terduga itu sangat terkejut dan melihat kearah nya.
" Arkan..."
" Aku juga... Aku juga merindukanmu. Selama ini aku selalu memikirkanmu sejak terakhir kali kita berpisah. Kupikir kau adalah orang yang paling kurindukan didunia setelah ayah dan kakek. Aku senang... Aku senang karena kau ada disini sekarang.. Kakak!."
Tidak perlu dijelaskan lagi. Arkan benar-benar bahagia sekarang.. Dia telah menantikan saat seperti ini sejak ia pergi dari dunia ilusi saat dipohon kehidupan. Dia menanti saat ia bisa mengatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada kakaknya, untuk memperbaiki hubungan mereka.
Balin yang mendengar kata-kata itu darinya pun langsung mengerti, bahwa mereka memiliki keinginan yang sama saat ini. Ia pun mangangkat kedua tangannya dan membalas pelukan saudara kecilnya itu. Dia juga senang, terharu, dan... Yah, sesuatu seperti itu.
Meski dia telah bersiap untuk mendengarkan penolakan darinya, tapi ia tidak menyangka kalau hasilnya akan sebaik ini. Dan itu hampir terasa seperti keajaiban baginya..
" ..Mulai sekarang, ayo kita mulai semuanya lagi dari awal.. Kakak."
" Iya.."
Dia yakin jika dia diberikan pilihan kembali dia akan tetap melakukan hal ini.