Quennevia

Quennevia
Pelindung Mutlak



[Season 2]


- Dunia Tengah, Hutan Besar York.


Didalam hutan terbesar dibenua, hutan yang sepi dan gelap ketika langit ditutupi oleh awan hitam pertanda badai. Angin bertiup dengan ganas, membawa kekhawatiran. Petir-petir bergemuruh diatas sana, sementara semua makhluk yang ada dibawahnya berusaha mencari tempat yang aman dan baik untuk bernaung.


Tidak peduli apa itu manusia atau hewan, mereka mengikuti insting mereka yang memberitahukan bahaya dan berbondong-bodong mencari perlindungan. Semua kegiatan dihampir setiap tempat dibenua ini telah berhenti bergerak, kecuali pasukan keamanan yang didirikan oleh akademi secara mendadak.


Tentu saja para pasukan dinegara masing-masing memiliki kewajiban mereka sendiri, tapi apakah ada yang bisa menahan badai ini? Mungkin... ini akan menjadi badai paling buruk sejak beberapa ratus tahun terakhir. Dan pastinya akan memporak-porandakan seluruh benua ini.


Dan ditengah Hutan Agung York, Misika, sang penguasa hutan berdiri diatas bukit menatap hutan yang kesepian dan langit yang marah. Semuanya telah berada pada akhirnya...


" Semuanya... sedang berusaha keras. Kami bertahan dalam ketidak pastian abadi.."


Misika bisa melihatnya, melalui mata para spirit yang masih ada diluar sana.. .


Seluruh dunia ini ditutupi oleh kegelisahan dan keputusasaan. Akhir yang mereka tuju, bisa jadi sebuah awal yang baru. Akan tetapi.... bisa juga benar-benar menjadi akhir dari segalanya.


Kehancuran ada didepan mata, meski begitu...


"....Kami masih belum menyerah." Misika tahu bukan hanya dia yang berpikir seperti itu, karena itu dia sangat yakin.


Semua orang sedang berjuang sekuat tenaga untuk menahan kehancuran, mereka mengorbankan segala yang mereka miliki dan bersatu tanpa melihat siapa yang ada disebelah mereka lagi. Anak-anak muda yang berperan paling aktif, menjadikan akademi bintang utara sebagai pusat persatuan. Mereka melakukannya karena percaya akan masa depan yang lebih baik.


" Tidak ada yang menyerah.." Misika merasakan tekad mereka yang besar.


Ia pun mengangkat tangannya naik ke udara, dan mengumpulkan energi dari alam sekitarnya. Itu kekuatan yang murni dan cerah.


" ..Meskipun badai menerjang kami, takdir kami masih belum tersegel.."


Sesuatu mulai terbentuk dari energi diudara yang ia kumpulkan. Sebuah bola berwarna emas dengan ukiran sayap disekelilingnya. Itu adalah benda yang ditinggalkan Quennevia dahulu. Ketika itu, Misika kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tercinta ketika memberikan benda itu kepadanya...


" Ibu, jika kau ingin melakukan sesuatu yang besar. Ibu bisa menggunakan ini."


Sebuah benda, yang memiliki kekuatan luar biasa didalamnya. Benda yang memiliki kekuatan suci setara dengan keberadaan seorang paus agung didunia.


" ...Akan tetapi, benda ini hanya bisa aktif sekali setelah digunakan. Jika ibu kembali menutupnya, maka dia akan terus tertutup hingga energi yang ada didalamnya kembali seperti semula. Tolong gunakanlah dengan baik."


" Ibu pasti menggunakan nya dengan baik."


Misika membuka segel itu, dan bola ditangannya terbuka dalam lima bagian bagaikan bunga yang mekar. Kekuatan suci yang luar biasa menyeruap dari dalam bola itu, membumbung tinggi ke angkasa.


" ...Aku hanya bisa menggunakannya sekali, karena itu aku menunggu hingga saat ini. Bersinarlah... 'Holy ball'..!"


Ia menggunakan kekuatan dari bola suci ditangannya, dan ketika itu terjadi sepasang sayap yang datang dari bola itu membesar keudara dalam bentuk energi. Sayap itu cukup besar hingga orang ditempat yang jauh pun bisa melihat nya dan merasa tercengang. Bahkan para spirit guardian menatap sayap yang muncul itu dengan ekspresi terkejut.


Sepasang sayap itu pun kemudian meringkuk dalam sebuah lingkaran, seperti tirai yang menutupi daratan. Dalam cahaya nya yang terang melindungi orang-orang diseluruh benua dari bahaya diluar.


Itu adalah satu dari sekian banyak benda peninggalan zaman kuno. Pelindung mutlak dan yang terkuat yang pernah diciptakan oleh manusia...



Pencipta dari 'Angel Wings' dan bola suci adalah saintess pertama didunia, Adelaide Hills.


Dengan kekuatan dan peninggalan nya yang luar biasa, Adelaide telah diagungkan dan menjadi tokoh sejarah paling terkenal dimasa kegelapan. Ketika manusia mengira diri mereka ditinggalkan para dewa setelah perang besar, dan baru mengenal yang namanya 'Putri Empat Dunia'. Bahkan hingga kini, cerita dan keagungannya masih terjaga. Dikenang melalui lukisan-lukisan, patung dan buku yang tersebar diseluruh kuil dibenua.


" Ugh..."


Srruuk..


Meski tentu saja, untuk mengaktifkan benda itu juga memerlukan kekuatan yang sangat besar. Dan Misika baru saja mengorbankan seluruh kekuatan yang ia simpan selama ini.


" Ukh... Kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi bekas lukanya masih membekas dalam diriku.."


Misika jatuh dikedua lututnya, ketika luka masa lalu saat Seriana menyarangnya kembali dalam bentuk rasa sakit yang tak tertahankan.


" Ibu..!!." Kagura yang melihatnya jatuh pun langsung bergegas berlari kearahnya dengan ekspresi yang begitu khawatir. " Ibu tidak apa-apa? Ibu terluka...? Kita harus memanggil seseorang.." Dan pertanyaan beruntun pun langsung diajukan oleh anak itu tanpa pikir panjang lagi.


Tapi Misika yang melihat ekspresi dan tingkahnya hanya terkekeh pelan, " Ibu tidak apa. Jangan khawatir. " ucapnya yang kemudian manusap kepala Kagura dengan lembut.


Misika pun kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah pelindung itu, orang mungkin akan berpikir kenapa sampai harus menggunakan peninggalan suci untuk menciptakan penghalang. Tapi Misika tahu seberapa berbahaya badai yang akan datang. Itu bukan hanya hujan, angin kencang dan petir saja. Tapi juga... Arwah siren kuno.


Jiwa jahat yang masih menetap didunia tengah dan menyesatkan semua makhluk. Mereka akan muncul dalam badai siklon terparah selama beberapa dekade, menyerang dengan membabi buta dan menyerap energi kehidupan serta jiwa dari korban yang berjatuhan disekitarnya. Itu untuk mempertahankan bentuk mereka didunia.


Karena itu, Misika harus melakukan perlindungan pasti kepada seluruh rakyat yang ada dibenua ini. Saat kemudian, telinganya mendengar suara gesekan dari pertikel udara disekitarnya...


Zrrrtt...


" Kagura..!" karena hal itu, Misika bergegas memeluk Kagura yang ada disampingnya dan melompat ke belakang.


Misika menghindar tepat waktu ketika sebuah petir tiba-tiba menyambar tepat ke tempatnya berada sebelumnya. Dan itu adalah hal yang memang disangaja...


" ... Petir hitam itu.. energi yang sangat familiar.."


" Bagaimana pun, aku sebenarnya tidak terlalu berharap kalau kau punya cara lain untuk menyapa, Seriana." ucap Misika.


Dan orang yang diajaknya bicara tepat didepannya, mengambang diudara kosong...


Seriana tersenyum dengan ekspresi santai dan menatap Misika yang sudah lama tidak ia lihat.


Ia pun kemudian berkata, " Kau sama sekali tidak berubah ya, Misika. Masih tetap tegas, penuh perhatian, dan terpaku kepada aturan hutan... Masih sama seperti dulu." ucap Seriana.


" Aku tidak sama sepertimu, aku punya banyak hal yang harus kulindungi. Meskipun mungkin orang sepertimu tidak akan pernah mengerti." timpal Misika pula.


Kedua orang ini saling menatap dengan ekspresi yang bertolak belakang satu sama lain, baik itu Misika atau Seriana tidak ada yang mengalah diantara mereka. Itu mendeskripsikan alasan kenapa aura mereka menyeruap keluar dan bertabrakan satu sama lain.


Mereka berdua tidak akan pernah bersatu, seperti minyak dan air.


Sementara itu Kagura yang ada dibelakang Misika hanya memperhatikan apa yang terjadi disana dengan ekspresi cemas. Itu bukanlah sesuatu yang bisa ia tangani.


Ditengah suasana dingin diantara mereka, Seriana lah yang pertama buka suara disana. Dia berkata, " Aku pikir kau tidak membutuhkan nya." Seriana pun mengangkat tangannya dan menunjuk Kagura disana, " Kenapa kau tidak memberikannya saja padaku?" lanjutnya kemudian.


Dan kata-katanya itu membuat Kagura tersentak kaget, "Hah?!"


" Omong kosong apa yang barusan kau katakan!." Bahkan Misika reflek memeluknya untuk memastikan kalau Kagura benar-benar aman bersamanya. " Apa maksudmu kau ingin mengambilnya juga?! Setelah apa yang kalian lakukan kepada putriku, apa kau tidak tahu malu!" Misika berteriak sangat marah kepada Seriana.


Sementara Seriana hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai, " Apa? Aku hanya bertanya. Lagipula anak itu bukan benar-benar putrimu sama sekali." ucap nya menimpali.


" Kandung atau bukan, dia tetap keluarga kami! Karena dia adalah bagian dari Quennevia maka dia adalah putriku juga!! Jadi jangan sembarangan bicara!."


" Benarkah?? Siapa yang akan membantu kalian jika aku memutuskan untuk mengerahkan pasukan kemari, Misika? Tidak ada siapapun yang menjaga gerbang world borders, para spirit guardian sedang sibuk mengatasi semua masalah yang terjadi diseluruh benua. Tidak ada siapapun..."


" Kenapa kau sangat yakin seperti itu?" Suara lain memotong ucapan Seriana.


Haika jatuh dari langit dan mendarat tepat ditengah-tengah Seriana dan Misika, dengan sebuah tombak ditangan kanannya. Haika mengangkat kepalanya dan menatap Seriana yang ada disana dengan ekspresi dingin.


Tangan Haika menggenggam tombak itu erat, " Kupikir kau tidak seharusnya melupakanku terlalu cepat." ucapnya dengan begitu tegas.


Haika memiliki aura yang berbeda dibandingkan sebelumnya, kekuatan yang jauh lebih kuat, jauh lebih pekat. Dia bukan lagi seseorang yang bisa dibandingkan dengan dirinya dimasa lalu, dia sudah sebanding dengan seorang dekan di akademi bintang utara.


Seriana menyipitkan matanya melihat kedatangan yang tidak terduga itu, dia jelas tidak senang dengan kehadiran Haika disana. " Kau..."


" Haika." dan jelas berbeda dengan Seriana, Misika memiliki ekspresi cerah di wajahnya setelah cukup lama tidak bertemu dengan putra angkatnya itu.


Haika pun menatapnya sejenak dan tersenyum, sebelum kemudian ia kembali kepada Seriana dan berkata... " Sekarang... apa yang akan kau lakukan?" tanya nya.


Seriana yang mendengar ucapannya itu mengangkat kepalanya dengan ekspresi berkerut, kemudian ia menghela nafas dan berbalik membelakangi mereka.


" Yah, sudahlah. Itu memang bukan tujuanku datang kesini. Jadi aku akan mundur untuk sekarang..." ucapnya, saat kemudian ia pun mengangkat tangan nya dimana ada sesuatu disana. " ...Aku hanya datang untuk menunjukan ini kepada kalian." lanjutnya pula.


Itu sebuah permata, permata yang ia dan Seretia dapatkan dijurang hitam waktu itu.


Dan keberadaan permata itu langsung membuat Misika tersenyak kaget..


" Itu..!"


Melihat Misika yang mengenali benda itu membuat Seriana tersenyum lebar, " Oh, kau benar-benar mengenalinya. Kau benar, ini adalah... 'benda itu'." ucapnya kemudian. Disaat yang sama keberadaannya pun mulai memudar dari sana.


" Tunggu! Kau tidak bisa menggunakannya!" Misika hendak mengejarnya, tapi Haika menahannya agar dia tidak terpancing.


" Ibu!."


" Kau tidak tahu apa yang kau lakukan! Benda itu harus nya tidak muncul kedunia sekarang!."


" Ahahaha..." Akan tetapi Seriana hanya tertawa dari peringatan Misika. " Kenapa? Karena bencana akan turun? Memang itu tujuannya, Misika." ucapnya pula.


" Aku akan menunggu... hingga waktunya tiba. Sampai jumpa, Misika."


Dan setelah itu Seriana benar-benar menghilang dari tempat itu. Sementara Misika, Haika dan Kagura hanya diam menatap kepergian nya itu.


Misika merasa sangat buruk, ia melewatkan satu hal penting lagi. Harusnya dia memastikan kalau semua dari benda itu tidak akan muncul kedunia, tapi sekarang itu ada ditangan Seriana.


" Energi dari crystal itu... itu jelas crystal corruption..." Misika tidak bisa memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi dengan adanya benda itu dan Seretia jika digabungkan bersama.


Sementara itu, Haika menatapnya dengan cemas. Dia tahu Misika sangat tertekan dengan semua yang terjadi sekarang, " Ibu... kau baik-baik saja?" dan ia tidak bisa tahan untuk tidak mengkhawatirkan orang paling penting dalam hidupnya, sekaligus penyelamatnya ini.


Misika yang mendengar pertanyaan itu darinya pun menatapnya, kemudian ia tersenyum. " Iya... ibu baik-baik saja. Dan melihatmu disini sekarang, dengan suara yang berbeda, aku yakin kau juga baik-baik saja." sahutnya sambil membelai pipi anak laki-lakinya.


Haika menutup kedua matanya merasakan tangan hangat Misika dipipinya, ia pun juga ikut tersenyum. " Ya... kakek membawaku ke gua mimpi untuk berlatih selama beliau dan klan yang lain ikut membantu pengawasan klan Retia. Berkat itu, aku sekarang telah sampai pada tingkatan yang baru dan bisa semakin membantu." ucap Haika menimpali.


" Itu menjelaskan semuanya. Ayo masuk, lebih baik kita bicara didalam sebelum ada yang datang lagi." ajak Misika.


Haika hanya menganggukan kepalanya menimpali itu, ketika Misika berjalan lebih dulu daripada mereka, tatapan Haika dan Kagura bertemu. Haika yang melihat nya pun tersenyum, dia seolah melihat kembali Quennevia ketika kecil dulu, dan ia pun mengulurkan tangan kepadanya.


Kagura yang melihat nya pun ikuti tersenyum dan menerima tangan itu. Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan mengikuti langkah Misika didepan sana.