
Mereka bertiga sekarang ada diluar, dalam suasana hening yang terjadi disana, ketiganya justru memiliki perasaan bingung yang serupa. Yaitu alasan apa mereka sekarang ada disana....
[Aku akhirnya bertemu kalian secara langsung.] ucap Quennevia yang langsung membuat ketiganya menoleh dan menatap kearahnya.
" Quennevia.."
" Woah.."
Dan ketiganya pun memiliki ekspresi mereka masing-masing ketika melihat nya sekarang.
[Seraphine... Apa ada yang ingin kau katakan padaku sekarang?]
Dan pertanyan yang dikeluarkan olehnya membuat Seraphine tersentak, dan diam. Dia mungkin tidak berpikir akan mengalami hal ini sekarang, atau mungkin sejak awal tidak sama sekali.
Sementara itu, disisi lain, pemandangan itu membuat beberapa orang merasa bingung...
" Aku masih tidak mengerti. Bukankah mereka semua adalah Quennevia, tapi entah kenapa malah terasa seperti orang lain. Tentu saja aku tahu ego bisa berbeda, tapi ini benar-benar jauh berbeda.." ucap Sakura yang bingung melihat bagaimana mereka berempat berinteraksi sejak awal.
" Mereka memang bagian dari kesadaran Quennevia, tetapi kehidupan yang mereka jalani dan rasakan membuat mereka membangun pemikiran dan emosi sendiri. Pada akhirnya, masing-masing dari mereka menjadi kepribadian yang berbeda bahkan saling bertolak belakang dengan yang lain." jawab Ethan atas pertanyaannya itu.
" Seperti orang yang memiliki kepribadian ganda, hanya saja lebih rumit. Dan ini terlalu banyak, jika saja dia tidak bisa mengenali siapa dirinya sendiri dia justru akan jadi orang lain. Bahkan bisa saja dia jadi gila karenanya." lanjutnya kemudian.
Sedangkan Seraphine masih terdiam ditempatnya, dia tidak segera menjawab pertanyaan Quennevia, justru terlihat memikirkan sesuatu. Meski begitu Quennevia menunggunya, sampai akhirnya ia pun buka mulut...
" Aku melakukannya agar manusia sadar dengan tempatnya." dia mengatakan itu.
[Apa maksudmu dengan itu? Apa yang akan kau lakukan?]
" Mereka harus sadar betapa beruntungnya mereka... karena mendapatkan pencipta seperti anda. Dan agar mereka sadar kalau mereka hanya melakukan kerusakan. Dihadapan kekuatan yang bisa memusnahkan mereka dengan mudah, pada akhirnya mereka akan mengingat anda sebagai penolong. Tapi setelah itu mereka akan melupakannya lagi. Aku ingin memberikan pelajaran kepada mereka."
Itu tidak terdengar seperti sebuah rencana ataupun balas dendam ditelinga Quennevia, dia hanya ingin bermain. Quennevia pun mengangkat wajahnya dan menatap bintang-bintang yang ada diatas kepalanya, semua bintang itu jauh lebih banyak dari jumlah kehidupan yang pernah ia jalani jika ia menghitungnya.
Ia juga merasakan kemarahan Seraphine, jadi ia mengerti. Tapi dia merasakan perasaan semua orang yang berusaha menolongnya ditempat ini, juga perasaan semua makhluk hidup yang ada didunia yang ia sukai saat ini.
Ada begitu banyak harapan dan keputusasaan, mereka saling menyeimbangkan satu sama lain. Sama seperti keberadaannya, eksistensinya, sekarang dia....
[Tidak perlu...]
Quennevia tidak merasakan apapun lagi soal masa lalu.
[Aku tidak membutuhkan kehancuran apapun lagi selain apa yang telah disuratkan oleh takdir. Tidak perlu menghancurkan manusia, karena ujian dan hadiah akan datang dengan sendirinya.]
Quennevia membuat keputusan melalui perasaan itu, dia tidak peduli tapi bukan berarti benar-benar tidak peduli. Dia marah tapi juga sedih dan kasihan, perasaan yang saling bertolak belakang, keberasaan dan juga kekuatan yang saling bertolak belakang. Dia tidak ingin memilih lagi, dia akan merangkul semuanya. Karena itu dia tidak memiliki dendam apapun...
[Kau hanya melakukan hal yang sia-sia dengan melakukan itu.] ucapnya pula kepada Seraphine.
Tentu saja Seraphine terkejut mendengar itu, karena dia yakin Quennevia harusnya tahu perasaannya. " Anda tidak mengerti. Aku melakukan semua ini demi anda. Agar tidak lagi tercemar oleh kejahatan demi kemurnian anda, tidak ada yang boleh menyakiti anda lagi!"
[Aku tahu. Tapi itu bukanlah yang aku inginkan. Semuanya sudah berubah.] Quennevia mendengar itu sebagai sebuah alasan.
" Mereka tidak bisa berubah!." tapi Seraphine tetap kukuh dengan pendiriannya. "Aku melihat semuanya, berapa ratus kali semuanya berakhir sama. Hanya penderitaan dan rasa sakit yang diberikan manusia, mereka tidak akan pernah bisa berubah! Mereka tidak akan pernah sadar." dan semua orang hanya terdiam melihat bagaimana mereka berdua saling memaparkan maksud dan keinginan mereka satu sama lain.
[Kau bertindak terlalu jauh. Mereka bisa memperbaiki diri mereka sendiri. Itulah kenapa manusia adalah makhluk yang selalu berubah.] tapi kepercayaan Quennevia sama kuatnya dengan pendirian Seraphine.
" Aku...! Hanya ingin membantumu." sampai kemudian suaranya pecah, Seraphine kehilangan pengendaliannya yang kuat, dan ia mulai menangis. " Aku yang paling mengerti penderitaanmu, aku tidak bisa memaafkan mereka. Mereka yang sudah membuat mu kehilangan segala nya, aku ingin menuntut atas perbuatan mereka. Apakah itu salah?? Apa aku sudah bersalah?? Aku.. Sungguh.. Ingin agar kau bahagia..."
Itu keinginan yang murni, Quennevia bisa melihatnya. Sayangnya apa yang ia harapkan bukanlah hal seperti yang ingin Seraphine lakukan.
Quennevia pun mengangkat tangannya, ia mengulurkan itu kepada Seraphine dan mengangkatnya baik, lebih dekat dengan wajahnya.
Seraphine yang ada ditelapak tangannya hanya duduk dan menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang ada disana, disaat yang sama dengan air matanya yang terus mengalir.
Quennevia pun kemudian berkata...
[Sayangku.. Aku tahu maksudmu baik. Tapi semuanya sudah berubah sekarang. Kita tidak lagi berada dizaman gelap, semua orang berjalan dengan baik sesuai takdir. Dan keberadaan orang-orang terpilih telah membuat dunia stabil, mereka sedang berjuang melindungi semuanya, aku bisa melihat cahaya yang mereka pancarkan berkelip-kelip bagaikan bintang yang bersinar terang ditempat ini. Kau tidak perlu menghancurkan mereka.]
[Aku tahu perasaanmu yang tidak bisa memaafkan mereka, aku juga tidak menyalahkan keinginanmu. Tapi sekarang, itu bukan lagi takdir yang bisa kau ikut campuri.] ucap Quennevia lagi.
" ...Apa yg harus kulakukan..?" saat kemudian pertanyaan itupun keluar dari Seraphine.
Karena itu Quennevia pun menutup kedua matanya dan tersenyum, [Mungkin yang kau perlukan adalah kesempatan kedua.] dan ia menjawabnya demikian.
" Huh?." kata-kata itu membuat Seraphine terkejut dan langsung mengangkat kepalanya menatap kearahnya.
" Wah, jangan bilang padaku..." bahkan Ethan juga terkejut mendengar usulan yang diberikan oleh Quennevia kepadanya.
" Apa itu..?" sementara Arkan yang tidak terlalu mengerti maksudnya bertanya dengan bingung.
[Aku hanya tidak bisa membiarkan kalian kembali pada ku, bukan menghilangkan kalian. Karena bagaimana pun... kalian adalah bagian dari diriku yang berharga.] ucap Quennevia pula.
Dan tentu saja itu mengejutkan semua orang, karena artinya hanya ada satu...
[Jangan bilang... Kau ingin mentransfer mereka ke jiwa yang belum memiliki kepribadian...!] tanya Hades yang sama terkejutnya dengan yang lain.
Itu adalah keputusan yang tidak pernah ia sangka akan ia ambil setelah semua ini. Prinsip dari hal itu sama seperti reinkarnasi. Tapi karena Seraphine, Sirius dan Nevia bukanlah jiwa melainkan kesadaran. Mereka tidak bisa dihidupkan menggunakan tubuh kosong secara langsung, maka satu-satunya kemungkinan adalah menempelkan kesadaran kalian pada jiwa yang belum punya kesadaran nya sendiri. Artinya jiwa yang masih berkembang.
Itu keputusan yang sangat besar...
[Untuk kehidupan baru, takdir baru, dan identitas yang baru. Bagaimana menurutmu, Seraphine? Untuk dunia yang baru?] Quennevia bertanya pendapatnya tentang hal tersebut.
Tapi Seraphine terlihat ragu dengan hal tersebut, "....Aku tidak berpikir aku layak untuk hal seperti itu." ucapnya menimpali.
Tapi Quennevia menyangkal hal tersebut, [Itu tidak benar. Faktanya adalah, semua hal layak untuk kesempatan kedua. Kau sudah cukup membantu, kau juga sudah cukup menderita. Aku akan memberikan apa yang sebelumnya tidak pernah kau dapatkan. Terima kasih untuk semuanya, Seraphine. Sisanya serahkan saja padaku.] ucapnya kemudian.
Seraphine yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menunduk dan menganggukan kepalanya dengan pasrah. Ada rasa sedih bahkan diwajah Quennevia, karena mereka pasti tidak akan mengingat satu sama lain lagi. Tapi itulah yang terbaik.
Kemudian ia pun beralih kepada Nevia dan Sirius...[Bagaimana dengan kalian berdua?] tanyanya.
Sirius yang mendapatkan pertanyaan itu pun perlahan menyatukan kedua tangannya, dan menjawab dengan sedikit malu. " Um... Kurasa aku juga siap. Itu alasan kami dipisahkan, bukan? Aku berharap aku bisa lahir didekat ayah lagi, tapi... Kurasa dimana pun aku terlahir dia akan tetap bisa melihatku. Itu karena air ada dimana-mana." jawabnya.
Dia harus mengorbankan keegoisannya untuk bertemu dengan Mice lagi karena dia tahu apa yang terbaik.
[Itu bagus.] dan Quennevia memiliki ekspresi bangga diwajahnya mendengar jawaban itu.
Ia pun mengulurkan tangannya yang lain kearah Sirius, dan tentu saja Sirius pun dengan senang hati baik dan terlihat sangat senang. Kini tinggal Nevia...
Quennevia belum mendapatkan jawaban darinya.
[Nevia, bagaimana keputusanmu?]
Nevia terlihat memikirkan itu, meski sebenarnya ia sudah memiliki jawaban nya sejak awal. " Tidak ada yang bisa kulakukan dengan itu, bukan? Maka jawabannya sama." dia berkata seperti itu tapi, sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya merasa terikat.
"Tapi... Jika seperti yang kau katakan sebelumnya, setiap orang pantas untuk kesempatan kedua. Kurasa aku akan pergi setelah membawa anak itu bersamaku." ucapnya kemudian, itu adalah keputusan akhirnya.
" Itu artinya kau harus melawannya lagi." ucap Ethan mendengar itu.
Dan Nevia pun menoleh kearahnya, kemudian tersenyum. " Aku tidak keberatan. Setiap kali melihatnya masa lalu selalu terbayang, kurasa itu adalah salahku karena tidak pernah memberinya kesempatan. Dia hanya ingin aku melihatnya. Dan sebagai Lorenzo sekarang... Entah kenapa aku selalu merasa kalau dia bukan benar-benar ingin menghancurkan, melainkan menunggu kesempatan." jawabnya.
Ethan yang mendengar itu sedikit terkejut, tapi kemudian ia menganggukan kepalanya dan kembali tersenyum, " Sebuah fitasat yang didasari oleh pengertian akan karakter seseorg, dan kekhawatiran bisa menjadi sebuah persepsi yang layak untuk diperjuangkan." dia sepertinya juga setuju dengan hal itu.
[Tapi apakah kau benar-benar yakin itu ide yang bagus?] tanya Quennevia memastikan untuk terakhir kalinya.
Dan Nevia kembali menganggukinya, " Iyah. Lagipula aku masih harus memukulnya untuk apa yang sebelumnya."
Mendengar jawaban itu membuat Quennevia sedikit terkekeh, seperti yang ia harapkan. [Kalau begitu... Kau bisa mengambil alih tubuh Kagura untuk melakukan itu. Pastikan kau memberinya pukulan paling keras milikmu.]
" Akan kulakukan. Terima kasih."
[Baiklah, sekarang.... Adalah saatnya membawa kalian ke kehidupan yang baru.] Quennevia pun menggunakan kekuatan nya, cahaya-cahaya layaknya kunang-kunang perlahan memenuhi tempat itu. Menyelimuti mereka, dan semua orang menatapnya. [... Sekaligus untuk kepulangan yang ditunggu.] ucapan terakhirnya.