Quennevia

Quennevia
Pertemuan perdamaian




Pertemuan perdamaian



Para perwakilan kerajaan berkumpul disana, disana juga ada para perwakilan yang dibawa oleh mereka, begitupun dengan Kekaisaran Chrysos. Para petinggi itu sudah di utus oleh Kaisar sendiri, dan sudah berada di tempat itu terlebih dahulu.


Ada empat kerajaan lain di daratan itu, kerajaan Aquila, kerajaan bintang, kerajaan laut timur sebelah timur Kekaisaran Foldes. Dan yang terakhir kerajaan Gretta yang merupakan kerajaan terkecil, meski begitu kekuatan nya sudah menyemai kerajaan-kerajaan yang lain.


Lalu tiga Negara utama nya, kerajaan Lost, Kekaisaran Chrysos, dan juga Kekaisaran Foldes. Mereka semua berkumpul di satu daratan yang sama, membuatnya menjadi daratan terluas di dunia.


Para raja itu mulai memasuki aula pertemuan mereka, sudah di sediakan tempat yang luas untuk membicarakan urusan mereka di sana. Juga sang uskup agung sudah berada di tempat nya, penjaga yang ada di sana pun juga memberitahukan siapa-siapa saja yang masuk ke dalam sana, hingga tiga yang terakhir.


" Yg mulia raja kerajaan Lost, Ludwing van Gwan. Bersama putri Meliyana Gwan, memasuki aula. . "


Dan masuklah raja tersebut, bersama dua pengawal dan putri Mahkota nya. Sang putri masih berumur 12 tahun, mereka pun langsung duduk di tempat mereka.


" Putra mahkota Kekaisaran Foldes, Ethan Sanchez Sheillaveteos memasuki aula. "


Dan muncul lah Ethan, sebagai putra mahkota itu. Iya, dia Ethan seperti yang dipikirkan semua orang, dengan senyum misterius yang menghiasi wajahnya. Ia datang bersama dengan tangan kanannya Ning, mereka pun duduk di tempat mereka.


" Dia terlihat sangat berbahaya meski tersenyum seperti itu. " batin putri Meliyana.


Dan yang ada di urutan terakhir untuk datang, akhirnya disebutkan oleh penjaga itu.


" Pangeran mahkota Kekaisaran Chrysos, Lecht Reus Chrysos. Dan juga putri Quennevia Von Arkharega, memasuki aula. "


Semua orang yang ada di sana langsung berfokus kepada pintu yang kembali terbuka, mereka sangat penasaran dan putri Quennevia yang akhir-akhir ini selalu dibicarakan, bahkan sampai ke kerajaan mereka sekalipun.


Dan dari pintu itu, muncul lah Lecht yang sudah tidak asing bagi mereka, ia sudah pernah di bawa ke sana oleh Kaisar sebelumnya. Lalu disebelah nya... Seorang gadis berusia 11 tahun, berhasil menghipnotis mereka dengan kecantikannya di usia yang masih sangat muda.


Dengan gaun yang terlihat sederhana tapi juga terlihat sangat mewah, rambut panjang terurai dengan hiasan permata yang tidak berlebihan. Dan juga wajah cantiknya yang terlihat dingin, tapi sangat menawan. Quennevia memasuki tempat baru itu dengan percaya diri.


" Rambut emas yang sangat indah. " batin putri Meliyana terkagum-kagum.


" Gadis yang sangat cantik sekali. " batin Gaal, pangeran kerajaan Aquila.


" Hooh.. " batin Ethan saat melihat Quennevia.


Quennevia pun mengikuti langkah Lecht, dan duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk mereka. Tepat didepan para petinggi dan juga pengawal mereka yang ada di sana, saat matanya juga menangkap seseorang yang tidak asing baginya.


Di sebrang mereka, Ethan yang pandangan nya bertemu dengan Quennevia, diam-diam melambaikan tangannya kepada Quennevia. Tapi Quennevia tidak menanggapi nya, karena sudah menduga itu dia, sejak ia ingat tentang nama nya yang sana dengan nama pangeran mahkota Kekaisaran Foldes. Ia malah membuang wajahnya, membuat Ethan jadi canggung sendiri dengan itu.


" Sepertinya dia benar-benar marah, yang mulia. " bisik Ning yang duduk di sampingnya.


" Ughh... Haruskah dia marah seperti itu, bukannya dia juga tidak memberitahukan identitas aslinya. " sahut Ethan.


" Iya, perempuan selalu punya alasan untuk hal itu. " ucap Ning pula menimpali.


" Tapi aku juga punya. " ucap Ethan.


Ning tidak bisa berkata apa-apa lagi, iya memang keduanya punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakan identitas yang sebenarnya, tapi itu hanya berlaku selama dua minggu sebelum mereka bertemu lagi.


Sedangkan di sisi lainnya,...


" Ada apa, Quen Quen??. " tanya Lecht, yang penasaran kenapa Quennevia tiba-tiba membuang wajahnya.


" tidak ada apa-apa, dan lagi berhentilah memanggilku 'Quen Quen'. " sahut Quennevia, ia merasa geli dengan bagaimana cara Lecht mencarikan nama panggilan untuk nya.


" Kenapa, Quen Quen?? Bukankah itu yang kau inginkan, memintaku menyebutmu dengan nama panggilan dan dengan begitu kau akan menyebutku kakak. " ucap Lecht pula.


" I.. Iya, terserah saja.... kakak. " jawab Quennevia agak malu.


Lecht tersenyum gemas melihat nya seperti itu, ia pun mengusap kepala Quennevia dengan lembut. Sedangkan Quennevia sudah pasti sangat malu dengan hal seperti itu, apalagi orang yang ada di depannya seperti bukan Lecht yang Quennevia kenal sebelumnya.


Dalam ingatan nya, Lecht adalah orang yang dingin kepada nya, tapi orang yang ada di depannya ini jelas jelas sangat ramah dan perhatian.


Karena semua perwakilan dari setiap negara sudah datang, pertemuan itu pun akhirnya dimulai. Pertemuan itu hanya membahas hal-hal mengenai keseimbangan antar negara saja, juga kadang-kadang membahas beberapa bandit yang mengacau di berbagai tempat.


Tapi tidak ada masalah serius yang harus dibahas di sana, Quennevia merasa kalau pertemuan itu sangat percuma jika hanya membahas hal itu. Wilayah kekuasaan juga sudah sangat jelas begi mereka, tidak ada yang mengacau dan menyalahi aturan, jadi tidak terlalu menarik.


Pertemuan hari pertama pun berakhir begitu saja, tidak ada hal yang bisa membuat kebosanan Quennevia hilang. Setelah pertemuan itu, ia pun memutuskan untuk berjalan-jalah di sekitar taman tempatnya tinggal sebentar, tentu ditemani dengan Kai.


" Haahh... " Quennevia terus menghela nafasnya karena kebosanan itu, dia sangat butuh hiburan.


" Apa ada sesuatu, Nona?? " tanya Kai, ini kesekian kali nya dia melihat Quennevia menghela nafasnya seperti itu.


" Pertemuan ini membosankan, harusnya kak Haika saja yang datang ke mari. " gerutu-an Quennevia.


" O-Oh, tapi bukankah baginda Kaisar sendiri yang meminta anda untuk ke mari??. " ucap Kai menimpali.


" Iya, meski aku menolak pun dia tidak akan marah. Aku hanya berpikir disini bisa terjadi hal yang menarik, ternyata tidak. " sahut Quennevia.


Kai tidak bisa berkata-kata lagi, Nona nya itu memang lain dari yang lain. Kalau biasa nya orang-orang akan menghindari masalah yang mungkin terjadi, dia malah berharap akan ada masalah yang bisa membuatnya memukul seseorang.


Dia jadi ingat cerita dari Niu saat mereka di kepung bandit, Quennevia memukuli mereka tanpa ampun bahkan mengambil semua barang berharga dari si bandit itu. Itu membuatnya terlihat seperti perampok.


Srraakkk... Srraakkk...


" Siapa di sana?!. " ucap Kai dengan waspada, suara semak itu bisa jadi seorang penyusup.


Srraakkk... Srraakkk..


Semak-semak di belakang mereka kembali bergoyang, Kai pun berbalik dan bersiap menghunus pedang yang ia bawa. Tapi yang keluar dari sana membuat nya tidak jadi melakukan nya.


Seorang gadis yang keluar dari balik semak-semak itu, gadis yang ia temui di pertemuan tadi.


" Sudah ku duga, melihat nya dari dekat akan terlihat cantik. " ucap gadis itu Meliyana Gwan.


" Kau itu.. " ucap Quennevia menggantung.


" Ah, maaf. Namaku Meliyana Gwan, putri dari raja Ludwing van Gwan, kerajaan Lost. " ucap Meliyana memperkenalkan dirinya.


" Namaku Quennevia Von Arkharega, dan ini Kai. " sahut Quennevia.


" Halo putri Meliyana. " ucap Kai pula.


Meliyana terlihat sangat senang karena Quennevia mau bicara padanya, tadinya ia pikir akan sulit karena ada pengawal yang menemaninya, dan Quennevia yang selalu terlihat dingin.


" Senang bertemu dengan kalian, kalian sedang apa di sini??. " tanya Meliyana.


" Hanya berjalan-jalah biasa. " sahut Quennevia.


" Hmm... " Meliyana tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepada Quennevia, membuatnya terkejut. " Kau sangat cantik, mungkin saat dewasa nanti kau akan jadi yang tercantik di daratan ini. " ucapnya.


" Kau terlalu berlebihan, putri. Aku tidak secantik itu. " jawab Quennevia.


" Hmm.. Hmm.. Rendah hati sekali. Aku sangat menyukaimu, kedepannya tolong jadilah temanku ya. "


" Jika itu yang kau inginkan, dengan senang hati. "


Meliyana terlihat semakin senang dengan itu, akhirnya dia bisa berteman dengan Quennevia.


" Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa. " ucapnya lalu berlalu pergi dari sana.


Quennevia hanya menatap kepergian nya dengan wajah datar, sebenarnya dia tidak terlalu peduli jika dia jadi temannya atau tidak. Tapi agar tidak menyebabkan kesalahpahaman sebaiknya dia menerima nya saja.


Itu juga bukan ide yang buruk, jika dia akan pergi ke kerajaan Lost dia bisa menjadikan putri Meliyana sebagai akses masuknya.


" Ayo kembali, Kai. " ucap Quennevia sambil berjalan pergi dari sana.


" Baik, nona. " sahut Kai yang langsung mengikuti nya.