Quennevia

Quennevia
Kebenarannya



Siang hari nya, orang yang dibicarakan oleh Quennevia benar-benar datang ke sana. Quennevia menyambut nya sendiri, bersama dengan Haika, Murphy dan juga paman Sven. Nampaknya Quennevia benar-benar ingin mengungkapkan kebenaran juga membalas dendamnya di saat yang sama.


" Selamat datang di kediaman ini, Tuan Shin. Quennevia senang anda bisa membantu menyelesaikan masalah ini. " ucap Quennevia yang menyembut Shin didepan kediamannya.


Dan Shin menerima sambutan itu dengan baik, " Dengan senang hati, putri. Anda juga tidak perlu bersikap terlalu formal dengan ku, panggil aku paman saja. " sahut Shin pula.


" Baik, paman. " jawab Quennevia.


" Saya sudah benyak mendapat pertolongan dari tuan besar dan juga nyonya besar, siapa yang sangka keduanya akan pergi secepat ini. Beliau juga banyak berbuat baik kepada semua orang, siapa yang sangat berani melakukan hal ini kepada beliau??. " ucap Shin pula dengan sangat geram.


Quennevia dapat melihat itu, Shin adalah orang yang sangat menghormati ayah dan ibunya, dia sudah pasti marah karena terjadi sesuatu kepada mereka berdua. Ia juga sudah mengenal Quennevia sejak kecil, jadi tidak ada lagi hal yang membuat keduanya jadi canggung.


" Quennevia juga berpikir seperti itu, padahal selama ini ayah maupun ibu tidak pernah mencari musuh, tapi mereka datang dengan sendiri nya. Karena itu Quennevia ingin paman Shin yang mengungkap siapa pelaku nya, untuk ayah, ibu, juga Quennevia. " ucap Quennevia pula.


" Tentu saja, aku akan melakukannya dengan segenap kemampuan. " sahut Shin.


" Kalau begitu mari masuk, paman. Kalau paman tidak keberatan, akan ada juga seorang teman yang membantu paman untuk penyelidikan ini. "


" Tidak masalah. "


Mereka pun pergi dari sana untuk membicarakan soal penyelidikan itu di dalam, mereka harus memastikan tidak ada mata yang melihat atau telinga yang mendengar percakapan mereka ini.


*****


Di tempat Jason, sejak tadi ia terus saja diam sambil termenung di kamarnya, ia masih saja memikirkan apa ia harus memberitahu Quennevia tentang kematian ayahnya atau tidak. Meski jika ia tidak memberitahu kan nya pun Quennevia akan segera tahu melalui tuan Shin, pikirnya.


" Tidak, aku harus memberitahu nya. " ucap Jason, ia sudah memutuskan nya.


Jason pun bangkit berdiri dan pergi ke arah kediaman utama untuk menemui Quennevia, disana ia melihat tuan Shin yang sudah ada di sana dan sedang melakukan penyelidikan bersama seseorang yang tidak ia ketahui siapa itu.


Jason pun pergi ke arah ruang kerja yang digunakan Quennevia saat ini, dan ia pun mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok.. tok.. tok..


" Masuklah. " sahut orang di dalam sana, Jason pun langsung membuka pintu tersebut.


Saat pintu itu terbuka, ternyata di dalam sana bukan hanya ada Quennevia seorang, tapi juga ada Haika, Murphy, paman Sven juga pelayan yang selalu mengikuti ibunya itu, Linda. Juga seorang yang ia ketahui adalah teman Quennevia.


" Adik kau punya waktu??. " tanya Jason.


" Ada apa, kakak?? Apa ada masalah??. " tanya baik Quennevia.


Jason menarik nafas nya, mempersiapkan diri untuk memberitahu Quennevia. " Soal kematian ayah itu... " ucapnya menggantung.


" Ulah para selir, bukan??. " potong Quennevia dengan santai.


Mendengar itu membuat Jason sedikit tersentak, jadi Quennevia sudah tahu. Lalu kenapa diam saja??.


" Kau sudah tahu rupanya. " ucap Jason terlihat merasa bersalah.


Quennevia yang melihatnya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kedepan, ia berdiri didepan Jason tidak jauh darinya.


" Tidak sulit untuk menebaknya, mengingat setiap perlakuan mereka selama ini. Mereka berencana mengangkat kakak jadi pewaris, bukan? Mereka masih saja terlalu serakah. " ucap Quennevia dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya.


" Benar, karena itu aku ingin memberitahumu. Tapi sepertinya aku sama sekali tidak membantu apapun. " sahut Jason sambil tersenyum getir.


Namun hal itu segera dibantah oleh Quennevia, " Tidak juga, jika kakak ingin membantuku itu benar-benar membuat ku senang. Tapi... apa kakak tidak khawatir aku akan mengajukan hukuman mati untuk mereka. Mengingat dua diantaranya adalah ibu dan juga adik kandung mu. " ucap nya yang kemudian menyeringai, sebenarnya ia hanya akan menguji nya saja.


Jason nampak ingin menolak hukuman itu, tapi ia menahannya mengingat ia juga sama sekali tidak berguna bagi orang-orang. Nampaknya Jason benar-benar sangat bingung, antara ia harus melindungi ibu dan adiknya, serta ia harus mematuhi hukum di Kekaisaran.


" Tuan Jason, jika aku boleh menyarankan.... " ucap Ethan menggantung, dan itu membuat orang-orang menatapnya. " Lebih baik kau mengatakan kebenaran nya saja, tidak peduli hukuman apa yang akan mereka terima, itu setimpal dengan apa yang mereka lakukan selama ini. " lanjut nya, sambil santai-santai di kursi.


" Aku juga berpikir begitu, tapi mau bagaimana pun mereka tetap keluarga ku. Tapi...keadilan juga harusnya berada di pihak Quennevia bukan. " ucap Jason yang bimbang.


" Apa?. "


Nampaknya ia tidak tahu hal itu, terlihat jelas di wajahnya yang terkejut mendengar itu. Ia sama sekali tidak terlalu memperhatikan apa yang ibunya lakukan, jadi ia tidak tahu apa yang mereka rencana kan dengan detail, jika ia mendengar nya pun itu hanya sebuah kebetulan saja.


Bahkan Haika, Paman Sven dan Ethan pun juga terlihat terkejut mendengar itu, pasti tidak ada yang menyangka akan hal itu.


" Tuan Jason, anda dan tuan Haika selalu pergi bersama dengan tuan besar saat beliau menjalankan tugasnya. Selama ketidak hadir tuan besar, nyonya selir juga putri kedua selalu saja menyiksa Putri Quennevia, dan diam-diam memberikan nya racun yang tidak langsung bereaksi. " ucap Linda pula, pada akhirnya dia juga berpihak pada Quennevia sepenuhnya.


" Bukan hanya itu, dalang kematian Nyonya besar juga karena racun itu. Dan sekarang Tuan besar pun ikut jadi korban nya. " ucap Murphy lagi.


" Bahkan sampai nyonya besar juga.. " ucap Jason tersengar lemas, tidak bisa ia percaya.


" Tunggu! Bagaimana dengan mu?? Bukankah itu artinya ditubuh mu ada racunnya?!. " ucap Haika agak panik setelah mendengar semua itu.


Mendengar itu malah membuat yang lain juga ikut panik dan menoleh secara serempak, mereka baru sadar dengan itu. Sedangkan Quennevia sendiri masih santai-santai saja.


" Tidak usah berlebihan, Xi sudah menyembuhkan ku. Lagipula aku malah berterima kasih, karenanya aku jadi kebal terhadap beberapa racun. " ucap Quennevia sambil tersenyum santai.


" Putri, anda terlalu menyepelekan keselamatan anda. " ucap paman Sven yang tidak habis pikir.


" Tapi dari mana ibuku mendapatkan racun itu?? Bukankah setiap barang yang datang ke kediaman selalu diperiksa. Juga ibu tidak pernah keluar dari kediaman jika tidak bersama dengan ku. " ucap Jason yang bingung dengan itu.


" Kakak, apa kau tahu siapa keluarga ibumu itu??. " tanya Quennevia kemudian.


Jason hanya menggelengkan kepalanya, dia memang tidak tahu karena selir pertama juga tidak pernah mau memberitahunya. Setiap kali ia bertanya ibunya selalu berkata kalau ia tidak boleh mengetahui nya sebelum menjadi penerus kediaman.


Bahkan saat Jason bertanya kepada kakeknya pun ia tidak mau menjawab nya.


" Keluarga nya, juga bibi Anna sendiri. Mereka termasuk ke dalam klan pembunuh bayaran. Semua orang di klan itu diajari untuk menjadi pembunuh yang bisa direkrut seseorang untuk membunuh. " ucap Quennevia.


Dan itu lagi-lagi membuat orang-orang yang ada di sana jadi terkejut, tentu siapa yang tidak tahu tentang klan pembunuh bayaran. Mereka termasuk ke dalam warga Kekaisaran, dan kekuatan nya juga sudah di akui oleh Kaisar sendiri.


Tapi tidak ada yang menyangka kalau selir pertama mereka adalah putri dari ketua klan pembunuh bayaran itu.


" Bibi Anna adalah satu-satunya orang yang tidak bisa membunuh menggunakan senjata, tapi menggunkan racun. Dia ahli dalam membuat racun dan menggunakan nya, sehingga ia di kenal sebagai wanita racun. Bahkan bunga liar yang ada didalam kediamanpun bisa ia ubah menjadi racun mematikan." ucap Quennevia pula.


" Sungguh tidak terduga, jika selir pertama bisa menjadi sekutu memang sangat menguntungkan. Tapi... kejahatan yang sudah ia perbuat tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengetahui kalau dia sangat menguntungkan saja. " ucap paman Sven sambil menggelengkan kepalanya setelah mengetahui itu.


Mereka semua yang ada disana telah ditipu oleh selir pertama...


" Jason... Bagaimana keputusan mu??. " tanya Haika pula.


Jason benar-benar terlihat sangat Frustasi, lalu ia berkata... " Aku... akan menyerahkan nya saja kepada Quennevia dan juga Kaisar. Tapi... Jika memang ada cara lain untuk menghukum nya, aku mohon.... " ucap Jason menggantung.


Quennevia hanya menghela nafas mendengar itu, setidaknya itu tidak melenceng dari tujuan awalnya untuk mengusir mereka juga. " Huh.... Baiklah, aku tidak akan mengajukan hukuman mati untuk mereka. Tapi mungkin mengusir mereka keluar dari Kekaisaran tanpa apapun sudah cukup. Sebagai gantinya aku ingin menghapus ingatan selir pertama dan juga Adele, juga klan pembunuh bayaran akan ku musnahkan jika bisa. " ucapnya.


" Atau kau lebih ingin ia di penjara seumur hidupnya tanpa aku memusnahkan klan pembunuh bayaran?? " ucap nya lagi.


Quennevia nampak sangat mengerikan saat mengatakan itu, apalagi senyuman nya yang terlihat sangat menantikan pilihan pertama itu. Mereka yang ada di sana sempat merinding karena nya, tapi kemudian mereka malah terlihat kepada Ethan yang mengangkat tangannya.


" Aku lebih suka cara yang kedua. " ucap Ethan menyela ucapannya.


" Kenapa??" tanya mereka yang ada di sana.


" Jika kau memusnahkan klan pembunuh bayaran, kau hanya akan disebut sebagai orang yang tidak memiliki belas kasihan. Dan malah membuat orang tidak bersalah jadi korban, kau jadi tidak ada bedanya dengan orang itu sendiri. " jelas Ethan.


" Sejujurnya aku juga tidak tertarik membantai mereka semua, apalagi mendengar ucapan orang lain yang sama sekali tidak berguna. Aku bahkan bisa membunuh meraka semua hanya karena salah satu anggota mereka berkata kasar sekali padaku. " ucap Quennevia, membuat yang lain semakin tak habis pikir.


" Tapi aku lebih ingin membantai klan Retia. " ucapnya pula sambil menggertakkan gigi, membuat yang lain malah menatapnya datar.


Lalu perhatian mereka kembali teralihkan kepada pintu yang diketuk, dan saat pintu itu terbuka orang yang mengetuknya adalah orang yang tidak terduga.