Quennevia

Quennevia
'Apa kau menyukai ku?? '



Beberapa hari berlalu, tapi hari ini pun masih sama seperti sebelumnya, pertandingan kembali dilaksanakan kan. Dimana murid yang semakin sedikit dan pertandingan nya pun jadi semakin menegangkan. Kini giliran Ethan yang bertanding di arena kali ini, dia menjadi andalan murid baru karena menempati posisi pertama dalam pengukuran kekuatan waktu itu.


Brukk....


" Pemenang nya... Ethan dari kelompok murid baru. " ucap juri.


" Wooo..... Hebat sekali. "


" Kerja bagus, Ethan. "


Begitulah teriakan dari para penonton yang mendukung nya, ia berhasil mengalahkan lawannya dengan sangat mudah.


" Haha... Kerja bagus, ternyata kau lebih kuat dari yang ku bayangkan. " ucap senior yang tadi dikalahkan nya, menepuk punggung nya.


" Terima kasih, senior. Itu juga karena senior menahan diri, jika tidak aku akan langsung kalah. " sahut Ethan sambil membantu nya berdiri.


Sejauh ini Ethan sudah menang secara beruntun dan belum pernah kalah, iya jika kalah sebanyak 3 kali dia otomatis tidak akan bisa bertanding lagi.


Lalu saat pertandingan hari ini selesai, ia pun keluar dari arena lebih dulu cari pada yang lainnya. Dan didepan sana Quennevia berdiri menunggu nya, hari ini pun ia tidak bertanding di arena tapi di tempat lain dan nampaknya ia lebih cepat selesai dari pada Ethan.


" Quennevia, sedang menunggu ku ya??. " tanya nya dengan ceria.


Quennevia pun berbalik dengan gembira mendengar suara nya, " Ethan, ehh...?! " ucapnya setelah berbalik pula sambil mengerutkan keningnya.


Nampak nya dia marah akan sesuatu, tapi Ethan tidak tahu dan malah bingung. Apalagi dengan Quennevia yang terasa memancarkan aura membunuh seperti itu.


" Kau terluka. " ucap Quennevia.


" Ah, ini?? Tenang saja, bukan apa-apa kok. Itu karena senior kali ini lebih kuat dari kemarin. " sahut Ethan dengan sangat gembira.


Quennevia hanya menghela nafas mendengar nya, apa lah yang bisa ia lakukan jika Ethan sangat gembira seperti itu. Ia pun menyentuh luka di pipi Ethan, dan luka itu langsung sembuh tanpa meninggalkan bekas dalam waktu yang sangat singkat.


" Wow, hebat sekali. " puji Ethan.


" Kalau itu sih, bukan masalah besar. " ucap Quennevia.


" Kalau begitu, bagaimana jika ku antar sekarang?? " tanya Ethan pula sambil menggenggam tangan Quennevia.


" Em... " sahut Quennevia menganggukkan kepalanya.


Ethan pun kembali mengantarkan Quennevia ke asrama nya, selama perjalanan mereka mengobrol banyak hal sampai akhirnya tiba di depan asrama.


" Terima kasih, sudah mengantarkan ku. " ucap Quennevia saat sampai, " Ngomong-ngomong, apa kau.... Menyukai ku, Ethan??. " tanya Quennevia pula sambil tersipu malu.


" Hm... " Ethan nampak nya memikirkan pertanyaan itu, Quennevia jadi gugup sendiri karena hal itu. Tapi kemudian... " Tentu saja, karena kita teman bukan. " jawabnya.


Quennevia menatapnya datar mendengar itu, nampaknya dia tidak mengerti apa yang ia maksudkan. Atau dia memang bodoh seperti yang selalu ia katakan.


" Dasar makhluk bebal!. " ucap Quennevia dengan sangat kesal.


Ia pun kemudian pergi dari sana dengan perasaan yang benar-benar kesal, padahal baru kemarin ia dibuat sangat senang sampai rasanya mau berteriak kegirangan. Ethan benar-benar tidak peka dengan apa yang ia maksud, terbukti dari tempang bingung nya saat ini.


" Aku salah bicara, ya??. " gumam Ethan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan bingung, ia pun kemudian pergi sambil memikirkan apa ia melakukan kesalahan kepada Quennevia atau tidak.


Ceklekk....


Sementara Quennevia masuk ke dalam kamar nya, saat ini ia hanya sendirian di sana. Teman-teman nya belum kembali dari arena, sambil bersandar di pintu ia mencoba memikirkan hal lain dan ia masih sangat kesal dengan Ethan.


" Dasar makhluk bodoh itu, apa dia mempermainkan ku?? Tidak akan kumaafkan. " gumam Quennevia kemudian naik ke atas tempat tidur nya dan berbaring di sana selama sisa hari itu.


******


Di malam harinya, Quennevia pergi ke tempat para tetua untuk menerima pelajaran dari mereka, tentang orang yang jiwanya ada di dalam dirinya itu. Sejauh yang ia ketahui sampai saat ini adalah kalau orang itu, adalah orang yang menyebabkan bencana besar 200 tahun lalu.


Dia itu seorang Necromancer yang membangkitkan orang-orang yang sudah mati untuk jadi pasukan nya, dan dia adalah ketua terdahulu dari klan Retia.


" Pantas saja mereka mengincar ku, apa mereka sudah tahu kalau dia ada di dalam tubuhku?? Atau mungkin ada hal lain lagi??. " batin Quennevia merasa jengkel.


Dia itu wanita yang menjadi alasan terjadinya perang suci 200 tahun yang lalu, yang mana membuat manusia, iblis, siluman, dan juga para spirit menggabungkan kekuatan untuk melawannya dan pasukan nya yang adalah berpuluh-puluh ribu orang yang sudah mati itu.


Meski aliansi antar makhluk hidup di benua ini hanya berlangsung sebentar, tapi itu sangat penting untuk kedamaian makhluk yang masih hidup.


Wanita itu kalah dengan kekuatan yang sangat besar itu, sementara ia sendirian dengan para zombie buatannya. Tentu saja kekuatan nya sendiri juga bukan lah hal yang bisa di remehkan, dan karena semua bencana yang di buatnya itulah akhirnya ia disebut wanita pembawa bencana, dan namanya adalah.... Seretia. Yang mana nama klannya itu diambil dari namanya juga.


" Wanita mengerikan seperti itu pernah hidup di dunia, benar-benar tidak bisa dipercaya. " batin Quennevia pula.


" Nah, cerita sejarah nya sudah sampai di sini dulu. Bagaimana jika kita lanjutkan kepada segel nya??. " ucap tetua Bima yang sedang mengajarinya.


" Tunggu sebentar tetua, aku ingin tahu siapa pahlawan yang sudah mengalahkan wanita pembawa bencana itu??. " tanya Quennevia.


" Oh, soal itu. Orang-orang zaman dulu mengatakan kalau dua pahlawan yang mengalahkan nya adalah seorang laki-laki dan perempuan, tapi ciri-cirinya tidak pernah disebutkan. " sahut tetua Bima.


Quennevia memikirkan nya dengan sangat serius, jika saja wanita itu bangkit maka harus ada orang yang mengalahkan nya juga. Tapi jangan sampai itu terjadi, jika dia bangkit maka dunia akan berakhir.


" Mm... Oke, mari pelajari segel nya tetua. " ucap Quennevia dengan semangat.


" Baiklah. " sahut tetua Bima senang mendengar nya.


******


Paginya di asrama Quennevia, ia masih berada di kamar nya bersama dengan teman-teman sekamar nya. Ia baru saja selesai bersiap untuk pergi ke pertandingan selanjutnya.


" Oh, iya Quennevia. Apa kau punya hubungan dengan pangeran Ethan??. " tanya Meliyana, senyum gosip nya nampak sangat jelas.


" Hee... benarkah??. " sahut Niu pula tertarik mendengar nya.


" Hubungan?? Tidak, memangnya kenapa??. " tanya balik Quennevia.


" Itu karena banyak gosip yang beredar diantara anak-anak lain yang selalu melihat pangeran Ethan mengantarkan mu pulang. " sahut Yuki menanggapi.


" Benar, benar. Jadi katakan saja yang sejujurnya pada kami. " ucap Meliyana menempel padanya.


Tapi Quennevia berbalik kearah lemari hingga membuat Meliyana jatuh ke atas kasur yang ditempati Niu.


" Aku benar-benar tidak punya hubungan dengan nya, kok. " ucap Quennevia sambil menyimpan barang nya. " Siapa juga yang mengatakan aku punya hubungan dengan makhluk bodoh itu. " gumamnya dengan sangat pelan.


" Akh, bisakah kau tidak memanggilku bodoh seperti itu?!. " ucap seseorang pula mengagetkan mereka.


Semua orang pun sontak langsung menoleh kearah suara itu...


" Ethan?!!. " teriak Niu dan Meliyana saking terkejut nya.


Di dekat jendela Ethan tiba-tiba saja muncul entah dari mana, dan masuk ke dalam sana. Melihat nya masuk lewat jendela itu membuatnya terlihat seperti maling yang sedang menyelinap, dan Quennevia pun langsung melemparkan sebuah batal kearahnya tanpa peringatan terlebih dahulu.


Bukk....


Bantal itu tepat sasaran mengenai tepat di wajahnya, untung bantal itu benda yang empuk jadi dia tidak merasakan sakit.


" Apa yang kau lakukan??. " tanyanya agak kesal kepada Quennevia.


" Ini asrama perempuan, kau tidak boleh masuk sembarangan. Apalagi lewat jendela seperti maling begitu. " ucap Quennevia dengan santai, ia pun berjalan kearah pintu untuk keluar dari sana.


Ceklekk....


Buk....


Tapi baru juga mau dibuka Ethan menahan pintunya, dengan begitu ia tidak bisa membuka nya.


" Hei, aku datang kemari untuk minta maaf. Apa kau ingin pergi begitu saja??. " ucap Ethan yang ada tepat dibelakang Quennevia.


Sedangkan dibelakang mereka pula....


" Kyaaa.... aku harusnya tidak melihat ini >< " ucap Meliyana sedikit berteriak.


" Wah, wah. Seperti nya akan menarik>< " ucap Niu pula.


" Hei, bermesraan lah di tempat lain_- " ucap Yuki ikutan mengomentari.


Iya, bagaimana tidak. Jika dilihat sekilas saja mereka benar-benar seperti pasangan, dan apalagi sekarang ini.


Balik lagi ke Quennevia dan Ethan. Ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Ethan itu, Quennevia pun langsung menoleh ke arah nya. Ethan yang melihat itu pun sangat terkejut, dan langsung mundur dengan wajah merona.


Pasalnya karena wajah Quennevia terlalu dekat dengan nya, hampir saja terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Dan ada hal lain juga yang membuat Ethan lega...


" Hufttt... untung dia tidak bisa melihat sekarang, jika tidak ia sudah memukulku dengan sangat parah. Atau mungkin lebih buruk, dia akan menimpaku dengan lemari. " batin Ethan, sedangkan beberapa orang yang ada di belakang nya merasa kecewa karena tidak ada yang terjadi.


" Po... Pokoknya tunggu aku di taman, aku akan menemui mu di sana. " ucap Ethan pula, kemudian kembali keluar lewat jendela. Sementara Quennevia masih berdiri di tempat nya, bingung dengan apa yang terjadi.