Quennevia

Quennevia
Kebencian Quennevia



Kedatangan Misika dan para spirit guardian itu mengejutkan mereka yang ada di sana, tentu saja penguasa hutan.. juga ke 7 spirit guardian saat ini berdiri di hadapan mereka. Mungkin tidak asing lagi bagi Yulles dan juga Haika, tapi tetap saja itu sebuah kejutan yang cukup membahagiakan jika saja mereka bisa menghentikannya Quennevia saat ini.


Everon dan Wais menoleh dengan tatapan nyalang kearah Lorenzo yang masih diam dengan santainya di sisi lain tempat itu, dan para kepala keluarga klan Retia yang sebelum nya bersembunyi pun ikut keluar memperlihatkan diri mereka.


" Cih. Mereka sangat merepotkan!. " ucap Everon dengan kesal.


" Iyah, mungkin kita harus segera menyingkirkan mereka agar jadi lebih baik. " sahut Wais.


Disisi lain Quennevia hanya menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi, dia tahu kalau mereka tidak akan diam saja, tapi Quennevia sama sekali tidak peduli. Ia pun turun dari atas pohon tempatnya berdiri itu.



Misika yang melihat nya seperti itu benar-benar tidak tega, putri tercinta nya jadi begitu karena rasa dendam yang menyakiti nya selama ini.


" Quennevia.. " panggil Misika.


" Ibu... Kalian juga datang untuk menghentikan ku, kah??. " potong Quennevia.


Disisi lain teman-temannya yang mendengar Quennevia memanggil Misika 'ibu' masih terheran-heran, pasalnya mereka masih belum tahu jika Misika sudah bangkit kembali.


" Ibu?? dia ibunya Quennevia?? " ucap Arkan dengan ekspresi yang penuh tanda tanya.


" Bagaimana bisa... padahal yang kudengar... " ucap Niu pula menggantung.


" Tidak, Misika masih hidup. Hanya saja jiwa dan tubuhnya terpisah waktu itu. " ucap Zeze pula yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


Hingga membuat mereka yang ada di sana terkejut karena kemunculan nya yang tiba-tiba, untung saja tidak ada yang berteriak saking terkejut nya. Iya kalau ada yang berteriak pun bukan masalah sih.


Sementara di itu disisi lain, Mice terus memperhatikan Beatrice yang juga diam saja itu dengan tatapan sinis. Disaat yang sama ia juga merasa ada sesuatu yang familiar dengan nya, dan terasa aneh karena sesuatu itu berasal dari Beatrice.


" Kenapa...?? " tanya Quennevia pula kepada Misika.


" Quennevia, kekuatan mu masih belum stabil. Hentikan ini sekarang juga, jika tidak kau akan tidur abadi sekali lagi. " jawab Misika.


" Tidur abadi ataupun mati aku tidak peduli, aku akan tetap... membunuh Beatrice!. " sahut Quennevia dengan suara yang terdengar dingin.


" Kau sendiri sudah tidak bisa bertahan, jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu lagi!. " ucap Aqua agak membentak nya.


" Dan semisalnya aku menolak?? " tanya Quennevia pula.


" Master, kau tidak perlu melakukan hal ini sampai segitunya. Tubuh yang menopang Beatrice saat ini sudah hampir mencapai batas nya, dan tidak akan ada lagi orang yang membantunya mencari tubuh baru untuk jiwanya. Pada akhirnya dengan atau tidak kau membunuhnya, dia akan tetap menghilang diantara langit dan bumi. " ucap Yue, ia bahkan sampai menangis karena melihat Masternya jadi seperti itu.


" Itu benar, kami sudah membereskan orang-orang yang membantunya terus hidup itu. " sahut Azel pula menimpali.


Quennevia sedikit melunak mendengar itu, bahkan pegangannya terhadap pedang ditangannya pun tidak seerat sebelum nya. Disaat yang sama wajah Quennevia pun berubah menjadi sedih, ia sedang berpikir jika dirinya benar-benar behenti, lalu bagaimana dengan anak-anak itu, bagaimana dengan teman-temannya yang sudah tiada.


Apakah itu akan membuat mereka senang, tapi ia juga sebenarnya selalu memikirkan hal ini. Jika dia bertarung dengan Beatrice seperti tadi, dan membunuhnya.. apakah mereka akan senang. Dan juga... sekalipun ia tidak bisa melihat mereka lagi, setidaknya ia ingin menyingkirkan orang yang sudah menyebabkan semua itu terjadi dengan tangannya sendiri.


Lorenzo yang melihat keraguan diwajah Quennevia memicingkan matanya, perasaan nya masih lemah sampai bisa terpengaruh oleh orang lain begitu saja. Apalagi yang sekarang sedang bicara dengan nya adalah keluarga nya.


" Tapi kau juga jangan lupa... kalau dialah yang sudah membuat Kirito menderita dan akhirnya mati. " ucap Lorenzo sambil menyunggingkan seringai diwajahnya.


Quennevia tersentak mendengar nya, pedang yang tadi hampir ia lepaskan pun kembali digenggam nya erat.


" Kau diam saja, dasar bocah sialan!!. " ucap Everon dengan menggeram marah.


" Apa?? Aku hanya mengatakan apa adanya, Kirito mati karena Beatrice setelah dia membuatnya menderita. Sama halnya seperti Lyon. Lalu bagaimana dengan Ethan, mungkin dia juga akan melakukan nya. Apakah mau akan membiarkan nya begitu saja, Quennevia??. " sahut Lorenzo.


" Tidak!!... Tidak akan kubiarkan!! Aku akan membunuhnya!!. " ucap Quennevia dengan mata yang kembali menatap Beatrice penuh kebencian, sama halnya dengan Beatrice saat ini yang sedang menatap nya.


" Kalau begitu aku akan menarikmu keneraka bersama ku! . " ucap Beatrice dingin.


" Harusnya aku yang mengatakan hal itu!!. " jawab Quennevia pula tak kalah dinginnya.


Sementara itu disisi teman-temannya..


" Uh... Kecemburuan perempuan.. benar-benar menakutkan. " ucap Oscar.


" Setuju. " sahut Yulles.


" Kakak, kumohon hentikan. Jangan menyakiti dirimu sendiri lagi!. " teriak Kagura pula.


Ia tiba-tiba berlari kearah Quennevia, hingga membuat semua orang yang memperhatikan jadi terkejut. Disaat seperti ini dia bisa saja diserang dan membuat Quennevia semakin marah.


" Oi, Kagura jangan pergi ke sana!. " ucap Ethan yang mencoba menghentikan nya, bahkan ikut berlari dan menghentikan nya sebelum benar-benar mendekati Quennevia.


" Kumohon kakak hentikan, jangan seperti ini. " ucap Kagura sambil menangis.


" Kagura... Kenapa kau mendekat, dasar bodoh. " gumam Quennevia.


" Quennevia, ayo hentikan ini demi Kagura. Setelah itu bicaralah dengan ku untuk membuat semuanya jadi lebih jelas. " ucap Ethan pula.


" Apakah dengan membuat semuanya jelas akan menghidupkan orang-orang ku kembali?? Sejak awal semua ini salah Beatrice, apakah kau masih ingin membelanya!!. " sahut Quennevia sambil menggerakkan giginya.


" Aku tidak yakin, tapi aku-.... "


" Kau tidak akan pernah mendapatkan apapun karena kau tidak pernah menghilangkan satu kebencian itu dalam hatimu. " potong Beatrice ketika Ethan belum menyelesaikan kata-katanya, lama-lama ia juga kesal karena ucapannya selalu saja dipotong.


Tapi apa yang Beatrice katakan selanjutnya itu sangat mengejutkan," Kau... membenci manusia bukan?? Sejak ribuan tahun yang lalu, ketika kau pertama kali terlahir ke dunia ini, kau sudah melihat banyak keburukkan manusia. Kau juga sudah banyak mendapatkan pengkhianatan dan juga penipuan dari manusia, berulang kali mati dengan menyedihkan dan terus terlahir kembali. Perlahan-lahan semua kebencian itu menumpuk dan pada akhirnya menenggelamkan dirimu ke dalam kegelapan. Jika saja Niu dan yang lainnya tidak kau anggap berharga, kau juga tidak akan peduli kepada mereka. " ucapnya panjang lebar.


Mereka yang ada disana terdiam mendengar nya, mereka sama sekali tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi jika mereka pikirkan lagi, mungkin saja Quennevia memang membenci manusia seperti yang dikatakan oleh Beatrice, karena dulu ia pernah diperlakukan seperti alat yang biasa dibuang kapanpun oleh menusia.


Mereka sudah pernah mendengar masalah lalu Quennevia sebagai Nevia di dunia lain dari Yue, ketika itu mereka bertanya saat kemunculan Sirius untuk pertama kalinya. Meskipun mereka tidak tahu kalau ternyata Quennevia telah lebih banyak mengalami penderitaan dibandingkan yang mereka ketahui.


Quennevia yang juga terdiam sebelum nya pun menjawab pertanyaan Beatrice itu. " Benar, Aku benci dengan manusia. Aku benci dengan kehidupan mereka. Aku merasa ingin muntah memikirkan cara-cara menjijikkan mereka untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mempertahankan hidup mereka yang tidak berharga itu dengan cara menindas yang lain. Meludahi cerita-cerita bodoh, dan segala sesuatu di dunia yang keji ini.


Dunia ini menolak ku, yang aku inginkan hanyalah tempat untuk kembali. Hanya keinginan yang sederhana itu, tapi kenapa hanya itu saja pun dunia tidak bersedia mengabulkan nya. Dan sekarang pun aku juga kehilangan orang-orang yang kusayangi! Ayah ku, Murphy ku, anak-anak itu, bahkan orang yang kucintai!!(Ethan maksud nya) Aku juga... kehilangan anak-anak bodoh itu, selama nya!! " ucap Quennevia dengan menatap Beatrice nyalang.


" Kau membenci mereka, tapi kau masih berhubungan dengan mereka. Lalu kebahagiaan yang kau tunjukkan dihadapan ku waktu itu.. apakah juga sebuah kebohongan??. " tanya Beatrice lagi


" Itu bukan kebohongan, tapi kebahagiaan memang sesuatu yang fana, itu tidak bisa bertahan selamanya jika ada seseorang yang jadi pengganggu. " ucap Quennevia dengan menyindir Beatrice, " Lalu bagaimana dengan mu?? Setelah bisa hidup kembali selama ini, Tapi kenapa kau masih memakai topeng orang munafik itu??. " tanya balik nya pula.


Disisi lain orang-orang yang ada disana memperhatikan percakapan mereka dengan seksama, keduanya seperti sedang membuka diri mereka masing-masing satu sama lain. Tapi entah kenapa mereka juga merasa ada yang aneh disaat yang sama.


Beatrice tersenyum mendengar pertanyaan Quennevia itu, " Aku memang orang yang seperti seperti ini, kok. Berbeda dengan dirimu yang mendapatkan kasih sayang dari dewa, aku adalah anak yang ditinggalkan oleh dewa. Aku tidak bisa menerima itu, aku tidak bisa memaafkan hal itu. " jawab Beatrice.


" Aku juga. Orang-orang ku ditinggalkan oleh dunia. Aku tidak akan pernah memaafkan cerita kejam yang memberinya peran seperti itu. Aku tidak hanya mengikuti garis besar takdir yang diputuskan oleh dewa, ini adalah keputusan ku sendiri. " sahut Quennevia dengan marah.


Di dalam pikiran nya saat ini dia tengah berkata kalau Beatrice lah penyebab nya, dialah sumber masalah nya, jadi dia harus menyingkirkan nya. Tapi seperti nya Beatrice sama sekali tidak bisa membaca ekspresi Quennevia saat ini yang memandangnya dengan tatap dingin dan kebencian yang tidak pernah hilang, sampai kata-kata yang semakin membuat Quennevia marah pun ia ucapkan.


" Kalau begitu kita hentikan saja ini, seperti yang Ethan katakan. Lagipula kenapa kau sangat marah untuk orang yang sudah mati sih, itu sama sekali tidak ada gunanya. " ucap Beatrice dengan santainya.


Sringg... Jlebb...


" Uhuk...!!. " Beatrice tertusuk pedang milik Quennevia, hingga membuat yang lainnya yang melihat itu terkejut. Ah, mereka pasti melupakan kalau Quennevia bisa mengontrol banyak pedang-pedang dengan pikiran nya.


Jlebb... jlebb... jlebb...


Tidak hanya satu pedang, Quennevia sampai menancapkan tiga pedang lagi kepada Beatrice. Dan karena kedatangan pedang itu yang tiba-tiba dan entah dari mana, Beatrice jadi tidak bisa menghindari nya.


" Ukhh... Kau..!!. " ucap Beatrice sambil menahan rasa sakit.


" Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Kau tidak tahu seperti apa rasanya. Kau tidak tahu seperti apa duka cita nya.. Ratapan nya.. Kebencian nya. Kau tidak tahu... APAPUN!!. Arrrggghhh....!! " teriak Quennevia dengan sangat marah.


Seketika muncul lah lingkaran sihir diantara dirinya dan Beatrice yang ada di tengah-tengah, kemudian setelah lingkaran sihir itu pun hilang digantikan oleh pedang-pedang milik Quennevia yang mengelilingi keduanya. Beberapa pedang itupun langsung bergerak dengan sendiri nya sesuai keinginan Quennevia untuk menyerang Beatrice.


Beatrice yang masih diam di tempat nya pun menatap Quennevia dengan tajam, " Kau yang memaksa ku menggunakan ini!!. " teriaknya kepada Quennevia, dan kemudian....


Sringg.... Duarrr....