Quennevia

Quennevia
Peringatan



[Season 2]


" Berhenti bermain-main diantara para dewa lagi, Ethan. Akan lebih bagus jika kau tidak mendekati mereka lagi. " ucap Titus.


Sementara Ethan yang mendengar itu pun hanya tersenyum masam, " Itu... Permintaan yang cukup sulit ya... " ucapnya menimpali.


" Sudah puluhan ribu tahun semenjak leluhur kita, Dewa Iblis menghilang. Sejak saat itu pula para malaikat dan dewa tingkat rendah mulai menginjak-injak kita, mereka menyebut kita makhluk rendahan, tapi apa yang mereka lakukan juga jauh dari kata keadilan. Jika Dewi dunia tengah tidak kehilangan nyawanya saat pertarungan besar melawan Raja Naga, para dewa dan malaikat itu juga tidak akan semena-mena di dunia yang diciptakannya. Tidak terkecuali padamu Ethan, jika mereka menemukanmu yang berkeliaran diantara para dewa, sekalipun kau memiliki darah dewa, tapi... Selama darah Iblis ada pada tubuhmu, mereka akan memusnahkanmu. " ucap Titus panjang lebar.


Jelas sekali dia sangat mengkhawatirkan Ethan, jika sampai nyawa nya terancam... Mana mungkin Titus hanya diam saja. Disaat yang sama pula, teman-teman Ethan yang mendengar itu jadi sedikit khawatir dengan posisi Ethan. Tapi ada satu yang mengganggu mereka...


" Tunggu! Kenapa hanya Ethan?? Quennevia juga punya kekuatan Iblis dan kekuatan dewa. Tapi kenapa kau berkata seolah hanya Ethan yang akan menjadi incaran mereka? Lagipula... Selama ini tidak ada apapun yang terjadi padanya. " ucap Niu bertanya-tanya.


Sedangkan Titus memiringkan kepalanya mendengar itu, " Quennevia?? Ah, maksudmu gadis yang selalu anak bodoh ini(Ethan) ocehkan padaku. Dia itu berbeda, sudah menjadi eksistensinya sejak awal yang memiliki kekuatan cahaya dan kegelapan. Dia itu anak yang di sayangi Dewa. " jawab Titus


" Tapi bukankah kau bilang para dewa tidak menyukai iblis?? " tanya Arkan pula.


" Quennevia itu... Sejak pertama kali lahir mendapatkan perlindungan dari dua orang, yang mana merupakan dua dari empat dewa utama. " ucap Ethan menyela pembicaraan.


Ucapan nya itu membuat teman-teman nya mengalihkan perhatian padanya. Ia pun kembali tersenyum dan mulai menjelaskan semuanya kepada mereka. Mungkin memang lebih baik mengatakan kebenaran nya saja dari pada mereka tahu sendiri nantinya.


" Dua dewa itu adalah, Dewa Dunia Atas, bisa di bilang dia adalah ayah dari semua dewa dan malaikat di dunia atas, Euclide. Dan yang kedua adalah Dewa Dunia Bawah, ayah dari semua yang ada didunia bawah, Hades. Bisa di bilang juga, kedua dewa itulah yang menciptakan Putri Empat Dunia dan membuatnya lahir kedunia, karena itulah tidak ada dewa manapun yang berani menyentuh Putri Empat Dunia. Karena itu sama saja artinya, mereka akan berurusan dengan dua Dewa itu. " jelas Ethan dengan cukup singkat.


" Begitu ya, kurasa itu memang masuk akal. " gumam Oscar ketika mendengar itu.


" Lalu... Kau bilang tadi ada 4 Dewa utama bukan?? Kalau begitu yang dua lainnya... " ucap Yuki menggantung.


" Hm? Tentu saja Dewi Dunia Tengah, ibu dari dunia ini dan juga kalian para Manusia, dan yang satunya adalah Dewa Cahaya, atau orang-orang sering menyebutnya Dewa Matahari. " jawab Ethan.


" Kalau begitu... Jadi sejak awal nyawa Ethan selalu terancam. Dan kami semua tidak pernah tahu tentang itu... " ucap Meliyana pula dengan wajah murung.


Begitu pula dengan yang lainnya, mereka merasa terkhianati. Padahal selama ini mereka pikir tidak ada apapun yang bisa mengancam Ethan, tapi rupanya dia menyembunyikan kenyataan besar itu. Mereka berpikir telah mengetahui tentang satu sama lain, tapi rupanya Ethan masih memiliki begitu banyak hal yang disembunyikan nya.


Ethan yang melihat itu pun jadi merasa bersalah juga, kemudian ia pun mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Meliyana. Membuat nya mengangkat kepalanya nya menatap Ethan.


" Aku baik-baik saja. Itu karena... Aku ini kuat. " ucap Ethan dengan sangat percaya diri, dan senyuman yang biasanya selalu ia tunjukan kepada mereka.


Membuat Meliyana yang mendengar nya pun hanya tertawa karena nya. Saat kemudian uacapan Titus pun kembali mengalihkan perhatian mereka.


" Ya, kau bisa bilang begitu. Tapi kalau kau sampai mati, apa yang harus kukatakan pada kakak-ku jika bertemu?? " tanyanya dengan raut wajah sangat tidak setuju.


Tapi Ethan malah menunjukan raut wajah tidak peduli, " Ya, itu urusan paman, bukan urusanku. Paling ibu cuma akan menghajarmu sampai babak belur. " ucapnya dengan nada mengejak.


Sampai Titus pun mengerutkan keningnya kesal, " Kau benar-benar keponakan yang kurang ajar, ya. " ucapnya geram, tapi tetap menahan amarah.


Tapi mereka melupakan satu hal penting...


" Hah?! Kakak?! " ucap Arkan bingung.


" Ibu?! " ucap Niu pula.


" Keponakan?! " dan Yuki juga.


" Apa maksudnya ini sebenarnya?! " termasuk Meliyana dan Oscar yang akhirnya bertanya.


Tapi Titus kelihatan tidak peduli. " Ah, kau tidak memberitahu mereka rupanya. " ucapnya dengan santainya sekali.


" Aku melupakan yang satu itu. " sahut Ethan yang merasa kikuk dengan dirinya sendiri, " Ehem, kalau begitu kita kembali ke awal nya saja. Dia adalah pamanku, Titus Sanchez. Dia adalah adik dari ibuku, Mariana Sanchez. " ucapnya, yang membuat teman-teman nya jadi tercengang.


" Apa?!! Kenapa kau tidak bilang! Ku pikir kau menyebutnya paman hanya karena kalian dekat!. " teriak Arkan karena terkejut sekaligus kesal.


" Jika bukan karena dia keponakanku, mana mau aku disebut paman olehnya. " sahut Titus menimpali.


" Kalau begitu... Anda juga adalah seorang iblis murni.." ucap Meliyana.


" Yah, begitulah adanya. " jawab Titus membenarkan.


" Baiklah, karena semuanya sudah tenang kembali. Sekarang bagaimana jika kita kembali melanjutkan mencari embun darah itu, kita akan segera pergi ke Laut. " ucap Ethan dengan sangat bersemangat.


" Sebelum itu... " ucap Titus pula menyela, dia mengambil sebuah buku lainnya dan membukanya, didalam buku itu terlihat ada kartas lainnya juga, dan itulah yang sebenarnya dicari oleh Titus. " ... Bawa ini juga. Kalian akan mudah menemukan nya menggunakan peta ini. " ucap Titus yang memberikan nya kepada Ethan.


Sampai Ethan yang melihat nya pun jadi senyum sumringah, " Ha, rupanya paman punya barang yang sangat berguna. Kalau begitu terima kas-... Loh?! " ucapnya terhenti ketika ada yang lain yang mengambil peta itu.


Hal itu adalah Quennevia. Dia tiba-tiba keluar lagi dan merampas peta tersebut sebelum Ethan sempat memegangnya, bahkan saat ini pun dia terus memeganginya dengan erat.


" Kelinci...? " ucap Titus kelihatan bingung.


" Quennevia?? " ucap Meliyana pula.


" Hah?! " yang mana itu membuat Titus makin bingung.


Mereka pun mendekati Quennevia bersama, tapi Quennevia kelihatan waspada dengan mereka.


" Ah, dia gemetaran lagi... " ucap Niu ketika melihat nya, tapi kemudian dia tiba-tiba panik. " Hah?! Dia menangis! Ethan, Quennevia menangis!! Dia menangis, cepat lakukan sesuatu!! " teriaknya bahkan sampai mengguncang-guncang Ethan.


" Te-tenang dulu, Niu. Kau membuatku pusing! " ucap Ethan menimpali.


Dan akhirnya Niu yang sadar pun melepaskan Ethan, " Ah, maaf. " ucapnya pula.


Ethan yang merasa pusing pun sedikit menggelengkan kepala, kemudian kembali menatap Quennevia. Dia berjalan mendekati nya kemudian berlutut dihadapan Quennevia dan mengulurkan tangan padanya.


" Quennevia... Bisa aku meminta peta itu?? " ucap Ethan dengan lembut.


Tapi Quennevia malah menggelengkan kepalanya dan berbalik membelakanginya, air mata yang keluar dari matanya pun juga tak berhenti. Ethan jadi bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


Sampai kemudian ucapan Titus mengalihkan perhatian nya, " Dia ketakutan, ya. " ucapnya.


" Hah?? Takut?? " tanya Oscar bingung.


" Ya. Sepertinya dia sangat tahu tempat apa yang ingin kalian datangi itu, karena itu dia ketakutan dan tidak ingin kalian pergi kesana. Dalam bentuk manusia dia memang bisa menyembunyikan perasaan nya itu, tapi dalam bentuk spirit dia tidak akan bisa melakukan nya. Apalagi dia hanya darah campuran. " jelas Titus panjang lebar.


" Begitukah?? Kalau seperti itu, lebih baik aku meninggalkan nya disini agar ada paman yang menjaganya. " ucap Ethan, yang mana kelihatan nya yang lain pun juga setuju.


" Bodoh! Yang dia takutkan itu kalian tidak kembali dengan selamat, dia sedang khawatir kepada kalian!. " ucap Titus pula sedikit kesal, dan itu benar adanya.


" Ah, begitu ya... jadi karena itu... " gumam Ethan pula yang kembali menatap Quennevia.


Dia pun kembali mengulurkan tangan pada Quennevia dan menyentuh nya, yang mana membuat Quennevia menoleh kearahnya. Kemudian Ethan pun tersenyum padanya.


" Quennevia, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, ini juga untuk mu. Kita akan pergi bersama dan kembali bersama juga, kau percaya padaku 'kan?? " ucap Ethan berusaha meyakinkan nya.


Quennevia masih menatap Ethan dengan serius, pada akhirnya... ia pun menyerahkan peta ditangannya itu kepada Ethan. Ethan yang mandapatkan peta itu pun tersenyum senang, kemudian ia pun juga mengambil Quennevia bersama dengannya.


Ethan pun kembali berdiri dan berbalik kearah teman-teman nya.


" Quennevia sudah setuju. Haruskah kita pergi sekarang?? " tanya Ethan.


" Yah, lebih baik kita pergi sebelum Quennevia berubah pikiran. " jawab Arkan yang juga diangguki oleh yang lainnya.


" Kalau begitu bagus. Oh, paman tidak akan mencegahku kan?? " tanya Ethan pula kepada Titus.


" Mau bagaimana lagi, dicegah pun kau tidak akan mendengarkanku bukan?? Yah, selama kau hidup maka itu tidak masalah. Apa kau masih membawa pedang itu?? " tanya balik Titus.


" Iya, tidak pernah kutinggalkan. " jawab Ethan.


" Kalau begitu baguslah. Tapi kau hanya boleh menggunakan nya jika sedang berada dalam situasi terdesak. " ucap Titus.


" Hmm, Oke. " sahut Ethan, setelah itu mereka semua pun pergi dari sana. Begitu pula dengan Titus yang ikut mengantar mereka kepalabuhan.