
Beberapa hari setelah kejadian itu, tidak banyak yang terlalu membicarakan kejadian itu. Tentu saja karena tidak ada murid lain yang melihat kejadian itu, mereka seperti nya berpikir ada yang sedang berlatih tanding dengan kekuatan yang sangat kuat hingga mengakibatkan getaran seperti gempa bumi itu, atau mungkin ada pertarungan di dekat Akademi.
Disisi lain Ethan dkk juga tidak mengatakan apapun kepada mereka semua, jadi benar-benar tidak ada yang tahu sama sekali.
" Hufft... Tidak terasa sudah beberapa hari berlalu begitu saja, yang lebih tidak kusangka lagi ternyata masalahnya malah jadi serumit ini. " ucap Niu sambil bersandar di kursinya.
" Yah, siapapun pasti tidak akan percaya jika mendengar hal ini. " sahut Meliyana menimpali.
" Lagian siapa yang tahu juga jika di tubuh Quennevia ada kesadaran lain nya selain Seretia, meski biasa di bilang Sirius itu juga bagian dari Quennevia sendiri, sih. " ucap Oscar.
" Lalu masalah si Beatrice itu, dia jadi tidak kelihatan sejak kejadian hari itu. " ucap Arkan.
Yah, Beatrice memang tidak pernah terlihat lagi berkeliaran di Akademi, bukan berarti dia pergi. Beatrice masih ada di Akademi, lebih tepatnya mengurung diri dikamarnya yang dikhususkan oleh para tetua.
Awalnya tujuan membiarkan Beatrice tetap di Akademi itu karena para Tetua penasaran dengan laporan tentang tubuh Beatrice, karena itu mereka ingin melihat gerak-geriknya dengan membiarkan nya ada di Akademi. Namun sekarang keingintahuan mereka malah terjawab dengan keanehan itu, namun tetap saja tidak ada yang tahu siapa yang menghidupkan nya kembali.
Namun yang sudah pasti itu bukan ulah para Nechromancer, karena jika mereka yang telah membuatnya, dia pasti tidak akan memiliki akal dan kesadaran. Mungkin saja ada yang melakukan eksperimen dengan sihir terlarang, dan dia sengaja menghidupkan Beatrice lagi, namun untuk tujuan apa hal itu dilakukan masih belum diketahui.
" Kurasa dia masih memikirkan maksud Yue, kita saja yang mendapatkan penjelasan dari para Tetua masih kurang mengerti, apalagi dia yang mencoba memahami nya sendiri. " ucap Ryohan.
" Kau benar sih, namun yang lebih kekhawatiran itu Quennevia... " ucap Niu pula, ia menoleh keluar jendela dimana menara tempat Quennevia berada terlihat menjulang tinggi di sana. " Sirius kah?? Putri dari Dewa Naga Air, Mice. Kalau tidak salah dia itu orang yang kita lihat saat penyerangan waktu di Chrysos bukan?? " tanya nya pula.
" Kau benar. Dia adalah Dewa Naga, kupikir dia siapa dengan kekuatan yang sangat besar seperti itu. " sahut Yuki.
" Lalu kau sendiri?? Apa kau sudah bicara dengan Quennevia, Ethan??. " tanya Arkan pula kepada Ethan yang sedari tadi hanya diam saja, dan fokus pada lamunan nya.
" ...... Belum, dia terus menghindari ku. " jawab Ethan dengan wajah yang kelihatan murung.
Sejak diputuskan oleh Quennevia, Ethan tidak pernah sekalipun terlihat bersemangat seperti biasanya, apalagi tersenyum, semua itu hilang seperti hujan waktu itu. Teman-temannya tahu perasaan Ethan karena bukan hanya kepadanya saja, tapi Quennevia menghindari semua orang di Akademi kecuali para Guru dan Tetua.
Disaat yang sama Ethan kembali teringat dengan apa yang dikatakan oleh Yue beberapa waktu lalu.
" Ethan, kuberi kau kesempatan. Jika.. Memang kau ingin bersama dengan Master ku kembali, maka yakinkan dia bahwa kau tulus kepadanya. Tapi jika kau bahkan tidak bisa melakukan hal itu, berarti memang hanya segitu saja kemampuan mu, dan Master akan menghilang dari hidup mu selamanya. Karena kau yang paling tahu seperti apa dia, aku yakin kau juga bisa menemukan cara untuk membuatnya percaya kepadamu lagi. " ucap Yue dihari itu.
Perkataan itu terus terngiang-ngiang dikepala nya, Ethan tahu dia harus melakukan hal itu, namun ia juga bingung bagaimana caranya. Dia sudah mencoba menjelaskan apa yang terjadi kepada Quennevia dari balik pintu, namun sama sekali tidak ada respon dari nya.
Dia bahkan sering menghabiskan waktu di depan pintu menara itu sambil bicara sendiri, setiap waktu ia berharap jika Quennevia akan menjawab nya bahkan jika hanya satu kata saja. Ethan sungguh sangat mengharapkan nya.
Ketika siang hari tiba, seperti yang selalu dilakukan oleh Ethan. Ia pun pergi ke menara tempat Quennevia berada, seperti biasa juga ia selalu membawa bunga sebagai permintaan maaf kepada Quennevia. Ia memandangi pintu itu sebentar, pintu yang memisahkan diri nya dengan Quennevia, pintu kejam karena harus melakukan hal itu kepada nya menurut Ethan.
Ethan pun menghela nafas sebentar, dan kemudian ia pun mengetuk pintu tersebut.
Tok.. Tok.. Tok..
" Quennevia.. Quennevia, kau ada di sana bukan??. " tanya Ethan namun lagi-lagi tidak ada sahutan, Ethan tetap percaya jika Quennevia ada di dalam sana.
Ia pun duduk sambil bersandar di pintu tersebut, dan menaruh bunga yang ia bawa di samping nya. Ethan pun mengangkat kepalanya tinggi-tinggi menatap langit biru yang cerah itu.
" Quennevia, aku membawa bunga untuk mu lagi sekarang. Kau mau menerima nya bukan, kumohon. Aku juga berharap jika kau bisa menerima permintaan maafku, aku... aku benar-benar kosong tanpa mu. " ucap Ethan dengan suara bergetar, hingga tanpa sadar pun airmata ikut jatuh dari pelupuk matanya.
" Aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi Quennevia, jika saja aku tidak membawa Beatrice kemari kita tidak akan seperti ini. Kau juga tidak akan merasa sedih seperti ini, aku benar-benar minta maaf, Quennevia. " ucap Ethan pula dia benar-benar terlihat rapuh sekarang.
Namun yang tidak Ethan ketahui adalah, Quennevia yang juga selalu mendengarkan setiap perkataan nya itu dari sisi lainnya dari pintu itu. Quennevia menyentuh pintu di depannya, ingin sekali rasanya ia membuka pintu itu untuk Ethan, namun ia masih takut.. takut jika Ethan membohongi nya lagi. Takut jika ia harus kecewa lagi, jika hal itu terjadi lagi... dia tidak tahu akan serapuh apa lagi dirinya.
Quennevia pun berlutut sambil menyandarkan kepala nya di pintu itu, rasa sesak menerpa nya, rasa sakit yang ia rasakan karena perasaan itu bahkan lebih sakit daripada ditikam oleh pisau menurut Quennevia. Air mata pun turut menyertai rasa sakit itu, namun Quennevia tidak berani bersuara... dia tidak ingin Ethan mendengar kehadiran nya di tempat itu.
" Huu.. Huu.. Hiks.. " Quennevia benar-benar tidak bisa menahan perasaan itu.
Tidak lama kemudian Ethan pun berdiri dari duduknya itu, ia mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata itu. Kemudian berbalik menatap pintu dimana Quennevia berada itu, ia pun ikut menyentuh pintu itu seolah dia tahu jika tangan Quennevia juga ada di sana.
" Aku akan datang lagi, aku tidak akan berhenti sampai kau memaafkan ku. " ucap Ethan, kemudian ia pun pergi dari saja meski sama sekali tidak mendapatkan kemajuan apapun.
Beberapa saat setelah kepergian Ethan itu, barulah pintu menara pun terbuka.. Quennevia lah yang membukanya. Ia berdiri tepat di ambang pintu, matanya yang sembab tertuju kepada bunga yang ada di bawah kakinya itu. Selama ini dia tidak pernah mempedulikan nya meski pun ia juga sangat ingin menerima nya, namun sekarang berbeda.
Quennevia mengambil bunga itu dan menepuk-nepuk nya dengan lembut untuk menghilangkan debu, kemudian ia pun menggenggam sebuket bunga itu dengan erat menggunakan kedua tangannya. Air matanya yang tadi berhenti pun kembali mengalir.
" Kenapa diriku menjadi serapuh ini, jika dulu... katika aku diperlakukan seperti ini aku pasti akan langsung membunuhnya. " ucap batin Quennevia.
Salah satu tangannya pun menyentuh satu-satunya bunga mawar berwarna biru di buket yang ada di tangannya itu, " Apakah... tidak ada jalan lain, kah??. " ucap Quennevia sambil menangis itu.
Sementara itu Yue yang berdiri di belakang nya hanya bisa melihat, tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak tahu perasaan apa yamg dirasakan oleh Quennevia, namun ia sangat ingin melihat Master nya itu tertawa seperti sebelumnya nya lagi.
Andai ada cara baginya bisa mengulang semuanya, dia akan mencegah mereka untuk menemukan Beatrice di tempat itu. Dan dia akan membunuhnya tepat di sana sebelum dia bangun, namun dia tidak bisa melakukan hal itu.