Quennevia

Quennevia
Dunia Fantasi



[Season 2]


Setelah Ethan dan yang lainnya melewati portal itu, portal itu pun kembali menutup seperti tidak pernah ada dan mereka pun sampai di sebuah tempat yang kelihatan seperti hutan. Sudah pasti mereka ada di Dunia Fantasi yang ada di reruntuhan kuno itu.


" Hutan ini kelihatan tenang dan lumayan indah. " ucap Meliyana sambil melihat-lihat sekitarnya.


" Kau yakin?? " saat Ethan kemudian bertanya sambil tersenyum agak aneh.


" Hah?? " Meliyana jadi bingung mendengar perkatakan nya itu.


Saat tak lama kemudian, mereka diserbu oleh segerombolan monster serigala yang entah muncul dari mana...


" Kutarik kata-kata ku!!. " teriak Meliyana yang sangat kaget karena nya


Beberapa waktu berlalu, mereka pun selesai membasmi para monster serigala itu. Lumayan banyak yang mereka bunuh, sekaligus mereka juga pergi meninggalkan hutan itu dari pada lebih banyak monster yang mungkin muncul disana. Dan kini... mereka ada di sebuah padang rumput.


Meliyana pun langsung terduduk disana dengan nafas yang terengah-engah, dia sangat lelah karena harus bertarung sekaligus melarikan diri jauh seperti itu.


" Hah.. hah... Astaga, ini benar-benar gila! Kenapa harus ada monster didunia fantasi?! " keluh Meliyana terlihat seperti tercekik.


" Mereka itu penjaga. Orang yang membuat reruntuhan ini pasti tidak akan mau apa yang ditinggalkan nya didapatkan dengan sangat mudah nya, kan. " ucap Yuki menyahutinya.


Tentu saja, apalagi jika sampai digunakan oleh orang yang salah dan untuk kejahatan.


" Haha... Iyah, setidaknya kita sudah keluar dari hutan. " ucap Niu kemudian.


" Benar, dan kita juga mendapatkan Kristal beast ini. " sahut Arkan pula.


Iya, Kristal beast itu cukup berharga. Jika ditukarkan dengan uang mereka bisa mendapatkan cukup banyak, jika mereka beruntung bisa mendapatkan Kristal beast yang sesuai dengan kekuatan mereka. Mereka juga bisa menambah kekuatan dan wadah penampung mana dalam tubuh mereka.


Tapi tentu saja, mereka tidak boleh melupakan tujuan awal mereka datang ke reruntuhan itu. Yaitu untuk menemukan obat agar biasa membangkitkan Quennevia kembali.


" Ah, ngomong-ngomong.. kemana kita harus mencari buah itu?? " tanya Oscar yang jadi penting disana.


" Zico sedang mencari nya. " jawab Ethan.


" Oh, bagus sekali. Kalau begitu sekalian kita jalan saja. " sahut Arkan pula, yang juga diangguki oleh yang lainnya.


Kecuali satu orang, " Ah~.. kenapa jalan lagi?? " rengek Meliyana yang tidak mau bergerak dari tempat nya sedikit pun.


Karena itu dia sampai seret oleh Yuki meskipun tidak mau, dari pada mereka nantinya meninggalkannya disana sendirian. Untung jika mereka ingat menjemput nya lagi, tapi kalau tidak.... Hm, ya begitulah. Bisa saja Meliyana dijadikan makanan oleh monster-monster tadi, atau mungkin malah tersesat saat ingin mencari mereka lagi.


Lebih buruk lagi jika sampai dia bertemu dengan kelompok lainnya yang ada direruntuhan itu, karena tidak ada yang tahu kalau dia seorang putri disana selain mereka, satu-satunya putri mahkota lagi. Jika nyawa nya dalam bahaya karena orang-orang itu, bisa ada perselisihan antar kerajaan yang terjadi.


Mereka berjalan kearah timur mengikuti langkah angin berasal, entah kenapa tapi mereka merasa yakin sekali kalau tempat nya ada disana. Beberapa kali mereka juga dihadang monster lagi, tapi tidak ada kesulitan sama sekali dalam membereskan nya. Sampai kemudian, Zico yang tiba-tiba muncul..


Kyuu...


" Zico, ada apa?? " tanya Ethan.


Kyuu.. Kyuu..


Zico bergelantungan terbalik di udara, keluar dari portal dimensi nya sendiri. Ia mengatakan kalau dirinya merasakan sesuatu yang sangat kuat dan bisa dibilang cukup akrab meskipun dia tidak tahu apa itu.


" Benarkah?? " tanya Oscar pula kelihatan bersemangat.


" Ayo pergi!. " dan Niu langsung menengahi mereka.


Ethan dan yang lainnya pun langsung bergeges ke tempat yang ditunjukan oleh Zico, itu tidak terlalu jauh seperti sebelumnya. Hingga langkah mereka kemudian berhenti didepan sebuah batu besar yang menjulang tinggi dihadapan mereka.


" Disini kah tempat nya?? " tanya Oscar menatap batu raksasa itu dengan seksama.


" Zico bilang seperti itu. " Ethan mengklarivikasi hal itu.


Memang benar jika dari dalam batu besar itu, mereka bisa merasakan sesuatu yang kuat meski samar. Sesuatu dibalik batu itu pasti sangat berharga dan ada kemungkinan... adalah sesuatu yang sedang mereka cari.


" Hm... " Niu sedikit memeriksa batu itu dengan menempelkan telinga nya dan memukul-mukul batu tersebut, kemudian ia pun berkata.. " Seperti nya batu ini adalah pintu masuk ke tempat lain, tapi sama sekali tidak kelihatan ada cara untuk membukanya. " ucap nya.


" Bagaimana cara membukanya?? " Meliyana juga bertanya-tanya tentang itu.


Saat kemudian perhatian mereka teralihkan ke sebuah suara. " Astaga, kalian benar-benar bodoh. " Yue muncul dengan wujud menusianya dibelakang mereka.


Ia bukan nya tidak ikut dengan Ethan dan yang lainnya datang ke sana hanya karena tidak muncul, dia sebenarnya ada di dimensi ruang yang sama dengan Zico. Sebagai tempat sembunyi sekaligus istirahat yang bagus.


" Yue, apa kau tahu cara membukanya?? " tanya Oscar saat melihat nya.


" Hmph... Apa yang sulit dengan ini, padahal si bodoh itu maupun kalian juga tahu caranya. " ucap Yue sambil menunjuk Ethan.


" Maaf, karena aku bodoh. " dan memanang dengan bodoh nya juga Ethan menyahuti perkatakan Yue.


" Oi, jangan memanggil dirimu sendiri bodoh. " ucap Arkan yang terheran-heran dengan apa yang terjadi kepada Ethan.


Mungkin kah Ethan trauma dengan Yue karena masalah waktu itu, tapi, eh... kayaknya nggak mungkin deh. Seorang Ethan, satu-satunya pangeran mahkota Kekaisaran Foldes jadi trauma hanya karena kejadian seperti itu.


Yue menggela nafas panjang karena itu, " Haah... Akan kutunjukan pada kalian. " ucap nya.


Ia pun kemudian berjalan mendekati batu itu, dan Niu yang juga memberikan jalan untuk nya, lalu Yue pun meletakan satu tangannya di batu tersebut. Ia menarik nafas nya sebentar, dan mengambil ancang-ancang. Ia mengepalkan sebelah tangannya yang lain dengan kuat, saat...


Duak... Krakk... Brukk...


Yue memukul batu itu sampai hancur, dan kini terbuka lah jalan yang lebar dihadapan mereka.


" Lihatlah, sudah terbuka. " ucap Yue dengan santainya.


Sementara, baik itu Ethan maupun teman-teman nya tercengang melihat hal tersebut, jika hanya seperti itu sih mereka sendiri juga bisa melakukan nya, kenapa Yue malah membuat mereka berpikir kemana-mana tentang cara membukanya.


" Harusnya kau bilang saja dari tadi.... Yue!. " ucap Arkan yang entah kenapa malah merasa kesal sendiri.


" Salah kalian itu saja tidak tahu. " Yue sama sekali tidak kelihatan peduli dengan apa yang barusan terjadi, " Sudah ya, sisanya kalian saja yang urus. " ucapnya pula yang kemudian menghilang ke ruang dimensi yang sama dengan Zico.


Meninggalkan Ethan dan teman-teman nya yang masih terdiam ditempat mereka masing-masing. Tidak ada yang bicara diantara mereka sama sekali, mereka terpaku dengan pikiran masing-masing. Sampai kemudian... Niu lah yang pertama angkat bicara.


" Umm... Kita jadi pergi atau tidak?? " tanya Niu, yang membuat mereka langsung menoleh kearah Niu dengan serempak.


Pertanyaan itu menyadarkan mereka semua dari keterkejuran mereka, hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk melanjutakan perjalanan melalui jalan yang dibukankan oleh Yue. Dari pada diam terus disana tanpa melakukan apapun, iya kan??