Quennevia

Quennevia
Persiapan, Hitungan Mundur...



-- Benerapa hari kemudian, persiapan untuk perang.


Kembali ke ruang rapat, dimana Quennevia dan teman-temannya berkumpul. Tapi kali ini mereka tidak bersama dengan para perwakilan negara, melainkan beberapa senior dan alumni yang telah dipilih langsung oleh kepala akdemi, sebagai pemimpin kelompok para siswa yang akan mengikuti perang.


Disana juga terdapat, Jino, Kian, Arden, Sayles dan juga Lilac. Para senior yang telah akrab dengan Quennevia dan yang lainnya sejak sebelum mereka lulus dari Akademi. Dan orang-orang yang meraih posisi tinggi dalam tingkatan murid yang pernah dilatih disana.


Prok..prok..


" Baiklah, semuanya. Saya minta tolong perhatian nya sebentar." Sakura buka suara ditempat itu setelah menepuk tangannya sebanyak dua kali untuk meminta perhatian semua orang disana.


Dan ia pun kembali berkata, " Seperti yang telah kalian semua dengarkan sebelum nya, para murid dan alumni yang telah terpilih untuk ikut berperang melawan klan Retia akan dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Kita semua akan berpencar ke berbagai titik lokasi dan bergabung dengan pasukan aliansi lain dari berbagai negara. Dan akan mulai menyisir wilayah hingga ke perbatasan pegunungan hitam, tempat dimana markas musuh berada." Sakura mulai menjelaskan rute pergerakan mereka dengan seksama kepada mereka, sembari mununjukan peta wilayah yang dia maksud.


Saat kemudian salah seorang dari peserta rapat ini ada yang mengangkat tangannya, " Bagaimana dengan persediaan dan persenjataan yang akan kita bawa dalam rencana ini? Apakah kesiapan dari para anggota juga telah dipastikan?" Dan ia mulai mengajukan pertanyaan.


Sakura pun meresponnya dengan cepat dan mulai menjawabnya, " Iya, semua persediaan dan persenjataan telah tersedia. Setiap individu hanya perlu mengkonfirmasi hal tersebut ke kelompok pendukung, dan mereka akan diberikan senjata yang sesuai dengan gaya bertarung, kemampuan dan kekuatannya. Sementara soal kesiapan setiap anggota, kami telah memastikan kalau semuanya dalam kondisi baik dan sehat. Palingan mereka hanya gugup karena akan maju ke garis depan langsung atau canggung karena tidak mengenal siapa orang disekitarnya." dan ia mengakhiri penjelasan panjang itu dengan sesuatu yang cukup ringan diakhirnya.


" Baiklah, mari kita mulai dengan strategi bertarung yang lainnya--..."


Seperti yang diharapkan, dia adalah orang yang sangat cocok dalam merancang strategi dan juga presentasi. Dia memiliki sikap dan wibawa yang kuat untuk bicara dihadapan semua orang, Quennevia sampai bangga melihat nya.


Bahkan teman-teman Ethan dan yang lainnya sampai fokus mendengarkannya dengan ekspresi kagum tertera diwajah mereka.


" Hahaha... Dia anak yang sangat-sangat berbakat dan percaya diri, dari mana kalian menemukannya??" tanya Jino kepada Arkan yang ada disampingnya dengan sedikit berbisik.


Bahkan Sayles juga menyetujui hal tersebut, " Itu benar. Aku yakin dia bisa menjadi penasehat atau tangan kanan yang sangat handal dan bisa diandalkan." ucapnya.


" Kami menemukannya saat melakukan perjalanan, dia memang punya bakat, sayang beberapa orang ditempat nya sama sekali tidak menghargainya." jawab Arkan pula menimpali mereka.


Itu kebenarannya, karena seperti itulah kehidupan Sakura. Tapi sekarang...


" Haha... Begitu rupanya." Sayles tidak terlalu tahu apa maksud Arkan mengatakan itu, tapi ia senang jika semuanya benar-benar menjadi baik untuk Sakura sekarang.


Dia terlihat lebih bersinar dibandingkan ketika ia berada ditempat lamanya, hingga membuat orang-orang ditempat ini takjub.


Sakura sekarang sudah ada ditempat dimana ia harusnya berada.


Persiapan dilakukan lebih intens dan secepat mungkin saat ini, karena mereka tidak akan lagi memperpanjang waktu untuk perang ini. Semua orang sedang gencar mengumpulkan tenaga dan senjata sesuai yang diharapkan, dan semuanya telah mencapai 68% total keseluruhan kesiapan pasukan.


Puncak dari perang dengan klan Retia ini akan dimulai dalam--...... 21 hari lagi.


***


Sementara itu, dipusat markas klan Retia. Istana pemimpin dimana Seretia berada, semuanya sesunyi tengah malam dan pemandangan gelap yang hanya diterangi oleh cahaya lilin disetiap koridor.


Langkahnya terdengar berjalan dengan irama yang teratur, Seretia berjalan sendirian, berbaur dengan gelapnya malam. Setenang hembusan angin dingin.


Ia tiba diruangan khusus yang tidak dapat dimasuki oleh siapapun.


Ketika ia mengulurkan tangannya dan menguraikan lingkaran sihir yang mengunci tempat itu, pintunya pun perlahan terbuka dan ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, disaat yang sama pintu pun mulai tertutup.


Ia terus melangkah, dan melangkah...


Crrinkkk...


Dan ia melihat sesuatu...


" Ughh..."


Atau.. Seseorang yang ia nantikan.


Seretia yang melihat nya pun mengukir senyuman diwajahnya, dan berbicara kepada orang dihadapan nya...


" Kau menyerap kekuatan nya dengan sempurna.... Ryohan."


Kepada anak yang terikat rantai didinding dihadapan nya.


Pada keturunannya, putra kedua dari Seriana.


Ryohan yang mendengar suaranya pun perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Seretia, " Hah.. Hah... Leluhur..."


Tatapannya begitu kosong dan hancur, hampir tak ada lagi kehidupan yang tersisa dimatanya. Dalam kondisi seperti itu, ketika kedua tangan dan kakinya terikat olah rantai khusus yang tak bisa dihancurkan dengan mudah, ia harus menahan rasa sakit dan juga luka karena tubuhnya yang mencoba memberontak dari rasa sakit yang ia rasakan.


Tapi itu bukanlah puncak dari segalanya. Dia merasa kalau sesuatu sedang berusaha menggerogoti dirinya dari dalam. Itu sangat mengerikan bahkan sampai membuatnya merinding. Tapi dia tetap bertahan, dia harus...


Seretia sendiri telah melihat tekad itu sejak pertama kali ia melihat Ryohan, dibandingkan dengan saudaranya tekad Ryohan lebih kuat meskipun kekuatan nya tidak sekuat Lorenzo, kakaknya. Karena itu ia pun memutuskan untuk membantunya...


" Hanya tinggal sedikit lagi, Ryohan. Sedikit lagi..." Seretia pun mengulurkan tangannya dan membelai wajah keturunannya yang malang, " .... Kau hanya perlu bertahan sedikit lagi sampai kau bersatu sepenuhnya dengan Kristal itu. Dan saat kau menjadi satu dengan kristal, maka kekuatan besar akan mengikutimu." ucap Seretia kepadanya.


Tak hanya itu, Seretia pun kemudian merangkul dan memeluknya, ia memberikan usapan lembut pada rambutnya yang halus. Memberikan kehangatan layaknya sosok ibu yang baik...


Tapi ekspresi yang dibuat nya saat ini sangat dingin meskipun ia tersenyum, " ... Dengan begitu kau bisa menjadi orang yang paling membantu kakakmu, kan? Seperti yang selalu kau inginkan." dan ia mengatakan itu kepada Ryohan.


Sementara itu Ryohan yang tak memiliki kekuatan apapun untuk menolaknya, hanya tenggelam dalam buayan kegelapan yang mendekapnya saat ini. Dia tidak akan pernah kembali...



***


- Arena Latihan-1, Akademi bintang utara.


Quennevia dan yang lainnya berkumpul disana, ketika Niu sedang melakukan spring (sparing) dengan Yuki. Sementara itu sisanya terdiam dipinggir lapangan menyaksikan bagaimana keduanya saling beradu pedang satu sama lain. Dan mengetes kembali kekuatan mereka yang telah meningkat pesat selama perjalanan sebelumnya.


" Hihi... Ini terlihat sangat menarik sekali." ucap Arkan ketika itu, dia duduk bersantai sambil memegangi pedangnya yang tertancap dan menggunakan itu sebagai tumpuan dagunya.


" Kenapa kau tidak berduel denganku juga, Arkan??" Lalu Oscar pun melemparkan pertanyaan itu kepadanya setelah mendengar perkataannya.


Dan Arkan pun langsung menoleh dengan semangat dan menimpali, " Oke! Yang kalah traktir makan diluar akademi, ya!."


" Lah??"


Ia justru membuat ajakan spring menjadi taruhan sampai-sampai Oscar tak habis pikir mendengar itu.


Sementara itu Arkan hanya cengengesan kearahnya. Ya seperti itulah dia.


Saat kemudian mereka teralihkan kepada Meliyana yang menghela nafas sangat panjang disisi lain mereka.


" Haa... Apa boleh kita bersantai seperti ini saat seluruh benua sedang tegang karena perang yang akan terjadi??." Meliyana mengatakan hal tersebut dengan ekspresi yang benar-benar terlihat sangat tertekan.


Tapi Arkan yang mendengar itu hanya menimpali dengan kata-kata, ".. Kenapa kau gelisah begitu?? Ini kan hanya perang..?" katanya dengan wajah yang sangat santai dan sebelah alisnya yang terangkat.


Membuat Meliyana yang melihat nya langsung bereaksi jengkel, " Apa?! Hanya perang kau bilang? Hei, apa kepalamu terbentur atau apa? Jangan bilang kau tidak tahu perang itu apa, ya!." ucapnya.


Sayangnya Arkan tak peduli dan hanya mengangkat kedua bahunya, " Yah, perang itu perang. Memang apa lagi? Selama aman ya tidak masalah."


" Mana ada perang yang aman, dasar bego! Jangan bicara seolah meteor yang jatuh adalah bola upil yang kau kumpulkan!."


" Itu menjijikan, tolong jangan membahasnya."


Kedua orang ini sekarang malah saling bersitegang satu sama lain dengan ekspresi mereka masing-masing. Sampai-sampai Ethan yang melihat pertengkaran keduanya pun jadi terkekeh geli.


" Ahaha... Aku tidak tahu kalau Arkan mengumpulkan bola upil." dan ia juga menanyakan hal tersebut sebagai lelucon.


" Berhenti, jangan kau juga." tapi Oscar langsung menanggapi itu dan menghentikannya untuk tidak membuat suasana disana jadi semakin buruk.


Hal itu membuat mereka jadi hanya terfokus kepada mereka yang sedang berdebat satu sama lain, sampai tidak menyadari kalau latihan Yuki dan Niu telah berakhir. Hingga kemudian Niu pun buka suara dan bertanya...


" Apalagi yang mereka debatkan sekarang??" ucapnya sambil mengelap keringat diwajahnya menggunakan handuk dan menatap kearah mereka dengan ekspresi jenuh.


Sepertinya dia sudah terlalu sering melihat Meliyana dan Arkan bertengkar akhir-akhir ini, dan jujur itu agak mengganggunya meski ia sudah berusaha untuk mengabaikan sikap kekanakan keduanya.


" Apa..??"


Dan jawaban itu langsung membuat Niu dan Yuki membuat ekspresi jijik diwajah mereka. Itu bukanlah hal yang mereka pikir akan sampai diperdebatkan oleh kedua orang bodoh itu.


" Dasar Arkan bodoh..!"


" Hei, jaga kata-katamu, Tuan Putri yang belum dewasa."


" Aku sudah dewasa, kau otak burung! Aku sudah melewati usia untuk melakukan upacara kedewasaan!."


" Tingkahmu tidak lebih dewasa dari anak berusia 14 tahun, tahu."


Bahkan keduanya kelihatan sama sekali tidak ada yang mau kalah, jika dibiarkan mereka pasti tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini, hingga akhirnya Ethan pun harus mengambil keputusan untuk menghentikan keduanya sendiri.


" Baik, berhenti kalian berdua. Jika terus dibiarkan kalian bisa sampai menggigit satu sama lain, jadi mari kita hentikan debat tidak berguna ini sekarang." dia berdiri diantara mereka dan mendorong wajah Meliyana dan Arkan masing-masing ke arah lain agar keduanya bisa berhenti saling menatap dengan tajam.


" Ungg... Tapi 'kan, dia duluan yang mulai." ucap Meliyana pula tak terima dengan itu.


Termasuk Arkan, " Kau duluan yang mengataiku, memori pendek."


" Kau bilang apa??."


" Hei, sudah kubilang berhenti. Apa kalian berdua tidak mendengarku??"


Ethan sampai tak habis pikir, padahal keduanya sudah sama-sama dewasa, tapi mereka berdua masih saja sangat keras kepala. Ya harus iya akui, dia kadang seperti mereka. Tapi dia mungkin tidak akan menyalak seperti mereka karena hal sepele seperti ini.


Syukurlah, pada akhirnya Meliyana pun mengalah lebih dulu dan berhenti bertengkar dengan Arkan. Tapi tetap saja, suasana hatinya sama sekali tidak berubah...


" ...Aku takut." ia berkata.


" Aku tidak mau perang ini terjadi. Aku tidak mau siapapun jadi korban, aku tidak mau mati. Dan yang lebih menakutkan... Bagaimana jika aku kehilangan kalian??" lanjutnya pula.


Sebuah kata-kata berisi ketakutan yang benar-benar besar, seketika membuat mereka semua yang ada disana terdiam. Tentu saja, mereka bisa mengerti hal tersebut, karena mereka juga merasakan hal yang sama.


Ada banyak hal yang dipertaruhkan dalam perang ini, banyak orang-orang yang mereka kenal dan berharga bagi mereka juga terlibat didalamnya.


Akan benar-benar sangat menakutkan jika mereka semua tidak pernah terlihat lagi.


Itu mimpi buruk milik semua orang.


Tapi...


" Jadi, kita hanya harus bersama." suara itu menarik perhatian Meliyana, membuat nya menangkat kepalanya dan menatap Quennevia yang tersenyum dengan lembut kepadanya. " ... Ayo tetap berjuang sampai akhir bersama dan kembali dengan selamat bersama." Quennevia berkata demikian dan mengulurkan tangannya.


" ... Aku juga tidak ingin kehilangan satupun diantara kalian." tambahnya.


Teman-temannya yang lain yang mendengar perkataanya pun kemudian juga ikut tersenyum, mereka menganggukan kepalanya satu sama lain sebagai tanda setuju. Tentu saja, mereka sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa selama ini, dan tetap bersama. Karena itu... Mereka yakin jika mereka berjuang sekali lagi, mereka juga bisa melewati ini.


Meliyana yang melihat tekad bulat teman-temannya nya pun sampai tak bisa menahan air matanya, dia sedih karena membayangkan kejadian terburuk yang muncul dikepalanya, tapi juga terharu dengan kepercayaan yang selalu mereka pertahankan diantara mereka.


Terkadang dia masih merasa sedikit ragu, meskipun selama ini dirinya juga ada didalam ikatan itu. Tapi dia tidak akan ragu lagi, dia juga akan melakukan yang ia bisa..


" Aku..! Aku juga akan berjuang, jadi kalian... Jangan pernah tinggalkan aku, ya!." ucapnya sambil berusaha untuk menahan air matanya yang terus turun.


Dan melihat nya kembali bersemangat, membuat mereka benar-benar lega.


" Aduh duh, Meliyana masih saja cengeng, ya." ucap Oscar sembari mengelus kepalanya dengan lembut.


" Aah! Hentikan, jangan perlakukan aku seperti anak kecil!." meski Meliyana protes akan hal itu.


Mereka hanya tertawa menanggapi hal tersebut. Karena itulah kehangatan selalu dibagikan diantara mereka, karena tidak ada satupun yang akan membiarkan salah satu diantara nya bersedih.


Suasana mulai berubah kembali menjadi cerah, sampai kemudian Niu yang sedang tertawa bersama mereka pun teringat sesuatu..


" Haha... Ah! Jika perang dengan klan Retia berlangsung, itu artinya dia juga akan..." ucapnya yang perlahan semakin kecil dan berhenti sebelum menyelesaikan kata-katanya.


" ...Ryohan juga akan ada dimedan perang." dan Ethan lah orang yang menyelesaikan kalimat yang belum selesai itu.


Keheningan lagi-lagi tutun diantara mereka, bahkan suasana suram mulai terasa. Beberapa diantara mereka juga terlihat kambali gelisah, secara spesifik itu Meliyana, Oscar dan Niu sendiri yang memulai percakapan sensitif tersebut.


Mau bagaimana pun, Ryohan pernah menjadi bagian dari mereka, dan pengkhianatannya dulu meninggalkan luka yang benar-benar dalam pada mereka.


Itu sesuatu yang tidak ingin diingat oleh siapapun, apalagi Yuki.


" Itu sulit--... Maksudku, kemamuannya itu sangat merepotkan. Tidak akan mudah melawannya." ucap Oscar pada akhirnya jadi orang yang kembali memulai percakapan diantara mereka.


Dan Arkan jadi yang kedua dan menanggapi perkataan Oscar, " Kurasa, jika Sakura ikut turun ke medan perang, dia bisa jadi lawan yang cocok dengan kemamuan Ryohan yang menipu. Sakura bisa melihat kebenaran dan kebohongan, dan daya observasinya juga besar. Karena itu--.."


" Aku yang akan melawannya."


" Iya??"


Perkataan Arkan terpotong oleh pengakuan tak terduga itu, hingga membuatnya sangat terkejut dengan hal tersebut. Bukan hanya dia, yang lain nya juga sama. Itu karena orang yang mengatakannya...


" Aku akan melawannya."


...adalah Yuki.


Mereka semua menatap nya dengan ekspresi wajah yang khawatir, tapi berbeda dengan reaksi teman-temannya setelah mendengar perkataanya, Yuki justru terlihat bingung kenapa mereka menatapnya demikian.


" Apa..? Ada yang salah dengan kata-kataku?" tanyanya memastikan hal tersebut.


Tapi mereka langsung menggelengkan kepalanya dengan serempak dan ikut bingung karena tingkah Yuki yang sangat santai saat ini.


Dan Meliyana pun kemudian mengajukan pertanyaan yang dipikirkan mereka semua yang ada disana...


" Kau... Apakah kau benar-benar yakin akan melawannya?" tanya Meliyana.


" Iya." dan begitulah jawaban singkat yang diberikan Yuki kepadanya.


" Sendirian...??"


" ...Iya, entahlah."


" Kau benar-benar Yuki, kan...?"


" Apa maksudmu mengatakan pertanyaan seperti itu??."


Yuki semakin bingung dengan alasan Meliyana bertanya demikian kepadanya, sementara itu Meliyana tidak lagi menjawabnya dan justru menatapnya dengan aneh.


Yah, sebenarnya Yuki bisa menebak kenapa mereka jadi bersikap aneh begitu padanya setelah mendengar perkataanya yang bilang akan melawan Ryohan sendiri.


" Aku tahu apa yang kalian khawatirkan, tapi itu tidak akan terjadi..." ucap Yuki sembari tertunduk menatap tangannya sendiri, dan ia pun mengepalkannya dengan erat. "... Tidak akan lagi."


Yuki pun menutup kedua matanya rapat dengan dahinya yang berkerut, sementara dalam hati ia meneguhkan pendiriannya sendiri. " Aku harus bisa mengatasi kelemahanku untuk maju menuju masa depan bersama teman-temanku."


Saat kemudian ia merasakan tepukan dibahunya, dan ia melihat Ethan disampingnya.


Ethan berkata, " Kami mengerti. Jika itu yang kau inginkan, maka tidak ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan selain percaya padamu. Karena itu.. jangan sampai kalah." ucapnya sambil tersenyum lebar kepada Yuki.


Yuki yang mendengar kata-kata nya sempat terdiam sesaat, dan ia kemudian membalasnya dengan senyuman dan anggukan kapala.


" ..Iya." jawabnya.


Itu adalah hari dimana mereka saling menguatkan satu sama lain, dan menetapkan tujuan akhir bersama.


{Hanya tinggal... 14 hari lagi sebelum perang dimulai.}