Quennevia

Quennevia
Pulang



Kemunculan Everon di sana membuat orang-orang bertanya-tanya siapa dia, suasana berubah hening sesaat, apalagi karena dia mampu mematahkan serangan musuh dengan sangat mudahnya. Juga tidak ada yang pernah melihat penampilan nya itu, sudah pasti tidak akan ada yang tahu.


" Siapa pria itu?? Dia bisa menahan serangan kita betiga dengan mudah nya. " ucap Sica.


" Hahaha... tidak hanya itu, auranya juga sangat menyeramkan. " ucap Reeth.


Bahkan orang-orang Reeth pun juga tidak mengenali siapa Everon, tapi mereka cukup terkejut dengan apa yang di lakukan nya.


Prok... Prok... Prok...


Ditengah kebingungan yang melanda orang-orang disana, perhatian mereka langsung teralih mendengar seseorang bertepuk tangan.


" Hooh, kekuatan yang luar biasa. " ucap orang yang bertepuk tangan itu, yang ternyata adalah Quennevia.


Melihat nya baik-baik saja membuat orang-orang kembali tercengang, begitu juga dgn Sica. Dia tidak percaya Quennevia tidak apa-apa setelah terkena serbuk mimpinya.


Bahkan Ethan pun sampai ikut bertepuk tangan di sana, " Seharusnya kau lebih awal sampai, dasar orang tua. " ucapnya.


" KA-LI-AN... bukannya menyerang mereka malah pura-pura tidur, mau ku hajar ya. " geram Everon yang kesal, ternyata dia tahu kalau Quennevia dan Ethan hanya pura-pura tidur tapi baru mengatakan nya sekarang.


" Tidak, kami juga baru saja selesai di sembuhkan oleh Xi. Jadi jangan marah-marah. " ucap Quennevia sambil mengelus Xi yang ada di samping nya.


Perbincangan diantara mereka itu membuat Everon agak kesal, tapi iya bagaimana lagi. Musuh mereka kali ini pun lebih kuat dari yang sebelumnya, Quennevia dan Ethan beruntung bisa bertahan sejauh ini.


Everon pun kali ini kembali mengarahkan perhatian nya kepada musuh mereka, lebih baik langsung ia selesai kan saja ya.


" Kalian, apa kalian ingin melanjutkan nya??. " tanya Everon kepada orang-orang itu.


" Kalau boleh sih berhenti, tapi putri Quennevia harus ikut dengan kami. " sahut Reeth.


" Itu mustahil, aku tidak akan membiarkan kalian membawanya. " ucap Everon lagi.


"Benar, benar. " ucap Quennevia dan Ethan di belakang nya pula, sambil menganggukkan kepalanya diikuti Xi.


" Cukup basa-basinya, kita langsung... " ucap Caius menggantung, Ia dan orang-orang nya seperti nya mendapatkan panggilan dari orang lain dalam kepala mereka. " Serius nih, kita mundur. " ucapnya pula.


" Hahaha... Mau bagaimana lagi, baiklah kami pergi saat ini. Tapi kami mungkin akan kembali, sampai jumpa. " ucap Reeth pula, dan mereka semua pun langsung menghilang begitu saja dari tempat itu.


Itu membuat para pemimpin jauh lebih lega, akhirnya orang-orang itu pergi juga dari sana. Jika pertarungan dilanjutkan mereka khawatir kota ini akan hancur, mengingat Everon yang memiliki kekuatan sebesar itu.


" Akhirnya... " ucap raja Karai.


" Haah... Aku pikir akan ada pertempuran lain. " ucap Meliyana pula.


Namun seperti nya Quennevia kurang puas dengan kepergian mereka yang seenaknya seperti itu, nampaknya ia ingin labih melihat kemampuan Everon dan orang-orang itu.


" Cih, mereka malah kebur terlalu cepat. Setidaknya lawan lah Everon satu menit saja. " gumamnya dengan kesal.


" Hahh?!! Dasar gadis sialan, bukannya bersyukur orang-orang itu pergi, kau malah mengeluh seperti! Hahh?!!. " ucap Everon pula sambil memukul-mukul kepala Quennevia dengan pelan, tapi penuh dengan emosi.


" Aw..Aw.. Ma.. Maaf >< " ucap Quennevia pula.


" Kalau boleh jujur aku juga sedikit kecewa. " ucap Ethan pula, dan akhirnya juga mendapat tatapan emosi dari Everon.


Sementara itu Ethan langsung mengalihkan wajahnya untuk menghindari tatapan Everon. Karena tatapan Everon yang emosi itu membuat nya khawatir pada dirinya sendiri, lebih baik dia tidak membuat nya semakin kesal saja.


" Ck, kalau begitu aku akan kebalik sekarang. Atau kau perlu pengamanan menuju Kekaisaran??. " tanya Everon.


" Tidak, tidak. Kau pergi lah dulu, aku akan segera menyusulmu. Beri aku waktu satu atau dua minggu lagi, aku akan datang ke tempat lama ibu. " ucap Quennevia dengan ceria, akhirnya tiba juga waktu agar ia bisa datang ke tempat itu.


" Oke, jika terjadi sesuatu kau tahu harus apa, kan?? " ucap Everon kemudian menghilang.


" Iya, sampai jumpa. " sahut Quennevia pula.


Wushhhhh.....


Tidak lama lagi dia akan meninggalkan rumahnya, untuk menjadi kuat dan melindungi mereka yang ada di sana, dan sebelum itu.. ia harus membuang duri yang selama ini menancap di keluarga nya terlebih dahulu. Harusnya ia senang karena akan segera kuat dan akan segera menyingkirkan para selir, namun entah kenapa... dia merasa sangat gelisah akan sesuatu.


" Master!!. " teriak seseorang lagi.


Ternyata itu adalah Yue, dia berlari kearahnya sambil menangis seperti itu. Bukan hanya Dia tapi Lecht dan Kai pun malah ikut berlari kearahnya.


" Ehh??... " ucap Quennevia bingung.


" Master!. " panggil Yue lagi, ia langsung memeluk Quennevia sambil terus menangis. " Master, aku... aku sangat khawatir. " ucapnya.


Quennevia tersenyum mendengar itu, " Bodoh, padahal kau sampai terluka seperti ini. Masih sempat-sempatnya menghawatirkan ku. " sahut nya sambil mengelus Yue.


" Quennevia, kau baik-baik saja kan,??. " tanya Lecht.


" Iya. " jawab Quennevia.


" Putri, yang tadi itu siapa??. " tanya Kai pula.


Aha... mereksa sudah pasti penasaran lah, mereka kan tidak tahu siapa Everon.


" Ah.. haha... Namanya Everon, dia.. Kenalan ibu dulu. " ucap Quennevia pula.


Lecht dan Kai hanya mengangguk mendengar itu, mereka sudah berpikir jika itu kenalan ibu Quennevia, Misika. Sudah pasti dia orang yang sangat kuat, apa lagi saat mereka melihat nya tadi.


" Baiklah, sebaiknya kita kembali ke Kekaisaran sekarang. " ucap Lecht.


" Iya, ayo. " sahut Quennevia dengan semangat, sejak pagi tadi entah kenapa kepribadian nya jadi agak lebih baik, tapi itu adalah hak baik benarkan.


****


Di perjalanan pulang, Quennevia masih sama seperti sebelumnya, hanya memandangi jalan dari jendela kereta nya. Dipangkuan nya Yue yang terluka sudah di obati dan di perban, Quennevia mengalihkan perhatian nya kepada Yue dan mengusapnya dengan lembut.


Beda dari pada sebelumnya, ia merasa sangat gelisah, ia merasa tidak ingin kembali karena akan ada sesuatu yang memuatnya tidak senang. Bahkan saking gelisah nya ia sudah menghela nafas nya berkali-kali.


" Haahh... "


" Ada apa?? " tanya Lecht yang ada di samping nya, ia merasa aneh dengan Kalisa yang gelisah seperti itu.


" Mm... Tidak. Hanya saja... aku merasa akan ada masalah di rumah. " sahut Quennevia.


" Tenang saja, aku yakin kau bisa mengatasi nya. " ucap Lecht pula sambil menepuk kepalanya.


Quennevia hanya mengangguk pelan, mendengar itu tidak membuat suasana hatinya jadi lebih baik, malahan itu membuatnya semakin gelisah.


Tidak lama dari pembicaraan mereka itu, kereta yang mereka tumpangi tiba-tiba saja berhenti, dan seorang prajurit datang menghampiri sisi Lecht.


" Kenapa kereta kudanya berhenti??. " tanya Lecht kepada prajurit itu.


" Itu.. Pangeran, di depan sana ada rombongan tuan muda Jason. Dia sedang menuju ke mari dengan cepat. " jawab prajurit itu.


" Apa ada masalah, kak? ?. " tanya Quennevia kepada Lecht pula.


" Hmm... Entahlah, lebih baik kita menanyakan nya langsung kepada Jason terlebih dahulu. " sahut Lecht.


Lecht dan Quennevia pun turun lebih dahulu dari kereta, sambil menunggu Jason dan rombongan nya itu di depan sana. Quennevia yang masih membawa Yue di pelukannya, menunggu dengan perasaan yang semakin gelisah, tidak mungkin Jason datang hanya karena di suruh.


Saat Jason sudah labih dekat dengan Quennevia dan Lecht, ia pun menghentikan rombongan nya dan bergegas mendatangi Lecht dan Quennevia di sana.


" Yang mulia pangeran. " ucapnya sambil memberi hormat kepada Lecht.


" Katakan ada apa, Jason??. " ucap Lecht.


" Pangeran, paduka Kaisar meminta saya untuk segera menjemput anda dan adik Quennevia dengan segera. Ini masalah Ayahanda, beliau..... " ucap Jason dengan wajah yang murung.


Mendengar itu tentu saja membuat Lecht dan yang lainnya sangat terkejut, tidak terkecuali dengan Quennevia. Ia tidak bisa berkata-kata mendengar itu, dia hanya diam dengan wajah tidak percaya dan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap di matanya, Quennevia tidak ingat apapun lagi setelah mendengar berita yang dibawakan kakak pertama nya itu. Yang ia ingat hanyalah wajah terkejut dari Lecht dan juga Jason, bahkan teriakan mereka pun tidak ia dengar sama sekali.