
[Season 2]
Sementara itu, Arkan tenggelam dalam kegalapan dalam dirinya. Ia perlahan membuka matanya namun tidak ada apapun yang bisa dilihat di tempat itu, ia merasa tenggelam dalam lautan yang luas. Begitu berat dan begitu dingin, sampai ia merasakan kakinya menyentuh suatu pijakan. Arkan berdiri diruang kosong yang tidak ada apapun disana.
Ia pun tersenyum miris karena itu, " Ha, ini seperti hidupku yang tidak punya apapun." gumamnya.
Sesaat kemudian ia tiba-tiba tersentak sendiri dan menyentuh kepala bagian belakangnya, dia tiba-tiba mengingat pukulan yang biasanya dilakukan oleh teman-temannya jika dia bicara sembarangan. Perasaan itu seolah menyangkal dan mengingatkannya kalau pikirannya itu tidak lah benar.
Arkan pun tertawa sendiri, " Hahaha... Iya, iya. Aku bodoh karena punya pikiran seperti itu, kalian benar-benar teman-teman yang menyeramkan." entah kenapa dia merinding namun disaat yang sama dia juga merasa lega.
" Kenapa kau sangat berusaha keras?"
Perhatian Arkan teralihkan karena suara itu, ia pun menoleh ke belakangnya. Seorang anak berdiri disana. Dia memiliki rambut yang sama dengannya, mata yang sama, rupa yang sama juga. Jelas, itu adalah dirinya sendiri yang menjadi pemilik asli tubuh yang ia pakai saat ini.
Hanya saja yang berbeda, mata anak itu mati dan tidak memiliki cahaya sedikitpun. Kegelapan terdalamnya, kesombongan dan kemarahannya.
" Lagipula semuanya akan berakhir, ayah akan mati. Dan Balin akan segera meninggalkan Klan, ibu akan segera membunuh kakek." ucap dirinya yang itu.
Arkan tetap diam tak menjawabnya, namun ia terus menatapnya dengan seksama. Anak itu.. telah belajar cara mengendalikan ekspresi nya seperti yang ia harapkan. Balin juga seperti itu didunianya..
Setelah cukup lama diam, Arkan pun akhirnya buka mulut. "....Apa itu memang yang kau inginkan?"
" Apa..?"
" Apa kau ingin kehilangan mereka dan berada dipuncak sendirian, jika aku jadi kau, aku tidak akan mau."
" ......."
" Katakanlah kau berhasil memenuhi ekspektasi ibu, lalu kau ada diatas takhta. Apa kau akan bahagia meski sendirian? Apa itu benar-benar kebahagiaan sejati?"
Dirinya yang lain menundukan kepalanya dengan ekspresi gelap, dia tidak kembali bicara. Namun berusaha menanamkan penyangkalan pada dirinya sendirian dan pikirannya.
Arkan bisa melihatnya dengan jelas, kalau dirinya yang itu berusaha untuk tetap pada apa yang ia yakini. Sekalipun itu membawanya kepada jalan keputusasaan.
" Itu adalah-..."
" Apa itu benar-benar takdir mereka?"
Kreakk...
Arkan segera menyela ucapannya, membuat anak itu kembali mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan mata bingung.
" Dari siapa takdir itu berasal? Dewa? Tapi kenapa kita hanya tetap diam disaat kita tidak menginginkan itu? Kau bisa saja melawan, kau bisa memilih jalan mana untuk mencapai takdir sejatimu. Bukan hanya diam dengan pasrah dan tenggelam dalam kesendirian. "
Krakk...
" .....Aku melihat ingatanmu. Dunia ini dibuat dengan membalikan kenyataan diduniamu."
" Justru karena itu,.... karena ini bukan dunia ku aku ingin mengubahnya. Aku tidak bisa membalikan apa yang terjadi didunia asalku, tapi setidaknya didunia yang ini.. aku tidak ingin melihat diriku sendiri dan orang-orang yang kusayangi menderita juga. "
" Usahamu sia-sia saja..."
" Itu tidak akan sia-sia. Disaat aku bisa mengubah masa depan kalian didunia ini, mengapa aku harus membiarkannya?"
Prangg...
Ruang disekitar mereka pecah, dan cahaya mulai masuk menerangi tempat itu. Dirinya yang lain terpana dengan hal itu, dan cahaya pun mulai kembali ke matanya yang mulai berkaca-kaca.
Disaat itulah, Arkan pun mengulurkan tangan pada dirinya yang lain...
" Kemarilah, Arkan Liciane. Mari kita ubah takdir mu bersama."
****
Arkan kembali membuka matanya kedunia nyata, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah langit-langit yang tidak asing. Lalu ia pun melirik kearah jendela, hari sudah malam, jadi dia tidak sadarkan diri sampai malam tiba.
" Ah, sial..."
Arkan mengangkat tangannya keatas wajah, kepalanya masih terasa sedikit pusing, tapi tidak seperti sebelumnya. Bisa-bisanya dia langsung sekarat seperti itu setelah menahan tekanan dari ibunya, itulah yang dipikirkan oleh Arkan.
Saat kembali ia merasa kalau perutnya agak berat, Arkan mengerutkan keningnya dan sedikit mengangkat kepalanya melihat apa yang sedang menindihnya disana.
" Balin...??"
Iya, saudaranya tersayang ada disana. Tertidur dengan tenang dengan kepalanya yang ada diatas perutnya.
Arkan tidak tahu harus bereaksi apa disaat seperti ini. Namun tanpa ia sadari, sudut bibirnya bergetar menahan senyuman. Pada akhirnya, dia malah berpura-pura tidak tahu dan membiarkannya saja.
Malam berlalu dengan cepat dalam kesunyian, beberapa hari yang damai berlalu dengan cepat didunia ilusi ini. Arkan merasa lebih baik dan dia dikelilingi oleh orang-orang yang ia sayangi, itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah ia rasakan lagi ditempat asalnya.
Ada pun ibunya... selama beberapa hari terakhir ini dia tidak melakukan pergerakan apapun, seolah telah menyerah namun Arkan tahu dia sedang merencanakan sesuatu. Ia juga telah menyuruh seseorang yang ia percaya untuk terus mengawasi apa saja yang dia lakukan tanpa ketahuan.
" Dia terlalu tenang untuk ukuran orang yang sebelumnya berani mengerahkan kekuatan nya kepada anaknya sendiri..."
... Dia yakin ibunya sedang merencanakan sesuatu. Jika apa yang ia alami benar-benar mirip dengan yang disini, maka ia rasa ia bisa menebak kapan itu akan terjadi.
" Hm?"
Lamunan Arkan buyar mendengar suara itu, ia pun segera mengangkat kepalanya dan menatap Balin yang ada dihadapan yang terlihat bingung.
" Ada apa, Balin?"
" Kakak, apa ada yang menganggu pikiranmu? Kau terlihat sangat serius."
Dia benar-benar anak yang peka, tapi Balin tidak ingin dia tahu hal itu. "...Tidak, aku hanya sedang memikirkan soal penjelasan guru tadi. Bagaimana denganmu, apa kau mengerti dengan pelajaran sejarah yang dibahas guru??"
" Um, yeah..."
" Dia ragu-ragu.. imutnya~."
Kini Balin tidak perlu belajar sendiri lagi, setelah kesehatan ayahnya mulai kembali seperti semula layaknya keajaiban. Balin yang sebelumnya terasingkan mulai kembali mendapatkan haknya sebagai putra dari penerus utama klan, termasuk soal perlakuan, pendidikan dan posisi yang lebih kokoh.
Tidak akan ada lagi yang menganggunya, iyah.. tidak secara terang-terangan.
Dan tidak perlu diragukan lagi, dia memang anak yang pintar. "...Aku mengerti soal sejarah karena sudah membaca banyak buku soal itu. Tapi kak... Apa maksudnya dengan 'satu kejahatan maka ada satu kehancuran' dalam Literatur tentang Putri Empat Dunia??"
Arkan sedikit tersentak mendengar itu, dan ia pun terdiam. Senyuman diwajahnya pun perlahan mulai hilang dan ia menundukan kepalanya dengan ekspresi murung...
" ...Bagaimana ya?? Masa aku harus memberitahukan sejarah kelam pada anak kecil.."
Arkan tidak tahu harus menjawab seperti apa, pandangannya jatuh pada cangkir teh dihadapannya, yang memantulkan ekspresi murung wajahnya di air teh berwarna coklat keemasan.
Dia pun teringat dengan apa yang dikatakan teman-temannya yang telah melihat kehidupan masa lalu Quennevia...
" Dia kehilangan satu-satunya anak yang ia miliki, aku tidak tahu soal suami atau keluarga nya. Tapi sepertinya saat itu hanya tinggal anak itu yang dimiliki olehnya, orang-orang yang ia percayai mengkhianatinya dan membunuh anak itu. Jadi dia meluluhlantahkan semuanya."
Yuki, orang pertama yang melihat masa lalu mengatakan hal demikian. Itu jelas bukan hal yang bagus, karena dia dimanfaatkan dan dikhianati. Kemudian menimbulkan bencana...
" Dia hidup sebagai Saintess Adelaide, sepertinya tidak perlu diberitahu bagaimana akhirnya. Tapi dia dikurung, dipaksa memberikan berkat dan akhirnya mati setelah kehilangan orang-orang yang ia sayangi ketika berusaha kabur."
Bahkan apa yang dikatakan oleh Oscar juga tidak jauh berbeda, akhir yang selalu datang adalah kematian dan penderitaan, yang kemudian mengundang murka dan bencana dari orang yang mereka agungkan.
Mengatakan kebenaran kejam itu bisa menimbulkan kekacauan, Putri Empat Dunia yang dikenal orang-orang adalah utusan dewa tengah yang agung. Jika mereka mendengar apa yang ia katakan, maka ia bisa saja dianggap telah menistakan dewa. Yah, itu semua karena tidak ada yang tahu soal asal usul dan latar belakang serta perjalanan hidup nya yang asli...
" ....Balin, apa kau ingat dengan kisah tentang rubah penipu yang kita baca sebelumnya??" pada akhirnya Arkan hanya bisa memberikan penjelasan singkat yang lebih masuk akal.
Balin yang mendengar pertanyaan itu pun menganggukan kepalanya, dan Arkan kembali bertanya. " Apa yang terjadi setelah rubah itu menipu banyak hewan dan ketahuan?"
Saudaranya mengangkat tangannya dan menaruh jari telunjuk didagu ketika mulai berpikir, " Um... Dia diejek, dijauhi dan... dibenci."
Iyah, itu tidak terlalu mirip, tapi ia bisa mengartikannya seperti itu. Hanya saja... Manusia bisa jadi sedikit lebih kejam.
" Yah, kalau begitu kita anggap rubah itu sebagai orang jahat, lalu orang yang ditipunya adalah Putri Empat Dunia. Apa yang akan orang-orang lakukan kepadanya?"
" ....Jika kakak mengartikannya ke dalam bentuk manusia, maka orang yang menipu utusan dewa akan dianggap telah melakukan kejahatan dan akan dikurungkan? Lalu, jika kejahatan nya itu sangat besar dan tidak termaafkan, maka dia akan dieksekusi sebelum menimbulkan murka dewa. Putri Empat Dunia sendiri adalah penghakiman yang diturunkan dewa ke dunia, kan?"
" Bagaimana jika kau yang dimanfaatkan dan kehilangan orang-orang yang sangat kau sayangi?"
" Tentu saja aku akan marah..."
Arkan melebarkan senyuman nya dengan jawaban itu, mungkin sedikit tidak nyambung karena dia tidak pintar menjelaskan menggunakan permainan kata, tapi yah... maknanya sama saja.
Dan Balin yang melihat itu pun terlihat menyadarinya, ia pun mulai memikirkan nya lagi dengan sangat serius. Sementara Arkan menunggu dan menyesap teh air yang ada di cangkir yang ada didepannya...
Sampai kemudian Balin kembali berkata, " ....Jadi, jika Putri Empat Dunia menemukan kesalahan dari orang-orang, maka dia akan menurunkan hukuman sebagai penghakiman. Dan jika... Putri Empat Dunia kehilangan orang-orang yang dia sayangi karena itu, dia pasti akan murka dan mendatangkan bencana sebagai balasan. Bukankah begitu, kak??" Balin mengangkat kepalanya menatap Arkan dan bertanya dengan sangat antusias karena hal baru yang ia pelajari.
Arkan sendiri yang mendengar itu balas menatap Balin, ia sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum cerah. "...Kau benar. Aku pernah memberitahumu juga soal perasaan, bukan? Mau bagaimana pun, entah itu utusan atau anak dewa, Putri Empat Dunia tatap seorang manusia, dia lahir dan hidup sebagai manusia. Jadi tidak mungkin dia bisa lepas sepenuhnya dari perasaan emosional manusia." Arkan menaruh kembali cangkir teh yang ada dipegangannya, dan menopang dahunya menggunakan tangan.
Ia pun melankutkan kata-katanya, " ...Perasaan senang, sedih, terkejut, takut, jijik dan marah... Itu adalah emosi dasar manusia. Jika kau mendorong seseorang ke arah negatif terlalu keras, tentu saja orang itu akan menjadi bencana. Tidak peduli siapa dia sebenarnya, itu sama dengan kehidupan kita saat ini. Kita tidak ada bedanya... dengan kehidupan yang pernah pendahulu kita lalui." ucap Arkan kemudian.
Pengkhianatan dan kekerasan telah menjadi hal wajar didunia ini, saat ini, ditempat ini, dia bisa hidup tenang tanpa khawatir kalau nyawanya akan hilang karena dia dilindungi dinding besar yang menghalangi mereka dari dunia luar. Tapi bukan berarti tidak ada hal yang benar-benar tidak akan terjadi didalam dinding tebal ini juga...
Dan saat mereka melangkah ke dunia luar, mereka akan melihat dan merasakan lebih banyak.. Betapa kejamnya dunia ini.
Balin yang mendengar itu pun diam menatapnya, dan ia kembali membuka mulutnya. " ...Apa maksud kakak, kita bisa saja mengulangi apa yang pernah seseorang lakukan dimasa lalu??"
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, tapi Arkan merasakan hal aneh. Sesuatu terasa pahit dilidahnya, ia ingin berkata iya, tapi dirinya tidak punya hak untuk berkata seperti itu, seolah-olah menyalahkan orang lain. Dirinya sendiri tidak berbeda dengan orang yang hidup dalam ilusinya sendiri...
Dia bukanlah orang suci. Dia juga ragu kalau dirinya punya kesalahan...
Alasan kenapa ia berusaha keras membantu kehidupan disini juga sama, karena dia tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang. Itu adalah keegoisannya. Sama halnya dengan Balin yang ia ketahui,.. dia hidup dalam ilusi dan kepercayaan buta akan kebenaran yang di sembunyikan oleh ibu mereka..
Tapi tidak ada salahnya memberitahu anak kecil dihadapannya ini agar dia juga tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan apa yang mereka lakukan. "....Semuanya tergantung pada pilihan yang diambil oleh orang tersebut, akan tetapi akhir yang menunggu setiap orang tidak pernah sama. Entah itu surga atau neraka, berkah atau kutukan, bahkan kebahagiaan yang singkat bisa langsung berubah menjadi kesengsaraan jika kau membuat pilihan yang salah."
Arkan menarik tubuhnya dan menyandarkan punggungnya dikursi, kemudian ia pun menatap langit biru yang luas diatas kepalanya dan berkata...
" ...Orang yang jujur pasti akan dipimpin oleh ketulusannya. Tetapi pengkhianat akan dihancurkan oleh kecurangannya."