Quennevia

Quennevia
Kakak dan Adik 2



[Season 2]


Balin masih menutup kedua matanya setelah melihat anak itu melemparkan batu kearahnya, namun tidak ada apapun yang terjadi. Ia bahkan tidak merasakan sakit. Itu membuat nya jadi bingung. Karena itu, Balin pun memutuskan membuka matanya, untuk melihat apa yang terjadi...


Dan apa yang ia lihat adalah hal yang membuatnya terkejut, batu itu memang dilemparkan, namun tidak pernah sampai kepadanya. Karena Arkan... menangkap batu itu tepat sebelum mengenai Balin.


" Wah, anak-anak sialan ini. Padahal aku lengah sedikit karena memikirkan kondisi teman-teman ku, bisa-bisanya mereka menjadikan kesempatan itu untuk membully saudaraku. " dan Arkan kelihatannya kesal sekali dengan hal itu, ia bahkan mengganggam batu itu dengan kuat sampai hancur.


Sementara disisi lain, semua yang ada disana pasti terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya...


" Hii... A-Arkan! "


" A-Apa yang kau lakukan?"


Dan tentu saja, Saudara nya yang baik mengkhawatirkan lengannya, " Kakak, apa kau baik-baik saja?"


" Ya, tidak apa. " jawabnya kepada Balin, kemudian ia beralih menatap anak-anak nakal itu. " Oi! Bajin*an kecil! Jelaskan maksud tindakan mu ini?!." teriaknya kepada anak-anak itu.


Yang tentu saja membuat mereka kaget mendengar nya peduli...


" Me-Memangnya kenapa? Dia hanya sampah diklan.." jawab salah satu diantara mereka pula.


Membuat Arkan menyipitkan matanya dengan tajam, " Apa kau baru saja memanggil saudara ku 'sampah'??" Arkan mengibaskan tangannya dengan amat sangat kesal.


Memunculkan es-es runcing yang mengarah ke anak-anak itu, namun tidak sampai menjangkau mereka.


" Hiii...!!"


Mereka berteriak ketakutan karena hal itu, sementara Arkan menatap mereka dingin ditempatnya.


" Enyah. Sebelum aku berubah pikiran. " ucapnya dengan penuh penekanan.


Membuat anak-anak itu langsung lari kocar-kacir karena takut. Sedangkan Arkan yang melihat itu hanya menghela nafas, dia masih kesal tapi dia tidak bisa memukul anak kecil. Jadi ia harus menahan diri, dan lebih memilih berbalik kepada adiknya.


" Kau baik-baik saja? Apa sakit? " tanyanya lalu menyentuh kepala Balin yang sebelumnya terkena lemparan batu.


Balin yang diperlakukan seperti itu pun merasa senang hingga tersipu malu, dan menganggukan kepalanya. " Iya.. " jawabnya singkat.


" Apa mereka selalu menganggumu?"


" Ya.. tidak juga. "


" Jadi mereka memang menganggumu, ya. Lain kali, jika mereka mengejekmu lagi... Tendang saja pan*at nya dan bilang begini 'Anjing yang baik tidak boleh menggonggong kepada majikannya.' Kata itu kepada mereka dengan lantang!!"


Arkan mengatakan itu sambil mengepalkan tangannya, dan kelihatan sangat bersemangat sampai berapi-api karena marah.


Sementara Balin yang melihat nya tidak bisa berkata-kata, " ...I-iya.." dia hanya bisa menjawab begitu.


Balin tidak terlalu mengerti dengan kata-kata yang diucapkan Arkan kepadanya, tapi dia senang karena kakaknya peduli padanya dan membelanya.


" Haha.. kalian kelihatan akrab sekali sekarang. "


Sampai kemudian perhatian mereka teralihkan dengan suara itu, dan mereka pun menoleh kearah lain. Seseorang baru saja turun dari atas langit, mendarat tepat dihadapan mereka. Orang itu memancarkan aura yang begitu kuat dan juga wibawa yang sangat tegas.


Bahkan meski dia sudah berusia lanjut, kemampuan nya memberi tekanan kepada orang lain masih tidak pernah berkurang. Disela itu, juga ada kehangatan yang tenang terpancar darinya.


Melihat kedatanyannya, membuat wajah Balin langsung berseri, " Kakek!" panggilnya yang kemudian langsung berlari dan memeluknya.


" Hoho... Kau harus berhati-hati, jika tidak kau akan jatuh. " ucapnya pula kepada Balin.


Ya, kakek mereka, Lewis. Orang yang dikenal Arkan telah meninggalkan dunia ini...


Yang diketahui orang, memang dialah yang dekat dengannya, namun disini.. Balin lah yang ada diposisinya. Lewis juga sangat senang karena mendapat sambutan dari cucu favorite nya, saat kemudian perhatian nya beralih kepada Arkan yang masih diam mematung di tempat nya...


... Ia meneteskan air matanya.


Membuat Arkan sadar dengan apa yang terjadi, " Ah! Tidak... maaf. Tiba-tiba ada debu masuk ke mataku. " ia pun berusaha untuk mengusap air matanya.


Sulit baginya menahan perasaan kepada orang yang telah lama ia rindukan selama ini, bahkan jika yang ada didepannya saat ini hanya ilusi. Dia bahagia bisa melihat nya lagi. Perhatian nya kemudian teralihkan saat kakeknya itu mengusap kepalanya.


" Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dan katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu. " ucap nya kepada Arkan.


Arkan yang mendengar nya pun kemudian menganggukkan kepalanya, " Iya..." jawabnya.


Kehangatan tangan yang telah lama tidak ia rasakan, rasanya masih sama seperti dulu. Dan dia tahu, kalau alasan kakeknya muncul dihadapannya saat ini, karena orang yang mengawasinya itu pasti melakukan apa yang ia suruh.


Arkan pun kemudian tersenyum kepadanya dan berkata, " Kakek, apa kejutan itu berhasil?" tanyanya.


Kakeknya menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. " Iya, kau berhasil. " jawabnya. Awalnya ia sempat ragu, tapi mendengar Arkan berkata seperti itu dia jadi yakin.


" Kejutan apa?" ucap Balin tiba-tiba ditengah percakapan mereka.


" Ah..." Arkan baru ingat kalau Balin juga ada disana karena terlalu fokus kepada kakeknya. " Karena itu kejutan untuk mu, jadi rahasia. " pada akhirnya dia berkata seperti itu kepadanya, sambil menempelkan telunjuk dibibirnya.


Membuat Balin makin bingung dengan itu, sementara kakeknya hanya terkekeh karena hal itu. " Ini sudah sore, apa kalian tidak akan kembali?" ucapnya kemudian mengalihkan pembicaraan.


" Baiklah. " jawab keduanya pula bersamaan.


" Kalau begitu kakek akan mengantar kalian. " ucap Lewis.


Namun Arkan hendak menolak nya, saat..." Tidak apa-apa, kek. Aku akan-..." ia berhenti ketika sadar, dia baru ingat kalau dia tidak bisa memanggil binatang ikatananya. " Sial, aku lupa lagi. Jika Aziel(elang nya) muncul disini, orang-orang akan bingung bagaimana bisa. Dia kan penjaga pegunungan barat, dia masih ada disana dan jika ada dua Aziel muncul diwaktu yang sama orang-orang akan semakin bingung. Ditambah aku akan dapat masalah." batin Arkan memikirkan itu dengan cermat.


Tapi kakeknya sepertinya berpikir hal lain, " Jangan bilang kau mau menuruni tangga diwaktu segini?? Kau akan sampai dikediaman malam hari jika seperti itu. " ucapnya.


Sedangkan Arkan hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tertawa kikuk, " Hehehe... Aku lupa. " ucapnya.


Pada akhirnya ia harus ikut dengan terbang bersama dengan kakeknya, untuk menghemat waktu dan untuk menjamin keselamatan. Sejujurnya... Arkan merasa jadi orang yang tidak berguna saat ini, namun dia menyembunyikan itu dengan senyuman nya.


Hingga tak lama kemudian, dia sampai ditaman kediaman....


" Yah, kita sampai. " ucap Lewis ketika mereka mendarat.


" Terima kasih, kakek. " ucap Arkan kepadanya pula.


Lewis pun mengangguk dan kembali mengusap kepalanya, " Pergilah masuk dan beristirahat. Hari ini kau sudah melakukan perkerjaan yang bagus. "


Arkan balas mengangguk mendengar itu dan berbalik hendak masuk kedalam, saat kemudian suara Balin menghentikan langkah nya.


" Ah! Kakak..."


Arkan pun berbalik melihat kearah nya yang masih bersama dengan kakeknya...


" Apa... Apa aku boleh main dengan kakak lagi??" tanyanya begitu berharap dengan wajah polosnya.


Arkan pun kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan senang hati, dan itu membuat Balin terlihat sangat senang. Arkan pun kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam....


Jujur saja dia memang sangat lelah hari ini, dia masih tidak terbiasa dengan tubuh anak-anak nya sekarang.


" Ahh... Astaga, kakiku sakit. " gerutunya.


Saat kemudian ia mendengar suara langkah kaki yang sangat terburu-buru kearahnya, dan ketika ia melihat... itu adalah ibunya. Ia berlari begitu terburu-buru dengan wajah kelihatan panik.


" Arkan... Arkan!"


Jujur saja, itu respon yang mengejukan. " Ibu...?!"


Ia bahkan langsung memeluk Arkan dengan sangat erat, seolah sesuatu yang buruk baru saja terjadi kepadanya.