Quennevia

Quennevia
Teratai Emas Surgawi



[Season 2]


Cahaya yang menyilaukan. Setelah serangan yang menggetarkan ketiga dunia itu, Ethan sudah ada dipuncak dengan segala yang di butuhkan, dia telah menang. Panther hitam telah lenyap, gerhana telah lewat, dan matahari bersinar dengan cerah. Semua kegundahan yang dirasakan sekarang telah berakhir


Dan si istana Dewa Matahari, Ethan berdiri ditempat nya, menatap Eclipse yang sekarang terbaring dihadapan nya. Tombak ditangan Ethan tertancap disamping kepala Eclipse, namun tidak ada reaksi yang berarti dari anak itu dihadapan kekalahannya. Keduanya hanya saling pandang satu sama lain dalam diam.


Entah apa yang Ethan lihat, tapi yang Eclipse lihat adalah matahari. Kecerahan semesta.


[....Indahnya.] dan akhirnya kata-kata itupun keluar dari mulutnya.


" Hm..?" sementara Ethan mengangkat sebelah alisnya menanggapi hal itu.


Tapi Eclipse hanya menatapnya. [Kakak, apa kau tahu?Kau selalu menjadi yang paling cerah diantara yang lain, tidak ada satupun yang bisa menyentuhmu. Matahari yang mulia... Lambang kekuasaan.] ucapnya lagi.


" .... "


Ethan hanya terdiam mendengar itu. Sepertinya.. kurang lebih akhirnya dia tahu apa alasan Eclipse melakukan ini.


Bagi Eclipse, Ethan mungkin adalah orang yang selalu ia kagumi, orang yang ingin ia gapai. Meski mereka di identikan sebagai saudara, mereka tidak pernah bersikap layaknya saudara seperti yang ia lakukan kepada Euclide dan Hades. Eclipse mengagumi cahaya yang cerah itu, seperti para dewa dan makhluk yang lainnya. Sekalipun ia hanyalah bayangan.


Tapi suatu hari, matahari itu mati dan Eclipse melihat itu tepat didepan matanya sendiri...


Meskipun matahari secara harfiah masih ada ditempat nya, tapi seseorang yang ia anggap matahari telah hilang. Meskipun fakta, bahwa meski dewa kehilangan tubuh fisiknya, jiwa mereka yang ilahi tetap ada, perlu waktu bagi mereka untuk kembali.


Eclipse telah menunggu hal itu, jatuh kedalam kesepian dan tidak pernah menunjukan dirinya, yang dia lakukan hanyalah menunggu kembalinya matahari yang ia kagumi. Penantian selama 100.000 tahun akhirnya terbayar, dan sang matahari ada dihadapannya.


Melihatnya sekali lagi mempertaruhkan nyawanya didepan matanya, bahkan sebelum mereka bisa bertemu dengan cara yang baik, Eclipse tidak bisa menerima itu. Karena itu dia menghalanginya.


Dia mencoba melindungi Ethan dengan caranya sendiri...


Anak itu tidak punya niatan buruk sejak awal, dia ingin memastikan Ethan tetap aman. Dan dia ingin mengambil Quennevia karena ia bisa mengakses tempat dimana benda suci itu berada, dia berniat menjaga keduanya.


Tapi seperti yang terjadi, cara yang ia lakukan itu salah...


Ethan tidak bisa menyalahkannya, ia pun kemudian menarik tombak yang tertancap disisi kepala Eclipse, dan melepaskannya.


Meski begitu, Eclipse masih tetap berbaring dilantai dan menatapnya, tidak sekalipun ia berpaling. Dan ketika itu, sesuatu jatuh dari matanya. [Aku tidak bermaksud meragukan tekad dan ikatan yang kalian miliki. Aku hanya tidak ingin kehilangan mu lagi..] dia menangis seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan sendirian.


Ethan merasakan deja vu dari hal itu. Seperti nya ia pernah mengalami hal ini sebelumnya...


Benar dikehidupan yang ia jalani sebelumnya.


Adik yang ia kenal, Guren yang sekarang menjadi sosok Lorenzo yang ia tahu. Saat kedua orang tua mereka masih hidup, mereka sangat dekat dan selalu bersama. Tapi setelah mereka meninggal, Ethan yakin kalau Kirito selalu meninggalkannya sendirian dirumah untuk menjalankan tugasnya sebagai agen keamanan publik dikota yang maju. Meski... mungkin dia tidak bermaksud seperti itu, tapi hal itu terlalu berat bagi seorang anak kecil seperti nya, tidak peduli apa alasannya. Hasil dari pengabaian itu berakhir pada perpecahan dan saling membenci satu sama lain.


Kesepian dan kesendirian yang tertahan itu lah yang mendorong mereka mengambil langkah yang harusnya tidak mereka lewati..


" ...Jika aku lebih memperhatikannya saat itu, apa kami akan tetap menjadi saudara yang baik??"


Pertanyaan itu terlintas dikepalanya, tapi seperti nya sulit untuk mendapatkan jawaban itu sekarang...


Mereka sudah benar-benar berada dijalan yang berbeda.


Dan sekarang itu terulang, Eclipse, anak ini juga mencari kebenaran jati diri dan tujuannya. Eclipse tidak pernah membiarkan siapapun mendekatinya, dia adalah keheningan matahari. Tapi jika dia terus seperti ini, ...Apakah dia juga akan berakhir sama seperti Lorenzo??


Ethan tidak yakin dengan itu. Dia bukan seseorang yang bisa melihat masa depan, akan tetapi....


Ia bisa menciptakan masa depan itu.


" Ayo... Berdirilah."


Mata Eclipse melebar pada uluran tangan yang diberikan pada nya, Ethan melakukan itu dan tersenyum dengan lembut kepadanya. Cahaya yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh, sekarang ada tepat didepan matanya.


" Tidak apa-apa. Tunggu aku sebentar lagi, dan kita benar-benar bisa melakukan apapun sebagai saudara. Karena aku tidak juga akan pergi terlalu jauh ke tempat yang tidak bisa kau jangkau.... Adik." sambutan kepada keluarga baru, sebagai salah satu orang yang berharga baginya.


Ethan tidak bisa mengabaikannya, karena itu... dia akan merangkulnya.


...************...


--- Pusat Istana Dewa Matahari.


Ethan berjalan di Sun Hall, melewati tempat yang ada dalam ingatan nya. Semuanya masih terasa sama, tempat yang sama, pemandangan yang sama, dan nuansa yang sama. Tidak ada yang berubah selama 100.000 tahun berlalu, tempat ini terjaga sama seperti ketika ia meninggalkannya.


Benar, sekarang dia merasa benar-benar kembali menjadi pemilik dari tempat ini.


Dia sendirian disana, karena Eclipse memilih untuk tetap didepan sana ketika ia masuk..


" Ya ampun, apa yang sebenarnya dipikirkan anak itu??." Ethan sedikit kecewa dengan keputusan itu.


{" Aku akan tetap disini, aku akan menunggumu menepati janjimu."}


" ...Dia mengatakan itu dan tetap diam ditempat itu seperti patung, bagaimana bisa ekspresi nya tetap tidak berubah bahkan setelah aku mengatakan kata-kata itu." gerutu Ethan selama perjalanannya menyusuri aula matahari.


" Hm...?"


Dan akhirnya ia sampai ke tempat yang ia tuju, kini dihadapannya berdiri sebuah pintu raksasa yang terlihat seperti dilapisi oleh emas dan permata.


" Akhirnya, sampai juga." ucapnya pada diri sendiri.


Ethan pun kemudian mengulurkan tangannya kearah pintu itu, ia mendorongnya hingga pintu itu bergerak dan membuka jalan untuknya. Dia pun bisa melihat apa yang ada didalam sana.


Ruangan tempat nya memerintah, dimana tahtanya berada. Tempat ini mengingatkannya kepada ruang tahta di Foldes, meski tentu saja... keduanya memiliki luas dan arsitektur yang benar-benar berbeda. Ethan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, hingga ia sampai ditengah-tengah ruangan. Ia pun sedikit mengangkat kepalanya, menatap kursi yang selalu ia duduki dahulu.


Ethan terdiam sejenak. Baru beberapa saat kemudian ia pun memalingkan wajahnya kearah kiri, menatap sebuah satu-satunya air mancur ditempat itu, tepat didepan jendela. Sesuatu memancarkan sinarnya tepat diatas air mancur itu.


Karenanya, Ethan pun melangkahkan kakinya mendekati air mancur itu. Dan apa yang ada disana, adalah sebuah bunga.


[Teratai Emas Surgawi]


Bunga suci yang berasal dari benih yang ditetesi oleh air mata matahari, dan tumbuh sambil menyerap kekuatan cahaya matahari. Bunga langka yang hanya tumbuh satu dalam satu juta tahun. Karena itu, bunga ini juga menjadi simbol dari Dewa Matahari.


" Aku benar-benar sudah lama menunggumu.." guman Ethan disana, ia sudah menumbuhkan bunga itu, bahkan sebelum ia mati untuk pertama kalinya.


{"Bunga itu baru mekar beberapa hari yang lalu, dia seperti... sudah menunggu dan akhirnya menyambutmu kembali."}


Sepertinya yang Eclipse katakan benar, bunga itu mekar untuk menyambut pemiliknya kembali. Dia pasti tahu kalau Ethan membutuhkan kekuatan nya...


Ethan mengulurkan tangannya kearah bunga itu, dan ketika ia menyentuh salah satu kelopaknya. Ethan merasa kepalanya sangat berat. Itu terjadi lagi, itu adalah saat-saat dimana kesadarannya dibawa pergi, terpisah dari tubuhnya dan ia merasa jatuh ke sebuah tempat yang sangat hening namun terasa sangat familiar....


Ketika dia mulai membuka mata lagi, dia disuguhi oleh pemandangan galaksi yang berputar-putar dalam pusaran. Serta bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya terus beredar disekitarnya dan menghasilkan kilauan seperti aurora yang cerah.


Tempat ini... Tempat yang sama yang pertama kali ia lihat, ketika Ethan lahir ke alam semesta.


[... Γύρισες... ] Ethan mendengar suara itu, dan ia pun sontak berbalik menatap seseorang yang seperti dengan sengaja menunggunya ditempat itu untuk menyambut kelahiran nya kembali. Dia yang biasanya ada ditempat yang tak diketahui dan tak tergapai.. [...Ίθαν.]


Ethan tidak bisa menahan kegembiraannya, tentu saja ia sangat bahagia. Karena biasa bertemu kembali dengannya. Air mata jatuh dari pipinya, dan ia pun menjawabnya.


[...Ya, aku kembali.. Ayah.]


Berhadapan dengan dia yang paling awal. Penciptanya, ayahnya, jujur saja... bagi Ethan yang sekarang telah mempelajari banyak budaya dan keagamaan sepanjang reinkarnasi, dia tidak tahu apakah dia ayah atau ibu? Mungkin saja penciptanya adalah sesuatu yang netral, sama seperti ajaran yang dipercaya di beberapa tempat yang pernah ia datangi.


Alasan kenapa dia memanggilnya 'ayah', karena semua ciptaannya memanggilnya seperti itu. Dimulai dari Euclide, Hades dan Quennevia. Mereka memanggilnya dengan sebutan itu..


Disamping semua hal dan pemikiran itu, satu hal yang dipercaya oleh semua ciptaan dari [Dewa Awal], dia adalah orang tua dari segala bentuk kehidupan dialam semesta.


Ethan pun kemudian kembali berkata, [...Aku kembali. Aku siap menjalankan kembali apa yang dulu aku tinggalkan, mengembalikan alur dan memperbaiki takdir. Kami akan mengembalikan semua nya seperti sedia kala.] ucapnya, ia terdiam sejenak, tempat itu adalah kekosongan, setelah ia berhenti bicara, hanya keheningan yang terdengar.


[Aku minta maaf...] dan Ethan kembali melanjutkan kata-katanya setelah berusaha menarik nafasnya dalam perasaan yang sangat gugup. [Maaf karena membuat kekacauan yang lama ini. Maaf karena tidak bisa melindungi Quennevia dengan cukup baik. Aku tahu aku sudah membuat repot banyak orang. Aku akan lebih berusaha kali ini, aku akan melindungi mereka semua yang berharga dalam hidupku.] itulah yang ingin dia katakan kepadanya.


Sosok agung dihadapannya masih belum mengatakan apapun, tetap seperti itu untuk beberapa waktu. Tapi kemudian, perlahan dia terlihat tersenyum... dan menganggukan kepadanya dengan perlahan.


Melihat seorang anak yang berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf adalah hal yang bagus disetiap kehidupan. Dengan itu mereka pasti akan menjadi peribadi yang lebih baik.


[Dewa Awal] mengulurkan tangannya kepada Ethan, dan ia mengangkatnya lebih dekat diatas telapak tangannya. Ethan yang diperlakukan seperti itu hanya menatapnya dengan ekspresi polos, setiap anak selalu seperti itu dihadapan orang tuanya, kan?


[Dewa Awal] pun kemudian berkata....


[Δεν έχεις άδικο... επιλέγεις τη μοίρα σου]


Itu kata-kata yang singkat, namun penuh dengan makna. Ethan mendapatkan pencerahan yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia kembali menutup matanya dan merasakan kekuatannya kembali ke tubuhnya. Ini sudah waktunya untuk pergi ke tempat selanjutnya...