Quennevia

Quennevia
Kembang api



[Season 2]


Dikota, sejak kapal yang membawa mereka kembali ke tempat awal mereka memulai, ketika bangunan-bangunan tinggi dikota masuk ke dalam pandangan mereka. Ethan dan yang lainnya bergegas dengan cara mereka sendiri untuk sampai lebih dulu ke daratan. Saling berlomba diantara masing-masing...


Mereka tiba untuk menikmatinya. Ethan dan teman-teman nya yang lain bersenang-senang untuk terakhir kalinya didunia ini, sebelum mereka kembali ke dunia mereka sendiri.


" Ayo lihat baju ditoko ini! Ada banyak barang bagus yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh!."


" Meliyana, tunggu. Aku ingin melihat lukisan disana dulu."


" Aku ikut saja, bagaimana denganmu, Sakura?"


" Aku juga sama."


Para gadis menikmati waktu mereka sendiri dengan berbelanja semua yang mereka inginkan, dikota yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat lagi, mereka bersemangat dengan semua barang yang ada disana. Meski Meliyana mungkin jadi yang paling bersemangat.


Sementara itu dibelakang mereka...


" Aku bertanya-tanya kenapa kita berakhir seperti ini??" Arkan bertanya kepada dirinya sendiri dengan raut wajah risih, karena dia sendiri tidak bisa menikmati waktunya dan malah menemani para gadis berbelanja.


Oscar yang ada disampingnya hanya tertawa mendengar itu, " Ahaha... Jangan khawatir Arkan, ini belum seberapa jika kau melihat bagaimana Niu mengosongkan uang saku ku untuk satu tahun." sekarang ia merasa ingin menangis mengingat itu, sampai-sampai Arkan terkejut melihatnya.


" Jangan menangis, dong. Memalukan tahu."


Arkan dan Oscar terjebak dalam situasi yang tidak bisa mereka hindari, dan dipaksa membawa semua barang yang mulai menumpuk seperti gunung yang telah dibeli oleh mereka.


Keduanya hanya pasrah dengan nasib mereka sekarang.


Sementara itu disisi lain kota, lebih tepatnya ditaman dimana festival yang sesungguhnya sedang berlangsung. Eclipse terlihat menikmati sekantung besar jajanan yang baru saja ia dapatkan, bersama dengan Ethan yang menggendong Quennevia disebelahnya.


Itu menjadi pertama kalinya ia berjalan-jalan didunia manusia dan memakan makanan manusia selama hidupnya. Mereka bersama melihat-lihat festival musim gugur di sekeliling mereka.


" Ini enak~." Eclipse mengalihkan perhatian nya kepada Ethan untuk sesaat, ada yang berbeda dari Ethan yang ia lihat saat ini. " Kakak, kau bisa melihat dengan kaca mata hitam??" itu yang membuatnya penasaran.


" Hm??" tentu saja Ethan yang mendengar itu langsung mengalihkan perhatian kepadanya, dan ia pun tersenyum. " Haha... Kau tahu benda seperti ini tidak berpengaruh kepada kita. Aku hanya menghindari wajah-wajah disekitar saja." jawabnya kemudian.


Eclipse rasa dia benar, jika ia melihat kebelakang sana... ia bisa melihat beberapa orang, terutama para gadis berusaha curi-curi pandang kearah mereka. Alasannya tidak perlu ditanya lagi kenapa. Disamping itu, sepertinya orang-orang salah paham dengan mengira kalau Quennevia adalah putri Ethan.


Yah, jika dilihat lagi, mereka mirip seperti ayah dan anak dalam situasi ini.


" Ngomong-ngomong, Eclipse." pikiran Eclipse buyar ketika Ethan memanggilnya kembali, " Apa kau jadi lebih pendek??"


Dan ketika pertanyaan itu keluar, Eclipse terpaku ditempatnya dengan ekspresi terlihat tercengang. Berbeda dengan Quennevia yang justru menguap terlihat mengantuk dengan keadaan. Ethan sendiri masih bertanya-tanya akan hal itu..


" Sebelumnya kau dan aku memiliki tinggi yang serupa, tapi sekarang kau sedikit lebih pendek dariku. Kau bahkan tidak sampai melebihi telingaku." ia bahkan sampai menjelaskan hal itu dengan lebih spesifik.


Saat kemudian, " ..Mu-Mungkin kakak yang tambah tinggi terlalu cepat." Eclipse menjawabnya seperti itu sembari membuang wajahnya.


" Masa??"


" Itu benar."


Ethan mengedipkan matanya dua kali melihat tanggapan itu, jika kau melihatnya lebih jelas, kau akan lihat kalau telinga Eclipse terlihat sedikit memerah. Dia saat ini sedang merasa malu.


Ethan tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, tapi ia berusaha sebisa mungkin agar tidak tertawa melihat tingkah lucunya sekarang. Benar, Eclipse tidak pernah menikmati apapun, secara gadis besar dia memiliki kepribadian yang sama dengan anak kecil meski umurnya jauh melebihi hal itu.


" Ampun, deh. Bagaimana bisa kau jadi selucu ini hanya dalam waktu singkat??" tanya Ethan sembari mengusap kepalanya dengan gemas.


Sementara Eclipse hanya diam dengan hal itu. Ini pertama kalinya mereka menghabiskan waktu seperti saudara yang sebenarnya, ia merasakan perasaan baru yang tak pernah ia rasakan, dan itu benar-benar membuat Eclipse senang. Bahkan jika ia tidak tersenyum, dari raut wajah yang ia buat itu sudah menjelaskan semuanya.


Ethan sendiri menyadarinya, tapi ia hanya menghela nafas singkat melihatnya. Dia berpikir mungkin setelah ini dia harus menghabiskan waktu lebih banyak dengan Eclipse, itu bagus untuk semakin mendekatkan hubungan mereka.


" Tapi... Kemana si naga dan rubah itu??" tanya Eclipse kemudian, ketika orang yang harusnya ada malah tidak ada sekarang. " Sebelumnya mereka ada bersama kita juga."


" Oh, soal itu. Kudengar Zico punya kebiasaan makan banyak akhir-akhir ini, jadi Yue pasti sibuk mengawasinya agar tidak memakan semua makanan yang dijajahkan disini." jawab Ethan pula.


" Kalau itu si naga, kupikir dia akan terus merengek sambil memegangi kios penjualnya dan menangis sampai ia mendapatkan apa yang dia mau."


" Benar, begitu? Karenanya Yue pasti sibuk menariknya dengan ekspresi kesal."


" Hoo..." Eclipse bisa membayangkan betapa ributnya situasi itu ketika terjadi ditengah keramaian. " Bukankah terlalu kekanakan??"


" Sekuat apapun Yue, dia tidak bisa mengalahkan kemampuan naga murni. Karena itu dia tidak bisa mengancamnya.."


" Ng. Aa~.."


" Huh??"


Percakapan itu berhenti karena sesuatu mengalihkan perhatian Quennevia yang sebelumnya mengantuk, dan ia terus mengulur-ulurkan tangannya seolah berusaha mencapai sesuatu.


" Quennevia?? Ada apa?" tanya Ethan, dan ia pun menoleh kearah mana Quennevia melihat. Itu adalah... tenda penjual permen apel. " Ah..." saat itulah Ethan ingat, kalau permen apel adalah favorite Quennevia.


Beberapa saat kemudian, Ethan kembali berjalan menghampiri Eclipse yang menunggunya sementara ia membeli permen itu. Dan Quennevia terlihat gembira memakan permen apel yang ia inginkan.


" Maaf membuatmu menunggu. Quennevia tidak bisa menahan dirinya dihadapan permen apel."


Eclipse sendiri menatap itu dengan seksama, " ...Itu terlihat enak." ucapnya kemudian.


Mereka harus tiba ditempat berkumpul tepat waktu, dimana semua orang akan kembali berkumpul dan melihat kembang api bersama. Ethan dan Eclipse harus melewati hutan terlebih dahulu untuk sampai ke tempat yang dimaksud, dan ketika mulut hutan terlihat, mereka keluar dari rimbunnya pepohonan dan sampai di bukit kecil yang penuh dengan rerumputan dan sungai yang mengalir. Bukan hanya mereka yang ada disana sebenarnya, tapi orang-orang juga berkumpul dipinggir sungai ini agar bisa mendapatkan pemandangan yang bagus untuk melihat kembang api tanpa halangan.


Yukio dan yang lainnya sudah menunggu disana, mereka mendapatkan tempat dibagaian atas dekat dengan jalan setapak dan menggelar tikar untuk tempat duduk. Bahkan membawa beberapa makanan juga.


" Hei, bagaimana dengan jalan-jalan kalian??" sapanya kepada mereka yang baru tiba disana.


" Luar biasa. Kalian juga mendapatkan tempat yang bagus." sahut Ethan menimpalinya.


Ia pun kemudian ikut duduk bersama mereka, dan menempatkan Quennevia yang masih sibuk dengan permen apel dipangkuannya. Sementara Eclipse masih berdiri didekatnya, sambil menatap langit malam yang gelap.


Entah apa yang ia pikirkan ketika melihatnya, namun tatapan matanya terlihat seperti sangat kesepian.


" ...Kembang api nya tidak ada." gumamnya kala itu.


Lamunan Eclipse buyar ketika merasakan tangan seseorang menyentuhnya, dan saat ia menundukkan kepalanya melihat siapa itu, dia adalah Quennevia. Dan Ethan juga menatapnya sambil tersenyum...


" Itu karena pertunjukannya belum dimulai. Duduklah, kau akan segera melihatnya." ucap Ethan kepadanya.


Eclipse yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh, dan ia pun duduk bersama mereka. Disaat yang sama, Oscar dan yang lainnya datang melalui jalan dibelakang mereka dari arah kanan.


" Yahuu... Semuanya. Kami kembali." Meliyana berlari pertama dan menghampiri mereka dengan girang.


" Selamat datang. Bagaimana jalan-jalan kalian?" sahut Ethan menimpalinya.


" Itu menyenangkan." ucap Niu.


" Hanya menyenangkan untuk kalian." Arkan pun mengoreksi kata-kata itu sementara ekspresi nya terlihat sangat letih, bagitu pula dengan Oscar meski ia berusaha untuk tetap tersenyum.


" O-Oh... Kalian sudah bekerja keras." Ethan tak bisa berkata-kata lagi melihat rupa mereka yang sudah seperti akan sekarat itu, ia berpikir apa saja yang mereka alami sampai seperti itu.


" HUAAAA..!!"


Saat kemudian mereka semua dikejutkan oleh suara tangisan keras itu dari arah lain, karena itu mereka semua langsung menoleh ke arah sebaliknya dari Oscar dan yang lain datang. Dan yang mereka lihat, adalah Yue yang sedang menyeret Zico.


" Huaa.. Berikan aku cumi bakar lagi! Aku janji hanya satu saja!!."


" Tutup mulutmu sebelum aku merobeknya."


" Kau kejam! Kau sangat kejam!! Aku akan mengadukan semuanya kepada Master setelah semua ini selesai! Huaaa..!!"


Zico tidak bisa berhenti menangis dan terus meronta ketika itu terjadi, sementara Yue yang sepertinya sudah kehabisan kesabaran memiliki ekspresi kesal diwajahnya. Dia akan meledak jika situasi nya terus berlanjut.


" Hahaha..."


Tapi tidak ada yang mau terlihat diantara nya..


" Hm? Oh, lihat, lihat. Pertunjukan kembang api nya akan dimulai!." saat kemudian Lucy mengalihkan perhatian mereka semua.


Dan seperti yang ia katakan, pertunjukan itu dimulai. Kembang api pertama dinyalakan, kemudian naik ke langit dan meledak disana dengan suara kencang dan warna-warni yang beragam disetiap ledakannya.


" Waah..."


Setelah itu, kembang api yang lain pun juga menyusul. Langit dipenuhi oleh ledakan berwarna-warni dan berbagai bentuk sekarang, semua cahayanya seperti menghujani mereka. Semua orang pun terpaku melihat keindahannya bersama-sama, ada anak-anak yang berlarian disekitar mereka dengan kegirangan juga. Semuanya bersenang-senang dimalam ini, termasuk Ethan dan yang lainnya.


Quennevia juga sama, ia menatap setiap ledakan dan cahaya yang dibuat kembang api yang masuk dalam penglihatannya. Itu bukan kali pertama baginya melihat kembang api, tapi ia terus memertimbangkan posisinya sekarang dan dirinya yang ada dalam ingatannya yang tersisa.


Dulu, tak peduli dimana dan kehidupan apa yang ia jalani. Ia selalu melihat kembang api sendirian, berada ditempat yang tak terjangkau, diatas gedung tinggi, dikuil tanpa teman, dibukit seorang diri. Meski kembang api meledak saling bersahutan diatas kapalanya, hal yang ia lihat bukan hanya itu, melainkan orang-orang dibawahnya yang menikmati pertunjukan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Di kehidupan nya sekarang pun ia tidak pernah menikmati pertunjukan kembang api sekalipun, ia hanya diam ditempatnya dan membaca buku setiap kali perayaan dilakukan. Dia tahu dialah yang menolak mereka dan dunia, karena itu dia selalu sendiri.


Sekarang berbeda, Quennevia memutar kapalanya menatap teman-teman nya, dan juga Ethan. Mereka semua terlihat bahagia dan menikmati pertunjukan bersama, saling mengobrol dan makan, dan dia ada diantara mereka. Karena itu, dia merasakan sesuatu yang baru.


Benar, jika dibilang seperti ini, dia mengerti perasaan Eclipse yang baru pertama kali merasakan festival kembang api dan kehangatan nya selama hidupnya. Karena mereka berdua selalu berpaling dari dunia dan hidup hanya karena mereka hidup.


Quennevia menyadari betapa berharganya waktu yang mereka lalui, hal yang mungkin tidak akan pernah mereka lalui lagi. Harusnya ia memiliki lebih banyak kasih sayang untuk mereka, itu karena... kali ini Quennevia mendapatkan teman yang kuat dan yang rela menempuh jalan berduri untuknya.


" Kembang api..."


Perhatian semua orang teralihkan dari kembang api ketika suara itu muncul, mereka semua menatap kearah yang sama dengan raut wajah terkejut yang mereka buat...


" ...Indah, ya."


Mereka menatap Quennevia yang baru saja kembali berbicara, dan ia memiliki ekspresi yang benar-benar terlihat bahagia diwajahnya.


" Quennevia..."


" Kakak..."


Oscar dan Sakura jadi yang pertama menimpali dengan memanggilnya seperti yang selalu mereka lakukan. Sementara yang lainnya masih terpaku seolah tidak percaya dengan apa yang baru terjadi, dan itu segera berganti menjadi kebahagiaan.


Ethan juga sama seperti mereka, ia kembali tersenyum sangat bahagia dengan kejadian ini. Dan ia pun memeluk Quennevia. Air mata hampir jatuh dari matanya.


" ...Iya.. Itu benar-benar indah.." ia pun menimpalinya.


Setidaknya dia tahu... Keinginan untuk hidup telah kembali kepada Quennevia. Bukan pengaruh dari Sirius, tapi benar-benar keinginan Quennevia sendiri.