Quennevia

Quennevia
Istana Dewa Matahari



[Season 2]


Sementara itu, Oscar dan yang lainnya. Mereka terus bergerak kearah yang dituju oleh Yue saat ini, menuju ke arah timur dimana matahari terbit untuk sampai ke istana dewa matahari. Meski.... dalam hati mereka cukup khawatir karena Ethan pergi sendirian, dan mereka meninggalkan nya saat ini.


Tapi jika mereka kembali lagi, bukan berarti mereka akan membantu juga. Selama ini mereka cukup percaya diri menghadapi musuh-musuh yang kuat, tapi tidak dengan mereka yang berada disisi dewa.


" Kuharap Ethan baik-baik saja.." Niu sangat mengharapkan hal ini.


Karena tidak akan lucu jika sesaat kemudian mereka tahu dia sudah tiada. Bisa-bisa laki-laki gila(Arkan) dibelakang nya ini menarik mereka kembali ke dunia bawah untuk membawanya.


" Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Aku yakin." saat kemudian suara Yue pun membuyarkan lamunannya.


Niu menghela nafas sejenak, kemudian ia pun menjawabnya. " Aku tahu, Yue. Aku tahu kau benar, dan Ethan kuat.. Tapi tetap saja.." Perasaan bukanlah hal yang bisa dikendalikan dengan mudah.


" Kurasa... dari pada mengkhawatirkan orang itu, sebaiknya kalian mengkhawatirkan diri kalian sendiri. Kita hampir sampai ke istana dewa matahari.."


" Apa?!! Kenapa secepat ini?!" teriak Arkan tiba-tiba disana.


Bukan hanya dia yang terkejut tapi yang lainnya, mereka terlalu tenggelam dalam lamunan mereka hingga akhirnya tidak sadar kalau sudah sampai. Itu sampai Yue mengatakan nya.


Mereka dihadapkan dengan istana besar didepan sana, istana yang terlihat bersinar dengan berwarna perak disetiap sudutnya. Dan tangga perak panjang yang membentang ke arah istana itu.



Oscar dan yang lainnya tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan hal itu, ini akan menjadi pemandangan tak terlupakan lainnya yang akan mereka miliki. Mungkin tidak ada yang pernah datang kesana kecuali mereka dalam bebarapa ribu dekade ini.


Langkah Yue ringan, melewati beberapa anak tangga dalam sekali lompatan. Mereka langsung mendekat dengan kecepatan tidak terduga. Dan tepat dihadapan gerbang istana agung ini, Yue melompat dengan dua kali tumpuan pada dinding dan masuk ke dalam begitu saja.


Ia mendarat dengan halus didalam halaman istana...


" Tunggu... Apakah tidak apa-apa masuk begitu saja seperti ini??" ucap Meliyana agak khawatir ketika Yue sedikit membungkukan tubuhnya dan ia turun dari punggungnya bersama yang lain.


Namun Yue hanya menjawabnya dengan santai, " Jangan khawatir begitu, bukankah kalian sudah dapat izin??"


Pertanyaan nya itu membuat mereka bertanya-tanya dalam kebingungan, seingat mereka. Tidak ada yang pernah bilang kalau mereka telah mendapatkan izin untuk masuk ke dalam istana dewa begitu saja.


Sayangnya, Yue tidak berniat menjelaskan hal itu lebih lanjut dan justru berjalan pergi dari sana begitu saja. Ia berjalan masuk lebih dalam, Oscar dan yang lainnya tidak ingin dapat masalah lagi, jadi mereka hanya mengikutinya saja. Meskipun mereka berpikir ini agak lancang...


****


- Kekaisaran Chrysos.


Ruangan Putra Mahkota.


Ini sudah hampir satu tahun, sejak situasi mulai riuh dengan isu perang dibenua ini. Lecht sebagai Putra Mahkota dari kekaisaran Chrysos dia punya tanggung jawab besar dalam mengatasi masalah persiapan dan kesiapan para prajurit untuk situasi buruk.


Sementara ayahnya, Sang Kaisar membahas hal ini dengan para bangsawan dan menenangkan kegundahan rakyat.


Dan sekarang, Lecht sedang fokus memeriksa laporan yang dikirimkan dari Akademi secara berkala kepada para pemimpin dibenua.


Tok...Tok...Tok...


Saat kemudian perhatiannya pun buyar karena suara ketukan pintu.


" Yang mulia, Tuan Jason Shuwan dan Nona Arissa Achilles ada disini." pengawalnya yang ada diluar sana pun kemudian bicara.


" Biarkan mereka masuk." dan Lecht pun langsung menyahutinya.


Setelah mendengar jawaban darinya, pintu pun perlahan terbuka dan dua orang masuk ke dalam sana. Seorang laki-laki dan seorang perempuan muda yang sangat ia kenal.


" Salam kepada matahari kedua kekaisaran, semoga berkat dewa selalu menyertai anda." keduanya membarikan salam khas kepada keluarga kekaisaran seperti yang biasa dilakukan orang lain.


" Terima kasih, dan maaf karena memanggil kalian kemari ketika kalian pasti sedang sibuk karena memanggun kembali dan menstabilkan 'Arkharega' setelah peralihan kekuasaan." ucap Lecht kepadanya kemudian.


Jason yang mendengar nya pun kemudian tersenyum, " Itu tidak akan menjadi Arkharega lagi, yang mulia. Seperti yang anda tahu, hanya Quennevia yang mendapatkan nama itu. Dan baginda kaisar telah setuju untuk mengganti namanya menjadi Shuwan demi menghormati keputusan Quennevia yang menolak posisinya." ucapnya.


" Baiklah jika kau berkata seperti itu."


" Lalu Yang mulia, bolehkan saya tahu kenapa kami dipanggil kemari??"


" Ah, benar soal itu..."


Lecht menggantung kata-katanya ketika dirinya menarik sebuah laci disisi kiri mejanya dan mengeluarkan sebuah surat yang kelihatannya telah dibaca. Tentu saja, itu surat yang dikirim untuknya dan telah ia baca.


" ....Pihak Akademi, lebih tepatnya, Quennevia memberikan surat. Mereka ingin Arissa pergi ke Akademi untuk bergabung dengan pasukan medis." Lecht pun berkata dan menyerahkan surat itu kepada Arissa yang dimaksud.


Arissa yang melihat nya pun langsung menerimanya dan membaca isinya, " Jadi... Kakak ingin aku ke sana??" tanyanya untuk memastikan.


{sebenarnya itu surat yang ditulis Kagura atas permintaan Misika. Dia ingin menjaga dan meminta bantuan kekuatan Arissa disana.}


" Iya." jawab Lecht membenarkan hal itu.


Dia pikir kalau Arissa mungkin akan cemas, tapi rupanya dia kelihatan lebih bersemangat.


" Karena kamu hanya akan ada diakademi dan tidak akan terjun langsung ke lapangan, jadi kamu tidak perlu khawatir akan terlibat pertarungan." lanjut Lecht kemudian.


" Itu bagus Arissa, aku juga akan tenang jika kau ada ditempat yang aman." dan Jason juga kelihatan nya setuju, dia juga sama sibuknya dengan Lecht saat ini.


Sebagai bangsawan yang masih memiliki ikatan dengan keluarga kekaisaran, dia masih punya tanggung jawab yang besar. Apalagi setelah Haika menyerahkan posisi kepala keluarga kepadanya dengan tiba-tiba.


Keputusan telah dibuat.


" Kalau begitu, aku akan segera mengurus keberangkatanmu kesana. Karena jarak dari kekaisaran ke Akademi cukup jauh, dan akan berbahaya jika melakukan perjalanan biasa. Aku akan meminta penyihir membukakan portal teleportasi untukmu. Kau bisa bersiap perlahan, dan setelah selesai.. kita bisa pergi kapanpun." ucap Lecht kepadanya.


" Baik, yang mulia." Arissa pun mengangguk paham.


" Baiklah, lalu soal-..."


Duarkk..!!


Ucapan Lecht tiba-tiba terhenti ketika suara yang cukup besar itu terdengar, bukan hanya dia yang terkejut tapi Arissa dan Jason juga sama. Sesuatu baru saja menghantam dinding istana didekat ruangan Putra Mahkota.


Dan mereka juga bisa mendengar suara keributan dari luar.


Karena hal itu, Lecht pun langsung bangkit berdiri dan berjalan kearah jendela dengan terburu-buru. Jason dan Arissa pun mengikuti dibelakang nya, dan apa yang ia lihat adalah sesuatu yang mengerikan....


Lecht tidak tahu harus berkata apa lagi dengan hal itu, " Haha... ini tidak bisa dipercaya.." beberapa waktu yang lalu dia mendengar kalau kerajaan Aquila lah yang didatangi oleh hal itu, apa sekarang dia akan datang ke Chrysos..?


" Ini tidak mungkin... angin sebesar itu tidak pernah muncul, apalagi di ibu kota." ucap Jason ketika melihat apa yang ada diluar.


Sebuah tornado raksasa muncul ditengah kota dimana ada banyak orang yang ada disana, dan bergerak semakin dekat dengan istana kekaisaran dimana mereka berada.


Itu sebuah angin yang begitu besar dan juga gelap, menyapu semua yang ia lewati dan mengangkatnya tinggi ke langit. Lecht bisa melihat bagaimana rumah-rumah yang dilewatinya hancur dan puing-puingnya beterbangan.


Orang-orang berlarian panik menghindari tornado itu, bukan hanya yang ada dikota. Bahkan yang ada di istana dibuat ketakutan dan panik.


" Apa yang harus kita lakukan... penyihir mana yang bisa menahan tornado sebesar ini..??" Lecht sampai kalut.


Dia tidak bisa memikirkan orang mana yang bisa menahan angin sebesar dan sekencang itu untuk berhenti atau menghilangkannya. Sampai, sesuatu datang....


" Yahoo!! Banda ini jadi sering muncul akhir-akhir ini!!" Azel datang dari samping tornado itu, terbang mengelilingi nya dan akhirnya berhenti tak jauh didepan tornado itu.


Tidak, dia tidak sendirian. Ada sekumpulan spirit beast dengan jenis elang dan burung-burung yang mempunyai eleman angin mengikutinya.


" Ayo teman-teman! Satu tiupan besar, dan kita hilangkan tornado nakal ini!." ucapnya kepada para burung yang ada bersamanya.


Burung-burung itu pun memekik menyahutinya, di lihat dari bagaimana mereka tiba disana dengan cepat, seperti nya mereka cukup bersemangat.


" 1... 2... 3... Tiup!."


Azel memberikan komando, dan semua burung itu langsung mengepakan sayapnya secara bersamaan. Menciptakan tornado lain dengan arah yang berlawanan, hingga kedua tornado itu saling menghantam satu sama lain dan mereka berhenti ditengah-tengah.


Namun belum berhenti, Azel dan burung-burung yang lain kembali mengepakan sayap mereka untuk menambah kekuatan tornado mereka.


Cukup lama kedua angin itu berputar saling melawan, tornado yang pertama pun perlahan hilang ditelan yang kedua, dan setelah itu yang kedua pun juga ikut hilang. Tornado berhasil dihilangkan.


Banyak puing-puing yang jatuh dari langit dan menghantam tanah, termasuk orang-orang yang sebelumnya terbawa oleh angin itu. Untunglah, para beast itu bergerak cepat.


Mereka menyelamatkan orang-orang yang jatuh sebelum akhirnya benar-benar menghantam tanah dibawah mereka.


" Fyuuh... Aku penasaran kemana lagi angin nya nanti??" Azel sudah banyak menahan tornado seperti itu sejak hampir satu tahun yang lalu, dia lumayan terbiasa sekarang.


Sementara itu didalam istana, Lecht yang melihat Azel akhirnya menghela nafas lega. Hampir saja ibu kota kekaisaran benar-benar luluh lantah karena tornado itu. Semua orang pasti melihat hal ini dan merasakan hal yang sama dengannya.


Dan itu benar-benar saat-saat yang menegangkan dihadapan amukan alam.


" Haha... Aku hampir tidak bisa bernafas dengan benar..."


****


- Pohon Dunia.


Ethan masih diam dihadapan pohon dunia, sejak beberapa saat yang lalu.. Para Valkyrie datang dan bicara kepadanya. Mereka kembali ke tempat mereka, dan Ethan masih mempersiapkan sesuatu.


Ethan duduk bersila dibawah pohon sambil memperhatikan 'Pedang Pemecah Hukum' nya dengan seksama, ia bahkan mengeluarkan 'Pedang Matahari dan Bulan' milik Quennevia. Dan disampingnya juga ada 'Tombak Pembelah Langit' yang ia ambil dari dalam pohon dunia beberapa waktu yang lalu.


Ada satu benda lagi yang tidak ada, tapi itu bukan benda yang ia butuhkan sekarang jadi tidak masalah.


" Benda itu pasti ada ditangan anak itu, jadi tidak apa meski tidak diambil..."


Ethan yakin dengan hal itu.


Setelah itu, ia memikirkan langkah selanjutnya lebih dulu. Ethan bisa menebak apa itu, tapi dia perlu seseorang yang bisa menahan awalnya. Itulah yang dia pikirkan....


Orang yang cukup kuat, bisa memakai pedangnya, juga... orang yang berhubungan dengan Dewa Matahari.


" Hmm.. Nggghhh... " Ethan memikirkan itu cukup keras, namun rupanya tidak ada respon. " .... Baiklah, aku minta tolong. Kumohon bantu aku..." ucapnya kemudian dengan nada memelas.


Seseorang perlahan muncul dibelakang, berdiri dengan gagah. Saat Ethan kemudian menoleh kearahnya...


" 'Terlalu lama.. Ethan'." orang itu berbicara kepadanya.


Dia memiliki rambut pirang yang mirip dengannya, hanya saja dengan mata biru yang sangat dalam layaknya lautan.


Ethan yang mendengar perkataannya pun kemudian tersenyum dan berkata. " Lama tidak bertemu.... Ayah."