
Setelah mereka pergi dari akademi dengan buru-buru, mereka pun melanjutkan nya dengan jalan kaki santai menuju tempat tujuan. Namun Quennevia dan Niu masih belum tahu pekerjaan apa yang diambil oleh kedua orang di depan mereka itu.
Sampai kemudian, Niu pun buka suara disana. " Hei, sebenarnya apa pekerjaan yang kau ambil??. " tanya nya.
" Oh, pekerjaan kita?? Pekerjaan kita sudah selesai, kok. " jawab Oscar dengan santai.
" Hah?!. " ucap Niu dan Quennevia pula bingung.
Bagaimana bisa perkerjaan mereka selesai sementara mereka baru saja pergi dari Akademi, dalam perjalanan pun mereka tidak melakukan apapun.
" Haha... Kalian pasti bingung, pekerjaan kita itu mencari tanaman obat langka yang bisa menyembuhkan racun, tapi aku dan juga Oscar sudah memiliki nya. " jelas Ethan.
" Jadi kita hanya perlu memberikan tanaman itu nanti, sementara itu... Mari kita jalan-jalan dulu saja. " lanjut Oscar kemudian.
Pantas saja Niu merasa kalau mereka menyembunyikan sesuatu ternyata memang benar, ia pun menolah kepada Quennevia yang diam saja, nampaknya ia memikirkan rencana mereka berdua itu.
" Ide yang cukup bagus, jadi kita mau kemana??. " tanya Quennevia, seperti nya ia juga tertarik.
" Mengunjungi Kekaisaran ku, bukankah kalian belum pernah ke sana??. " sahut Ethan.
Nah, itu baru jadi lebih menarik bagi Niu dan Quennevia, mereka juga penasaran bagaimana Kekaisaran Foldes itu. Sekarang sudah ada kesempatan, mereka tidak akan sia-sia kan begitu saja.
Karena itu, mereka pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju ke Kekaisaran Foldes, seperti nya liburan ini akan sangat menarik bagi mereka. Sayang sekali karena yang lainnya tidak bisa di bawa sih, pasti mereka akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya.
********
Di sebuah pohon tua di tengah hutan, mereka berhenti di sana sementara Ethan mencari-cari sesuatu di sekitar pohon itu.
" Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan??. " tanya Quennevia menatapnya aneh dengan apa yang sedang ia lakukan.
" Hmm... Tentu saja mencoba membuka portal ke Kekaisaran, jika kita berjalan kaki akan memakan waktu 7 hari. " sahut Ethan dengan santai.
" Oh, jadi karena ini kau bisa tiba di Akademi dengan cepat. " ucap Oscar pula kagum mendengar hal itu.
" Justru dia menghindari Ning, bukan ingin ke Akademi dengan cepat. " ledek Niu pula.
" Ayolah kalian, jangan membahas itu. " ucap Ethan menengahinya, sementara Niu hanya terkekeh karena responnya.
Dia selalu saja di ejek dengan cara seperti itu, tapi yah sudah lah memang kenyataan kok. Tak lama kemudian Ethan pun berhasil menemukan apa yang ia cari di sana.
" Ha.. Ketemu. " ucapnya.
Ternyata yang ia cari-cari itu sebuah kristal sihir, ia pun mulai membaca beberapa mantra dan muncul lah sebuah portal didekat pohon tua itu.
" Ayo masuk. " ajaknya, ia pun masuk lebih dulu ke dalam portal itu.
Lalu selanjutnya diikuti oleh Quennevia, Niu dan juga Oscar yang paling akhirnya. Setelah melewati portal itu mereka tiba di sebuah pinggiran hutan, yang mana menunjukkan kota Kekaisaran dengan jelas dari atas tebing disana.
" Wahhh.... " ucap Quennevia kagum melihat seperti apa Kekaisaran itu didepan matanya.
Kota itu benar-benar besar dan juga cantik, rasanya ia juga jadi merindukan Chrysos karena datang ke sana. Mereka pun kembali mengikuti Ethan ke kota Kekaisaran itu, mereka sempat mendapat pemeriksaan dari penjaga gerbang tapi Ethan menjelaskan kepada prajuritnya itu siapa mereka dan untuk apa kedatangan mereka ke sana.
Kota itu benar-benar seperti yang dikatakan oleh para putri dulu, penjaga gerbang nya saja bukan hanya manusia tapi ada juga ras siluman dan yang lainnya. Bagian dalam kota lebih indah lagi, tempat yang sangat ramai dan juga damai, tidak ada yang membeda-bedakan di sana, semuanya hidup dengan rukun.
" Wahh... Ini benar-benar kota impian. " ucap Niu yang terkagum-kagum, iya bukan hanya dia sih.
" Benar, tempat ini sangat indah dan juga ramah. " sahut Oscar setuju.
" Ini hanya kota nya saja, kalian pasti akan terkejut ketika melihat istana ku ; )" ucap Ethan dengan percaya diri sambil mengedipkan matanya.
" Kita akan ke istana??. " tanya Niu pula dengan mata yang berbinar.
Ethan mengangguk mengiyakan ucapan Niu, dia kelihatan sangat senang sekali. Iya tentu saja, bukan sembarangan orang bisa masuk ke istana di negara mana pun, itu adalah kesempatan yang sangat langka.
Quennevia pun juga sangat terpukau sekarang, bisa melihat kota seindah itu benar-benar membuat nya penasaran dengan apa yang ada di sana.
" Ethan, bisakah aku berkeliling kota??. " tanya Quennevia pada akhirnya.
" Iya, iya. Aku juga mau. " sahut Niu pula dengan semangat.
" Ee... Iya, bisa saja. Kalau begitu kita berkumpul lagi di sini, aku juga harus menemui seseorang dulu sih. " jawab Ethan kemudian.
" Bagaimana dengan mu, Oscar??. " tanyanya pula mengalihkan pandangannya kepada Oscar.
Oscar yang ditanya pun balik menatapnya, " Aku sih ikut Niu saja, jangan sampai dia membuat masalah. " ucapnya dengan nada main-main.
Iyah akan sangat merepotkan jika sampai benar-benar terlibat masalah di kota asing seperti itu, jangan sampai hal seperti itu terjadi.
" Kalau begitu kami pergi dulu. " ucap Niu berjalan lebih dulu, yang disusul oleh Oscar dengan santai.
" Mereka bersemangat sekali. " ucap Quennevia melihat bagaimana keduanya lansung menghilang diantara lalu lalang orang-orang.
" Iya, dan itulah yang membuat mereka jadi terlihat menarik. " sahut Ethan.
" Oke, jangan sampai tersesat ya. "
Mereka pun akhirnya berpencar untuk melihat-lihat kota itu, dan Ethan pergi ke tempat dimana orang yang ia cari ada di sana.
Selama berkeliling itu Quennevia banyak melihat hal-hal baru, banyak juga para pedagang yang menawarinya barang yang mereka jual. Ia yakin pemerintahan dinegeri ini benar-benar hebat hingga rakyartnya pun bisa hidup dengan makmur.
Quennevia menikmati jalan-jalan singkat ini, namun ia terlalu sibuk melihat sekeliling sampai tidak melihat orang yang ada di depannya, dan tanpa sengaja ia pun menabraknya.
Bukk....
" Ahh..... "
Quennevia hampir saja jatuh karena hal itu, beruntungnya orang itu menarik tangan Quennevia dan menahannya agar tidak jatuh.
" Kau baik-baik saja??. " tanya orang itu kepada nya memastikan.
" Ah, i.. iya. Maaf karena menabrak mu, dan Terima kasih sudah menolong ku. " ucap Quennevia sambil melepaskan tangannya yang diganggam orang itu.
" Tidak mengapa, lagipula aku juga salah karena berdiri di tengah jalan. " sahut orang itu.
Eh, tepi... apa benar dia harus dipanggil orang, dia memiliki mata berwarna merah yang tajam, lalu telinga runcing dengan taring yang tersembunyi di mulutnya, dia bukan manusia.
" Namaku Yulles dari klan iblis bulan darah. " ucap orang... iblis itu memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya.
" Namaku Quennevia. " sahut Quennevia sambil menerima uluran tangan itu, mereka pun berjabat tangan.
Saat kemudian Yulles menanyakan pertanyaan yang tidak terduga...
" Ngomong-ngomong, apa kau juga klan ku??. " tanyanya.
" Bukan, aku manusia... iya setengahnya sih. Setengahnya lagi hewan spirit. " jawab Quennevia.
Entah mengapa tapi Yulles nampak agak kecewa mengatahui nya, ia juga nampak memikirkan sesuatu sambil memperhatikan Quennevia dengan serius. Seperti, dia terlihat seperti berusaha memastikan kembali apa yang ia rasakan.
" Apa aku salah ya?? Seperti nya samar-samar aku merasakan kekuatan kak Emilia dalam dirimu. " gumam Yulles yang juga masih bisa didengar oleh lawan bicaranya.
Hal itu membuat Quennevia sedikit tersentak mendengar itu, " Kakak...?? Kau menyabut ibu Emilia dengan sebutan kakak, apa kau itu adiknya??. " tanya Quennevia dengan tekejut.
" Eh, emm.. iya, dia kakak ku. " jawab Yulles dengan bingung.
Mereka pun berpindah dari sana terlebih dahulu, karena Quennevia ingin mengatakan sesuatu tentang itu, mereka pergi ke sebuah restoran yang ada didekat sana. Dan setelah penjelasan yang cukup panjang, akhirnya mereka berdua tahu situasi masing-masing yang mereka miliki.
" Begitukah, jadi kakakku melakukan hal itu. " ucap Yulles setelah mendengar penjelasan Quennevia soal apa yang terjadi kepada Emilia.
" Maaf jika ibuku tidak bisa menolong nya. " ucap Quennevia dengan menyesal.
Dia memang tidak tahu apa-apa hanya mendengar nya dari Everon, tapi dia tahu bagaimana rasanya mengetahui seorang yang berharga baginya tiada sementara dirinya sendiri tidak bisa melakukan apapun.
" Tidak, Tidak perlu meminta maaf. Aku senang karena kakak ku mengangkat seorang anak seperti mu, aku yakin dia sangat bahagia karena kau bisa menjadi putrinya. " sahut Yulles pula sambil tersenyum dengan lembut.
" Iya, tetapi.... " meski begitu, Quennevia masih merasa kalau itu tidaklah seharusnya.
Yulles yang melihat itu pun kemudian menggenggam tangan Quennevia dan kembali berkata, " Tenang saja, kau atau ibumu tidak salah apapun. Sejak awal aku maupun anggota klan yang lain sudah tahu jika dia banyak diincar. Kami juga tahu kalau dia mungkin tidak akan bisa hidup lama " ucapnya.
Quennevia yang mendengar nya terdiam dan menundukan kepalanya, rasanya seperti dia mendengar kalau mereka memang telah mempersiapkan kematian Emilia suatu hari nanti. Itu terlihat dari bagaimana ekspresi Yulles yang terlihat seperti telah mengikhlaskan hal itu alih-alih terkejut saat mendengar kalau saudarinya telah tiada. Apakah mungkin... meski hal itu tidak terjadi pun, Emilia akan tetap mati?
Quennevia bingung dengan itu..
Saat kemudian Quennevia teringat, pikirannya teralihkan dan ia pun bertanya...
" Oh, ngomong-ngomong paman bisa mengubah warna mata dan rambut, ya?? Barusan warna rambut paman putih dengan mata merah, sekarang malah rambut dan mata hitam??. " tanya Quennevia dengan penasaran melihat rupa Yulles saat ini..
Yulles yang mendengar itu pun tersenyum dan berkata, " Iya, seperti itulah. Tapi bicara lagi ke awal... setelah ini pasti ada banyak juga yang mengincar mu jika orang-orang tahu tentang ini, apalagi setelah bertemu dengan ku sekarang. " ucapnya.
" Ah, jangan khawatir. Aku punya banyak teman yang bisa membantu, lagipula aku punya paman yang keren seperti mu dan lagi seorang pemimpin klan ; ) " sahut Quennevia kemudian.
Iyah, dia sudah tidak asing dengan incar mengincar seperti itu, lagipula jika alasan nya bukan karena kekuatan warisan Emilia pun dia tetap akan diincar oleh klan Retia.
Dan mendengar pernyataan Quennevia itu, membuat Yulles tertawa keras. " Ahahaha... sifat kalian benar-benar mirip, lalu... bagaimana keadaan tuan Everon??. " tanya Yulles pula.
" Aku yakin dia baik-baik saja, tapi sifat buruk nya itu terlalu mudah marah. Dia juga sangat kejam dalam mengajariku, ditambah sangat menjengkelkan. " sahut Quennevia, yang langsung diangguki dengan setuju oleh Yulles.
- Sementara itu di tempat Everon saat ini...
" Hachuu... "
" Hah?? Siapa yang membicarakan ku??. " gumam Everon yang dibuat bingung karena tiba-tiba kesal tanpa alasan.
**********************************************
* Yulles