Quennevia

Quennevia
Mereka yang memiliki keinginan kuat tidak akan menyerah



Ethan masih berhadapan dengan sosok Quennevia yang muncul didepan matanya...


Mereka sepertinya terlibat percakapan yang cukup penting.


Sebelumnya mereka terjebak dalam keheningan satu sama lain, tidak ada satupun yang memulai percakapan. Itu sampai Ethan memutuskan untuk jadi yang pertama buka suara ditempat itu...


" Apa kau ingin seperti ini selamanya, hidup didunia ilusi yang kau ciptakan sendiri?." dan pertanyaan itulah yang ia ajukan kepada sosok yang ada dihadapannya.


Tapi dia tetap diam...


Sementara itu, Ethan menundukan kepalanya dengan ekspresi yang terlihat penuh dengan penyesalan. " Aku tahu aku salah, aku sama sekali tidak mencoba memahamimu. Aku minta maaf. Jadi,... kumohon jangan tinggalkan aku lagi." ucapnya lagi penuh permohonan.


Tapi Quennevia belum juga menanggapinya...


Ethan tahu itu mungkin tidak berguna, belum tentu juga orang yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Quennevia yang sesungguhnya. Tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk mengatakan itu. Perasaannya tidak akan menjadi lebih baik atau lebih buruk jika dia tidak berterus terang kepada Quennevia.


Saat tak lama kemudian, ia pun mendapatkan tanggapan. " Tidak, kau tidak salah."


Mendengar itu membuat Ethan sedikit terkejut, sontak ia pun langsung mengangkat kepalanya dan melihat. Tapi bukan 'sosok' didepannya lah yang mengatakan itu.


" Semua nya adalah pilihanku, aku yang memutuskan untuk menggantikan nya menjalankan hukuman dan menanggung semua nya sendiri. Jadi ini bukan salah mu. Dan, Jika... dengan menghilangnya aku bisa menghilangkan hukuman dewa itu juga.... kurasa itu harga yang pantas."


Suara itu kembali muncul, bergema disekitarnya. Tapi jawaban itu bukanlah hal yang ia harapkan untuk didengar...


" Jangan bicara seperti itu! Itu tidak benar, kau tidak harus menghilang. Kita bisa memperbaiki semuanya, Quennevia." dan Ethan memberikan penyangkalan keras terhadap hal itu.


Saat ia mendengar suara nafas yang terdengar bergetar...


" Sungguh..??"


" Aku tidak mau kembali lagi."


" Tolong aku."


" Hentikan, kumohon. Aku tidak mau melakukannya lagi."


Suaranya berubah-ubah... terkadang seperti suara seorang anak kecil, suara remaja, dan wanita dewasa. Semuanya muncul bersamaan saling menyangkal satu sama lain dan meminta pertolongan...


Itu adalah...


Pikiran kontradiksi Quennevia.


" ...Aku.."


" Kumohon..."


" ...Jangan lagi."


Suara-suara itu muncul terlalu banyak, sampai-sampai Ethan mulai terganggu dengan semua itu. Ia mengerutkan keningnya dan menutup rapat kedua matanya ketika tangannya menutup setiap telinganya, semua suara yang muncul menyakitinya. Bahkan meskipun itu bukanlah sebuah serangan..


Mereka tumpang tindih sampai Ethan tidak tahu lagi apa yang dikatakan olehnya, hanya potongan-potongan kata yang tidak jelas yang bisa ia mengerti. Saat...


" Ethan..!."


Suara itu adalah satu-satunya yang memanggil namanya diantara yang lain.


Ethan kembali tersadar setelah itu, semua suara disekitarnya mulai perlahan menghilang. Dan ketika ia mengangkat kembali wajahnya, ia melihat sesuatu yang lain. Dibelakang sosok Quennevia yang berdiri menatapnya, ia melihat secercah cahaya.


Diantara bulu-bulu yang berjatuhan, didalam bola yang bersinar dengan warna kemerahan, dan tanaman duri bersama mawar yang tumbuh mengelilingi nya. Berdiri sebuah kursi...


Dan diatas kursi itu, Quennevia yang tak sadarkan diri duduk dengan rantai-rantai yang mengikatnya.


'Ketemu!'.


Instingnya secara pasti memberitahu Ethan, dan ia pun langsung berlari kearahnya. Melewati sosok yang menghalanginya, menuju kearah orang yang ia cari.


Itu adalah kesadaran Quennevia yang sesungguhnya.


" Quennevia..!."


Bzzzttts...!


" Ah..!."


Hanya selangkah lagi...


Satu langkah kecil lagi, Ethan bisa menyentuhnya. Tapi ia melupakan penghalang itu, secara pasti ketika ia menyentuh bola yang mengurungnya itu, tangan Ethan dipentalkan oleh kekuatan yang mengelilinginya. Ethan yang melihat itu sangat terkejut, dan ia mengepalkan tangannya.


Quennevia ada begitu dekat, dia ada didepan matanya, padahal dia hanya harus mengulurkan tangannya lebih dekat. Tapi dia bahkan tidak bisa melakukan itu.


" Sial!." membuat Ethan kesal hingga ia memukul penghalang itu.


" Menyingkirlah penghalang bodoh! Menyingkir!." dia tidak melakukan itu sekali, tapi sampai mengulanginya berulang-ulang kali. Tapi semuanya tetap sama.


Sayangnya itu juga seperti yang ia duga, sama sekali tidak berhasil. Karena kekuatan Seraphine yang telah mengambil alih semua hal yang ada ditempat ini, dan ia yang telah menggunakan hampir semua kekuatan nya tidak bisa lagi memberikan perlawanan. Ethan bingung...


" ..Apa yang harus aku lakukan..?? Hei, Quennevia.. Apa yang harus dilakukan sekarang?." ia perlahan berubah frustasi.


Perlahan tapi pasti, ia mulai merasa akan dikeluarkan paksa dari tempat ini. Ia hanya berusaha untuk memperpanjang waktu setidaknya beberapa menit lagi untuk berusaha membangunkannya. Tapi dengan kondisi seperti ini sekarang, jangankan membangunkan, Ethan bahkan tidak yakin apa dia bisa menembus penghalang itu atau tidak.


Saat itu perlahan, kedua kakinya kehilangan kekuatan nya. Dan ia merosot jatuh diatas kedua lututnya, tangannya masih menyentuh penghalang itu. Ethan pun menyandarkan dirinya kepadanya...


Ia sendirian...


Tidak akan ada yang melihatnya disana, tapi Ethan sama sekali tidak menyukai suasana hening ditengah kekosongan ini. Tubuhnya gemetar dikegelapan, hal yang tidak mungkin ia perlihatkan kepada orang-orang, sisi lemahnya.


Tapi ada satu fakta yang tidak bisa Ethan sangkal dengan apapun saat ini, dia sudah tidak kuat lagi. Hatinya... sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia yang lahir sebagai pendamping, ketika pendampingnya itu hilang, dia akan merasa seolah setengah jiwanya telah hilang. Itu terdengar berlebihan, tapi seperti itulah kondisi Ethan saat ini.


Keberadaan dan juga kesadarannya bergantung kepada Quennevia yang menjadi sebab diciptakannya dirinya. Itulah sebabnya Ethan bilang dia lemah jika Quennevia tidak ada, dan salah satu alasan kenapa Ethan selalu terpaku kepadanya.


" Hei.. Quennevia.." Ethan berusaha memanggilnya lagi dengan suara yang terdengar bergetar, disaat yang sama saat itu.. air matanya diam-diam turun dan jatuh dari wajahnya. " Ada sesuatu yang harus kukatakan dengan jujur padamu..." meski begitu ia berusaha untuk tetap kuat agar bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan.


" Sejujurnya, aku tidak peduliku tentang dunia jika kau tidak ada. Jika kenyataan kalau... dunia ini akan terus berjalan dengan nyawa mu sebagai bayaran nya. Aku lebih memilih membiarkan dunia ini dan mati bersama denganmu." ucapnya.


Sebuah kejujuran... Dan disaat yang sama adalah tidakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Itu adalah keegoisannya.


Tapi... "... Tapi masih ada sesuatu yang penting disana, kan? Bukankah kau ingin membangkitkan anak-anak itu??." bukan berarti Ethan benar-benar tidak peduli sepenuhnya pada apa yang ia sukai dan kasihi.


" Bangunlah... Kumohon.." itulah satu-satunya alasan dia tetap berusaha.


***


Disaat yang sama saat ini... Pertarungan 'Ego' masih berlangsung didimensi tak dikenal...


Atau mungkin, bisa dibilang hampir selesai.


Pertarungan dua lawan satu, antara Nevia dan Sirius melawan Seraphine. Itu terbukti berakhir baik bagi Nevia dan Sirius karena mereka memiliki keunggulan dalam elemen dan kerja sama, sementara Seraphine yang hanya mengandalkan amarah dan kekuatan nya tidak bisa membaca rencana serangan mereka. Berkat itu mereka unggul.


" Dengan ini dia tidak akan bebas untuk sementara waktu."


" Iya, terima kasih atas bantuanmu Nevia. Kita berhasil melawannya karenamu."


" Huh. Aku hanya tidak ingin dia memakanku juga, jangan salah paham."


" Kau benar-benar tidak mau jujur, ya."


Disamping itu, berkat kerja sama mereka, nampaknya Sirius dan Nevia juga menjadi lebih akrab.... Hingga Sirius dapat memahami sifatnya.


Dan saat ini, meski dengan luka-luka yang cukup serius, Nevia dan Sirius berusaha menahan Seraphine didalam penjara air, dan hanya menyisakan kepalanya saja yang tidak tenggelam. Nevia berhasil merebut cambuknya juga, jadi dia tidak punya senjata untuk memberontak.


Meski tentu saja, dia sama sekali tidak kenal menyerah. Seraphine berusaha membebaskan dirinya dengan segala cara, meskipun dia tahu kalau itu tidak akan berhasil.


Dan saat dia mulai menjadi sedikit lebih tenang, dia pun mulai bicara. " Aku akan... membunuh semuanya. Kalian tidak tahu bagaimana rasa nya bereinkarnasi berkali-kali dengan semua ingatan yang menumpuk selama ini." Seraphine menelan amarahnya dan terus bicara, sementara itu Nevia dan Sirius hanya diam mendengarkan apa yang ia katakan. " Para manusia semuanya sama. Memanfaatkan, mengkhianati, dan melakukan segala cara untuk memenuhi nafsunya. Diantara itu... Diantara itu Quennevia bertemu dengan para manusia yang terburuk, lalu terbentur dan terinjak tiada habisnya sampai akhirnya menjadi seperti ini! Padahal dia... sangat menyukai manusia!!! Aku tidak bisa mengampuninya. Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu..!!." teriaknya dengan sangat marah.


Nevia yang mendengarnya bisa mengerti itu, tapi apa yang dilakukan Seraphine juga tidak bisa tidak membuat nya sama marahnya.


Dengan kening berkerut, ia pun berkata. " Kenapa kau tidak bertanya kepada Quennevia?! Aku tahu. Kita ini hanya sebagian kecil dari kesadaran nya, tapi setiap bagian dari kita memiliki keinginan masing-masing dan tidak bisa memprediksi satu sama lain. Karena itu kau harusnya bertanya, tentang apa yang sebenarnya Quennevia inginkan!." ucapnya balas bertanya dengan kesal.


" Kita semua ini sama, satu orang yang sama. Tolong jangan menyebebkan kehencuran kepada orang lain dan diri sendiri, apalagi jika itu bukan keinginan semua nya." Sirius pun juga membalasnya.


" Apa maksud kalian aku tidak memahami nya selama ini?!!." tapi Seraphine membentak mereka lebih keras, hingga keduanya pun terkejut dengan suaranya. " Aku sudah ada semenjak dia terlahir sebagai manusia! Aku merasakan semua perasaan yang ia rasakan dan melihat semua nya! Keluarga tak berperasaan dan rela membunuh nya begitu saja. Saudara yang licik dan tidak bermoral. Teman palsu. Dan orang-orang yang hanya memanfaatkan nya demi keuntungan mereka, aku sudah bertemu mereka semua!!." ucapnya pula.


Nevia dan Sirius diam.


Mereka tahu itu benar, kesadaran asli Seraphine tidak muncul diwaktu kelahiran baru sama seperti mereka, melainkan telah ada sejak Quennevia lahir sebagai manusia. Meski begitu, bagi mereka itu tetaplah tidak benar.


" Kalian tidak tahu bagaimana Quennevia berteriak menangis meminta tolong diakhir hayatnya! Kau tidak tahu bagaimana Quennevia mengharapkan kematian setelah tahu kalau dia terlahir kembali! Dia itu seorang Dewa! Bisa-bisanya manusia hina seperti mereka... Kepada pencipta mereka sendiri..!!."


Seraphine menunjukan ekspresi wajah yang begitu tersakiti saat ini, begitu banyak kebencian dan juga keputusasaan. Hingga rasanya tak berdasar.


Amarahnya adalah hal yang wajar, mereka yang berpikir rasional pasti juga menganggapnya begitu. Tapi dia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri seperti ini.


Itulah yang mereka rasakan...


" Kau benar... Semua yang kau katakan itu benar. Tapi faktanya, tidak peduli seberapa keras kau melawan, takdir akan tetap berjalan sesuai alur mereka." ucap Sirius menimpalinya.


" Mereka yang akan mati tetap akan mati, dan mereka yang akan hidup tetap akan hidup. Bagaimana pun caranya, kau tidak bisa mengubah takdir. Kau hanya bisa menuntun jalannya... Dan jalan takdir ini, tidak akan berhenti disini." lanjut Nevia kemudian.


Bangg!!


Sesaat setelah Nevia mengatakan itu, sebuah hantaman keras terjadi ke dalam dimenasi tak dikenal. Itu benar-benar kuat hingga rasanya seluruh tempat itu bergoyang.


Tak lama dari itu, sesuatu terdengar ditarik dan putus...


" Apa itu..??!" Sirius sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.


Berbeda dengannya, Seraphine justru terkejut karena mengetahui apa makna dari hal itu. "...Tidak mungkin.. rantainya.. tapi bagaimana??" dia tidak percaya kalau itu benar-benar terjadi.


Sementara itu, Nevia menjadi satu-satunya orang yang bersikap biasa saja disana, dan ia pun berkata. " Mereka yang memiliki keinginan kuat tidak akan menyerah. "


Apa yang ia maksud adalah apa yang sedang dilakukan oleh Oscar dan teman-temannya diluar sana.


" Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi milik mereka, tidak peduli apapun yang harus mereka lakukan."


Mereka yang sedang berusaha untuk menghancurkan rantai yang mengikat Quennevia dengan kekuatan mereka.


" ....Apapun."