
Istana Kekaisaran.
Setelah mereka sampai di istana Kekaisaran, istana itu benar-benar sangat besar dan juga megah.
Istana itu begitu besar hingga rasanya seperti melihat sebuah benteng besar, belum lagi orang-orang yang berbaris menyambut mereka di sana benar-benar banyak. Dan tepat di depan pintu masuk istananya, ada Yin dan juga Ning...
* wujud Yin
Yang seperti nya, Ning saat ini sedang menahan rasa kesal dan juga ingin meledak untuk menceramahi Ethan yang pergi diam-diam sebelumnya.
" Selamat datang kembali, pangeran. Lalu... Untuk yang lainnya pun, selamat datang di Foldes. " ucap Ning menyambut mereka.
" Haha... Aku kembali. " sahut Ethan dengan ceria, sekarang Quennevia tahu alasan ia mengajak mereka untuk datang bersama.
" Senang bisa bertemu dengan mu lagi, Ning. " ucap Quennevia menimpali.
" Saya juga merasa senang, Tuan Putri. Mari ikuti saya, saya sudah meminta pelayan menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat. " jawab Ning.
Mereka pun akhirnya pergi mengikuti Ning masuk ke sana, setelah mereka menikmati makanan malam, mereka pun langsung memasuki kamar masing-masing, mereka beristirahat dari perjalanan jauh mereka yang melelahkan.
Namun Quennevia masih terganggu dengan kejadian sore tadi, saat mendengar nama guild Black Phantom, ia merasa sangat marah. Entah itu emosi miliknya sendiri atau emosi yang muncul karena jantung Emilia, apapun itu ia memang merasa ingin menghabisi mereka semua.
Quennevia ingin bertanya kepada paman Yulles nya, mungkin saja dia akan setuju untuk membereskan mereka hari ini atau mungkin esok. Lebih cepat masalah dendam ini selesai, lebih cepat juga dia bisa merasa agak tenang, setidaknya satu tujuannya akan selesai kembali.
" Haahh... Haruskah aku menghubungi nya sekarang??. " gumam Quennevia.
Ia pun mengambil baru Crystal yang seperti digunakan Ethan sebelumnya, namun bedanya yang ia gunakan itu berfungsi sebagai alat untuk menghubungi orang yang juga memiliki nya.
Quennevia pun membayangkan Yulles sambil mengalirkan kekuatan nya ke dalam batu Crystal itu, lalu kemudian bersinar dan ia sudah terhubung dengan Yulles.
" Quennevia, ada apa?? Apakah ada masalah??. " tanya Yulles yang suaranya terdengar dari Crystal itu.
" Paman, tadi aku bertemu dengan orang-orang Black Phantom, mereka membuat ku kesal. Bagaimana jika kita bantai mereka sekarang saja??. " ucap Quennevia.
" Itu ide yang bagus, tapi jika kita berdua saja kurasa itu akan sedikit sulit. Belum lagi mungkin saja Kekaisaran juga akan bertindak karena nya. " ucap Yulles menimpali.
" Bagaimana jika ku ajak pangeran mahkota mereka??. " tanya Quennevia.
Sesaat tidak ada jawaban, sudah bisa ditebak kalau Yulles sedikit terkejut karena Quennevia mengatakan itu, apalagi sampai mengajak pangeran mahkota Kekaisaran juga.
" Umm... apa.. apa maksud mu??. " tanya Yulles yang bingung.
" Aku sedang ada di istana Kekaisaran, Pangeran Ethan adalah teman ku, aku bisa membicarakan nya dengan Ethan. Aku juga bisa memanggil Everon kemari. " jelas Quennevia kepala Yulles.
" Oh, itu bagus. Tapi bagaimana kau memanggil Tuan Everon ke mari, waktunya tidak akan cukup sampai kau kembali ke Akademi bukan??. " tanya Yulles lagi.
" Jangan khawatir, aku bisa membuka ruang waktu. Aku bisa membuka portal untuk nya datang ke Foldes kapanpun. " ucap Quennevia.
" Ah, begitu. Kalau begitu kau bicarakan saja dengan Pangeran Mahkota terlebih dahulu, setidaknya jika dia setuju kita tidak perlu bergerak terlalu diam-diam. " ucap Yulles menimpali.
" Oke. " jawab Quennevia.
Lalu ia pun memutuskan komunikasi mereka, dan Quennevia pun menyimpan kembali Crystal itu. Lalu ia pun mengambil mantel dan beranjak keluar dari kamarnya, ia akan pergi menemui Ethan malam ini.
Untung dia bisa mencium bau seseorang, jadi dia tidak kerepotan mencari tempat Ethan yang berada di istana sebesar itu. Saat ia hampir sampai di ruangan tempat Ethan berada, yang membuatnya penasaran itu... kenapa di depan pintu itu ada banyak perempuan yang sedang mencuri dengar apa yang dibicarakan di dalam.
Tapi memangnya mereka bisa mendengar nya, atau disamping itu mereka juga menunggu Ethan keluar dari sana dan menemui mereka.
" Ah, tolong tunggu sebentar. " ucap Quennevia kepada seorang pelayan yang kebetulan lewat.
" Iya, Putri??. " sahut pelayan itu, sebelumnya pasti Ning sudah memberitahukan siapa-siapa saja identitas mereka yang ikut dengan Ethan kepada para pelayan.
" Kenapa para Nona itu ada di sana, mereka tidak mungkin sedang menguping bukan??. " tanya Quennevia.
" Ah, soal itu... saya juga kurang mengerti, mereka selalu saja melakukan hal seperti itu saat mendapat kesempatan untuk datang ke istana, padahal mereka tidak dapat mendengar apa yang terjadi di dalam. " jawab pelayan itu.
" Putri, apa anda berniat bertemu dengan yang mulia??. " tanya pelayan itu pula.
" Iya, aku punya hal penting yang harus dibicarakan. " jawab Quennevia.
" Kalau begitu anda tidak perlu sungkan, yang mulia bilang anda bisa menemui nya kapanpun anda mau. " ucap pelayan itu tersenyum ramah.
" Oh, baiklah. Terima kasih. " ucap Quennevia menimpali, tersipu.
" Tentu putri, kalau anda membutuhkan sesuatu anda bisa menyatakan nya. Kalau begitu saya permisi. " ucap pelayan itu lagi, kemudian membungkuk dan pergi dari sana.
Sedangkan Quennevia masih memperhatikan para Nona yang disana itu dalam diam, lalu ia pun memutuskan untuk mendekat dan mengetuk pintu. Lagipula masalah tidak akan selesai jika ia diam saja.
Mendengar langkah kaki Quennevia, para Nona itu langsung melihat kearahnya, mereka memandang Quennevia sinis. Namun Quennevia sama sekali tidak memperdulikan mereka, ia hanya mengangkat kepalanya dengan percaya diri bahkan balas menatap mereka dengan dingin.
" Huh, siapa kau, Bangsawan baru atau seorang pelayan?? Asal kau tahu saja kami ini... " ucap salah seorang dari mereka yang paling depan dengan Quennevia.
Namun Quennevia tidak mempedulikan nya dan langsung saja berjalan melewati nya, bahkan tidak membalas satupun ucapannya. Para Nona di sana terkejut dengan apa yang dilakukan Quennevia, orang yang baru saja ia abaikan itu adalah putri Duke yang paling mendapat dukungan dari para bangsawan, namun Quennevia mengacuhkan nya begitu saja.
Yang lainnya juga tidak kalah dengan perempuan itu sih, namun dia sama sekali tidak bisa dilawan begitu saja. Orang yang Quennevia abaikan pun juga kesal, bagaimana bisa dia mengabaikan nya yang adalah nona paling berpengaruh di Kekaisaran.
" Hei, kau berhenti! Apa kau pikiran setelah mengabaikan ku kau bisa lepas begitu saja?!!. " teriak Nona itu dengan kesal.
" Itu benar, berlutut dan minta maaf lah kepada nya!!. " sahut yang lain.
" Dasar tidak tahu malu. " ucap yang lainnya pula menimpali.
" Kau pikir kau pantas??. " tanya Quennevia pula dengan dingin.
Itu membuat mereka terkejut dan juga merasa merinding, padahal hanya dia tetap seperti itu tapi mereka sangat tertekan karenanya.
" Sejak kapan istana Kekaisaran bisa dimasuki sembarangan oleh orang-orang seperti kalian?? Apakah kalian tidak paham sopan santun, bahkan sampai berusaha mencuri dengar dari apa yang dibicarakan oleh Pangeran Mahkota??. Kalian pikir ini taman hiburan apa?? " ucap Quennevia lagi semakin dingin.
" Apa-apaan, perempuan ini benar-benar menakutkan. " ucap Nona lain.
" Dia seperti nya orang yang hebat. " ucap yang lainnya lagi.
" Ka.. kau pikir kau itu hebat huh, aku ini seorang putri Duke, kau itu lebih rendah dari ku!!. " ucap Nona yang tadi pula, meskipun dia ketakutan tapi tetap saja ngelunjak.
Quennevia kembali tidak mempedulikan nya, meladeni nya hanya akan membuang waktu nya yang begitu berharga, itu benar-benar akan merepotkan. Ia pun sudah ada tepat di depan pintu ruangan Ethan, ia pun mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu.
" Heh, kau pikir kau bisa menemui yang mulia. Kami saja yang lebih tinggi derajat nya dari mu tidak bisa, apalagi kau. " sindir salah satu dari mereka pula dengan sinis.
" Benar-benar orang yang tidak sayang nyawa ya. " ucap yang lainnya pula.
Tok... Tok... Tok...
Quennevia pun mengetuk pintu itu, tidak lama kemudian pintu pun terbuka dan muncul lah Ning dari dalam sana.
" Iya?? Oh, Tuan Putri. Apa ada sesuatu yang anda butuhkan??. " tanya Ning dengan sopan.
" Bisa aku bicara dengan kalian sebentar??. " tanya balik Quennevia.
" Tentu saja, Tuan Putri. Masuk lah. " jawab Ning pula tersenyum ramah.
Lalu Quennevia pun masuk ke dalam sana, meninggalkan para Nona itu dengan ekspresi terkejut mereka. Saat Ning henda menutup pintu itu kembali, ia dihentikan oleh salah satu dari mereka.
" Tu.. Tunggu, Tuan Ning. Kenapa perempuan itu bisa masuk sementara kami tidak?? " tanya salah satu Nona itu.
" Itu benar, mamangnya dia siapa hingga diperlakukan istimewa seperti itu??. " tanya Nona yang lain.
" Tolong jaga sopan santun kalian dihadapan beliau. " ucap Ning dengan dingin kepada mereka, membuat mereka ketakutan, berbeda sekali dengan saat berhadapan dengan Quennevia. " Beliau adalah Putri Keluarga Kekaisaran Chrysos, lebih tepatnya keponakan yang paling disayangi oleh Kaisar Chrysos. Jika sampai beliau tersinggung bisa saja ada perang diantara dua Negara besar ini. " ucap nya kemudian menutup pintu itu rapat-rapat.
Iya itu memang kenyataan sih, meskipun sebenarnya Quennevia tidak mungkin membuat kedua Negara benar-benar berperang satu sama lain.... Karena ia bisa meratakan satu Negara seperti Foldes dengan mudah jika ia mau.
Para Nona itu sangat terkejut mendengar nya, orang yang baru saja mereka hina itu adalah Putri Kekaisaran Chrysos, jika perang benar-benar terjadi sudah pasti mereka yang akan disalahkan.
" Di... dia benar-benar putri Kekaisaran Chrysos??. " ucap salah satu dari mereka dengan sangat tidak percaya.
" Ya ampun gawat, dia bisa saja mengadu kepada yang mulia dan juga kaisar Chrysos. Bisa mati kita. " ucap yang lain ketakutan.
" Kita membuat kesalahan besar. " ucap yang lain pula, mereka malah panik sendiri saat ini.