
Setelah kejadian itu, hubungan Ethan dan Quennevia kembali membaik, meskipun keduanya masih tidak sering bersama karena Quennevia yang semakin sibuk dengan semua urusan tentang memata-matai atau mencegah kerusakan yang dibuat oleh klan Retia.
Meski begitu, sebenarnya Ethan selalu diam-diam mengunjungi nya ke menara ketika ia tidur, sama halnya seperti saat ini. Ethan tiba-tiba datang ke tempat nya dan mengajaknya pergi dari sana, bahkan sampai hari menjelang malam.
" Pfftt... hahaha... apasih yang kau maksud itu?? Arkan selalu mengigau katamu." ucap Quennevia yang merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Ethan kepada nya.
" Bener loh, dia selalu mengigau. Mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak nyambung, sambil memeluk bantalnya. " sahut Ethan.
Saat ini mereka berdua tengah ada di atap sekolah, dimana tidak ada seorang pun yang ada di saja, lagipula ini waktunya orang-orang beristirahat. Quennevia pun menyenderkan kepalanya kepada Ethan, yang juga ia langsung dipeluk olehnya, ia sangat suka saat-saat seperti ini.
Tapi ketika pikiran akan keberadaan Beatrice kembali muncul di benak nya, ia menjadi tidak suka.
" Ethan, apa Beatrice masih selalu menemuimu??. " tanya Quennevia tiba-tiba.
" Iyah, Kadang-kadang. " jawab Ethan.
" Dan kau masih terus menemuinya. " ucap Quennevia pula.
" Jangan khawatir seperti itu, kami sama sekali tidak melakukan apapun kok. Dia hanya bicara beberapa hal, lagipula aku kan sudah bilang kalau aku ingin mencari tahu dan memastikan terlebih dahulu jika dia benar-benar masih hidup atau tidak. " sahut Ethan.
Quennevia hanya membalasnya dengan dehemen kecil, situasi jadi semakin aneh disekitar nya setelah kedatangan Beatrice. Banyak informasi yang bocor keluar tentang pergerakan mereka, kadang ada juga muncul jebakan-jebakan yang ditunjukkan untuk Quennevia.
Dan keheningan yang dirasakan oleh Quennevia, yang mana Seretia hanya diam saja, itu aneh baginya. Dia biasanya selalu bicara bahkan jika hanya satu patah kata saja, namun sejak beberapa hari lalu ketika Yue menekan jiwanya, dia tidak pernah bicara lagi sampai sekarang. Itu yang membuatnya semakin curiga kepada Beatrice.
" Hei, apa yang kau pikirkan sekarang??. " tanya Ethan yang tiba-tiba mencubit hidungnya, membuat lamunan Quennevia buyar.
" Aw, sakit tahu.... Aku hanya memikirkan soal kebocoran informasi itu. " jawab Quennevia sambil menatap Ethan kesal.
" Tenang saja, kita pasti akan mengatasi nya. " ucap Ethan pula yang diangguki hanya oleh Quennevia, kemudian ia pun berdiri dari tempat nya. " Yah, sekarang malam semakin larut sebaliknya kita kembali, jika tidak kau akan kedinginan. " ucap Ethan sambil mengulurkan tengan nya kepada Quennevia.
Yang disambut baik olehnya, " Em.. Iya. " jawab Quennevia sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka pun segera pergi dari sana untuk pergi ke kamar masing-masing, tentu saja sebelum itu Ethan mengantarkan Quennevia ke manara tempat nya tinggal terlebih dahulu.
" Baiklah, sampai jumpa besok. " ucap Quennevia.
Ia berbalik dan hendak masuk ke dalam, namun sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar nya itu, Ethan lebih dulu menarik tangannya dan memberikan sebuah ciuman kepada Quennevia.
" Semoga mimpimu indah, sampai jumpa. " ucap Ethan pula yang kemudian langsung hilang dari sana.
Quennevia hanya tersenyum karena hal itu, ia pun berbalik dan kemudian masuk ke dalam kamarnya itu. Suasana hatinya sangat bagus hari ini.
**********
" Eh?? Aku dimana??. "
Quennevia merasa terheran-heran saat ini, ia tiba-tiba berada di tempat yang serba putih seorang diri. Padahal dirinya yakin kalau dia ada di kamar nya waktu itu, Quennevia melihat kesana kemari sambil terus berjalan di tempat itu.
Benar-benar kosong, tidak ada apapun di tempat itu, dan dirinya yang sedari tadi berjalan menyusuri tempat tersebut mulai merasa kalau tempat itu tidak memiliki ujung.
" Sebenarnya... aku ada di mana?? Seseorang... bisakah seseorang katakan aku ada di mana??. " teriak Quennevia di tempat itu.
Namun ia benar-benar sendirian di sana, sampai kemudian ia melihat seseorang di ruang hampa itu. Ia pun langsung berusaha mendekati orang itu dan bicara kepada nya.
" Anu... tunggu. Siapa pun kau, bisakah kau menolong ku?? Tunggu!. "
Quennevia berlari kearah orang itu, namun ia malah terasa semakin menjauh darinya. Quennevia sampai terengah-engah karena mengejar orang itu yang sama sekali tidak terkejar oleh nya.
" Tunggu! Hei, tunggu sebentar!. "
Namun orang itu sama sekali tidak menyahuti nya sekali pun, bahkan dia tidak menolehkan kepalanya kepada Quennevia.
Krakk... Prangg....
Sampai saat Quennevia yang merasa kalau apa yang ia pihak itu retak dan akhirnya pecah seperti cermin, membuat dirinya yang sedari tadi berlari itu jatuh ke bawah.
" Huh?? "
Sekarang dirinya malah jatuh ke dalam kegelapan tak berujung, terus jatuh tanpa mengetahui kapan itu akan berakhir. Quennevia mulai mendengar suara-suara aneh dalam kegelapan itu, terlalu banyak suara, terlalu banyak orang yang meminta tolong padanya, namun mereka sama sekali tidak menunjukkan diri mereka kepada Quennevia.
Quennevia menutup telinga dan matanya rapat-rapat, suara-suara itu kini mulai berubah menjadi mengerikan. Teriakan, rintihan, tangisan dan suara-suara lainnya mulai terdengar sangat memilukan.
" Kumohon hentikan.. Hiks. Aku sama sekali tidak tahu apa maksud kalian.. Hiks. " tangis Quennevia di sana.
Suara-suara itu sama sekali tidak berhenti, malahan semakin menjadi-jadi. Dan saat Quennevia membuka matanya ia malah melihat sosok wanita di depannya, dia tersenyum kearahnya dengan kesan yang sangat menyeramkan. Quennevia tidak benar-benar melihat wajah wanita itu karena ruang gelap disekitar nya, dan wanita itu pun mengulurkan tengannya kearah Quennevia.
" Hah?!. " Quennevia pun kembali membuka matanya, namun apa yang terjadi kepada nya saat ini juga semakin tidak ia mengerti.
" Hukum dia!! Hukum wanita jahat itu!!. "
" Jangan biarkan iblis itu mengganggu perdamaian kita!!. "
" Wanita jahat, iblis kejam!! Tega sekali kau kepada anak-anak tak berdosa!!. "
" Bunuh dia!!. "
" E.. Eh??. " Quennevia sama sekali tidak mengerti apa maksud mereka itu.
Ia melihat sekeliling nya tidak ada satupun orang yang ia kenal di sana, semua orang di tempat itu mencerca nya sebagai wanita jahat memangnya apa yang sudah ia lakukan. Ia diikat dan dijaga oleh dua pengawal yang mempertontonkan nya, hanya dengan gaun lusuh berwarna putih polos iya berdiri di depan sebuah Guillotine.
Saat ia masih mencoba untuk memahami situasi saat ini, dua orang Prajurit yang ada di belakang nya itu tiba-tiba saja mendorongnya kearah Guillotine itu.
" Tu.. Tunggu sebentar! Aku sama sekali tidak melakukan kejahatan, kenapa aku harus dihukum seperti ini??. "
Namun ada yang membuat Quennevia semakin terkejut, ia sama sekali tidak bisa bicara kepada orang-orang itu, atau mungkin lebih tepat nya tubuh yang ia tempati saat ini yang tidak mau bicara. Siapa wanita yang akan dihukum ini?? Memangnya apa kesalahan nya?? Dan bagaimana dia bisa ada di tubuh wanita ini?? Lalu kenapa dia hanya diam saja??.
Semua pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikiran nya, sementara wanita pemilik tubuh itu hanya pasrah saja saat prajurit itu menaruh kepalanya di lubang Guillotine.
" Sebenarnya... apa yang... " ucap Quennevia menggantung.
" Berhenti!!. " teriak seseorang yang ada di sana pula mengalihkan perhatian Quennevia dan wanita yang akan dipenggal itu.
" Kalian tidak bisa melakukan ini, dia sama sekali tidak bersalah!!. " teriak seorang pria sambil berlari kearah wanita itu.
Namun langkahnya harus terhenti karena beberapa prajurit menghentikan nya dan menahan pergerakan pria itu.
" Sudah hentikan!! Wanita itu.. sudah melakukan kejahatan besar, jangan kau bela dia!. " bentak salah satu prajurit yang ada di sana.
" Tidak mungkin, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku.. percaya padanya!!. " teriak pria itu sambil mencoba membela nya.
" Tolong mengerti lah, dia itu wanita jahat. Seorang iblis yang kejam, jujur saja hukuman seperti itu pun masih belum cukup untuk nya. " ucap seorang wanita dengan pakaian yang sangat mewah pula yang tiba-tiba muncul di sana.
" Tuan putri. " ucap para prajurit itu saat melihat nya.
Sementara itu Quennevia membulatkan matanya dengan sangat terkejut, ketika ia melihat orang yang dipanggil Tuan Putri oleh para prajurit yang ada di hadapan nya itu.
" Tuan putri?!... Dia kan... " batin Quennevia.
" Dia sama sekali tidak bersalah, kaulah wanita kejam itu!!. " teriak pria itu pula kepada sang putri.
" Haha... Apa yang kau katakan itu, bukti apa yang kau miliki. Jangan hanya karena dia kekasihmu kau akan terus membelanya jika melakukan kejahatan. " ucap orang yang disebut putri itu pula tersenyum sinis.
Kemudian ia pun berbalik kearah wanita yang ada di Guillotine itu, " Jalankan hukuman nya!!. " ucap sang putri dengan lantang.
Semua rakyat yang ada di sana menyoraki keputusan sang putri itu dengan sangat bersemangat, mereka benar-benar termakan oleh kata-kata dari nya. Sementara pria yang sedari tadi membela wanita itu semakin memberontak ketika mendengar perintah itu.
Quennevia yang masih bingung itu semakin tidak mengerti, alasan mengapa dia ada di sana saja masih belum terjawab, sekarang apa lagi yang ia lihat di sini. Namun Quennevia yang mana kesadaran nya ada di dalam tubuh wanita itu merasakannya, bahwa wanita itu menangis saat ini karena dirinya tidak bisa melakukan apapun disaat seperti ini.
" Maafkan aku. "
Itulah suara yang Quennevia dengar dari wanita itu, hati Quennevia tiba-tiba saja terasa sangat hancur, rasa sesak menimpanya, bahkan rasa sedih yang dirasakan oleh wanita itu benar-benar ia rasakan. Seolah-olah seperti dirinya sendiri yang menangis dan bicara dengan batinnya itu.
Sesaat ketika sang algojo yang ada di samping Guillotine itu akan melepaskan tali penahan di piasu besar itu, dari kejauhan ia melihat seseorang yang terlihat terbang dengan terburu-buru kearahnya, dan dia terlihat sangat panik. Bagi Quennevia dia adalah orang yang paling ia kenal, namun seperti nya begitu pula dengan wanita yang akan mati ini.
" Paman Mice. "
" Ayah. "
Dan saat pisau Guillotine itu dijatuhkan, seketika semuanya berubah menjadi hitam, sementara itu Quennevia yang asli..
" Huk...Hah?!!. "
Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk itu dengan nafas yang tersengal, keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Apa yang baru saja ia lihat di dalam mimpi itu benar-benar terasa sangat nyata, untuk sesaat ia juga merasa tidak bisa bernafas, seolah lehernya benar-benar dipanggal saat itu juga, air mata pun tak bisa ia tahan lagi.
" Siapa wanita itu?? Kenapa dia harus dihukum seperti itu?? Dan.. Dan mengapa dia memanggil paman Mice ayah??. " batin Quennevia yang masih bertanya-tanya akan hal itu.
Air matanya pun mengalir deras tak bisa ia hentikan, mengapa dia selalu memimpikan banyak hal mengerikan akhir akhir ini, sebenarnya pertanda apa kah itu??.