
[Season 2]
Setelah pergi meninggalkan, reruntuhan itu. Zico membuka portal ruang cukup jauh dari sana, jadi mereka aman untuk sekarang. Tidak mungkin ada yang mengejar mereka hanya untuk mendapatkan apa yang tidak bisa mereka miliki, apalagi karena mereka sudah melihat Zico dan Yue.
Saat ini, mereka sedang membicarakan soal mendapatkan benda yang lain nya untuk membangkitkan Quennevia. Sekaligus beristirahat untuk sejenak.
" He... Jadi, setiap benda ini akan memberikan ujian kepada salah satu dari kita?? Dan penguji itu bisa menjadi siapapun yang kita kenal, atau datang dalam sebuah ingatan. " ucap Niu setelah mendengar cerita Yuki.
" Ya, aku kurang yakin. Tapi masing-masing dari kita memang akan mendapatkan ujian, lalu... aku juga jadi memikirkan hal lain. " ucap Yuki yang membenarkan nya.
" Memikirkan apa?? " tanya Oscar pula ketika mendengar nya bicara seperti itu.
Yuki terdiam sebentar, saat kemudian ia menoleh kearah Ethan dan bertanya. " Ethan, kau sudah tahu bukan. Tentang alasan kenapa kita yang harus mendapatkan benda-benda ini?? "
Yang lain nya pun juga jadi memusatkan perhatian mereka kepada Ethan, sementara yang dilihat hanya diam saja sambil tersenyum dan bersandar ke pohon.
Dan dengan santai Ethan pun menjawab," Kurang lebih seperti itu. " ucapnya.
" Hooh... Dan kau tidak mengatakannya kepada kami? Jahat sekali, ya. " ucap Niu yang melirik ke arah Ethan dengan tajam.
" Kupikir kalian sudah tahu soal itu. Tapi siapa sangka tidak ada yang memikirkan nya. " jawabnya pula sambil mengangkat kedua bahunya dengan ringan.
" Yang lebih kupikirkan saat ini adalah anak itu." ucap Oscar sambil memandang ke arah lain dari tempat mereka, dimana Arkan berada saat ini. " Dari tadi Arkan terus menjaga jarak dengan kita, sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan keluarga nya. " lanjutnya.
Semuanya pun langsung mengalihkan perhatian kearah sebuah batu, cukup jauh dari mereka. Ditempat Arkan duduk diam membelakangi mereka, dan tanggelam dalam lamunannya sendiri. Mereka tidak bisa melakukan apapun untuk itu, dan tidak ada yang tahu tentang hal itu, bahkan Arkan sendiri menolak mengatakannya.
" Kalau itu... sepertinya aku pernah dengar,.. " ucap Meliyana yang kelihatan nya masih ragu.
" Benarkah?? Dimana?? " sahut Niu.
" Waktu pertemuan perdamaian waktu itu, loh. Aku mendengar para prajurit yang mengawal Raja Aquila membicarakan nya. "
" Memangnya apa yang terjadi?. " tanya Yuki pula penasaran.
" Emm... " Meliyana agak kurang enak membicarakan itu, tapi dia rasa tidak ada salahnya mereka juga tahu. "...Katanya, pemimpin klan sebelumnya yaitu kakek Arkan, tiba-tiba meninggal karena racun yang ditaruh didalam tehnya. Dan racun itu ditemukan dikamar cucu keduanya, dan kurasa Arkan lah yang dimaksud. Hal itu dikuatkan dengan bukti dan kesaksian para pelayan, yang bilang kalau Arkan lah yang membawakan teh itu padanya, dan hanya dia yang menemui pemimpin klan sebelumnya dihari itu. Sayangnya, asal usul racun itu tidak diketahui, dan tidak ada bukti transaksi atau Arkan meninggalkan kediaman sekalipun dalam rentan waktu kejadian itu. " jelasnya.
" Apa-apaan itu, mereka menuduhnya hanya karena itu. Kacau sekali. " ucap Niu dengan kesal.
" Tapi, sekarang dia adalah salah satu murid paling membanggakan dari Akademi bintang utara. Ada peraturan yang mengatakan, tidak ada siapapun yang boleh mengganggunya apalagi berniat mencelakai nya, karena dia ada dibawah perlindungan pihak Akademi. Begitu pula sebaliknya, Arkan harus menjaga sikap nya untuk menjaga nama baik Akademi. " ucap Ethan menengahi.
" Oh, karena itu juga dia terus menghindari perselisihan dengan Balin, kakaknya. Bukan hanya karena dia kakaknya, tapi Arkan menjalankan peraturan yang ada sebagai murid Akademi. " sahut Oscar yang sekarang mengerti tindakannya selama di reruntuhan.
Yah, apa yang dikatakan oleh Oscar itu benar. Arkan tidak ingin terlibat perselisihan dengan keluarga nya lagi, apalagi dia tidak memiliki dendam kepada kakaknya, jadi dia tidak ingin melukainya.
Sedangkan disisi Arkan saat ini, dia memang sedang memikirkan soal keluarga nya. Dia terdiam memandang sebuah kalung, satu-satunya benda yang ia bawa ketika pergi dari rumah itu. Kalung itu adalah pemberian kakek nya.
Arkan masih ingat, waktu itu memang dia yang membawakan teh itu kepada kakek nya, tapi dia tidak menyentuh apapun kecuali menuangkan nya ke gelas. Setelah itu dia pergi, dan disore harinya kakek nya dikabarkan meninggal. Dihari itu juga dia hampir kehilangan nyawanya karena dituduh sebagai pengkhianat klan, namun... berkat ayahnya dan juga wasiat sang kakek dia akhirnya bisa selamat meskipun diasingkan dari klan dan keluarga nya.
Arkan masih ingat dengan sangat jelas, kata-kata terakhir kakek nya ketika dia handak pergi sebelum kakek nya meminum teh beracun itu.
Waktu itu Arkan hanya berpikir tentang orang-orang yang selalu berusaha merebut peringkat klan mereka, tapi jika ia pikirkan lagi sekarang... mungkin saja kakek nya itu sudah tahu kalau ada racun di teh itu dan tetap meminum nya.
" Astaga, semakin dipikirkan semakin membuat ku pusing. Lebih baik aku tidur saja lah. " ucap Arkan pada akhirnya setelah lama terdiam tak mengatakan apapun. Dia pun berbalik dan berjalan mendekati teman-temannya dengan senyuman yang biasa ia pakai.
***
Sementara disisi lain, lebih tepatnya di klan Taiga. Diruangan pemimpin klan, saat ini Balin sedang melaporkan masalah apa yang terjadi direruntuhan kuno sebelumnya. Dan seperti yang dia duga, pemimpin klan saat ini akan sangat marah.
" Apa kau bilang?! Arkan muncul direruntuhan kuno itu dan berhasil mendahuluimu! Kepada kau tidak segera melenyapkan nya?! " teriak pemimpin klan padanya.
" Disana ada banyak orang. Apalagi.. Arkan saat ini bersama dengan pangeran mahkota kekaisaran Foldes-.. "
Prangg...
Ucapan Balin terhanti ketika orang dihadapan nya itu melempatkan sebuah gelas kepada nya, dia tidak mencoba untuk menghindari nya, tapi menerima nya tanpa banyak berkata apapun. Ia hanya diam menatap darah yang menetes turun dari kepalanya. Itu sudah sering terjadi, mengingat kalau ibu nya itu sangat tempramental.
Ya, ibunya...
" Sudah cukup bicaranya. Pergi ke Kamar mu sekarang dan renungkan kesalahanmu!! " teriak ibunya, Leana.
" Baik, Ibu. " jawab Balin dengan patuh.
Balin pun segera keluar dari ruangan itu seperti yang dikatakan ibunya, sudah bertahun-tahun yang lalu sejak kematian kakeknya. Dan dua tahun kemudian ayahnya juga ikut meninggal, semua pekerjaan pemimpin klan diurus oleh ibunya. Balin tahu dia sangat sibuk, tapi yang tidak ia mengerti adalah... kepada sifatnya berubah jadi kejam kepada anaknya sendiri.
" Tuan, luka anda... " ucap seorang pelayan menyadarkan Balin dari lamunannya.
" Ah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. " ucap Balin menimpali.
" Kalau begitu, saya akan panggilkan dokter untuk merawat luka anda. " ucap pelayan itu yang kemudian pergi dari hadapan nya.
Dari semua yang terjadi, kata-kata terakhir Arkan sebelum dia pergi, membuat Balin memikirkan semuanya kembali...
" Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu... " ucap batin Balin yang disertai dengan helaan nafas lelah.
Dari dulu, Arkan memang selalu lebih unggul dari pada dirinya, dia lebih berbakat dalam pengetahuan, sihir dan bertarung. Karena itu dia mendapatkan kasih sayang lebih dari kakek nya, meskipun begitu bukan berarti kakek nya itu tidak menyayanginya.
Terkadang Balin juga dihantui rasa takut kalau Arkan menggantikan posisi nya sebagai penerus, meskipun Arkan berkata tidak tertarik tapi siapa yang tahu tentang masa depan. Balin juga selalu iri saat tahu kalau Arkan satu langkah lebih maju dari pada dia, tapi itu tidak membuat nya benar-benar membancinya, justru sebaliknya Balin sangat menyayanginya.
Tapi kemudian kakek nya meninggal, dan kemudian Arkan lah yang dijadikan tersangkanya. Mulai dari sana Balin mulai membenci Arkan, karena dia menganggap Arkan telah melenyapkan sosok yang sangat ia hormati dan harus ia lampaui. Apalagi ketika dia tahu Arkan diusir dari klan begitu saja, Balin sempat meminta kepada ayahnya untuk tidak melepaskannya begitu saja, tapi harus nya membunuhnya. Tapi ayahnya juga berpihak padanya.
Hanya ibunya... hanya ibunya, Leana yang selalu ada disisi nya dan mendukung nya, ketika semua orang hanya memperhatikan Arkan. Dan hanya dia yang selalu mendesak Balin untuk segara menjadi pemimpin klan, sebelum Arkan merebutnya.
" Jika dipikirkan lagi.. tidak mungkin anak polos seperti Arkan yang dulu membunuh orang yang paling dia sayangi dan menyayanginya. Apa aku harus mencaritahu lebih detail ya?? " ucap batin Balin.
Disaat yang sama, diruangan pemimpin klan. Leana masih belum bisa menenangkan dirinya setelah kepergian Balin. Saat ini... dia kelihatan sangat ketakutan karena terus dibayang-bayangi oleh sesuatu yang ia takuti.
" Kepada..? Kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Harus nya waktu itu aku membunuhnya saja. Harusnya hanya Balin seorang yang hidup, anakku... hanya Balin anak ku.. Kenapa Arkan... lebih baik dari Balin.. harus nya aku tidak membuangnya... harus nya semua masalah ini tidak terjadi... Jika aku tidak melakukan semua itu... " seperti itulah kata-kata yang terus digumamkan oleh Leana setelah kepergian Balin.