
[Season 2]
Ketika Ethan dan Thesia yang saat ini sedang membicarakan hal yang cukup serius, disisi lain Arkan terdiam dikamarnya sambil menatap keluar jendela. Melihat bagaimana uniknya tempat mereka berada saat ini.
Ia tenggelam dalam lamunannya, sampai suara ketukan pintu mengalihkan perhatian nya...
Tok..Tok..Tok..
" Ini Kagura, apa aku boleh masuk??" suara nya terdengar dari luar sana.
Arkan yang mendengar itu cukup terkejut, tapi kemudian ia tersenyum lega. " Masuklah. " sahutnya kepada Kagura yang ada diluar sana.
Ceklek...
Pintu pun berbuka dan Kagura terlihat mengintip dari luar, saat ia melihat kalau Arkan ada disana, Kagura pun masuk dan menutup pintu nya kembali.
" Apa yang kakak pikirkan dengan serius seperti itu??" tanya Kagura sambil berjalan mendekati Arkan yang kini telah duduk dikasur nya.
Namun Arkan yang mendengar pertanyaan itu memiringkan kepalanya bingung, " Hm? Apa aku terlihat seperti itu? " ucapnya menyahuti.
Yang kemudian diangguki oleh Kagura, " Iya. Sejak awal kita bertemu, Kak Arkan terlihat seperti memikirkan sesuatu. Juga saat kita melihat Mira bertemu dengan ayahnya. " sahut Kagura dengan wajah polosnya, ia pun duduk tepat disampingnya.
Sedangkan Arkan, dia terdiam mendengar itu. Ia tidak menyangka kalau Kagura akan memperhatikannya sampai sedetail itu. Dia anak yang seperti nya baru berusia 15 tahun saat ini.
Tapi tatapan matanya, mengingatkan Arkan kepada tatapan Quennevia yang bisa mengetahui segalanya.
" Apa kakak merindukan keluarga kakak??" tanya Kagura lagi ditengah diamnya Arkan.
Dia benar. Arkan sedang memikirkan keluarga nya, namun dirinya sendiri tidak yakin apa itu bisa disebut merindukan atau hanya teringat saja.
Arkan kemudian tersenyum sedikit kecut dan menunduk melihat lantai, " Entahlah, menurut Kagura seperti apa merindukan keluarga itu??" tanya balik Arkan atas rasa penasaran nya.
Kagura yang mendengar nya pun terlihat memikirkan itu, " Ya.. kurasa seperti, kau ingin bertemu dengan mereka, atau kau ingin tahu kabar mereka. Yang seperti itu. " jawabnya dengan polos.
Namun Arkan tidak memikirkan hal itu, ia hanya berpikir... jika kebenaran terungkap apa yang akan terjadi kepada keluarga nya? Akan seperti apa tanggapan mereka terhadapnya?
" Apa Kagura tau? Kakak dan keluarga kakak saat ini sedang bermusuhan. " ucap Arkan kepada Kagura.
" Kenapa? " dan Kagura yang mendengar nya terlihat penasaran.
" Dulu, kakek-ku meninggal diracuni, dan semua orang mencurigaiku. Mereka jadi membenciku, bahkan saudaraku juga begitu. " jelas Arkan dengan singkat.
" Apa kakak membenci saudara kakak??" tapi Kagura kembali melemparkan pertanyaan itu.
Membuat Arkan langsung tersadar dan diam...
Apakah dia membenci saudara nya? Apa dia pernah menyalahkan saudaranya karena lebih disayangi? Atau pernahkah dia berpikir untuk menyingkirkannya selama nya?
Arkan diam cukup lama, tapi kemudian ia menjawab. " Tidak, aku tidak membenci nya. " ucapnya. Ia yakin dengan itu.
" Kalau begitu, apa kakak menyayangi nya?" tanya Kagura lagi.
" Iya.. Kurasa begitu. " jawabnya agak ragu.
" Kakak mengkhawatirkannya?"
" Iya, tentu saja. "
Mendengar semua jawaban Arkan, Kagura pun tertawa ringan. Namun itu membuat Arkan bertanya-tanya kenapa, sampai Kagura pun bilang...
" Itu artinya kakak sedang merindukan saudaramu. " ucapnya dengan senyuman sehangat sinar mentari.
Arkan yang mendengar itu pun jadi terpaku, dia tidak membayangkan kalau dia benar-benar akan merindukannya. Mereka tidak sedekat itu sejak kecil, meski hubungan mereka memang terbilang baik.
Tapi harus ia akui, sosok Balin yang dulu... Memang terlihat begitu bersinar dimatanya saat itu. Dia orang yang ingin ia lampaui.
" Apa aku benar-benar... merindukan kakakku??" batin Arkan bertanya-tanya.
****
Ketika matahari mulai terbit dan menyinari hutan Elf, Ethan dan teman-temannya langsung dibawa menuju ke tempat pohon kehidupan. Semakin dekat dengan sumbar kehidupan, membuat Ethan dan teman-temannya merasa tenang, seolah tidak akan ada apapun yang bisa melukai mereka disana.
" Ini tempat yang benar-benar damai. " ucap Yuki.
" Kau benar. " ucap Arkan pula menyahutinya.
Mereka pun tiba dibawah pohon kehidupan, pohon itu benar-benar besar dan tinggi, menjulang kelangit. Seolah-olah mereka yang berubah jadi semut dihadapannya.
" Tinggi sekali~..." ucap Kagura ketika melihat pohon itu. Ia terus mendongakkan kepalanya sampai hampir terjatuh, jika saja Niu tidak ada dibelakangnya untuk menahan hal itu.
" Yang mulia, bagaimana caranya untuk masuk ke dalam pohon kehidupan??" tanya Ethan kepada Raja yang menuntun mereka kesana.
Pohon itu langsung memberikan jalan untuk mereka masuk ke dalam nya. Ethan dan teman-temannya sampai terpukau melihat itu.
" Wow..."
" Mari masuk, semuanya. " Sang Raja pun kembali memimpin jalan.
Dan yang lainnya berjalan mengikuti nya. Ketika semua orang telah masuk ke dalam pohon kehidupan, jalan masuk itu pun kembali tertutup seolah tidak pernah ada. Itu adalah kemampuan khusus dari Elf yang dipilih oleh pohon kehidupan untuk menjadi penghubung nya dengan makhluk kehidupan yang lain.
Dan hanya mereka yang bisa mendengar suara dari pohon kehidupan...
Didalam sana, Ethan dan yang lain berjalan mengikuti langkah Sang Raja. Tempat disana luas, seluas desa Elf yang mereka lihat diluar. Dan lorong-lorong nya diisi oleh cahaya indah dari dinding pohon.
(Anggap aja kek gitu👆)
" Luar biasa, ini mengingatkan ku kepada pohon dunia. " gumam Ethan pelan melihat itu.
Namun seperti nya Niu sedikit mendengar hal itu, " Kau bilang apa?" tanyanya dengan penasaran.
Membuat perhatian yang lain juga jadi ikut tertuju padanya, namun Ethan masih bisa tersenyum dengan tenang.
" Tidak, kubilang 'aku tidak menyangka akan ada ruang seluas ini didalam nya'." jawab Ethan melenceng jauh dari apa yang ia katakan sebelumnya.
" Ya, kau benar. " Tapi Arkan setuju dengan itu, begitu pula dengan yang lain.
" Tempat ini bisa lebih luas lagi dari kelihatan nya, pemandangan diluar bisa terasa berbeda saat ada didalam. " ucap Sang Raja menyahuti.
" Kelihatan nya memang seperti itu. " timpal Niu pula.
Mereka terus berjalan melewati semua cahaya-cahaya cantik itu, sampai akhirnya mereka tiba diujung jalan yang menurun ke bawah itu. Tepat dihadapan sebuah mata air yang ada didalam pohon kehidupan itu.
" Jadi ini... inti dari pohon kehidupan. " ucap Ethan ketika melihat hal itu.
Sang Raja pun menganggukan kepalanya, " Iya, ini adalah air suci yang selalu dikisahkan orang bisa memberikan keabadian itu. " jawabnya.
Dan itu mengundang rasa penasaran Meliyana, " Apa memang bisa memberikan keabadian??" tanyanya.
" Tidak. " jawab Kagura menimpali, " Itu hanya air, genangan air. Tapi dia bisa menyembuhkan penyakit. " lanjutnya pula.
" Nona Kagura benar, air itu tidak bisa memberikan keabadian tapi bisa menyembuhkan penyakit. " bahkan Raja juga mengakui hal itu.
Itu membuktikan, kalau sebenarnya kabar itu salah. Meski begitu airnya tetap sangat berguna, air yang bisa menyembuhkan penyakit itu benar-benar sangat berharga.
" Jadi.. apa yang harus kita lakukan disini? " tanya Oscar pula memecah keheningan sesaat mereka ketika mengagumi tempat itu.
" Niu, baca petunjuknya. " Yuki mengingatkan Niu tentang hal itu.
" Oh! " dan Niu yang baru ingat dengan hal itu langsung buru-buru mengambil buku petunjuk itu dan mencari halaman tentang pohon kehidupan. " Ini dia. " ucapnya ketika menemukan itu.
[Pohon besar yang berdiri menopang langit, tempat dimana lahir nya peradaban yang bergantung kepada alam. Disaat kasih sayang menujukan jalan yang salah, maka keteguhan akan membawamu kepuncak.]
Seperti itulah petunjuk yang tertulis dibuku itu...
Tidak ada yang tahu apa maksudnya, bahkan Raja sendiri pun yang mendengar itu dibuat bingung.
" Apa maksudnya?" tanya sang Raja.
" Kami juga belum tahu tentang itu. " jawab Niu menimpali.
Sampai kemudian Arkan menyela hal itu, " Masalah pertama dulu... Apa yang membuat pohon ini sekarat??" ucapnya kepada mereka.
" Disana. " Ethan menarik perhatian semua nya, dan ia menunjuk ke dalam mata air itu. " Aku melihat sesuatu dengan energi gelap ada disana. " lanjutnya pula yang membuat semua langsung terkejut.
" Bagaimana bisa ada disana??" terutama sang Raja yang bahkan tidak mengetahui hal itu.
Itu karena seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke dalam sana tanpa seizinnya selaku penghubung pohon kehidupan, dan satu-satunya yang bisa masuk ke dalam sana.
" Jadi kita hanya perlu mengambil itu, bukan?" tanya Arkan kemudian. Ia berjalan kedepan dan membuka sepatu nya, membuat teman-temannya bertanya-tanya dengan itu.
" Arkan, apa yang akan kau-..."
Byurr...
Pertanyaan Yuki terlambat, karena Arkan baru saja menceburkan dirinya sendiri ke dalam mata air itu. Dan membuat yang lain makin kaget.