Quennevia

Quennevia
Penculikan Quennevia



Setelah beberapa lama mereka berjalan akhir mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, karena ternyata perjalanan mereka itu harus melewati sebuah bukit terlebih dahulu. Sementara Yulles hanya bilang kalau perjalanan singkat saja sudah cukup untuk bisa sampai, ternyata mereka telah dikelabui oleh Yulles.


Disisi lain Quennevia lebih memilih berdiam diri di tepi jurang sendirian, kebetulan sekali jurang itu ada di dekat tempat mereka beristirahat. Quennevia tengah memoles pedang miliknya, sambil diterangi oleh cahaya bulan yang tepat ada di atas langit yang gelap itu, sembari bersenandung.


Quennevia mendongakkan kepala nya menatap bulan itu, ia tertanya-tanya kenapa bulan hanya ada satu?? Apakah dia kesepian, atau lah sebaliknya dia merasa senang karena banyak bintang yang mengiringi nya setiap malam.


Srrakk... Srrakk..


Sesaat kemudian perhatian Quennevia pun teralihkan kepada suara semak-semak dibelakang nya, ia pun sedikit melirik nya dan yang keluar dari semak-semak itu adalah Beatrice, dengan raut wajah yang terlihat tidak menyenangkan.


" Sampai kapan kau akan terus seperti itu?? Apakah kau mengerti posisi mu sekarang??. " tanya Beatrice tiba-tiba.


Quennevia sama sekali tidak mempedulikan nya, dia lebih fokus kepada apa yang ada di depannya. Jurang gelap yang sama sekali tidak terlihat dasarnya, seperti hatinya saat ini.


" Jawab aku?! Apakah sekarang kau mengerti-... " ucap Beatrice terpotong.


" Mengerti apa maksud mu?? Mengerti kalau Ethan itu adalah satu-satunya penerus Kekaisaran Foldes?? Aku mengerti sejak awal. " potong Quennevia dengan suara datar, sama seperti ekspresi nya saat ini.


" Kalau begitu kenapa kau masih mendekati nya??. " tanya Beatrice pula.


" Kenapa katamu?? Memangnya salah jika aku menyukai nya, memangnya apa yang bisa membuatmu yakin kalau aku tidak pentas?? Aku memiliki kekuatan, aku pemimpin para spirit dan hutan York, ditambah aku juga anggota keluarga Kekaisaran Chrysos. Lalu apa lagi yang tidak pantas menurut mu??. " tanya balik Quennevia.


Namun Beatrice tidak mengatakan apapun lagi, seperti nya dia kehabisan kata-kata setelah mendengar hal itu. Quennevia pun kembali melirik nya dengan ekor matanya, dia menatap Beatrice dengan nyalang, namun sama sekali tidak disadari oleh orang yang ditatap itu.


" Mungkin kah.. kau berpikir kalau aku hanya ingin memanfaatkan nya saja??. " ucap Quennevia dengan suara dingin.


Quennevia semakin menyipitkan matanya ketika melihat Beatrice bereaksi dengan kata-kata nya itu, ternyata dia memang benar menganggap nya hanya memanfaatkan Ethan. Quennevia pun bangun dari duduknya itu dan berbalik menatap Beatrice.


" Maaf, tapi aku tidak memiliki hobi seburuk itu. " ucap Quennevia pula.


" Hmph... mudah bagimu hanya dengan mengatakan hal itu. " sahut Beatrice dengan angkuh.


" Aku punya kekuasaan, pengikut yang lebih setia dari pada manusia, hidup diantara para spirit, iblis dan juga manusia yang berada di pihak ku. Lalu aku juga dilindungi oleh Spirit Guardian, dan ibuku adalah penguasaan hutan terbesar di seluruh daratan, memangnya apa lagi yang ingin aku dapatkan hingga harus memanfaatkan Ethan?? Yang ada mungkin kau yang berencana memanfaatkan nya untuk membunuhku lagi!!. " ucap Quennevia semakin menatap Beatrice dengan nyalang.


" Jangan bercanda!! Kenapa kau dan juga hewan peliharaan mu itu selalu saja mengatakan hal-hal yang sama?!. " tanya Beatrice pula naik pitam.


Grrrrr....


Bahkan Zico pun ikut kesal dengan sikap Beatrice, apalagi Quennevia yang memang berselisih dengan nya. Saat ini pun dia mati-matian menahan diri agar tidak menyerangnya hingga lenyap dari dunia ini.


Disaat-saat yang tegang antara kedua perempuan itu, perhatian meraka pun teralihkan kepada semak-semak yang kembali berbunyi, pertanda ada seseorang yang datang mendekat ke sana. Dan memang benar saja, Yulles dan yang lainnya menyusul mereka berdua ke sana.


" Akhirnya ketemu juga. " ucap Yulles saat melihat mereka berdua.


" Heh, ada apa ini?? Apa kalian bertengkar lagi??. " tanya Oscar pula.


" Tsk. " hanya itulah jawaban dari Quennevia.


Sementara itu Beatrice malah memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Terlihat jelas sekali kalau keduanya memang bertengkar satu sama lain sebelum nya.


" Kau bilang akan menjaga Beatrice agar tidak keluyuran dan mendekati Quennevia atau pun Ethan. " ucap Niu menatap Arkan datar.


" Hehe.. aku ketiduran. " jawab Arkan sambil cengengesan.


" Quennevia, bisa bicara sebentar??. " tanya Ethan pula dgn tiba-tiba.


Yang lainnya mengerti apa yang akan dikatakan oleh Ethan dan bersiap pergi dari saja jika iya, namun jawaban dari Quennevia sungguh mengejutkan.


" Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi, aku sudah mendengar semuanya. " ucap Quennevia, tetapi matanya saat ini menatap kosong kearah Ethan.


Ethan terdiam di tempat nya mendengar itu, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Termasuk Haika dan Yulles.


" Aku sudah mendengar semuanya. Tapi... aku tidak tahu lagi bagaimana perasaan ku. Aku tidak bisa membedakan mana perasaan ku sendiri dan mana perasaan Sirius, semuanya bercampur menjadi satu. Kesedihan, kemarahan, kekecewaan.. ataupun penyesalan. Aku tidak tahu lagi yang mana, namun kali ini itu kosong. Tidak ada apapun di sana. " ucap Quennevia lagi, tunggu dia merasa aneh sekarang, sementara yang lain semakin dibuat terdiam.


Suasana hening, tidak ada satupun yang mengatakan sepatah kata pun, hanya desiran angin yang menemani di tengah malam itu. Sampai perhatian Quennevia teralihkan kembali...


Woshh....


Ketika anak panah meluncur dari belakang nya, Quennevia langsung berbalik dengan mata yang menatap tajam dan ia pun menangkap anak panah itu dengan tangannya.


" Semuanya bersiap!!. " ucap Haika kepada mereka yang langsung jadi waspada, kecuali Yulles yang masih santai-santai saja.


Sementara itu disisi lain, terlihat empat orang yang tengah melayang tak jauh dari mereka. Yang mana empat orang itu tidak lain tidak bukan adalah para kepala keluarga dari klan Retia dan juga Lorenzo yang lama mereka tidak muncul. Tiga kepala keluarga itu adalah Riraya, Freon, dan juga Sica.


" Wahh... tidak kena, tidak kena. Bidikan mu buruk Sica. " ucap Riraya yang bertingkah seperti anak kecil.


" Cih. Itu karena dia yang cepat merespon. " sahut Sica.


" Hmm... begitukah?? Tapi memangkan... kelinci itu lebih cepat dari kura-kura, jadi wajar saja jika tidak kena. Ya kan, Freon??. " ucap Riraya pula.


" Bagaimana sekarang,... Tuan muda??. " tanya Riraya lagi kepada Lorenzo.


Sementara itu Lorenzo yang sedang saling tatapan dengan tajam bersama Quennevia itu kemudian tersenyum.


" Tangkap kelinci nya saja. " ucapnya pula membalas ucapan Riraya.


Riraya pun semakin melebarkan senyuman nya, dan langsung menyerang kearah Quennevia dan yang lainnya lebih dulu.


" Ayo main anak-anak. " ucapnya kepada mereka.


" Dia datang, cepat sekali. " ucap Meliyana.


Mereka di serang oleh Riraya dan juga Freon yang meski tidur tapi ia dapat mengendalikan beberapa elemen untuk menyerang dan membentuk pertahanan. Disisi lain Quennevia yang juga ingin membantu malah dijauhkan oleh Sica dari teman-temannya nya.


Brakk.. Buk.. Duar...Syutt...


Sring.. Sring.. Duk.. Prangg...


(*anggaplah suara pertarungan mereka)


" Akh... apa-apaan mereka kuat sekali. " ucap Arkan.


" Bertahan lah. " sahut Ryohan pula.


" Tuan Yulles, tidak bisa kah kau berubah??. " tanya Ethan pula.


" Tidak bisa. Meraka memasang segel disini, kita sudah masuk dalam jebakan sejak awal. " jawab Yulles yang baru menyadari hal itu.


Pantas saja mereka bisa disudutkan seperti itu, padahal harusnya mereka bisa lebih mendominasi karena unggul dalam jumlah. Sementara itu Beatrice.. dia sama sekali tidak ikut bertarung, malah sembunyi dan tidak melakukan apapun di belakang pohon sana. Dan Quennevia yang harus menghadapi Sica seorang diri.


Trangg....


" Entahlah!. " ucap Quennevia ketika pedang mereka saling beradu.


" Tidak, jika kau belum ikut dengan kami. " jawab Sica dengan santainya.


Sica pun lebih mendekatkan dirinya kepada Quennevia, dan ia mengaktifkan sesuatu teknik yang matanya miliki. Quennevia yang melihat nya pun langsung memejamkan matanya dan mundur dari dekat Sica, hanya saja agak sedikit terlambat. Quennevia sudah terkena teknik milik Sica itu.


Clbb...


(anggap aja suara pedang Quennevia yg ditancapkan ke tanah)


" Sial, mata ilusi kah?!. " ucap Quennevia.


Ia memegangi kepala nya yang terasa sakit itu, belum lagi ingatan-ingatan buruk yang ikut bermunculan karena mata ilusi milik Sica itu.


" Quennevia!!. " panggil Ethan ketika melihat Quennevia yang bersimpuh disana.


Ia pun pergi ke arah nya, berniat untuk menolong Quennevia namun sayang sekali dihalangi oleh Sica. Disaat yang sama sebuah rantai dari Lorenzo pun menjerat Quennevia yang sedang tidak bisa bergerak itu.


" Arrrggghhh!!.. " teriak Quennevia kesakitan.


Ketika rantai itu mengenainya, efek dari rantai yang memang dibuat khusus oleh klan Retia untuk mengenang animal Spirit itu pun bereaksi padanya, dikarenakan dia juga setengah dari spirit tersebut.


" Quennevia!!. " panggil yang lainnya juga khawatir.


Saat Quennevia perlahan-lahan kehilangan kesadaran nya, dan ia pun ditarik oleh Lorenzo untuk membawanya pergi dari sana.


" Lorenzo, kembalikan dia!!. " teriak Ethan marah.


" Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk bermain, salahkan lah dirimu sendiri yang telah membuatnya jadi selemah ini. " sahut Lorenzo.


Ethan sempat ingin melepaskan sesuatu yang mengekang kekuatan nya, namun kata-kata dari Lorenzo menghentikan niatan nya.


Kemudian Sica dan Riraya yang mengerti perkataan dari Lorenzo itu langsung menjauhi teman-temannya Quennevia disana, beda halnya dengan Freon yang masih ada di depan mereka. Freon pun perlahan-lahan membuka matanya.


Ethan dan yang lainnya yang sebelum nya sempat ingin mengejar Quennevia yang dibawa oleh Lorenzo itu, terhenti ketika merasakan tekanan hebat, tekanan itu benar-benar dilipat gandakan dalam segel dibawah kaki mereka.


Tekanan itu berasal dari Freon yang kini membuka matanya itu, ia pun membentuk sesuatu seperti bola ditangannya dan mengarahkan bola itu kepada Ethan dan yang lainnya. Dan seketika bola itu bersinar sangat terang hingga menyelimuti mereka.


Sshhh... Cling...


Duaarrr....


Ledakan besar terjadi disana, bahkan suaranya pun bisa didengar dari kejauhan.