
[Season 2]
" ...Jangan bicara lagi.. Kakak.." Sakura akhirnya mengakui hal itu.
Dan Ethan yang mendengar dia menyebutnya dengan sebutan 'kakak' juga menyadari hal itu. Ia pun menoleh kepada Meliyana dan menganggukan kepalanya, Meliyana yang melihat nya pun menggerakan tangan nya diudara, dan seketika, ikatan yang menahan Sakura pun terlepas dengan sendirinya.
Sakura yang mendapatkan kembali kebebasan nya hanya duduk diam ditempatnya, sambil berusaha untuk mengusap air matanya yang terus jatuh tak terkendali. Dia hampir benar-benar tidak percaya kalau orang yang ia kenal dulu, yang ia kira sudah tiada. Akan muncul kembali dihadapannya dalam wujud baru dan kehidupan yang baru.
Ethan yang melihatnya tidak bisa melakukan apapun, meski begitu ia mengulurkan tangannya, membantu Sakura untuk berdiri dan memberikannya sebuah pelukan erat.
" Sudah tidak apa-apa, aku senang bisa melihatmu lagi, Sakura." Ethan hanya bisa mengatakan itu.
" Aku juga... Aku juga..."
Sakura membalas pelukannya dengan lebih erat, dia seolah ingin memastikan... kalau dia benar-benar hidup, dan bukan halusinasinya semata.
Oscar dan yang lainnya hanya tersenyum melihat itu, mereka juga ikut senang karena keduanya bisa bertemu lagi. Dan fakta.. setidaknya satu dari orang berharga Ethan ditempat ini masih hidup dan ada dihadapannya. Itu bisa sedikit mengurangi beban rasa bersalah dihatinya, karena kematian mereka.
Dan beberapa saat kemudian, setelah Sakura lebih tenang...
Ethan mulai mengenalkan teman-temannya kepada Sakura, perkenalan yang sedikit terlambat itu berakhir baik. Karena itu, mereka bisa memulai pembicaraan yang tertunda sekarang...
" Omong-omong... kenapa kau datang ke mari, Sakura?." pertanyaan itu keluar dari Niu yang bertanya-tanya bagaimana bisa ia tahu kalau ada orang yang datang ke pondok tempat Nevia dulu tinggal.
" Ah, itu... Aku seperti biasa, berkeliling untuk memastikan keadaan kota. Saat kemudian aku melihat jejak mobil yang keluar dari jalur dan mengambil jalan yang telah tertutup yang kukenal. Jadi aku datang untuk memastikan." jawab Sakura.
" Lalu, bagaimana kau selamat 3 tahun lalu?? Kupikir aku dengar seseorang bilang tidak ada yang selamat dari insiden itu." Arkan pun ikut menanyakan hal yang membuat nya sangat penasaran, sembari memikirkan orang yang dimaksud dengan ekspresi kesal.
Yang lainnya juga mengingat itu, Lorenzo yang mereka kenal. Orang yang membawa Quennevia ke dunia ini satu tahun yang lalu.
" Kalau yang itu... aku juga tidak tahu. " Sakura menundukan kepalanya, menatap tanah dibawah kakinya dan kembali berkata. "...Mungkin karena waktu itu Nagisa melindungiku, karena itu luka yang kualami tidak begitu parah meski aku mengalami koma selama kurang lebih setengah tahun. Kudengar alasan kenapa berita mengatakan kalau tidak ada yang selamat dari pembantaian itu, adalah karena ayahku yang memanipulasi informasi yang diberitakan." ucapnya.
Ethan yang mendengar nya pun menanggapi itu. " Ah, kalau di ingat-ingat lagi. Ayahmu adalah anggota dewan pemerintahan, tantu saja itu hal yang mudah untuk dilakukan."
Sakura mengangguki itu, " ....Aku tidak tahu alasannya melakukan itu, tapi berkatnya aku tidak terancam lagi. Meski begitu, bukannya aku mau kembali dengan suka rela. Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung pergi ke pulau terpencil dengan alasan rehabilitas karena belum yakin untuk kembali ke masyarakat. Lalu satu tahun yang lalu... Aku tiba-tiba dikabari kalau telah terjadi perubahan besar pada sistem keamanan negara, dan diminta untuk kembali. Sejak saat itu, beberapa penjara berhasil dibobol dan para kriminal pun berkeliaran dijalanan. Karena itu, aku kembali menjalankan tugasku bersama petugas polisi dan tentara, untuk menstabilkan kembali keamanan dikota. " jelasnya panjang lebar.
" Begitu ya, pantas saja ada banyak pria sampah dijalanan saat kita datang." sahut Meliyana merasa semuanya jadi masuk akal.
Dia merasa tenang setelah mendapatkan informasi penting ini, tapi disaat yang sama juga kesal karena teringat dengan apa yang terjadi siang tadi kepadanya. Itu terlihat jelas sekali dimatanya, sampai Yuki mencubit pipinya pun dia tidak sadar dan terus memikirkan itu.
" Lalu... perubahan apa yang kau maksud itu?" Oscar menengahi percakapan itu dengan pertanyaan utama bagi semuanya.
" Itu..." Tapi Sakura terlihat ragu dengan jawaban yang itu, sampai ia pun mengalihkan pembicaraan mereka. "...Dari pada itu, apa yang membuat kakak kembali kemari bersama teman-temanmu?? Apakah kakak membutuhkan sesuatu didunia ini?" kini dia yang bertanya kepada mereka.
Membuat Ethan baru ingat untuk mengatakan itu, " Ah, soal itu.." ucapnya menggantung.
" ...Kami mencari ular besar. Ular yang mungkin kalian kenal dalam legenda atau mitologi." Yuki melanjutkan kata-kata itu dengan penjelasan singkat.
Sakura yang mendengar hal itu pun jadi berpikir, " ....Aku tidak yakin apakah hal seperti itu benar-benar eksis didunia ini sekarang, apakah kalian yakin kalian datang ke tempat yang tepat??" tanyanya lagi dengan ekspresi tidak yakin.
" Ngomong-ngomong soal apa yang kita cari.. Tidak ada petunjuk soal dimana benda itu, kan?" tanya Arkan ditengah pembicaraan mereka.
Mendengar ucapannya itu membuat yang lainnya juga sadar, bahkan Niu sampai langsung membuka buku petunjuk yang ia simpan. Ia terus membalik halaman dibuku itu dengan ekspresi yang benar-benar serius, tapi...
" Itu benar. Tidak ada." dia tidak menemukan petunjuk satu pun.
" Ethan, kau tahu..?" Meliyana menoleh kearah Ethan disampingnya dengan ekspresi berharap.
Ethan sendiri terlihat memikirkan hal itu juga, sayang nya..
" ...Entahlah. Aku tidak terhubung dengan informasi dunia, jadi aku tidak tahu." mendengar itu membuat teman-temannya menghela nafas lelah, ini akan jadi pencarian yang panjang jika mereka benar-benar tidak menemukan petunjuk. Namun tidak ada banyak waktu yang tersisa, saat Ethan kemudian berkata. " Tapi Quennevia mungkin tahu."
" Apa..?" membuat mereka sangat berharap dengan hal itu.
" Apa itu benar?"
" Dia benar-benar tahu, kan?"
" Entah."
" Eehh.."
Ethan mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah setelah menggantung harapan teman-temannya, membuat dirinya sendiri mendapatkan banyak tatapan tajam dari teman-temannya nya. Tapi Ethan hanya tersenyum tidak menghiraukan itu, ia justru menoleh kepada Sakura yang terlihat bingung dengan semua yang mereka bicarakan sejak tadi.
" Bagaimana, Sakura? Kau mau bertemu dengannya lagi..?" dia bertanya seperti itu.
Sedangkan Sakura yang ditanya hanya mengkerutkan alisnya tidak mengerti, " Lagi..?"
Ethan terkekeh melihat wajah bingungnya itu, saat kemudian perhatian Sakura teralihkan kearah suara gemerisik dari semak disampingnya. Sesuatu keluar dari kegelapan hutan yang mengelilingi mereka...
Sementara itu Sakura hanya diam, matanya melebar melihat orang yang ada dihadapan nya selain 'Kirito' atau Ethan sekarang.
***
Sementara itu dibagian lain kota, tengah malam ini, suara telepon berbunyi nyaring dari sebuah ponsel dikamar seseorang yang gelap gulita. Suara itu membangunkan pemiliknya yang tertidur disana.
Dia seorang pria paruh baya, yang dulunya adalah salah satu petinggi di Organisasi dan salah satu dari beberapa yang selama dari tragedi satu tahun yang lalu. Dia adalah Yukio.
" Haah... Ada masalah apa lagi sampai mengabari malam-malam begini.." ucapnya dengan suara malas, dan ia pun meraih ponsel yang ada diatas meja disamping nya. Dan melihat ada yang mengirimkan pesan padanya.
Ia membuka itu sambil mendengus sebal, sampai saat setelah ia membaca itu dia benar-benar sangat terkejut...
" Apa?!!" dia langsung terperanjat bangun dari tidurnya dan berteriak tidak percaya.
Itu tidak lepas dari hal yang dituliskan disana, salah satu bagian yang tertulis dipesan itu... <'...Kirito sudah kembali'>.