Quennevia

Quennevia
Kemarahan Quennevia




Sementara itu di kerajaan Frids.



Saat ini susana sudah beralih menjadi malam hari, tetapi saat ini kerajaan Frids masih saja ramai oleh aktifitas warga nya. Begitu pula dengan orang-orang di istana, beberapa bangsawan di sana tengah berpesta bersama dengan raja mereka.


" Hahaha... ayo bersenang-senang, nikmati pesta ini. " ucap raja itu sambil di temani oleh beberapa perempuan di sana.


" Haha... hidup yang mulia raja. " ucap para bangsawan di sana pula bersorak sorai.


Mereka lah dalang dibalik orang-orang yang menyerang tempat-tempat seperti kediaman Arkharega itu, tentu saja atas perintah dari klan Retia juga.


Dan saat ini mereka tengah merayakan keberhasilan penyerangan mereka kepada kediaman Arkharega, sembari menunggu pangeran mereka yang pergi langsung ke Chrysos.


***


Disisi lain saat ini, dilangit kerajaan Frids. Sesosok perempuan cantik dengan sayap yang indah itu menatap kota di bawahnya depan tatapan dingin, tentu saja itu adalah Quennevia. Tanpa menunggu babibu lagi dia langsung menggunakan kekuatan nya untuk membuat penghalang di seluruh kota kerajaan Frids.


" Wah, lihat apa itu kembang api??. "


" Indah sekali. "


Ucap beberapa orang yang melihat penghalang itu terbantuk, karena sempat membuat ledakan seperti kembang api ketika terbentuknya.


" Mama, lihat itu?? Apakah dia malaikat??. " tanya seorang anak yang pertama kali melihat Quennevia di atas sana.


" Mama tidak tahu, tapi dia siapa ya??. " ucap ibunya yang juga menyadari nya.


Tidak lama kemudian pun warga yang lain ikut menyadari hal itu, dan bertanya-tanya siapa yang ada di atas sana. Tetapi Quennevia hanya menatapnya datar.


Ctakk....


Quennevia menjentikan jarinya, dan dalam seketika seluruh warga (yang tidak bersalah, atau tidak tahu apa-apa) langsung hilang dan berpindah cukup jauh dari kota itu. Itulah kekuatan spesial dari penghalang Quennevia, ia bisa melihat isi pikiran orang yang terjebak didalamnya dan membuktikan orang itu bersalah atau tidak. Mereka di teleportasi kan ke sebuah bukit yang membuat mereka bisa melihat kota kerajaan mereka.


" A.. apa yang terjadi??. "


" Kenapa kita bisa ada di sini??. "


" Ada apa ini sebenarnya??. "


Begitulah kira-kira ucapan mereka yang saat ini sedang kebingungan itu..


Setelah semua warga yang tidak tahu apa-apa pergi, Quennevia pun langsung melancarkan serangan kearah kota kerajaan itu. Serangan bertubi-tubi satu Quennevia itu menghancurkan banyak tempat tanpa pandang bulu, bagitu pun dengan istana.


Duarrr....


Bbrrrrr.... (Anggap aja suara getaran).


" Kyaaa.... " (suara wanita-wanita yang tengah menemani para bangsawan di pesta).


" A... apa ini??. " tanya sang Raja yang sangat terkejut.


" Ada penyerangan kah??. " ucap salah satu bangsawan.


Mereka pun benar-benar terkejut dengan hal yang tiba-tiba terjadi itu.


" Yang mulia, yang mulia!!. " teriak salah seorang pengawal pula dengan wajah panik.


" Apa?? Ada apa??. " tanya sang Raja.


Diluar sana masih banyak serangan yang berlangsung hingga menyebabkan getaran sampai di istana.


" Yang mulia!! Kerajaan di serangan, bukan hanya itu semua warga pun tiba-tiba menghilang tanpa jejak!!. " ucap si prajurit itu.


" Apa?! Kalau begitu kerahkan pasukan prajurit kita, hentikan serangan ini!! Jangan sampai kerajaan yang baru di bangun ini hancur lebur seketika!!. " perintah sang raja.


" Ka.. kami sudah melakukan nya, Yang Mulia. Tetapi lawan kami itu terlalu kuat, padahal... padahal dia hanya seorang gadis berusia 16 tahun. " ucap prajurit itu dengan raut yang sangat gelisah+takut.


Mereka semua terperangah mendengar nya, seorang gadis kecil bagaimana bisa melakukannya hal seperti ini. Tapi jika melihat prajurit yang ketakutan sampai seperti itu, maka pasti bukan kebohongan.


Brakk....


" Akhhh.... " (all)


Sementara orang-orang itu memaku saat melihat Quennevia, tatapan dinginnya itu membuat mereka tidak bisa bergerak sedikit pun. Sampai suara dingin Quennevia, menyadarkan mereka dari lamunan mereka.


" Siapa raja nya di sini??. "


Pertanyaan sederhana tetapi bisa begitu menekan, rasa sakit pun tiba-tiba muncul seolah menggerogoti tubuh mereka. Lalu kemudian Quennevia pun menyeringai, membuat mereka semua semakin gemetar.


" Ha... Disana rupanya. " ucap Quennevia sambil menatap Sang Raja.


*********


Di saat yang sama, Ethan dkk, Lecht, Haika, Everon dan juga Mice pun sampai di tempat yang sama dengan para warga yang sudah diungsikan oleh Quennevia. Mereka turun dan melihat kalau kota kerajaan Frids saat ini sedang di porak-poranda kan oleh Quennevia.


Para warga di sana juga hanya bisa bertanya-tanya dan meratapi kejadian itu, mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sana dan juga apa yang harus mereka lakukan setelah nya.


Sementara teman-teman Ethan sangat terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Quennevia kepada kerajaan itu. Oh, sebenarnya alasan mereka baru datang itu adalah karena mereka sempat melawan Pangeran Kerajaan Frids dan pasukan nya yang hendak kembali ke kerajaan.


Dan saat ini pun, mereka ikut kesana bersama mereka dengan Ethan yang menyeret Pangeran itu. Dan para pasukan nya dibuat jadi mengecil oleh Mice, dan dengan jahatnya pula Kian memasukkan mereka ke dalam sebuah toples yang entah muncul dari mana.


" Wah, gila. Quennevia benar-benar memporak-porandakan seisi kerajaan. " ucap Arden.


" Dia bahkan sampai memindahkan orang-orang itu dalam waktu singkat. " ucap Jino pula.


" Kita harus bagaimana sekarang??. " tanya Niu pula yang semakin Khawatir.


Namun Mice dan Everon masih santai-santai saja, " Ha.. ada yang datang. " ucap Everon pula membuat perhatian mereka teralihkan.


Dari kejauhan sana, atau bisa dibilang dari kota kerajaan yang sedang porak-poranda itu, seseorang keluar terbang menjauh dari sana saat pembatas di sekitar kota kerajaan tiba-tiba hancur, dia adalah sang raja.


" Heh, ular teriak dia. " ucap Everon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


" Bisa tidak, gak usah manggil ular??. " tanya Mice.


" Gak. " ucap Everon, jelas, singkat dan padat.


Yang hanya dibalas tatapan datar yang gak biasanya ada di wajah Mice, ia pun menghela nafas dan pada akhirnya melakukan apa yang dikatakan oleh Everon. Mice menumbuhkan akar dari dibawah tanah yang langsung menangkap Sang Raja itu dan membawanya kehadapan mereka. Semantara warga kerajaan yang ada di sana hanya diam dan melihat saja.


Brukk...


" Akh.. Sialan!. " umpat Sang Raja itu.


" A.. Ayah, tolong aku!. " ucap si Pangeran yang diseret oleh Ethan itu.


" Anakku!! Bren*sek, apa yang kalian lakukan pada anak ku?!!. " ucap sang raja itu.


" Dari pada menghawatirkan orang lain, sebaiknya kau khawatir kan diri mu sendiri dulu. " ucap Lilac dingin.


Raja itu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Lilac, juga tidak tahu siapa dia. Tetapi ia tersentak ketika ketika tiba-tiba saja merasa merinding di belakang punggung nya.


" 🎶Yang mulia.. Yang mulia.. ada di mana..?, Oh.. Ke.te.mu.. hahahaha " ucap Quennevia yang sudah ada di belakang Sang Raja itu sambil tertawa dengan suara yang terdengar menyeramkan.


" Hi.. Hiii... " ucap Raja itu dengan ketakutan, saat ia berbalik dan melihat Quennevia ada di sana.


Brakk...


Sang Raja itu hendak pergi dari sana, namun Quennevia lebih dulu mencekiknya dan menekannya ke bawah sana. Saling kuatnya kekuatan yang dikerahkan oleh Quennevia, sampai-sampai tanah di sekitar nya pun ikut retak.


Namun jika dilihat lagi saat ini Quennevia tidak seperti Quennevia yang biasanya, dilihat dari penampilan nya mata Quennevia berubah merah seperti darah, sama seperti saat ia menggunakan kekuatan iblis milik Emilia. Tetapi rambutnya berwarna hitam pekat seperti malam hari, Quennevia sudah benar-benar dikendalikan oleh orang lain saat ini.



(👆Quennevia ketika dikuasai wanita pembawa bencana)


" Ha.. hahahaha... disini banyak sekali orang rupanya, bahkan ada dua orang yang kukenal sedari dulu. " ucap Quennevia (yang sudah di kendalikan itu).


Namanya Seretia, pemimpin klan Retia 200 tahun lalu. Seorang Necromancer, sang wanita pembawa bencana.


" Benarkan.. Everon, Mice. Lama tidak jumpa, ya. " ucapnya lagi.


Everon jadi marah ketika melihat itu, " Dasar wanita kurang ajar!!. " geram Everon.


Tetapi Quennevia (yang sudah dikendalikan) itu hanya tersenyum kearahnya, bahkan Mice yang jarang kelihatan marah pun ikut menunjukkan raut wajah kurang menyenangkan.