
[Season 2]
Pagi itu, diruangannya.
Lewis berada diruangannya, duduk dibalik meja kerja dan memeriksa beberapa kertas dihadapannya. Itu adalah pekerjaan biasa, sekarang putra sulungnya juga telah kembali seperti sedia kala, jadi pekerjaan nya tidak terlalu menumpuk seperti sebelumnya.
Itu hal yang patut disyukuri, tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal perasaannya saat ini...
" Haa... Kupikir ini terlalu berlebihan untuk orang tua sepertiku."
Tok...Tok..Tok..
" Permisi, Tuan besar. Saya membawakan teh anda."
" Masuklah."
Dengan pelahan pintu terbuka dan pelayan itu berjalan memasuki ruangan sambil mendorong troli dihadapannya. Ia berjalan mendekat dan menyajikan sepiring kukis dihadapan Lewis, dan ia juga menuangkan teh dari teko untuknya.
Dan Lewis yang melihat itu berkata... " Hm.. Apa Arkan yang menyuruhmu membawakanku kukis??"
" Iya, tuan. Beliau yang meminta saya melakukannya."
Yeah, itu tidak biasa. Sebelumnya Arkan menyuruh orang membawakan nya buah-buahan, atau sayuran, sekarang dia menyuruh membawakan kukis. Karena hal itu, sesuatu mulai terlintas dikepala Lewis.
" Baiklah, kau bisa kembali sekarang."
" Baik, tuan."
Pelayan itu pun segera pergi dari sana sambil kembali mendorong troli yang dibawanya, kemudian menutup pintu dengan pelan dan sopan. Sementara Lewis yang ditinggalkan sendirian disana, dia menghela nafas panjang dengan terwujudnya apa yang ia pikirkan.
" Haa... Astaga, bagaimana mungkin ini benar-benar terjadi." gumamnya.
Ia pun kemudian mengangkat cangkir tehnya dan meminum itu dengan tenang.
***
Siang hari, waktu terasa berlalu begitu cepat hari ini, Leana menatap langit dari jendela kamarnya dalam diam. Apa yang ia pikirkan saat ini, Leana memikirkan ambisinya.
Ia pun kemudian menundukan kepalanya dengan ekspresi gelap, sesuatu terlintas dikepalanya. Ingatan buruk yang ingin ia hapus dari hidupnya...
Masa kecilnya, Leana tidak hidup dalam kasih sayang maupun perhatian keluarga. Dia lahir dari sebuah keluarga bangsawan dengan pangkat tinggi di kerajaan Aquila, namun ia hanyalah bayangan dari kedua kakak laki-laki dan perempuan nya. Ibunya meninggal karena penyakit ketika dia berusia 2 tahun. Karena itu ia tidak diperhatikan, dia tidak disayangi, dan hidup dalam penyiksaan.
Jika kakak laki-laki nya berbuat kesalahan, dia yang akan dipukuli. Jika kakak perempuan nya dalam masalah, maka kesalahan itu akan dilimpahkan kepadanya. Leana hidup dengan tuntutan kalau itu adalah yang seharusnya.
" Kau harus tahu dimana tempatmu. Jangan melakukan hal yang mempermalukan keluarga."
" Itu karena Lea adalah anak yang penurut, dia bodoh dan mudah dikendalikan."
" Ibu melahirkan adik perempuan yang baik. Dia berlaku seperti anjing kapanpun aku mau, hingga aku bisa menikahi pangeran."
Semua pujian dan kasih sayang yang dirasakan oleh kakak laki-lakinya, itu adalah hasil kerja kerasnya. Dialah yang mengerjakan semua pekerjaannya.
Semua perhatian dan pusat pergaulan dikerajaan yang tertuju pada kakak perempuan nya yang cantik. Itu karena dia yang menjadi kambing hitam dan harus menanggung semua cibiran dan hinaan yang sama sekali tidak ia lakukan.
" Kenapa aku harus menanggung semua ini...??"
Orang-orang berbisik disekitarnya, mereka membicarakannya. Orang-orang memberinya tatapan kebencian tanpa alasan. Pada akhirnya Leana merasa muak dengan hal itu...
Ia secara gamblang menyatakan kalau dia bukan putri ayahnya dihadapan semua orang ketika kakak perempuan nya berulang tahun. Setelah itu dia bergabung dengan sebuah Guild dan menjadi petarung yang tangguh dan kuat.
Hidupnya menjadi lebih baik meski dia tidak hidup sebagai bangsawan, dia menikmati kebebasan yang ia dapatkan tanpa peduli kepada siapapun. Namun itu tidak bisa menghapus amarahnya, dandam itu tertanam dalam dilubuk hatinya.
" Berani-beraninya mereka hidup dengan nyaman setelah menyiksaku selama ini.."
Leana dibutakan amarah, dan ia ingin menuntut balas apa yang telah terjadi. Namun ia tidak cukup kuat....
Ditengah itu, dia bertemu dengan Reul Gwirnet, seorang pejuang terkuat dan tuan muda dari klan Taiga. Reul menyelamatkan nyawanya, ketika ia dikepung oleh pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh keluarga nya untuk membunuhnya.
" Kau baik-baik saja..??"
Itu pertama kalinya Leana melihat kebaikan murni tanpa harapan apa-apa, Reul tidak mencari keuntungan apapun dari apa yang ia lakukan. Uluran tangannya begitu tulus tanpa kebohongan.
Dan satu tahun setelah itu, ketika pasukan pembasmian telah menyelesaikan tugas mereka. Dan saat waktunya berpisah tiba...
" Leana, ikutlah denganku. Masuk ke klan Taiga dan menikahlah denganku. Kau punya potensi yang besar, tapi kau tidak mengembangkan nya dengan baik karena terus khawatir dengan hidupmu. Dibawah perlindungan Klan, keluarga mu tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
Leana terpana dengan hal itu. Meski begitu ia tahu kalau kebaikan Reul hanya karena kekuatan nya yang unik dan belas kasihannya atas hidupnya. Meski begitu dia akan memiliki penyokong yang kuat untuk balas dendam nya. Leana juga tidak berharap kalau pria itu akan mencintainya...
... Jadi ia pun menerima hal itu.
Leana tidak pernah menyesali pilihannya saat ini. Berkatnya, dia bisa memiliki Arkan sebagai harta karunnya. Leana bahagia dengan hidupnya. Namun saat Balin lahir... semuanya mulai berubah ke arah yang buruk.
Leana ketakutan, setiap kali dia melihat Balin dia selalu melihat kembali masa lalunya yang kelam. Karena itu dia menghindarinya...
Dia tidak memberinya kesempatan sedikit pun, Balin akan baik-baik saja jika dia diam. Namun Balin tidak menyerah untuk kasih sayang ibunya sekalipun Leana telah bertindak kejam padanya.
Leana semakin panik dengan apa yang selalu terjadi, ditambah karena Balin yang memiliki rupa yang mirip dengan ayah yang telah menyiksanya selama ini. Hingga suatu hari, ia sampai pada suatu pemikiran...
" Benar.. Jika dia tidak mau meninggalkanku sendirian, lebih baik aku melenyapkannya saja.."
Akan tetapi Leana tidak pernah mendapatkan kesempatan itu, karena Lewis selalu ada disisi Balin. Disaat suaminya yang kuat mulai layu, Balin yang tidak tahu apapun berada dibawah sayap Lewis, Leana menggunakan itu dan menarik Arkan menjauh dari keluarga nya sendiri.
Arkan yang kesepian karena tidak ada orang yang memihaknya, Leana dengan cepat menjadi satu-satunya sandaran untuk Arkan. Tapi beberapa waktu yang lalu... Semuanya mulai berubah secara tiba-tiba, dimulai dari berubahnya Arkan kearah yang tidak terduga.
Dia yang kembali dekat dengan Balin dan Lewis, lalu suaminya yang mendapatkan kembali vitalitasnya yang hilang. Rencana Leana yang telah ia susun sejak lama, telah hancur dalam sekejap mata...
" Nyonya..."
Lamunan Leana buyar ketika mendengar seseorang memanggilnya, ia pun menolehkan kepalanya ketika penglihatannya mendapati seorang pelayan nya berdiri dibelakangnya.
" Nyonya, tuan besar memanggil anda."
Mendengar itu membuat kening Leana berkerut, sesuatu terdengar salah disini. Sesuatu yang harusnya ia dengar tidak dikatakan oleh pelayan itu, tapi....
" Baiklah. Bawa aku kesana." dia tetap bersikap tenang dan berjalan pergi dari kamarnya ketika pelayan itu menuntunnya pergi ke tempat dimana Lewis berada.
****
Disebuah padang rumput yang luas, dengan ilalang hijau yang membentang sepanjang mata mamandang. Angin sepoy-sepoy yang berhembus mendorong dan menarik ilalang membuat mereka terlihat seperti sedang menari.
Ditengah itu, Ethan melangkah membelah ilalang-ilalang yang tingginya mancapai pinggangnya tersebut, meninggalkan jejak dari langkah yang ia ambil dibelakangnya.
" Tempat ini lebih panas dari yang aku ingat." Ethan melarik kerah lehernya untuk melonggarkan pakaian yang ia pakai disaat suhu ditempat nya mulai naik. Keringat mengucur membasahi tubuhnya..
Menghilangnya energi dari pohon kehidupan lebih berdampak, bukan hanya pada bagian luar namun didalamnya juga. Ini adalah dimensi khusus pohon kehidupan, tempat yang ada dibalik portal yang tidak bisa ditembus siapapun itu. Tempat yang harusnya sejuk dan terasa aman ini, sekarang terasa akan segera runtuh.
" Ini sudah terlalu lama, aku harus segera kembali..."
Ethan menatap benda yang ia cari ditempat ini, didalam sebuah bunga lotus diatas batu tinggi yang menyimpan air didalamnya. Ethan pun mengambil langkah lebih dekat, tepat didepan bunga tersebut, energi murni mengalir tertahan.
Ia pun mengusap bunga itu menggunakan punggung tangannya dengan lembut, dan secara perlahan... Bunga itu pun mulai mekar dengan indah.
" ...Dengan ini kita akan mengembalikan semua yang seharusnya."
Sebuah benda... Dengan cahaya hijau cerah yang lembut, terasa baik dan penuh dengan energi ada disana. Salah satu dari inti pohon kehidupan....
***
Ting...
Kagura merasakan sesuatu yang akrab mulai menyeruap masuk, dia tidak tahu, itu bukan dirinya sendiri. Itu... darah Quennevia yang ada didalam dirinya.
Itu memberitahunya kalau waktu nya tidak akan lama lagi...
Ia pun langsung bangkit berdiri dari tempat nya dimana ia duduk tadi sambil memegangi kelinci Quennevia ditangannya, hal itu juga menarik perhatian orang-orang yang ikut menunggu disana.
" Kagura, ada apa?" orang yang pertama kali bertanya adalah Niu.
Sementara Kagura terus menatap kearah mata air dan bergumam pelan, " Sebentar lagi.. datang.. sebentar lagi... kehidupan baru.."