Quennevia

Quennevia
Perasaan yang terungkapkan



Besok pagi-pagi sekali ketika Quennevia baru saja membuka matanya, ia sudah dipanggil ke ruangan pamannya, Sang Kaisar. Ia yakin kalau pamannya itu sangat khawatir dengan keadaan nya, apalagi setelah kejadian kemarin.


" Bagaimana keadaan mu saat ini, Quennevia??. " tanya Sang Kaisar.


" Quennevia baik-baik saya, Paman. Lagipula semuanya sudah berlalu. " jawab Quennevia.


" Hm... Paman benar-benar tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi, harusnya paman lebih memperhatikan nya. " ucap sang kaisar pula terlihat merasa bersalah.


Mungkin ia berpikir kalau kediaman itu sangat berarti bagi Quennevia karena itu adalah tempat nya, ayah dan ibunya hidup bersama ketika ia kecil dulu.


" Paman, ini bukan salah paman. Lagipula tidak mungkin paman hanya mengawasi kediaman Arkharega, paman itu seorang Kaisar. Dan tanggung jawab Kaisar adalah keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang ada di Kekaisaran. " ucap Quennevia.


Dia tidak mau pamannya itu jadi menyalahkan dirinya sendiri, tidak masalah jika kediaman itu hancur. Dan untuk nyawa yang telah pergi itu juga tidak bisa dibawa kembali, jadi tidak perlu dipikirkan lagi.


" Murphy juga udah pergi, aku tidak bisa bertemu dengan nya. " batin Quennevia pula.


Pemakaman Murphy dan para pekerja dan prajurit yang meninggal sudah diadakan kemarin, untuk sementara Arissa dan Jason tinggal di istana kaisar juga. Sementara itu prajurit yang tadinya bekerja di kediaman Arkharega dialihkan menjadi prajurit Kekaisaran untuk sementara, tentu saja itu artinya Ace, Riyan dan juga paman Sven juga.


" Tetapi Quennevia... apa kau yakin akan membiarkan keputusan dari Arissa dan Jason??. " tanya Sang Kaisar.


" Selama itu keinginan mereka, Quennevia tidak masalah dengan itu, Quennevia tahu bagaimana pun mereka termasuk keluarga Kekaisaran. Tetapi jika Kak Jason tetap ingin menjadi seorang prajurit, dan Arissa ingin jadi seorang pendeta di kuil suci bukan kah itu bagus??. " ucap Quennevia.


" Tetapi kehidupan mereka setelah nya tidak akan seperti sekarang lagi. " ucap sang kaisar lagi.


" Tidak masalah, jika mereka memang sudah bertekad untuk itu. Lagipula kemampuan mereka sangat berguna untuk bidang yang mereka pilih, sementara itu Kak Haika juga akan kembali ke klan nya untuk menjadi pemimpin mereka. " jawab Quennevia.


Sang kaisar pun hanya bisa menghela nafas mendengar nya, " Jika memang begitu baiklah, paman tidak akan mempermasalahkan nya lagi. " ucap sang kaisar.


" Terima kasih, paman. " ucap Quennevia pula.


******


Setelah obrolan dengan pamannya itu, Quennevia pun memutuskan untuk berjalan-jalan di saktar taman saja. Tidak ada yang ia lakukan juga, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, sekarang tinggal tergantung kepada keputusan teman-teman nya mau melakukan apa.


Disisi lain dia juga kesal, karena Mice dan Everon sudah kembali ke jantung hutan tanpa memberitahu nya terlebih dahulu. Mereka datang dengan mendadak, dan pergi begitu saja pula.


" Hmph.. Dasar dua orang yang menjengkelkan. " gumam Quennevia dengan sangat kesal.


" Apa yang kau gumam kan??. " tanya seseorang pula.


Mendengar itu Quennevia langsung mengangkat kepala nya untuk melihat siapa bicara, ternyata di atas sana ada Ethan yang tengah tiduran di atas pohon. Karena terlalu sibuk dengan pikiran nya sendiri, Quennevia jadi tidak menyadari keberadaan Ethan di atas sana.


" Apa... Apa yang kau lakukan di atas sana??. " tanya Quennevia.


" Hm... Hanya tidur siang, ngomong-ngomong semalam yang lainnya memutuskan untuk melanjutkan acara keliling Kekaisaran siang nanti. " ucap Ethan yang masih berbaring di atas sana.


Quennevia pun juga ikut naik ke atas sana, dan duduk di salah satu batang pohon didekat Ethan.


" Ethan... kenapa kalian masih ingin aku bersama kalian setelah mengetahui semuanya?? Bukankah akan labih baik jika aku dibawa pergi oleh Everon dan paman Mice kembali??. " tanya Quennevia sambil menunduk sedih.


Setelah mendengar itu Ethan yang sedari tadi masih berbaring pun langsung duduk, dan beralih ke dahan dimana Quennevia berada dan ia pun menatap Quennevia.


" Bukankah sudah jelas, karena kami menyayangi mu. Jika tidak mana mungkin kami menginginkan hal tersebut. " ucap Ethan dengan serius.


" Tapi bukankah jika aku pergi malah lebih baik, kalian juga tidak akan terlibat masalah lagi. " ucap Quennevia pula.


" Jadi aku mau menyerah begitu saja??. "


Mendengar itu Quennevia yang sedari tadi hanya menunduk pun akhirnya menatap Ethan, wajahnya merona ketika mereka saling bertatapan satu sama lain. Jantung Quennevia berdebar tak karuan saat ini, padahal ia hanya menatap Ethan yang terlihat serius itu. Dan Ethan juga menatapnya balik.


" Aku.. aku hanya tidak mau kalian terluka. " sahut Quennevia sambil memalingkan Wajahnya.


Namun Ethan kembali menarik wajahnya untuk menatap nya, " Quennevia, aku menyukai mu. " ucap Ethan.


" Huh??. " Quennevia mengedipkan matanya beberapa kali, masih mencoba mencerna perkataan dari Ethan.


Seketika wajahnya pun berubah jadi merah merona, dulu ia pernah bertanya seperti itu tapi jawaban nya tidak sesuai harapan. Kenapa baru sekarang Ethan mengatakan hal itu, dan lagi sangat mendadak seperti ini.


" E.. Ethan.. apa.. " ucap Quennevia terbata-bata, apalagi dengan wajah Ethan yang sangat dekat itu benar-benar membuatnya gugup.


" Aku menyukai mu, sudah sejak dulu. Saat kau bertanya waktu pertama di Akademi, kupikir kau mempertanyakan perasaan ku sebagai seorang teman. Tetapi setelah memikirkan nya lagi, mungkin aku memikirkan hal yang salah. Jadi sekarang aku menjawab nya lagi, aku menyukai mu. Aku mencintaimu, Quennevia. " ucap Ethan sambil terus mendekatkan wajahnya.


Sementara tangannya merangkul tubuh Quennevia jadi lebih dekat dengan nya, dan setelah nya bibir mereka pun saling bersentuhan satu sama lain.


Quennevia sangat terkejut dengan Ethan yang tiba-tiba mencium nya itu, apalagi sampai memeluknya dengan erat seperti itu. Detak jantung Quennevia jadi lebih cepat lagi dari sebelumnya, membuatnya merasa benar-benar tidak karuan.


" Gila, aku benar-benar bisa gila. Rasanya jantungku seperti mau meledak. " batin Quennevia.


Quennevia benar-benar tidak tahu harus apa di situasi saat ini, namun ia juga tidak ada rencana untuk memberontak saat Ethan menciumnya. Sampai kemudian suara seseorang yang mengejutkan mereka.


" Oi, Ethan ayo turun!!. " teriak Arkan dari bawah sana.


Quennevia dan Ethan yang terkejut mendengar nya pun langsung menghentikan ciuman mereka, dan langsung menoleh ke bawah sana.


Dan nampaknya Arkan tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka lakukan tadi, namun tetap saja dia kelihatan bingung seperti baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


" Huh, Quennevia?? Apa yang... baru saja kalian lakukan??. " tanya Arkan dengan wajah bingung nya itu, namun kedua orang di atas sana tidak menjawabnya sama sekali.


" Ada apa, Arkan??. " tanya Oscar yang berjalan mendekati nya pula.


Arkan pun menoleh kearah Oscar, " Tidak, aku hanya bertanya apa yang Quennevia dan Ethan lakukan di atas sana. " jawab Arkan.


Saat ia dan Oscar kembali melihat ke atas sana, Quennevia sudah tidak ada lagi di tempatnya. Bahkan Ethan yang ada di samping nya pun tidak tahu kapan dia pergi, hanya ada beberapa dedaunan saja yang jatuh kemungkinan karena kepergian Quennevia.


Ethan yang mengetahui itu tidak terlalu mempedulikan nya, namun ketika ia mengingat ciuman mereka tadi, sebuah senyuman pun langsung mengembang di wajah nya.


" Woy, Ethan kau mau turun tidak?!. " tanya Arkan pula dengan beteriak.


" Iya, Iya. " sahut Ethan, ia pun langsung melompat turun dari atas pohon itu.


" Baiklah, ayo kita pergi sekarang. " ajak Oscar yang diangguki keduanya.


Mereka pun berjalan hendak pergi dari sana, namun langkah Ethan tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara bisikan Quennevia dari angin yang berhembus menerpa nya.


" Aku juga mencintaimu, Ethan. "


Begitulah bisikan yang didengar oleh Ethan, senyum diwajahnya pun semakin lebar mendengar itu. Ia pun juga langsung berjalan kembali untuk mengejar Oscar dan Arkan yang sudah pergi lebih dulu dari nya.


*****


Sementara itu di atap istana. (Perasaan Quennevia kalau kabur ke atap mulu dah_-)


" Aku sudah gila... benar-benar sudah gila.. tapi aku menyukai nya. " gumaman-gumaman Quennevia yang sedang frustasi itu, dengan wajahnya yang terlibat semerah tomat yang sudah matang.


Apalagi saat mengingat apa yang baru saja ia dan Ethan lakukan, membuat Quennevia semakin frustasi dibuat nya, tapi juga senang disaat yang sama.