
[Season 2]
Masih dimalam yang sama, ketika semua orang telah terlelap dalam tidur mereka. Ethan baru saja selesai mengurus berkas-berkas penting yang terbengkalai selama dia tidak ada, yang harus segera ia kerjakan saat itu.
" Haah... Rasanya sudah lama sekali aku tidak duduk diam dan memeriksa semua laporan seperti itu. Punggungku jadi sakit. " keluh Ethan sambil sedikit merenggangkan tubuhnya.
Ia berjalan ke kamarnya untuk beristirahat, dan ketika ia membuka pintu perhatiannya langsung tertuju kepada Quennevia yang tertidur diatas kasurnya. Melihat itu membuat penasarannya sedikit lebih baik.
Ia pun tersenyum dan menutup kembali pintu kamarnya, disaat yang sama, telinga panjang Quennevia terlihat bergerak ketika ia berjalan mendekatinya. Dan Quennevia pun langsung mengangkat wajahnya melihat kearah Ethan.
" Maaf, Quennevia. Kau terbangun karena aku??" ucap Ethan yang kemudian mengusap bulu lembut Quennevia yang terasa seperti kapas.
Quennevia juga terlihat menyukai sentuhan Ethan, dan itu membuatnya senang. Ethan pun duduk disampingnya sambil termenung dengan ekspresi sedih, banyak yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Dan kebanyakan adalah hal yang buruk. Diantaranya dia juga kehilangan satu teman yang bisa ia percayai.
" Quennevia, keadaan diluar sana saat ini benar-benar tidak baik. Klan Retia mulai menggerogoti kedamaian yang selama ratusan tahun ini terjaga, bahkan Ryohan terlihat aktif membantu mereka. Kupikir... jika aku menunda sedikit waktu, semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi... masalah tidak akan berakhir begitu saja 'kan?. " ucap Ethan dengan suara yang terdengar putus asa.
Sementara disampingnya, Quennevia hanya diam memperhatikan. Ia tidak bisa bicara dalam bentuknya saat ini, meski begitu, ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ethan. Dia telah berusaha untuk bersikap tegar demi teman-teman nya selama ini, agar mereka tidak khawatir dengannya. Tapi tetap saja... Ethan juga merasa kalau semua ini terlalu berat untuk dijalaninya.
" Aku hanya.. Berpikir. Jika saja kita mengetahui semua ini lebih awal, kita bisa mencegahnya. Kau juga tidak akan kehilangan tubuh fisikmu dan menderita lagi. Dan Yuki... Dia mencintai Ryohan, karena itu aku jadi khawatir dengan perasaannya. Aku khawatir dengan teman-teman yang akan terlibat dengan masalah ini, dan juga kau.. Aku takut jika sampai... Jika aku gagal menjalani ujianku, kau akan menghilang. Kita akan terpisah lagi, dan dunia akan dilanda kegelapan. Saat itu, orang-orang yang ada didunia ini pun akan binasa, semua yang kita cintai akan lenyap. Tidak bisa menjaga apa yang menjadi tanggung jawabku, itulah yang aku takutkan. " ucapnya panjang lebar, ia pun menundukan wajahnya saat air mata pun diam-diam turun dari matanya.
Dia tahu semua ini tidak sebending dengan penderitaan Quennevia selama ratusan ribu tahun. Tapi dia bukanlah Quennevia yang kuat, dia tidak akan bisa bertahan dalam ratusan reinkarnasi sepertinya. Karena sejak awal, eksistensinya tercipta bukanlah untuk menjadi kekuatan, melainkan pendamping. Dia tidak akan pernah seteguh dan seberani Quennevia meskipun punya kekuatan yang besar. Dia tidak akan pernah menjadi pedang, melainkan zirah. Dia hanyalah seorang yang penakut...
Ethan merasa lelah.
Iya, dia lelah dengan semua yang tiada hentinya ini. Dia merasa semuanya salah, semuanya menyimpang dari apa yang seharusnya, tapi ia tidak punya kekuatan untuk melawan dengan benar. Takdir sedang kacau dan dunia didorong ke ambang kehancuran, apalagi yang terjadi saat ini... Hanya awal dari bencana yang sebenarnya. Ethan mengkhawatirkan masa depan orang-orang yang ia sayangi.
Ethan berada dititik terendahnya saat ini, ia sangat membutuhkan tempat yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Dan...
" Tidak apa-apa."
Ethan tersentak kaget ketika mendengar suara itu, dan merasakan lengan seseorang memeluk nya dari belakang, lebih terkejut lagi karena ia tahu siapa itu. Ia pun menoleh dengan panik...
" Que-Quennevia?! Ti-tidak boleh! Jika kau mengambil wujud manusia disaat ini, maka-..."
" Ethan. "
Quennevia memotongnya sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya.
" Tidak apa-apa, sebentar saja." ucap Quennevia yang semakin memeluknya erat.
Ethan yang mendengar nya pun tidak bisa menghentikan nya, ia membiarkan Quennevia melakukan apa yang ia inginkan untuk sekarang. Karena jujur saja... Ia juga merindukan pelukan hangat ini.
" ...iya." Yang kemudian direspon oleh Ethan.
" Aku juga perlu bantuanmu, meski aku berkata seperti ini saat ini, diwaktu lain aku mungkin juga akan berkata hal lain lagi. Kepribadianku masih campur aduk, aku masih tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya. Tolong bangunkan aku dari sesuatu yang mencoba menenggelamkan ku, Ethan. " pinta Quennevia padanya.
Ethan pun menggenggam tangan Quennevia yang saat ini sedang memeluknya, ia menutup kedua matanya ketika mencium aroma musim semi yang biasa Quennevia miliki.
Dan ia pun menjawab... " ...Iya, aku akan membangunkanmu." ucapnya.
****
Disisi lain, dijantung hutan. Para spirit, peri dan semua yang hidup disana sedang dalam kondisi waspada. Angin dingin yang berhembus dikegelapan malam, membawakan firasat buruk bagi mereka.
Diantara itu, Misika yang masih berdiri sebagai pilar utama keseimbangan hutan dan penjaga sekaligus pemilik. Diam menatap hutan yang luas dalam keheningan...
" Apa yang sedang kau tunggu disini, Misika?" tanya seseorang yang baru saja datang dibelakang sana, Yigrette.
Misika yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya dan tersenyum, " Tidak, hanya melihat pemandangan hutan dimalam hari. Bulannya kan terlihat indah, ayah. " jawabnya.
Yigrette pun berjalan mendekatinya, dan mengangkat kepalanya ke atas sana. Menatap langit yang sama dengan putrinya saat ini, ia tahu alasan sebenarnya Misika ada disana bukan karena itu, karena dia juga menyadari apa yang tidak bisa disadari oleh makhluk lain.
" Semesta sedang gelisah dengan ramalan akhir dunia yang semakin dekat, aku yakin salah satu teman Ethan juga menyadari pertanda nya. " ucap Yigrette.
" Maksud ayah 'Yuki'? Iya, dia bisa mendengar suara bintang. Jadi ramalan selanjutnya akan datang padanya juga. " sahut Misika menimpali, ia pun memicingkan matanya saat melihat sebuah bintang yang berkelap-kelip dikejauhan, dengan warna ungu yang berbeda dari yang lainnya.
" Dewi terlalu lama menghilang dari takhta nya, saat bencana selanjutnya semakin dekat dengan kita. Jika kita gagal diera ini, maka akhir dunia yang diramalkan benar-benar akan terjadi dimasa depan. " ucapnya dengan raut wajah yang kelihatan sangat serius.
Menurutmu apa ramalan apa yang dikatakan oleh Misika? Dan akhir dunia seperti apa yang akan terjadi? Tidak ada yang tahu.
" Misika.." panggil Yigrette yang mengalihkan perhatian putrinya itu padanya. " ...Kita tidak akan gagal lagi. Kita pasti.. akan mengembalikan apa yang harusnya kembali pada dunia ini. Entah apapun dan sebesar apapun pengorbanan nya. " ucapnya dengan penuh keyakinan.
Misika yang melihat nya pun tahu, ayahnya, Yigrette sudah melihat hasil awal dari apa yang telah ia korbankan dan perjuangkan dimasa lalu. Sebuah pengorbanan yang begitu besar, namun dengan hasil yang lebih baik jika berhasil.
" Ayah, tiga pilar telah bersinar. Mereka telah berhasil menempuh setengah jalan menuju tujuan akhir mereka. " ucap Misika mengalihkan pembicaraan mereka.
" ..Iya." dan Yigrette pun menimpalinya.
" Meski begitu, tiga pilar terakhir adalah tempat yang sulit. Apa mereka bisa menemukan jalan untuk melewatinya?. " Misika tahu tempat apa yang akan mereka tuju, dan itulah yang ia khawatir kan.
" Berhasil atau tidak, mereka sendiri yang akan menentukannya. Kita hanya bisa mendoakan mereka dari sini. Karena cara terbaik utk meramalkan masa depan, ialah dgn cara menciptakannya sendiri. " sahut Yigrette.