Quennevia

Quennevia
Dia yang terpenjara



[Season 2]


Langkah ke 41 Ethan, dia mulai merasakan yang namanya 'hambatan' yang menghalangi langkah nya. Jika orang lain melihatnya, mungkin tidak ada apa-apa disana. Namun sebagai orang yang merasakannya secara langsung, Ethan bisa tahu bagaimana kondisi nya.


Brukk...


" Khukk.. Ukh.." Bahkan tanpa ia sadari lututnya jatuh diatas tangga, sementara lehernya terasa seperti dicekik. " Aku tidak bisa bernafas...!!"


Ethan tidak bisa berkata-kata dengan itu, padahal dahulu... ini adalah tangga yang biasanya ia lewati untuk naik tapi sekarang ini benar-benar asing.


Meski begitu, tidak ada alasan untuk mundur. Satu-satunya hal yang bisa dan harus ia lakukan, hanyalah melangkah maju kedepan sana.


Ia mulai mengalirkan kekuatannya secara berkala, dan itu berhasil mengimbangi tekanan yang muncul secara perlahan. Hingga ia bisa kembali berdiri dan melangkahi anak tangga yang membentang didepannya.


Disaat yang sama dengan itu, masih ditempat yang sama. Felice dan Violetine masih dalam pertarungan mereka...


Trangg!!


Itu begitu intens dan juga sengit, tidak ada celah yang ditunjukan oleh kedua orang yang sedang beradu senjata itu. Akselerasi, Akurasi dan kemampuan mereka seimbang satu sama lain, namun tidak ada satupun diantara mereka yang berniat untuk melangkah mundur.


" Kau punya kemampuan yang baik, nak. Tapi sepertinya kau tidak tahu harus melakukan apa dengan itu." Felice menatap Violetine dengan sepasang mata yang tenang.


Tidak ada penindasan atau rasa kasihan, itu adalah ciri khas dari rasa hormat kepada mereka yang terlahir sebagai pejuang di Foldes.


Dan Felice.. adalah Kaisar dengan julukan Raja Kesatria yang terpisah dari gelar resminya sebagai penguasa. Dia adalah master pedang paling kuat dibenua. Bahkan menjadi satu-satunya orang yang berani menghadapi amukan naga api yang datang ke negaranya.


Dan kekuatan nya itu juga telah diakui oleh sang naga sendiri.


Meski begitu, Violetine tetaplah anak yang tumbuh dimedan perang dan telah mencoba semua pertarungan berbahaya yang ada.


" Aku hanya punya satu tujuan...." Untuk itulah ia berdiri disama dan mengangkat senjatanya sekarang, " ...Itu adalah untuk kembali kepada penciptaku."


Ketika mengatakan itu, Violetine mengayunkan kembali tombaknya. Memotong udara dan mengirimkan tebasan energi yang cukup kuat kepada Felice. Itu kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan sebuah benteng pertahanan.


Dan Felice telah mengulurkan pedangnya didepan sana... " Jadi... apa kau tidak mengerti dengan apa yang penciptamu inginkan?" ia pun juga menebas.


Dua energi itu bergerak berlawanan, dan saling menghantam satu sama lain. Kedua nya memiliki kekuatan yang seimbang, namun sesuatu yang tidak terduga...


Kalau ternyata kekuatan Violetine didorong mundur oleh kekuatan yang dimiliki Felice.


Serangan Violetine menghilang, begitu juga milik Felice. Dan dalam waktu sekejap, Felice telah berada didepan wajahnya.. mangangkat tinggi-tinggi pedang ditangannya. Dan mengayunkan pedang itu turun kearahnya.


Tidak ada waktu untuk menghindar, jadi yang bisa dilakukan oleh Violetine hanyalah bertahan.


Trang..!!


" Ukkhh...!"


Kiikk..kiiik..


Dua senjata yang saling bertubrukan itu menghasilkan suara nyaring ditelinga. Violetine telah bertahan sekuat yang ia bisa, agar pedang itu tidak mengenainya. Namun bahkan dengan semua kekuatannya... ia masih terdesak...


Sementara Felice masih memiliki ekspresi yang begitu tenang diwajahnya..


Apakah itu karena pedang milik dewa?


" ....Hraa!" Felice benar-benar mendorongnya muncur.


Ia menambahkan kekuatannya dalam adu kekuatan itu, dan kekuatan yang dikerahkannya menciptakan ledakan yang cukup besar ditempat itu.


Duarrr...


****


- Didunia tengah saat ini.



Sebuah tempat dimana tidak ada apapun yang bisa bertahan hidup disana, tidak satupun.


Tap...


" Woah... Tempat ini benar-benar memiliki aura kematian yang pekat." Seriana berjalan dipinggiran tebing menuju ke bawah lembah sambil memperhatikan sekitar.


Ada beberapa sosok putih seperti kabut yang terbang melewati dan menatap mereka kelihatannya penasaran.


" Mereka jiwa-jiwa yang terperangkap disini." perhatian Seriana teralihkan setelah mendengar itu, teralihkan kepada Seretia yang memimpin didepan jalannya saat ini. " Perhatikan baik-baik langkahmu, nak. Atau mereka akan menarikmu jatuh ke jurang kematian dan kau akan menjadi bagian dari mereka. Terjebak dalam kematian kekal, dimana kau tidak hidup juga tidak bisa mati." dia menjelaskan nya dengan begitu santai dan tenang.


" Apakah mereka adalah jiwa-jiwa yang terperangkap sejak perang besar itu??" dia pun kemudian menanyakan hal itu.


" Iya, seperti yang kau katakan." sahut Seretia kemudian, dan ia pun kemudian menoleh kearah Seriana dan tersenyum. " Karena ini adalah tempat dimana perang itu terjadi." lanjutnya.


Tentu saja, tidak ada yang akan meragukan itu. Karena itulah tempat ini disegal, agar jiwa-jiwa jahat yang terjebak disini tidak bisa mengganggu dunia luar.


" Jadi... Untuk alasan apa kita turun ke lembah ini? Ini sudah 30 menit sejak kita turun." tanya Seriana pula.


" Hahaha..." sayangnya itu dibalas tawa aneh oleh Seretia.


" Leluhur?"


" Ini sudah lebih dari 3 bulan sejak kita turun, Seriana."


" Apa..?"


Itu sebuah pernyataan yang benar-benar mengejutkan, lebih dari apapun... Seriana yakin dia baru berjalan selama 30 menit. Jadi bagaimana bisa itu sudah berlalu selama 3 bulan labih?


Jika 30 menit sama dengan 3 bulan, itu artinya setiap 10 menit mereka melangkahkan kaki ditempat itu, maka itu sudah berlalu satu bulan. Itu tidak mungkin terjadi kecuali...


" Apa disini ada ruang paralel? Mungkin seperti ruang tambahan yang tidak terjangkau?"


" Seperti yang kau katakan, ruang memang sangat misterius. Ada banyak hal didunia ini, yang belum benar-benar kita ketahui seutuhnya." Seretia membenarkan hal itu, saat kemudian ia akhirnya menghentikan langkah kakinya ketika mereka tiba didasar lembah yang begitu gelap dan dalam itu.


Ia menengadahkan kepalanya menatap ke dalam sebuah gua yang gelap dan dingin, besar gua itu hanya sekitar 9 sampai 10 meter saja. Dan itu dihalangi oleh jeruji-jeruji yang memiliki ukiran huruf kuno yang belum terjamah.


Seretia melebarkan senyuman nya menatap hal itu, " Dan disinilah kita... dihadapan salah satu rahasia yang disembunyikan oleh dewa yang paling besar." ucapnya kemudian.


Tak berapa lama dari kata-kata yang dikeluarkan Seretia itu, bumi kemudian bergoncang. Dan aura yang bagitu kuat menyeruap keluar dari gua itu bagaikan terpaan ombak. Seriana terkejut dengan hal itu. Dia bisa merasakan tubuhnya gemetar dibawah tekanan yang muncul disana.


Terlebih ketika sebuah mata besar terbuka dibalik jeruji itu.


Ggrrrr...


Geraman mengerikan terdengar menggema ditempat itu, dan Seriana yang ditimpa oleh ketakutan pun jatuh berlutut diatas tanah.


" Apa-apaan... perasaan ini..."


Seriana tidak bisa memahami apa yang ia rasakan sendiri, bahkan ketika ia berhadapan dengan Misika sang penguasa hutan dan putri dari dewa Beast dia tidak merasa seperti ini. Kekuatan yang dipancarkan makhluk yang ada dibalik jeruji itu bahkan mengalahkan kekuatan dari Putri Empat Dunia yang ia pernah rasakan.


Dia adalah... keputusasaan dunia.


" Lama tidak bertemu denganmu... Malapetaka paling kuno." Seretia yang memulai percakapan disana.


Seriana yang mendengar itu pun juga mengalihkan perhatian nya kepada leluhurnya, dia juga berlutut seperti nya. Tapi berbeda dengannya yang jatuh karena rasa takut, Seretia melakukan nya karena rasa hormat.


Mata besar itu menatapnya mereka, [ 'Kau kembali lagi... Anak manusia..'] dan suara yang menimpali Seretia pun terdengar bergema dari dalam sana.


" Benar, saya datang untuk menyelesaikan perjanjian kita dahulu." jawab Seretia kemudian.


Seretia mengeluarkan sesuatu yang dibawanya kesana, sebuah botol dengan cairan merah didalamnya, seikat rambut berwarna emas dan... sebotol air yang bersinar kebiruan. Itu mungkin benda-benda biasa dan tidak berharga bagi orang lain, namun bagi beberapa orang... itu adalah hal yang jauh lebih berharga daripada sebuah harta harun.


Botol dengan warna merah itu adalah darah milik Quennevia, begitu pula dengan rambut emasnya. Sementara botol berwarna kebiruan, adalah air suci yang berasal dari world borders. Air yang bahkan lebih berguna daripada air kehidupan, karena air ini memiliki kekuatan dewa yang cukup murni didalamnya.


" ....Sesuai keinginan anda, saya membawakan apa yang anda perintahkan." ucap Seretia kemudian.


Mata besar itu pelahan menyipit, dia mungkin senang dengan benda-benda yang telah dibawakan Seretia kepadanya.


[ 'Kau melakukannya lebih dari yang aku harapkan. Kerja bagus'.] dia kedengarannya benar-benar puas dengan hal itu. [ 'Baiklah... Mendekatlah, masukan benda-benda itu ke dalam jeruji ini'.] lanjutnya kemudian.


Seretia yang mendengar itu pun membawa benda-benda itu ditangannya, dan bangkit berdiri. Ia berjalan perlahan kearah jeruji itu. Semakin dekat dengan pilar yang mengurung makhluk didalam sana, Seretia juga semakin jelas bisa merasakan kekuatan yang besar dari pilar itu.


Itu seperti... seluruh dunia berusaha menahan makhluk itu didalam sana selamanya.


Seretia tepat didepan jeruji itu sekarang, dia bisa masuk dengan tubuhnya yang kecil dibandingkan dengan jeruji itu. Tapi dia bisa merasakan penghalang disekitarnya, jadi ia berhenti disana. Ia pun kemudian menyimpan semua benda yang ada ditangannya itu, tapi diantara jeruji-jeruji itu. Dan energi hitam menjadi pengganti nya untuk memberikan semua benda itu kepada dia yang ada didalam.


[ 'Kerja bagus..'.] Makhluk itu benar-benar puas dengan apa yang ia dapatkan, tapi tidak berhenti sampai disana. [ 'Ambilah ini, hadiah dariku'.] ucapnya.


Sesuatu muncul diatas udara yang tipis, itu gumpalan energi yang terlihat murni. Perlahan memadat, dan berubah menjadi sebuah kristal berwarna hijau gelap. Kristal itu pun perlahan turun kearah Seretia yang mengulurkan tangannya kearahnya.


" Benda apa ini..??" tanya Seretia kepada makhluk itu.


[ 'Itu adalah inti, dia biasa memberimu kekuatan yang besar. Sayangnya kau tidak akan bisa memakainya, karena kau telah memiliki kemampuan Necromancer. Kekuatan dari kristal itu memiliki prinsip yang hampir mirip, dia akan menginfeksi manusia dan menjadi nya mayat hidup. Tapi kau bisa memberikan itu kepada cucumu dibelakang sana, atau cicit laki-lakimu diluar sana. Terserah siapapun'.] jelasnya kemudian.


Seretia yang mendengar itu tersenyum lebar, dia berpikir dia tahu siapa yang cocok dengan kristal itu. " Terima kasih, aku pasti akan menggunakannya dengan baik. Hehe.."