
Setelah hari yang melelahkan itu, malamnya Quennevia hanya bersantai di kamarnya sambil menatap Yue yang sedang makan. Memang menyenangkan sama seperti yang Misika katakan, apalagi jika ia bisa bersama dengan mereka.
" Hei, Yue. Apa kau berpikir kalau di sini sangat menyenangkan. " ucap Quennevia.
" Tentu saja, master. Tempat ini benar-benar surga bagi kami para spirit. " sahut Yue.
" Hehe... Rasanya jadi tidak mau pergi ke akademi. " ucap Quennevia sambil mengelus kepala Yue, " Tapi aku ingin bertemu dengan si bodoh itu lagi. " gumam Quennevia pula, sambil menggenggam kalung yang sekarang ia kenakan.
Sekarang ia tidak lagi mengunakan kalung yang diberikan Misika, ia meninggalkan nya di pohon dekat danau tempat tubuh ibunya berada. Dengan begitu Misika juga jadi bisa pergi ke manapun yang ia inginkan karena tubuh dan tempat jiwanya ada di tempat yang sama.
Jadi ia menggantinya dengan kalung yang diberikan Ethan padanya, kantuk pun perlahan-lahan mulai menghampiri nya, dia pun tidur di sana. Yue yang melihat nya tertidur pun menarik selimut untuk menyelimuti nya, dan ia pun keluar dari sana untuk membiarkan Quennevia tidur dengan tenang.
**
Paginya, setelah Quennevia bangun dan bersiap ia pun langsung berlari ke hutan, dia kali ini akan belajar tentang pengendalian tumbuhan bersama dengan Mice. Dan di hutan itu pula, Mice sudah menunggu nya.
" Paman Mice. " panggil Quennevia sambil melambaikan tengahnya kearah Mice.
" Ah, Queen kecil, kau nampak bersemangat sekali. " ucap Mice pula.
" Aku ingin cepat belajar. " sahut Quennevia dengan antusias.
" Haha... Itu bagus, kalau begitu kau harus memahami tumbuhan itu sendiri. " ucap Mice pula.
" Memahami tumbuhan??. " ucap Quennevia bingung.
Apa memahami yang dibilang Mice itu seperti memahami struktur dan cara hidup nya, atau apa??. pikir Quennevia.
" Benar. Kau harus bisa mempelajari segalanya tentang tumbuhan, keinginan nya, juga bersahabat dengan nya. Dengan begitu kau bisa mengendalikan nya nya secara leluasa, juga tidak akan ada penolakan. " jelas Mice, sambil menggerakkan tangannya.
Dan saat itu ada tanaman yang menghampiri nya dan memberikan sebuah apel padanya, Quennevia terkagum-kagum melihat nya, hanya dgn menggerakkan tangan ia bisa memerintah tanaman seperti itu.
" Kau mengerti kan, Queen kecil. Jika kau tidak bersahabat dengan alam, maka saat kau menggunakan kekuatan mereka, mereka bisa saja balik menyerang mu. " ucap Mice lagi, ia memberikan apel itu kepada Quennevia.
Quennevia menerima apel itu dan memakannya dengan senang hati, " Aku mengerti, tapi aku juga penasaran. " sahut Quennevia.
" Tentang apa??. " tanya Mice.
" Bukankah paman Mice itu naga air, lalu kenapa tidak mengajari ku tentang air. Iyah, meski aku juga sangat senang karena paman Mice mengajariku tantang pengendalian tanaman dan bibi Aqua yang mengajari ku tentang air. " ucap Quennevia.
" Aku juga bisa mengajari tentang air jika kau mau, tidak akan ada bedanya kecuali teknik yang di gunakan. Tapi yang terpenting dari semua hal adalah pengendalian diri. " sahut Mice.
" Oh, aku tahu itu. Ibu memberitahuku sebelum mulai berlatih, ibu bilang pengendalian diri berpengaruh besar dalam memahami semua teknik yang ada, juga untuk mengendalikan kekuatan yang dimiliki. " ucap Quennevia.
Quennevia yakin ia tidak di ajari tentang itu, tapi ia bisa memahami semua yang diajari sejauh ini. Apa dia berbakat atau memang pengendalian dirinya sangat bagus.
" Iya, pengendalian diri mu sudah bagus. Bahkan tanpa diajari pun kau bisa melakukan nya dengan sangat baik. " ucap Mice.
" Kalau begitu bagaimana aku bisa memahami tentang tumbuhan??. " tanya Quennevia pula.
Mice pun menunjuk sebuah pohon willow di depan nya, " Peluk itu. " ucapnya sambil tersenyum cerah.
" Hahh??. " ucap Quennevia pula bingung, seperti nya perhatian nya dari awal hanya lari, berenang, terbang dan sekarang memeluk pohon. " Anu.... Maksud paman aku harus memeluk pohon itu??. " tanya Quennevia memastikan.
" Iya. " jawab Mice.
Quennevia benar-benar bingung dgn pelatihan nya saat ini, tapi ekspresi Mice nya itu. " Ukhh.... Senyuman nya benar-benar menyilaukan. " batin Quennevia.
Akhirnya mau tidak mau Quennevia pun memeluk pohon itu, dan memang rasanya ada yang sedikit berbeda saat memeluk pohon itu.
" Nah, sekarang tutup matamu. " ucap Mice pula.
" Iya..?? " sahut Quennevia kembali bingung.
Quennevia pun akhirnya menutup matanya, dan ia merasa seolah-olah kalau pohon itu bicara padanya. Ia juga merasakan perasaan yg hangat dan sangat menyenangkan, rasanya seperti berasa di pelukan ibunya. Daun-daun pohon willow itu juga bergerak mengelilingi nya di sana, seperti balas memeluknya, Quennevia merasakan perasaan senang yang tidak bisa ia bayangkan dari mana asalnya.
*****
Setelah ia selesai berlatih dengan Mice, ia tidak langsung beristirahat atau bermain seperti biasanya, tapi kali ini Quennevia langsung pergi menemui Freea.
" Bibi Freea, Bibi Freea. " panggil Quennevia, namun Quennevia tidak segera muncul.
" Bibi Freea!. " panggil nya lagi lebih keras.
" Ada apa, Queen kecil??. " tanya Freea pula.
Quennevia mengalihkan perhatian nya kepada seseorang yang duduk di atas dahan pohon sana, iya Freea.
" Bibi Freea, aku ingin belajar sekarang ><.. " ucap Quennevia.
" Kau yakin?? Bukankah harinya sudah dibagi??. " tanya Freea.
" Aku ingin belajar sekarang!. " desak Quennevia.
" Haha... baiklah, baiklah. Jika kau ingin belajar sekarang itu sesuatu yang bagus. " sahut Freea pula.
Akhirnya Quennevia pun bisa belajar dengan nya lebih awal, tidak akan ada masalah dengan hal itu, ia hanya mempercepat belajar nya saja. Lagipula tidak ada yang melarang nya melakukan hal itu.
Freea mengajari nya berbagai hal tentang cahaya, dan sejauh ini dia lah yang paling normal mengajarinya tentang sesuatu. Masih di hari yang sama, setelah selesai belajar dengan Freea Quennevia langsung pergi lagi mencari Everon.
" Hahh?? Kau ingin belajar lebih awal??. " ucap Everon mendengar itu, " Memangnya kenapa kau ingin belajar lebih awal?? " tanyanya pula.
" Memangnya tidak boleh??. " tanya balik Quennevia.
" Iya tidak juga sih, hanya saja tidak biasa sekali kau mau belajar banyak sekaligus. Biasanya kan santai-santai mulu. " sahut Everon sambil mengangkat bahunya.
" Jadi kau ingin mengajari ku tidak, jika tidak aku akan pergi. " ucap Quennevia kesal.
" Siapa bilang aku tidak mau, kalau begitu praktekan teknik tebasan sayap naga yang pernah ku perlihatkan itu. " ucap Everon pula.
Mendengar itu membuat Quennevia jadi merasa ragu, dia tidak akan bisa mempraktekkan nya tanpa sayap naga. Ia juga ingin mengatakan nya tapi ia tidak mau Everon malah menceramahi nya, tapi Everon yang melihat nya diam saja juga terlihat bingung dan pasti akan meminta penjelasan.
" A... Anu... Itu.. " ucap Quennevia ragu, sambil memainkan jarinya. " Aku tidak bisa. " ucap Quennevia pula pelan.
" Hahh?? Kenapa tidak bisa?? Bukankah aku sudah menunjukkan caranya, apa kau yang tidak mempelajari nya??. " ucap Everon pula menatap Quennevia penuh selidik.
" Bu.. Bukannya aku tidak mempelajari nya, tapi sayapku yang tiba-tiba berubah. Bukan salahku jika sayapku tiba-tiba bukan lagi sayap naga. " jelas Quennevia dengar panik.
" Berubah, berubah bagaimana??. " tanya Everon lagi.
" Itu... sayapku berubah jadi bukan sayap naga lagi, dan jumlahnya... jadi empat. " ucap Quennevia sambil membuang wajahnya.
" Empat sayap?!!. " teriak Everon pula saking terkejut nya, dan Quennevia hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Everon terlihat lebih serius setelah mendengar nya, dia nampak gelisah akan sesuatu tapi Quennevia tidak bisa menebaknya. Dan jika hal itu bisa membuat Everon jadi gelisah seperti itu, sudah pasti bukan hal yang baik.
" Hmm... Seperti nya aku harus membicarakan nya dengan Misika kembali, jangan sampai wanita pembawa bencana itu bangkit. Perubahan Quennevia itu adalah sebuah tanda. " batin Everon sambil menatap Quennevia dengan serius, sedangkan Quennevia hanya kemiringan Kepala nya karena bingung.
" Haahh.... Ya, mau bagaimana lagi. Kalau begitu aku akan menunjukkan cara lainnya yang bisa kau gunakan. " ucap Everon.
" ... Iya. " sahut Quennevia kembali bersemangat.