
Tempat kepala Akademi berada.
Beberapa hari kemudian. Quennevia memutuskan untuk datang ke sana saat merasa ada yang aneh dengan dirinya sejak kemunculan Beatrice disekitar nya. Ia merasa sangat pusing seolah ditaruh didalam toples yang berputar. Dan rasa sakit yang terasa seperti menusuk-nusuk tubuhnya, itu sangat menyiksa bahkan ketika ia tidur.
Quennevia terus merasa ada sebuah kekuatan yang mencoba mengambil alih dirinya, ia meyakini kalau itu adalah Seretia. Yang membuatnya yakin adalah dia yang selama ini ia diam saja, Quennevia terus saja khawatir dengan hal itu hingga kadang terlalu kelebihan.
" Kakek Lin, aku menerima apa yang kakek tawaran waktu itu. " ucap Quennevia dengan serius.
" Hoo... Jadi sekarang kau memilih untuk tinggal di kamar mu sendiri??. " tanya Kepala Akademi.
" Iya, tempat di menara sebelah barat itu bisa menahan kekuatan yang ku keluarkan bukan?. " tanya Quennevia.
" Tentu saja, kapan kau akan ke sana??. " tanya Kepala Akademi lagi.
" Sekarang juga. " jawab Quennevia dengan sangat yakin.
******
Saat ini Niu tengah kembali ke asramanya, dia tidak menemukan dimana Quennevia berada, jadi kesimpulan nya dia mungkin ada di kamar Asrama. Dan saat ia membuka kamar Asrama itu dan benar saja, Quennevia ada di sana namun.... Dia terlihat tengah membereskan barang-barang nya.
" Nevia, kau mau kemana??. " tanya Niu.
" Aku akan pindah ke ruang khusus, di menara sebelah barat. " sahut Quennevia yang sudah membereskan barang-barang nya, ia pun berjalan handak pergi dari sana.
" Ta.. Tapi kenapa??. " tanya Niu pula yang mengikuti nya.
" Kekuatan Seretia mulai merembes keluar dari segel, aku harus mencoba menstabilkan segel nya lagi dengan kekuatan ku. " jawab Quennevia dengan santai.
" Ta.. Tapi apakah sampai harus pindah kamar seperti ini??. " tanya Niu pula, dia tidak rela kalau Quennevia pergi sendirian ke ruang isolasi seperti itu.
Quennevia pun menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Niu, " Niu, aku hanya pindah kamar, bukan pindah Akademi atau pindah dunia. Kau tidak perlu cemas, kita masih bisa bertemu lagi. " ucap Quennevia meyakinkan.
" Ba.. Baiklah, kalau begitu nanti nya jangan lupa berkumpul dengan kami ya. " ucap Niu pula.
Quennevia hanya tersenyum dan mengangguk kepada nya, lalu ia pun kembali melangkah kan kakinya pergi dari sana. Sementara Niu hanya memandangi nya dari tempat nya berdiri.
**
Saat sampai di menara sebelah barat, tempatnya akan tinggal seterusnya, disana hanya ada satu pintu untuk masuk ke dalam sana, yang mana seluruh bagaimana atas ruangan itu akan jadi kamar miliknya seorang. Dia tidak perlu mengkhawatirkan kalau ada orang yang terluka saat ia menstabilkan kekuatan nya lagi.
Quennevia pun menggunakan kunci yang diberikan oleh kepala Akademi padanya untuk membuka pintu menara itu, dan saat terbuka tempat di dalam sana lebih mirip kamar seorang putri dari pada ruang isolasi, bisa ia tebak siapa yang menghias kamar nya, siapa lagi kalau bukan tetua kara.
" Hm... Lumayan. " gumam Quennevia, ia cukup menyukainya. Namun... disaat yang sama ada yang terasa sangat berbeda.
Kesunyian... kesendirian... ekspresi Quennevia berubah kosong merasakan hal itu. Padahal ia yakin ia telah mengubur perasaan itu, tapi entah kenapa sekarang semuanya kembali seolah tidak ingin melepaskannya. Pada akhirnya... ia merasa kehidupannya yang dulu kembali menghampiri nya dimasa-masa tersulitnya.
" Haa... sudahlah." gumannya pelan.
Quennevia pun kemudian masuk ke dalam sana dan menutup pintunya rapat-rapat.
Sementara itu di kamar Asrama perempuan, Meliyana dan Yuki yang baru saja datang ke sana sangat terkejut. Karena disuguhkan oleh penampakan Niu yang murung, dia bagaikan Zombi yang tidak punya niatan hidup sama sekali.
" Woaa.... Ada apa dengan mu??. " tanya Meliyana yang terkejut.
" Hiks... Quennevia.. Dia pindah. " sahut Niu.
" Apa?!!. " teriak Meliyana dan Yuki serempak.
Mereka sangat terkejut mendengar hal itu, kenapa dia tiba-tiba pindah begitu saja, apa karena mereka sudah menyinggung nya. Pikiran-pikiran buruk tentang mereka menyinggung Quennevia pun muncul satu persatu, mereka jadi nampak sangat tertekan karena hal itu.
" Hiks... Aku tidak tahu, tapi dia hanya bilang kalau kekuatan Seretia merembes keluar karena segel nya melemah. Dan dia memutuskan untuk tinggal di menara sebelah barat, huaaa.... " ucap Niu pula sambil menangis.
" Tidak!! Kenapa pindah, apalagi sampai ke menara barat. Itu kan tempat isolasi!!. " teriak Meliyana yang juga tidak terima.
" Huee.... Bagaimana nasib kelompok kita nantinya?!. " sahut Niu pula sambil memeluk Meliyana, begitu pun juga Meliyana sambil menangis.
Sedangkan Yuki masih gelisah dengan alasan yang diberikan Quennevia itu, " Tidak, dia tidak mungkin pindah hanya karena hal seperti itu. Pasti ada alasan lain. " gumam Yuki sambil memikirkan nya dengan serius.
- Di menara barat.
Quennevia masih saja memikirkan masalah Ethan menghindari nya, ia diam-diam memutuskan untuk mengirim surat kepada Ning dan menanyakan hal itu padanya, bagaimana pun Ning adalah orang yang membesarkan Ethan selama ini, dia pasti tahu sesuatu.
- Beberapa hari kemudian. Malam hari, di menara barat.
Malam itu Quennevia hanya diam sambil menatap satu-satunya jendela yang ada di sana, malam ini hujan deras turun membuat suhu di tempat itu dingin. Quennevia sudah menyalakan perapian untuk menghangatkan ruangan, kesunyian yang ada di tempat itu membuatnya bisa mendengar suara hujan di luar sana dengan sangat jelas.
Kesunyian yang selalu ia inginkan, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian disaat bersamaan. Dulu ia sering mendengarkan semua suara-suara hewan dan tumbuhan di hutan tempat ibunya tinggal, itu membuatnya merasa sangat tenang, apalagi para spirit Guardian dan juga ibunya selalu menemani nya.
Lamunan nya buyar ketika mendengar seseorang mengetuk pintu menara itu.
Tok.. Tok.. Tok..
" Masuklah. " sahut Quennevia saat ia mendengar seseorang mengetuk itu.
Cekklekk..... Pintu pun terbuka.
" Nona, ada surat untuk anda dari Foldes. " ucap seseorang yang baru saja masuk itu.
" Oh, benarkah. Berikan padaku. " jawab Quennevia.
Orang itu pun menyerah kan surat itu pada Quennevia, dan akhirnya pamit untuk kembali ke tugas nya. Sementara Quennevia membaca surat balasan dari Ning itu.
"~... Kepada Putri Quennevia yang terhormat.
Apa anda yakin kalau itu adalah seorang perempuan bernama Beatrice??. Jika benar, saya tidak percaya kalau ia masih hidup... ~
" Masih hidup?? Apa itu artinya dia sudah mati??. " batin Quennevia saat membaca surat itu, ia pun kembali meneruskan membaca surat itu.
~... Seharusnya perempuan itu sudah mati sejak pengeran masih berumur 8 tahun, bisa dibilang hubungan nya dengan pangeran itu seperti.... Orang yang agak spesial bagi nya~
Deg....
" Orang... Spesial ??. " gumam Quennevia pula.
~... Saya yakin kalau perempuan itu harusnya sudah mati, saya sendiri yang membakar jasad nya dan menaburkan abunya di sungai, sesuai perintah Yang Mulia Ratu dulu.
Saya sarankan Anda dan yang lainnya untuk berhati-hati dan menjauhi nya, bisa saja dia mempunyai niat tersembunyi. Bahkan bisa saja dia bukan orang yang ada di ingatan pengeran... ~
Begitulah apa yang di ucapan oleh Ning di dalam surat itu, dia tidak mungkin berbohong dan surat itu tidak mungkin dipalsukan. Itu karena tidak ada yang tahu kalau mereka terhubung dan saling mengirimi surat untuk informasi satu sama lain.
Bahkan Ning maupun Quennevia menggunakan sihir di dalam surat itu agar isinya tidak bisa dibaca oleh orang lain selain dirinya, jadi sekarang siapa yang harus ia percayai.
Tes... Tes...
Air mata Quennevia jatuh, " Menjauhi nya, Bagaimana bisa, Ning?? Dia sangat bahagia bertemu dengan orang spesial nya itu, bahkan mungkin dia sudah melupakan kalau aku yang selalu ada untuk nya. " ucap Quennevia dengan air mata yang terus jatuh dari matanya
Quennevia pun menghapus air mata yang membasahi pipinya itu, ia pun pergi kearah perapian dan melemparkan surat itu ke dalam nya. Perlahan-lahan surat yang ia dapat itu hancur jadi abu dibakar api, entah apapun yang dibilang oleh Ning ataupun Ethan sendiri, ia tidak meyakini kedua nya.
Gadis yang mereka selamatkan itu aneh dimata Quennevia, meskipun dia bersikap ramah kepada nya, tapi Quennevia dapat melihat... Kalau tubuh wanita itu kosong. Tidak seperti orang lain yang selalu diselimuti oleh cahaya berwarna-warni yang bisa dilihat oleh Quennevia, Beatrice itu dia bagaikan sebuah cengkang tak berisi.
" Seperti nya menang harus mewaspadai nya. " gumam Quennevia pula.