Quennevia

Quennevia
Misika



Setelah pelelangan berakhir, semua orang keluar dari tempat itu dan kembali ke keseharian nya. Beberapa diantaranya juga banyak yang kecewa karena untuk mendapatkan barang apapun dari pelelangan, alasan nya sudah jelas karena Quennevia memborong semuanya.


Bahkan untuk pil penyatu yang ia inginkan, ia langsung menawarnya dengan harga tinggi di awal. Meski sebelumnya ada juga beberapa yang menawar lebih tinggi, tapi pada akhirnya pil itu jadi miliknya berkat bantuan Ethan dan Lecht yang menambah jumlah uang penawaran nya.


" Ahahaha... Aku mendapatkan banyak barang bagus di sini. " ucap Quennevia dengan girang.


" Ya, kuharap kau puas sekarang. Kau sudah membelanjakan uang dengan jumlah setengah tahun uang saku ku. " ucap Ethan.


" Serius?? Memangnya putra mahkota bisa diatur uang sakunya??. " tanya Quennevia pula.


" Aku hanya ingin menghemat uang saja. " jawab Ethan, dengan wajah yang terlihat bercandanya.


Iya mendengar nya saja sudah aneh, masa putra mahkota Kekaisaran diatur oleh orang lain seperti itu. Eh... Tunggu uang sakunya selama setengah tahun?? Lalu memang uang sakunya biasanya berapa?.


Memang ya, orang seperti Ethan itu tidak bisa ditebak bagaimana kehidupan nya, tapi sudah pasti enak, hahaha...


Ekhm... Oke, balik lagi ke cerita nya. Setelah mereka berpamitan kepada Niu dan Oscar, mereka pun kembali ke kediaman tanpa melakukan hal lain lagi.


******


- Di kediaman selir kedua.


Ia tengah dirundung oleh perasaan gelisah, ia takut kalau semua yang sudah ia lakukan selama ini akan terbongkar. Apa lagi Quennevia saat ini sudah melakukan langkah pertama nya, bahkan ia sampai benar-benar memanggil hakim Kekaisaran ke kediaman.


" Bagaimana ini?? Jika semuanya terbongkar habis aku. " gumaman-gumaman nya dengan penuh rasa gelisah.


Lalu perhatian nya teralihkan kepada pintu kamarnya yang diketuk.


Tok... Tok.... Tok...


Ceklek.....


Saat pintu itu terbuka, masuklah Arissa dari luar sana. Selir kedua yang sebelumnya sempet tegang karena pintu itu tiba-tiba diketuk pun menghela nafas lega, ternyata putri tercintanya lah yang mengetuk pintu itu.


" Ibu, kau baik-baik saja?? Aku membawakan makanan. " ucap Arissa, ia pun menaruh nampan yang ia bawa di meja disana.


" Tidak, ibu sama sekali tidak baik. Jika sampai Quennevia mengetahui segalanya kita bisa dalam masalah, Rissa. " sahut selir kedua.


Arissa hanya diam dengan wajah merasa agak bersalah, mau bagaimana pun juga dia adalah ibunya.


" Maaf ibu, aku sudah memberitahu semua kepada kakak. Kakak juga sudah berjanji tidak akan menghukum ibu dengan hal yang menyakitkan. " batin Arissa.


" Arissa, tolong bantu ibu. " ucap selir kedua yang membuyarkan lamunan nya, ketika tangannya menyentuh pundak Arissa.


" Apa??. " tanya Arissa.


" Arissa, ayo pergi dari sini bersama ibu. Kita bisa tidur ditempat lain tanpa gangguan lagi, ibu punya uang yang ibu kumpulkan selama ini, kita tidak akan kekurangan apapun lagi. " ucap selir kedua.


Arissa bingung apa yang harus ia lakukan, Quennevia bilang dia harus bertingkah biasa di depan para selir, tapi bagaimana dia bisa menolak ibunya sekarang.


" Ibu, aku... Aku tidak bisa. " ucap Arissa.


" Apa?? Kenapa?? Katakan pada ibu apa alasan nya?. " tanya selir kedua pula.


" Ibu tahukan kakak sudah mengurung kita, dia menempatkan penjaga di mana-mana, kita tidak akan bisa kabur dari sini. " dalih Arissa, ia harus berusaha meyakinkan ibunya kalau mereka tidak bisa pergi dari sana.


" Kau bisa menyembunyikan kita dengan kekuatan mu, kau bisa melakukan nya kan?!. " ucap selir kedua lagi.


Memang Arissa bisa melakukan nya, kekuatan elemen airnya bisa membuat mereka tidak terlihat untuk beberapa waktu. Arissa semakin gugup apalagi yang harus ia gunakan sebagai alasan, ibunya bisa saja curiga.


" A.. Apa ibu lupa dengan hewan spirit kakak, dia memasang penghalang di sekitar rumah ini. " dalihnya lagi.


" Benar juga, tapi kita tidak bisa tahu jika tidak mencoba. " sahut selir kedua.


" Pokoknya aku tidak mau, ibu jika kita ketahuan mereka malah akan semakin curiga. Aku tidak mau menyerahkan hidupku seperti itu saja, lebih baik kita diam saja, bukankah ibu hanya melakukan apa yang dikatakan selir kedua. " ucap Arissa sambil beranjak pergi dari sana sebelum ia malah tenpa sengaja membocorkan rahasia nya.


" Arissa... Arissa!. " panggil selir namun sama sekali tidak dihiraukan nya.


Arissa terus berjalan pergi dari saja, bahkan tidak menoleh kearah ibunya sama sekali. Ia benar-benar bingung harus berpihak pada siapa, tapi ia sudah terlanjur melakukan nya.


******


Malam harinya, di kamar Quennevia. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya, ia duduk di sisi ranjangnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Saat perhatian nya teralihkan kepada kalung nya yang ada di atas meja.


Ia sempat merendam kalung itu dengan sebuah cairan obat yang diberikan Everon padanya, tapi nampak nya sama sekali tidak ada perubahan selain air obat itu yang jadi makin sedikit dan berubah menjadi jernih.


Ia pun mengambil kalung itu, " Tidak ada yang berubah, apa aku melakukan nya dengan cara yang salah?? Everon bilang hanya perlu merendamnya. " ucap Quennevia sambil memperhatikan kalung itu dengan teliti.


Quennevia ingin sekali bertemu dengan ibunya, jika memang apa yang diucapkan Everon itu memang benar, jika tidak ia akan membuatnya menyesal mengatakan itu.


" Ibu, jika kau mendengar ku, atau jika kau memang ada di dalam sana. Aku harap bisa bertemu dengan mu lagi, aku sangat merindukan mu. " ucap Quennevia kepada kalung itu, kemudian ia pun tidur sambil menggenggam kalung itu di tangannya.


Saat Quennevia sudah terlelap, untuk sesaat itu kalung yang ada di genggaman nya berkilau lalu kemudian kembali seperti semula. Xi yang tidur di bawah pun menoleh kearah nya ketika kalung itu berkilau, dan kemudian ia kembali tidur tanpa bersuara sedikit pun.


**


Saat pagi tiba, cahaya matahari yang perlahan-lahan naik melewati kaca jendela kamar gadis kecil yang masih terlelap di alam mimpinya. Gadis itu kemudian perlahan-lahan membuka matanya, saat ia merasa ada tangan seseorang yang membelai kepala nya.


Saat Quennevia benar-benar sudah terjaga, ia kehabisan kata-kata tetkala melihat seseorang yang ada di sampingnya itu. Seorang wanita cantik berambut emas seperti dirinya, dengan mata merah muda yang cerah tersenyum dengan lembut kearah nya.


" I... Ibu. " ucap Quennevia tidak percaya, akhirnya ia benar-benar melihat ibunya di dunia ini.


Senyuman diwajah wanita itupun semakin lebar, " Selamat pagi, putriku. " ucap wanita didepannya itu dengan suara yang sangat harus.


Entah apa tapi air matanya mulai mengalir, rasa rindu yang besar di dalam hatinya, kini terbayar sudah.


" Ibu... " panggil Quennevia lagi sambil menangis, ia hendak menyentuh ibunya itu tapi tentu saja dirinya tidak bisa melakukan nya.


" Kau tidak bisa menyentuh ibu, sayang. Ini bukan tubuh fisik ibu. " ucap ibunya, Misika.


" Tapi ibu baru saja membelai kepala ku. " ucap Quennevia pula dengan kesal.


Sedangkan Misika hanya terkekeh, " Baiklah, baik. Kau bisa menyentuh ibu sekarang. " ucap Misika pula, sambil merentangkan tangannya.


Quennevia pun langsung memeluk nya, rasa rindu yang ada di hatinya menghilang, tapi disaat yang bersamaan dia juga kehilangan apa yang sama berharga nya seperti ibunya.


" Hiks... ibu.. Ayah, ayah dia... " ucap Quennevia menggantung.


" Ibu tahu sayang, ibu tahu. " sahut Misika dengan suara lirih.


Dia bisa melihat semua yang terjadi melalui kalung yang selalu terpasang di leher Quennevia itu, ia juga tidak menyangka kalau suami yang sangat ia cintai itu harus pergi sebelum ia bangkit kembali.


Quennevia pun melepaskan pelukan nya dan mengusap air mata nya yang membasahi pipi nya itu, kemudian ia menatap ibunya sambil tersenyum.


" Aku akan membalas mereka ibu, orang-orang yang membuat ibu jadi seperti sekarang, juga orang yang melakukan hal ini kepada ayah. Aku akan membalas mereka. " ucap Quennevia dengan percaya diri.


" Tentu sayang, tentu. " sahut Misika sambil tersenyum kepadannya. " Tapi sebelum itu kau harus ingat sayang, hanya kau yang bisa melihat ibu sekarang yang lainnya mungkin Everon juga Xi. " lanjut Misika lagi.


" Bagaimana dengan Yue??. " tanya Quennevia pula, saat ini tanpa sadar ia menunjukkan ekspresi imutnya, bahkan bisa dibilang dia nampak seperti anak kucing yang manja kepada ibunya.


" Iya, karena Yue itu makhluk yang berkaitan dengan alam kematian dan kebangkitan, atau alam roh. Dia sudah pasti bisa melihat ibu. " jawab Misika.


Iya, terkadang Yue memang selalu bertingkah aneh, jika Quennevia mengingatnya. Kadang ia terlihat seperti memandangi sesuatu tapi tidak ada apapun yang ia lihat di tempatnya menatap.


" Lalu bagaimana dengan tubuh ibu?? Dimana para spirit menyegel nya?? Everon bilang para spirit itu yang mengganti tubuh ibu waktu itu. " ucap Quennevia lagi.


" Tentu saja ada di rumah ibu, di jantung hutan. Para tetua spirit pula yang melindungi mereka. " sahut Misika.


" Tetua spirit itu siapa??. " tanya Quennevia pula.


" Mereka hewan spirit yang usianya sudah lebih dari seratus ribu tahun, mereka disebut tetua karena umur mereka yang menang sudah tua. Mereka bisa dibilang, Spirit Guardian." jawab Misika.


" Woah.. Aku juga ingin bertemu dengan mereka, mungkin aku bisa mendapatkan harta dari tempat mereka. Bisa berlatih dengan mereka juga seperti nya menyenangkan, aku juga ingin melihat tempat tinggal ibu. " ucap Quennevia dengan sangat girang.


Misika sendiri hanya tersenyum melihat nya begitu antusias, tapi disaat yang sama juga ia sangat sedih. Itu karena Quennevia tidak mengingat ingatan itu....