
Setelah cukup lama tebangun dari mimpi buruk itu, Quennevia sudah mulai tenang sekarang. Meskipun begitu semua hal masih membingungkan baginya, apalagi melihat mimpi yang ia rasa sangat nyata itu.
" Sebenarnya apa maksud mimpi itu, siapa sosok pria yang ku temui di tempat putih itu, lalu wanita di tempat gelap itu. Kemudian... apa artinya juga wanita yang dihukum mati itu, kenapa dia manggil paman Mice ayah??. " batin Quennevia.
Semua pikiran itu tak kunjung hilang dari benaknya, malahan semakin teringat dengan jelas. Quennevia meringkuk di atas tempat tidur nya itu sambil menutup telinganya, semua suara bising yang ia dengar sebelumnya pun masih terdengar seolah berada tepat di sekitar.
CTAARR....
Quennevia terperanjat ketika mendengar suara petir di luar sana, ia langsung duduk di kasur nya itu masih dengan perasaan yang sangat terkejut. Karena terlalu memikirkan mimpi nya itu, dia sampai tidak sadar jika hujan turun disertai dengan petir seperti itu.
Quennevia pun berjalan ke arah satu-satunya jendela di menara itu, ia menatap keluar sana yang mana hujannya benar-benar sangat deras. Padahal ia berharap malam bisa jadi lebih tenang, kenapa langit seolah mengekspresikan isi hatinya yang kacau itu ya.
" Rasanya... ini benar-benar menyebalkan_- " gumam Quennevia.
Ia hendak berjalan kembali ke kasurnya, namun sebelum itu perhatian nya malah lebih dulu tertuju kepada sebuah tempat yang lampunya masih terang. Yang Quennevia yakini itu adalah ruangan milik Ethan, ia melihat Ethan tengah bicara dengan seseorang dari jendela ruang itu dan jendela kamarnya.
Ethan terlihat marah dan bicara panjang lebar, dia bahkan menepis tangan seseorang yang mencoba menyentuhnya disana. Quennevia jadi penasaran dia sedang berdebat dengan siapa, dan kenapa dia sangat marah. Haruskah ia mengupingnya dengan telinga super tajam nya, tidak itu akan memberikan nya kesan buruk, namun sejak kapan ia peduli tentang itu.
Namun baru juga ia akan menguping diam-diam, ia malah melihat sesuatu yang membuat hatinya berdenyut sakit. Quennevia melihat Beatrice yang memeluk Ethan sambil menangis disana, jadi sedari tadi dia yang sedang bicara dengan Ethan, pake acara pelukan segala lagi.
Krrrttt....
" Wanita itu.... ingin rasanya aku cincang dia sekarang juga!. " batinnya sambil menggerakkan giginya.
Quennevia menggeram sangat marah, saat tiba-tiba ia tidak bisa melihat apapun lagi. Karena sesuatu menghalangi pandangan nya.
" Ap-Apa?? " ucapnya dengan sangat bingung.
Bukan, bukan karena ia hanya melihat kegelapan sekarang, namun karena ia tidak bisa melihat dengan adanya tangan seseorang yang menutupi matanya seperti itu. Padahal ia sudah mengunci pintu dan itu tidak bisa dibuka selain olehnya dan para tetua, lalu siapa orang dibelakang nya dan bagaimana ia bisa masuk tanpa terdeteksi sama sekali.
Sampai suara dingin orang itu yang selalu membuat Quennevia merinding terdengar, " Bagaimana... rasanya saat melihat kekasihmu berselingkuh di belakang mu??. " tanya orang itu.
Sementara itu Quennevia membatu di tempat nya, ia benar-benar tidak percaya jika orang yang ada dibelakang nya itu seperti yang ia pikirkan. Harusnya dia tidak akan pernah bisa masuk lagi ke Akademi tenpa diketahui oleh para penjaga maupun para guru dan tetua.
" Lo.. Lorenzo??. " ucap Quennevia agak bergetar. Iya, dialah yang datang.
Sedangkan Lorenzo yang mendengar Quennevia memanggil namanya itu hanya terkekeh, Quennevia yang baru tersadar dengan posisinya saat ini langsung berbalik dan mendorong Lorenzo. Kemudian ia pun menyambar pedang yang ia simpan di depan jendela yang tadi ia pandangi, sambil bersiap menariknya jika saja Lorenzo melakukan hal-hal aneh.
" Bagaimana kau bisa masuk ke sini??. " tanya Quennevia dingin.
" Haha.. Bagaimana aku bisa disini tanyakan saja kepada orang yang membuat segel di sini. " ucap Lorenzo dengan santai nya.
Quennevia hanya menyipitkan matanya mendengar itu, perhatiannya teralihkan kepada cermin besar yang sekarang jadi terbalik di sudut sana. Dibelakang cermin itu terdapat sebuah pola segel, jadi dia atau seseorang memasang nya disana, kenapa dia tidak sadar ya dan lagi Quennevia yakin kalau segel itu tidak ada di sana beberapa hari yang lalu.
" Lalu apa maksud mu datang kesini, kau sama sekali tidak diterima. " ucap Quennevia pula yang kembali menatap Lorenzo.
" Salahkah jika aku ingin bertemu dengan mu??. " tanya Lorenzo pula.
" Aku tidak pernah mau melihat wajah busukmu itu lagi seumur hidup ku. " jawab Quennevia dengan sangat kejam, jika menurut beberapa orang.
Sementara Lorenzo yang mendengar nya lagi-lagi terkekeh, " Apa kau tidak penasaran... dengan mimpi yang kau lihat itu??. " ucapnya yang membuat Quennevia tersentak.
Bagaimana dia bisa tahu mimpi itu?? Apakah itu artinya dia juga tahu makna mimpi tersebut?? Lalu siapa orang-orang yang ada di mimpi nya itu??.
Seperti itulah semua pertanyaan yang ada di kepala Quennevia saat mendengar ucapan Lorenzo, namun tidak ada satupun yang keluar dari mulut nya. Quennevia tidak bisa mempercayai laki-laki didepan nya itu begitu saja, karena tidak ada yang tahu apakah itu jebakan atau bukan. Quennevia hanya menghela nafasnya pelan, untuk meneguhkan kembali hatinya agar tidak tergoda bujukan laki-laki didepannya itu.
"Aku tidak membutuhkan mu untuk menafsirkan mimpiku itu. " ucap Quennevia dengan wajah datar lagi.
" Sayang sekali-.. " ucap Lorenzo yang terpotong...
" Hiya!!. " saat Quennevia tiba-tiba menebasnya dengan pedangnya itu.
Saat pedang itu mengenai tubuh nya itu, Lorenzo perlahan-lahan menghilang dari hadapan nya seperti buih.
" Ku sarankan kau... untuk berhati-hati dengan orang terdekat mu. " ucapnya terakhir kali sebelum benar-benar menghilang dari sana.
Baru setelah itu Quennevia melemparkan pedangnya kearah cermin tempat dimana segel ruang berada, pedang itu menancap tempat di tengah-tengah segel tersebut membuatnya tidak bisa digunakan lagi untuk kedepannya, dengan begitu Lorenzo pun tidak akan bisa datang ke kamar nya sesuka hatinya lagi.
Quennevia pun memanggil kembali pedang itu ke tangannya dengan kekuatan yang ia miliki, karena dia sudah diakui dia jadi bisa mengendalikan nya sesuka hati. Namun ada yang membuat Quennevia resah, ia benar-benar ingin tahu sejak kapan segel itu ada di sana.
Sudah berapa lama, apa kah itu artinya Lorenzo selalu diam-diam datang ke kamarnya ketika ia tidur, dia tidak melakukan apa-apa kepada nya kan. Itu semua yang ia pikiran saat ini, namun sesaat kemudian ia pun kembali menghela nafas pelan untuk menenangkan diri, terlalu panik akan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Disaat yang sama ia juga malah teringat kembali dengan perkataan Lorenzo sebelumnya..
" Ku sarankan kau... untuk berhari-hari dengan orang terdekat mu. "
Apa maksud dari perkataan nya itu, apakah itu artinya ada seorang pengkhianat diantara mereka semua yang ada di sana. Pantas saja mereka banyak mengalami kerugian dalam pergerakan beberapa minggu terakhir, Quennevia pun kembali menoleh ke arah jendela di dekatnya itu.
Ia terkejut saat baru sadar jika jendela itu kaca-kaca nya retak semua, seperti nya dia tadi terlalu marah saat melihat Beatrice memeluk Ethan sampai lupa mengontrol kekuatan nya. Untung saja Yue sedang ia suruh pergi bersama Haika, jika tidak dia pasti sudah pergi ke tempat Ethan dan menghajarnya untuk meluapkan emosi yang seharusnya adalah miliknya.
" Ah... tidak tahu lagi, lah. " ucapnya yang kemudian langsung melompat kembali ke tempat tidur dan membungkus dirinya dalam selimut.
Quennevia tidak mau pusing hanya karena kaca retak itu, belum lagi mimpi sebelumnya, ditambah masalah Beatrice dan Ethan, kemudian Lorenzo pula. Kepalanya seolah akan meledak memikirkan itu semua, lebih baik ia tidur saja dan pikirkan penyelesaian masalah selanjutnya besok pagi.