
[Season 2]
Matahari mulai terbenam, suasana hutan pun menjadi lebih gelap. Dan seperti yang dijanjikan oleh Thesia sebelumnya, mereka dibawa masuk ke dalam desa Elf dengan pengawalan dari mereka.
Dan seperti yang diduga, banyak yang menatap kearah mereka ketika berjalan masuk ke desa Elf. Kebanyakan menatap mereka sinis, sisanya hanya karena penasaran. Namun, baik Ethan ataupun teman-teman tidak mempedulikan hal itu. Sementara Mirion justru sibuk menenangkan Mira yang tetap tidak tenang sejak sadar dari pingsannya.
" Mereka semua benar-benar waspada kepada kita. " bisik Niu ditengah-tengah mereka.
" Ya, seperti yang dia bilang. Hilangnya Putri Empat Dunia jauh lebih berdampak besar dibandingkan yang aku duga. " sahut Oscar pula.
Bagaikan harimau yang kehilangan ibunya, dia harus menjaga diri sendiri dari semua bahaya yang mungkin akan muncul didunia luar dan mengincarnya. Apalagi di wilayah Elf, ada benda yang begitu penting bagi alam.
Pohon kehidupan.
Jika pohon itu mati, seluruh tempat akan dipenuhi energi gelap yang benar-benar berbahaya. Butuh sekitar 1000 tahun sampai bibit pohon kehidupan yang baru muncul dan butuh pengorbanan yang tidak sedikit untuk membuat nya tumbuh besar dan bisa memurnikan kegelapan itu.
Dan jika di wilayah Elf punya pohon kehidupan, maka di jantung hutan ada pohon waktu, yang menjadi landasan pengawas waktu dunia. Jika ada sesuatu yang salah dengan aliran waktu, pohon waktu akan menunjukan nya pada penguasa hutan. Dan jam dunia yang ada dibelakang nya akan berubah sesuai hal itu.
Keduanya terhubung satu sama lain, membuka jalan menuju pohon dunia, akar dari semua kehidupan, yang ada di tempat para dewa, didunia atas.
Ketika mereka sudah setengah jalan didesa para Elf, Thesia pun berpisah dengan Elf penjaga yang lain.
" Semuanya, lewat sini. "
Dan ia membawa mereka ke tempat lain, istana Elf lebih tepatnya.
" Huh? Itu... " Meliyana kelihatan terkejut.
Ketika mereka semakin dekat dengan istana Elf yang terlihat indah ditengah hutan ini, ada seorang gadis berambut pirang keemasan yang mereka kenali. Sedang bicara dengan Raja dan Ratu Elf didepan sana... Kagura.
" Ayah, ibu.." panggil Thesia kepada orang tuanya dan langsung berlari menghampiri mereka.
Melihat itu membuka Kagura juga jadi menoleh kearah mereka, dan langsung tersenyum gembira. " Kakak-kakak...! " ucapnya.
" Kagura!!" panggil Meliyana dengan begitu bersemangat.
" Kak Meliyana!!" dan Kagura pun menyahuti nya. Ia langsung berlari kearah mereka dan menyambut pelukan Meliyana.
" Aduh~ Rasanya sudah lama sekali sejak aku melihat keimutan ini, rasanya sekarang aku bisa hidup kembali. Hehehe~ " ucap Meliyana yang memeluk Kagura dengan sangat gemas.
Dan Kagura yang diperlakukan seperti itu pun hanya tertawa girang karena nya, dia juga senang karena bisa bertemu dengan mereka lagi.
" Kalian semua pasti Pangeran Ethan dan teman-teman, ya. " ucap seorang Elf wanita pada mereka. Sang Ratu, Tiara Siria Everia.
" Ya, yang mulia. Sebuah kehormatan bertemu dengan anda. " jawab Ethan, yang kemudian memberi hormat kepadanya, bersama dengan teman-teman nya.
Sang Raja* pun ikut mendekati mereka, " Kami juga merasa senang bisa bertemu dengan para utusan penguasa hutan, dan juga... Mira... " ucapnya sekaligus memanggil Mira.
[*Righart Eria Everia]
Mira yang mendengar namanya disebut pun terkejut dan menoleh meski ragu, dia sama sekali tidak bisa mengatasi rasa takutnya.
Namun yang ia lihat kali ini bukan lagi tatapan penuh kebencian dari para Elf, namun wajah keluarga kerajaan yang tersenyum ramah kepadanya.
" Ti-Tidak apa-apa.. " ucap Mira yang akhirnya bersuara setelah lama bungkam, meski masih terdengar takut.
" Dan juga.. Ada orang yang ingin menemuimu. " Sang Raja menoleh kearah lain, yang mana juga diikuti oleh Mira.
Dari kejauhan, terlihat seorang Elf lain berlari dengan tergesa-gesa kearah mereka. Namanya adalah Malori, ayah Mira dan Mirion.
" Mira.. Mirion.. " panggilnya kepada dua anak tersayangnya, yang selama ini tidak bisa ia temui.
" Ayah... " Mira yang melihat kedatangannya pun langsung menangis haru, ia melompat dari pangkuan Mirion dan langsung berlari menghampiri ayahnya.
Dan disebrang sana, ayahnya pun langsung menyambut pelukan hangat darinya...
" Ayah.. Ayah... Mira sangat merindukanmu, aku selalu ingin bertemu denganmu. " ucap Mira disela tangisnya.
Malori juga sama seperti putrinya, ia begitu bahagia ketika bisa melihat nya lagi. " Ayah juga merindukanmu, Mira. Sangat Merindukan kalian... " ucapnya yang memeluk Mira dengan erat.
Baru setelah itu Mirion yang mendekati mereka ikut dalam pelukan keluarga itu, " Lama tidak berjumpa ayah, kuharap kau baik-baik saja. " ucapnya pada sang ayah.
" Yah, iya. Ayah baik-baik saja, selama kalian baik-baik saja. " sahut Malori menimpali, sembari mengusap kepala putra sulungnya.
Melihat pertemuan keluarga yang begitu mengharukan itu membuat Ethan dan yang lainnya ikut menangis, itu benar-benar sangat membahagiakan.
" Huu.. Rasanya aku tidak kuat lagi menahan air mataku. " ucap Niu sambil mengusap air matanya yang jatuh.
" Aku merindukan ayah dan ibuku, huaa... " dan Meliyana yang benar-benar menangis karena itu.
Disisi lain, Kagura yang melihat itu kemudian menggenggam tangan Ethan, yang membuat Ethan sendiri menoleh kearahnya. Namun ketika Ethan melihat nya, Kagura sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Mirion dan keluarga nya.
Ethan hanya tersenyum melihat itu, tahu apa yang dimaksud dan dirasakan oleh Kagura.
Dan untuk keluarga kerajaan Elf, " Lebih baik kita membiarkan Malori melepas rindu dengan kedua anaknya lebih dulu, dan kita masih punya hal yang harus dibicarakan. " ucap Sang Ratu yang meraih lengan suaminya.
" Kau benar. Semuanya, silahkan masuk kesebelah sini. Kita bicarakan semuanya didalam. " ucap Raja Elf.
Perhatian Ethan dan teman-temannya pun teralihkan mendengar itu, dan mereka berjalan mengikuti Keluarga kerajaan Elf.
Mereka dibawa masuk ke dalam istana, yang mana mereka langsung disambut oleh para Elf yang ada disana. Sangat berbeda dengan ketika mereka masuk, Elf yang ada disana memperlakukan mereka dengan lebih baik. Oscar menduga itu ada hubungannya dengan Kagura yang saat ini ada disini saat ini.
Ethan dan teman-temannya dijamu dengan makanan mewah disana, sebuah kesempatan langka bisa makan bersama dengan keluarga kerajaan Elf.
" Kami sudah dengar rinciannya dari Nona Kagura. Jadi penguasa hutan mengirim kalian untuk menemui pohon kehidupan. " ucap sang Raja memulai pembicaraan.
Dan Ethan pun membenarkan, " Benar, jadi jika anda tidak keberatan, bisakah anda menunjukan pohon kehidupan kepada kami?" tanya Ethan kepada mereka.
Namun kelihatan nya Sang Raja agak ragu dengan hal itu, " Kami tidak bermaksud untuk menentang titah dari penguasa hutan, akan tetapi... saat ini keadaan pohon kehidupan tidak terlalu baik. " ucapnya menimpali.
Membuat Teman-teman Ethan jadi terkejut, disisi lain Ethan menyipitkan kedua matanya mendengar itu.
" Apa ada sesuatu yang terjadi? " tanyanya agak khawatir.
" Ya, akhir-akhir ini energi pohon kehidupan mulai melemah. Kami sangat khawatir jika saja pohon kehidupan akan mati ditengah situasi yang begitu tidak stabil ini. " jawab Sang Ratu.
" Pohon kehidupan adalah sumber energi Elf, jika pohon kehidupan mati... maka kami juga akan kehilangan kekuatan kami. Pelindung dihutan Elf akan hancur dan monster akan bisa masuk kemari, saat itu.. hidup kami pun akan berada dalam bahaya. " jelas Thesia pula bersama kedua orang tuanya.
Kesedihan dimata mereka terlihat begitu jelas, tidak ada kebohongan sama sekali. Karena itu memang sesuatu yang sangat gawat jika dibiarkan.