Quennevia

Quennevia
Sosok asli yang kau lihat



[Season 2]


" Arkan!"


Arkan sangat terkejut dengan sikap yang baru ditunjukan oleh ibunya, dia terlihat seperti sesuatu yang buruk baru saja terjadi kepadanya. Leana memeluknya begitu erat, tanpa memberikan celah sedikit pun untuk ia bertanya kenapa.


" Tunggu.. Ibu.. dengarkan dulu..." diselimuti rasa bingung, Arkan benar-benar tidak mengerti dengan maksud tindakannya ini.


" Ah, ibu senang kau baik-baik saja. Saat mendengar kalau kau pergi dengan Balin, ibu sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi kepadamu." tapi Leana kelihatan nya tidak mau melepaskannya sama sekali.


Arkan yang mendengar itu pasti bingung, padahal dia hanya bermain dengan saudara nya namun Leana begitu tidak ingin hal itu terjadi. " Apa maksud ibu? Sesuatu yang buruk apa?"


Mendengar itu, Leana pun kemudian melepaskan pelukannya dari Arkan dan memegang kedua pipinya. Dia benar-benar terlihat tidak tenang.


" Arkan dengar, kamu tidak boleh bertemu dengan Balin lagi. Apa kau mengerti??" ucap Leana pula dengan sangat serius.


Namun Arkan yang mendengarnya tidak mengerti niatnya sana sekali, " Apa...? Kenapa?" tanyanya mengenai hal itu.


" Arkan, Balin itu orang yang tidak berpendidikan. Dia lemah. Kamu tidak pantas bergaul dengan anak sepertinya. Kamu harus mendengarkan ibu, jangan pergi meninggalkan ibu lagi. " tapi jawaban seperti itu lah yang dikatakan oleh Leana.


Sesuatu menyeruap keluar dari dalam hatinya, itu bukanlah kesedihan atau amarah, tapi perasaan tidak terima. Apa seperti itu juga tanggapan nya kepada dirinya didunia nyata.


Memangnya apa yg telah dia lakukan untuk menjadi pantas menerima perlakuan tidak adil seperti ini dari keluarga yang ia miliki??


" Mengapa ibu bicara seperti itu? Balin 'kan saudaraku juga. " ucap Arkan kemudian, ia mengangkat kepalanya menatap Leana yang ada dihadapannya sengan tatapan tajam.


Membuat Leana sendiri yang melihat itu tersentak kaget, " A-Arkan..."


Arkan pun kemudian melanjutkan perkataan nya, " Memangnya ibu pikir dia tidak berpendidikan karena salah siapa...? Jika ibu memberinya guru dan membiarkan nya belajar, dia bisa menjadi anak yang pintar. Dan juga... Dari mana ibu menilai Balin sebagai orang lemah? Anak yang bisa berjalan menaiki 349 anak tangga dibukit tanpa merasa lelah sedikit pun, apa anak itu yang ibu bilang lemah??"


Wajah Leana berubah gelap, dia menundukan kepalanya dihadapan Arkan. Dia benar-benar terlihat tidak baik, tapi jelas itu bukan karena kesehatannya. Arkan sedikit cemas dengan hal itu, wanita yang ia panggil ibu ini... memiliki sesuatu yang ia sembunyikan selama ini.


Perhatian Arkan kemudian teralihkan kepada bibir Leana yang mulai terbuka, dan ia pun memasang telinganya baik-baik untuk mendengar apa yang akan ia katakan...


" Arkan, kamu tidak boleh meninggalkan ibu. Tidak untuk apapun didunia ini, bahkan jika kamu menemukan orang yang kamu cintai, kamu tidak boleh meninggalkan ibu. "


" Ha..??" Arkan tercengang. Bukan permintaan maaf, atau kata-kata penyesalan. Dia justru mengatakan hal seperti itu.


" Memangnya ibu pikir aku akan pergi ke mana?" Arkan bertanya dengan sebelah alis terangkat.


Perkataan Leana yang terdengar tak masuk akal, dan perasaan mengganjal yang ia rasakan dari awal...


" Kamu tidak akan bisa pergi ke mana pun, karena ibu tidak akan melepaskanmu. Bagaimana pun alasannya, kamu tidak akan bisa meninggalkan ibu." ucap Leana terkesan memaksa.


Arkan melihat baik-baik ekspresi apa yang dibuat oleh Leana... itu membuatnya merinding, sesuatu mengatakan kepadanya kalau dia harus menjauh dari ibunya.


Karena itu, dengan langkah yang ragu dan pikiran campur aduk, Arkan melangkah pergi dan mulai berlari menjauh dari Leana. Dia naik ke lantai atas menuju kearah kamarnya. Sementara Leana, dia hanya diam sambil menatap Arkan yang pergi dari tempatnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Ceklek... Brakk!!


Arkan langsung masuk ke dalam kamar dan menutup punya kembali dengan sedikit membantingnya, dan ia menahannya dibelakang. Jantungnya berdetak kencang sekali, ia masih belum bisa yakin dengan apa yang baru saja ia lihat, tapi...


... Itu benar-benar membuatnya tidak tenang.


" Aku harus segera menyelesaikan ini dan kembali!!"


Apa didunia nyata dia juga bertingkah seperti itu??


***


Sementara didunia nyata saat ini, seperti yang dipertimbangkan oleh Arkan sebelum nya. Disana baru berjalan beberapa menit sejak Arkan menceburkan diri ke dalam kolam kehidupan, sementara yang lainnya menunggu dengan perasaan resah.


" Arkan, dia... Dia akan baik-baik saja kan?" terutama Meliyana yang mulai tidak bisa menyembunyikan keresahannya.


Ingatan terakhir yang ia miliki saat teman nya memutuskan melakukan itu sendiri, adalah bencana yang mengelilingi mereka.


Bukan hanya Meliyana yang merasa seperti itu, tapi yang lainnya juga sama.


" Tidak apa-apa.." saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu.


Kedengarannya tidak meyakinkan, tapi itu berhasil membuat perasaan yang lain menjadi lebih baik. Itu hubungan kepercayaan yang sangat kuat. Bahkan Raja Elf terkesan dengan hal itu.


Saat kemudian Ethan mengeluarkan Quennevia dan menyerahkannya kepada Kagura...


" Tolong jaga dia, kalau ada kesempatan masukan dia ke dalam mata air juga. Dia akan sangat membantu. " ucap Ethan kepadanya.


Disisi lain Kagura yang memiliki ekspresi tenang, tahu apa maksudnya. Namun ia sedikit khawatir, " Apa kakak yakin? Dia mungkin tidak akan bertahan."


Tapi Ethan hanya tersenyum dan menggelangkan kepalanya, " Tidak akan. Karena ini adalah tempat yang penuh dengan energi kehidupan, ditambah... Ini adalah tempat yang terhubung dengan dua yang lainnya. " sahutnya.


Kagura masih tidak yakin, tapi ia juga tidak bisa menolak. Jadi ia hanya bisa menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Ethan. Sementara itu, Ethan sendiri berbalik hendak pergi dari sana.


" Aku pergi sebentar dan akan segera kembali, kalian berhati-hatilah. "


Sesaat setelah ia mengucapkan kata-kata ambigu itu, sosoknya segera menghilang diantara lorong-lorong lain yang ada disana. Sementara yang lain bahkan Raja Elf masih terdiam ditempat mereka sambil menandangi kemana ia pergi.


" Apa... dia tidak akan tersesat??" ucap Niu bertanya-tanya. Sudah cukup bagi Arkan hilang sendiri, sekarang Ethan juga pergi. Ia khawatir mereka jadi terpisah-pisah ditempat yang tidak dikenal ini.


Sementara Yuki yang mendengar itu terlihat tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada dua orang yang. " Sudahlah, dia tidak akan tersesat semudah itu."


Itu sudah jelas. Lagipula tempat ini mendengarkan keinginan Raja, jadi pohon kehidupan pasti bersedia menunjukan keberadaan Ethan jika terjadi sesuatu kepadanya.


Namun ada sesuatu yang berbeda, teman-temannya bisa merasakan hal itu dengan jelas. Meski begitu mereka tidak mengatakan apapun ketika Ethan ada bersama mereka.


Sampai kemudian Oscar pun angkat bicara lebih dulu, " Bukankah menurutmu dia sedikit berubah? Aku tidak merasakan perasaan humor darinya lagi, Ethan jadi sangat serius akhir-akhir ini. "


Hal itu mengundang perhatian yang lain, hingga semua mata berpusat pada dirinya.


Disela itu, Niu menganggukkan kepalanya, merasa setuju dengan perkataan Oscar. " Dia sudah seperti itu sejak ramalan pertama dibacakan oleh Yuki."


" Yang Mulia, kalau boleh tahu kemana lorong-lorong ini menuju?? Apakah ada tempat khusus lainnya?"


Meliyana menanyakan pertanyaan inti dari semua kebingungan ini, tidak pernah ada cerita yang menyebar tentang apa yang ada didalam pohon kehidupan. Lagipula tidak ada siapapun yang bisa masuk tanpa izin pohon kehidupan sendiri.


Namun bahkan sang raja yang telah lama mendapat izin itu, menggelengkan kepalanya tidak tahu. " Tidak ada yang pernah menjelajah lebih jauh setelah sampai di hadapan Mata Air Kehidupan. Jalan yang ditunjukan pohon kepada kami untuk sampai hanya satu, namun untuk yang lain selain jalan itu... itu adalah lorong-lorong tak berujung. Tidak ada yang pernah sampai diakhir jalan yang tersisa."


" Berarti diantaranya pernah ada yang mencoba, ya?"


Yuki melihat sedikit keraguan diwajah sang Raja, dia tahu tidak mungkin sang raja tahu apa yang ada didalam tanpa mencoba mencarinya.


Sang Raja diam sesaat. Itu mungkin rahasia yang hanya diturunkan kepada mereka yang menerima 'Hak Masuk' dari pohon kehidupan, sampai kemudian ia menganggukan kepala nya terhadap pertanyaan Yuki.


" Iya, dimasa lalu. Leluhur kami mencoba mencari tahu apa yang ada disini, namun tidak ada satupun yang berhasil. Mereka berpikir awalnya salah mengambil jalan, namun setelah berulang kali mencoba. Pada akhirnya mereka selalu dibawa kembali kemari. Itu seperti... pohon kehidupan tidak mengizinkan mereka untuk melihat apa yang ada lebih dalam lagi. Mungkin itu sesuatu yang berhubungan dengan asal usul dunia atau para dewa."


Oscar menaruh jari telunjuk didagunya dan berpikir sejenak, saat kemudian ia berkata. "... Sepertinya saya tahu maksud anda."


Itu cerita yang sangat umum.


Beberapa tempat didunia ini memiliki banyak rahasia, entah itu untuk menyembunyikan hal berharga yang dijaga dunia. Atau hanya untuk menguji mereka yang datang untuk mencari sesuatu yang ditinggalkan.


Labirin tanpa batas adalah salah satunya.


Hanya mereka yang pantas yang bisa keluar dari labirin itu dan mendapatkan izin untuk menemukan apa yang dilindungi.


Meski begitu tidak semua yang dilindungi disana adalah harta karun. Beberapa diantara nya mungkin adalah bencana dan kesengsaraan. Dan bagi mereka yang tidak beruntung...


Jangankan melihat apa yang dilindungi ditempat itu, mereka mungkin tidak akan bisa keluar dari labirin untuk selamanya.


" Jika labirin tanpa batas ada didalam pohon kehidupan. Hal masuk akal yang bisa kupikirkan adalah, mungkin tempat itu adalah tempat terlarang. Seperti... tempat di mana inti pohon kehidupan yang sebenarnya tersimpan, kekuatan dewa, penunjang kehidupan, atau portal menuju dimensi lain. Hal-hal semacam itu. " Oscar yakin pohon kehidupan tidak mungkin menyimpan hal-hal buruk seperti itu didalam dirinya sendiri.


Dan yang lainnya pun mengangguk setuju dengan hal itu. Sementara disisi lain, Kagura yang diam saja memperhatikan apa yang mereka bicarakan... menyipitkan matanya yang berkilau terang ketika perhatiannya tertuju kepada mata air yang ada didepan sana.


Itu bukanlah tatapan yang ramah atau lembut, namun... 'Hal itu' membuatnya sangat mengkhawatirkan Arkan.


" ....Sampai kapan 'dia' akan diam dan berpura-pura tidak menyadari keberadaan nya?? Aku harap 'dia' tidak menyerang tiba-tiba"