
[Season 2]
Ethan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari orang yang ada dihadapan nya sekarang, sekalipun ia diliputi oleh perasaan tidak menyenangkan.
Mereka punya penampilan yang serupa, wajah yang serupa, pakaian yang serupa, semuanya serupa tanpa celah. Hanya saja... dengan warna yang berbeda.
Jika Ethan yang ada disana memiliki warna cerah dan suasana hangat disekitarnya, maka orang yang ada dihadapannya memiliki warna yang gelap dan suasana dingin yang misterius.
Yang jelas, ini bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya merasa bahagia...
" Kenapa kau melakukan ini, aku tidak punya banyak waktu, kau tahu kan?"
["Oh, aku tahu. Apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan tahu hal itu?"]
Ethan mengusap kepalanya merasa sedikit pusing, bahkan hanya dengan jawaban singkat itu dia bisa tahu seperti apa nantinya. Dia hanya akan menjawab berputar-putar...
" Berhenti bermain-main, buka ruang ini dan biarkan aku keluar."
["Bagaimana jika ku bilang tidak?"]
Ethan terdiam. Kesunyian kembali turun ditengah mereka. Ekspresi nya pun berubah semakin tidak menyanangkan sementara Eclipse melebarkan senyuman nya seolah menikmati hal itu.
Sebenarnya sejak awal Ethan tidak terlalu berharap, tapi mendengar penolakan langsung darinya lebih mengesalkan dari yang ia duga.
Eclipse hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi tatapan tajam Ethan, dan ia pun melangkah sedikit lebih dekat. ["Jangan beri aku tatapan seperti itu, bagaimana bisa kau menganggap dirimu sendiri sebagai orang asing. Tempat ini kehilangan cahayanya sejak kau pergi, sungguh egois.. kau mempertaruhkan segalanya dan meninggalkan tahtamu begitu saja. Selama 100.000 tahun.."] ia menaruh tangan kanannya dibahu kiri Ethan, dan kembali bicara. ["....Dalam waktu yang selama itu, kenapa kau tidak berhenti sejenak? Ini adalah rumahmu."]
Plak...
Tapi Ethan segera menepis nya, " Aku tidak punya waktu untuk hal yang seperti itu, Eclipse. Semua orang sedang menunggu dewi mereka kembali, aku sudah berjanji kepada teman-temanku untuk membawanya kembali." sahutnya kemudian.
Sementara Eclipse hanya menaikan sebelah alisnya, ["Teman..?? Sejak kapan kau menganggap mereka sebagai temanmu? Apa makhluk seperti mu, membutuhkan sesuatu yang biasanya disebut.. 'teman' itu?"] ucapnya pula.
" Apa..?" dahi Ethan berkerut tidak senang dengan komentar yang terlampar keluar dari mulut Eclipse.
Berbeda dengan sisinya yang lain, yang tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu. ["Mereka tidak lebih dari sekedar panghalang, bukankah begitu? Jika kau sendiri yang memulai perjalanan ini sejak awal, kau akan menyelesaikannya semuanya dalam waktu singkat. Tidak peduli halangan apa yang akan menghadangmu..."] Ia terus mengutarakan apa yang ada dalam kepalanya dengan begitu santai, hingga tidak menyadari sesuatu yang mulai berubah dan condong ke satu sisi.
["...Lagipula Quennevia pasti akan lahir kembali setelah ia mati, kau hanya harus menunggu ditempat yang aman ini. Demi teman-temanmu, kau bilang? Alasan yang bagus untuk meyakinkan diri sendiri. Tapi mereka hanya manusia lemah yang fana, pada akhirnya mereka akan lenyap dengan sendirinya, tidak ada dari mereka yang kekal. Kenapa kau harus bersusah payah hanya untuk--.. huh??"]
Eclipse berhenti dari aliran udara yang berubah, dan ketika ia membuka matanya, yang ia lihat adalah mata pedang yang bergerak cepat mendekati lehernya.
Tidak ada waktu untuk mengatakan apapun, ia mengangkat satu tangannya dan menahan bilah pedang itu tepat didepan wajahnya.
Angin berhembus kearah yang masing-masing berlawanan dari serangan Ethan dan pertahanan yang dibuat oleh Eclipse.
["Astaga, kau marah karena aku mengejek teman-temanmu."] perhatian Eclipse kini jatuh kepada Ethan sepenuhnya.
Dia yang memiliki mata tajam dan ekspresi mengeras mengisyaratkan begitu banyak kemarahan.
Beberapa saat kemudian, hentakan kekuatan terjadi diantara mereka. Membuat keduanya mengambil langkah mundur dan memberi jarak satu sama lain disana.
Dan Ethan pun kembali mengarahkan pedang ditangannya kepada Eclipse, dengan suara dingin ia berkata. " Tarik kembali ucapanmu barusan itu. Harga untuk menghina teman-temanku itu sungguh mahal." Ethan benar-benar serius mengatakan hal itu.
Sementara Eclipse yang mendengar itu semakin menyunggingkan seringai dengan mata penuh rasa ketertarikan, dan ia pun menarik pedang yang sama ditangannya sendiri.
["Kalau begitu aku ingin melihat... bagaimana kau akan membuatku membayar hal itu, Ethan!."]
Kedua orang itu berlari satu sama lain dan saling mengarahkan senjata masing-masing.
Pertarungan diantara keduanya tidak bisa dihindarkan, dan tidak ada satupun dari keduanya yang kelihatan nya ingin mengalah.
Trangg.!!
Suara besi bertabrakan dari senjata keduanya mengisi ruangan itu...
["Menyerah saja lah. Kau sudah tidak punya kekuatan yang tersisa untuk bertarung."]
" Ukhh..."
Dan seperti yang Eclipse katakan, pertarungan itu condong ke satu sisi. Ethan ditekan oleh kekuatan yang tidak bisa ia imbangi dalam kondisinya sekarang. Mereka bukan hanya punya penampilan dan wajah yang sama, tapi skill dan kemampuan yang sama. Seperti dua sisi cermin yang bertolak belakang, mereka melengkapi kekosongan satu sama lain, tapi juga.... Racun bagi yang lainnya.
["Kekuatan mu tidak cukup untuk mengimbangiku!".]
Eclipse menggerakan Ethan mundur beberapa meter dengan satu dorongan kuat, dan membuatnya jatuh setelah kehilangan keseimbangannya, sementara ia kembali mengayunkan pedangnya diudara kosong dan menciptakan sebuah hembusan angin dengan bilah gelap layaknya pedang yang terbang dari segala arah kearahnya.
["Katakan padaku bagaimana kau menahan hal sederhana ini sekarang?!"] Eclipse tidak memberikannya jeda sedetikpun.
Ethan menatap angin itu dari tempatnya, tidak ada cara untuk menghindar dan tidak ada waktu untuk membuat penghalang. Pada akhirnya ia terjebak didalam keriuhan angin itu.
" AAAKKKK...!!"
Tubuhnya terangkat naik diudara, dan bilah angin menyayat serta menebas tubuhnya tanpa ampun. Ethan tidak bisa melakukan apapun, dan setelah semua angin itu lenyap, ia jatuh diatas lantai putih yang sekarang berubah menjadi merah karena berlumuran oleh darahnya.
Ethan menatap kosong ditempat nya, saat kemudian dia mendengar langkah yang terhenti diatas kepalanya, Ethan pun meliriknya...
Eclipse menundukan tubuh kearahnya dengan senyuman ringan seperti biasanya, ["Lihat, aku menang. Kau tidak lebih baik dari seorang anak kecil yang baru mengangkat pedangnya, dan berusaha melawan dunia. Kau lemah."]
Ethan tahu, dia telah menyadari hal itu sejak dulu. Dia selalu kehilangan banyak hal karena dia tidak cukup kuat untuk melindungi mereka..
Seperti yang dikatakan oleh Eclipse, dia terlalu lemah untuk melawan dunia.
Ia bahkan tidak bisa melawan dirinya sendiri dari sisi lain.
["Kurasa ini saatnya untukmu berhenti sejenak dan melatih kekuatan mu perlahan, kan?"]
Ethan rasa itu benar, tapi waktu berlalu lebih cepat dibandingkan dengan kenyataan yang harus mereka hadapi. Tidak akan ada cukup waktu untuk merenungkan segalanya dan berlatih selagi dunia menemui kehancuran.
["Lagi pula teman-temanmu tidak akan membantumu, apa yang bisa kalian lakukan dihadapan kekuatan yang tidak bisa kalian hadapi. Pilihannya hanyalah mundur atau... mati."]
"...Teman-teman... mati..."
Itu adalah resiko yang selalu mereka pikirkan, bukan hanya Ethan, tapi juga Oscar, Yuki, dan yang lainnya juga.
Masa-masa penuh kehangatan ketika mereka bersama, mengobrol dibawa langit penuh bintang dan memandang api unggun yang sama. Berbagi makanan dan bercanda, bagaimana jika hari itu menjadi hari terakhir yang mereka habiskan bersama? Bagaimana jika mereka tidak bisa bertemu satu sama lain lagi?
Mereka selalu memikirkan hal itu...
" Kesadaran ku meredup..." Ethan hampir tidak bisa menjaga dirinya sendiri tetap terjaga.
Dan ketika penglihatannya mulai berubah menjadi hitam sepenuhnya, rasanya semua indranya mulai menghilang. Kecuali satu hal...
{.. han... Ethan...}
...Pendengarannya menangkap sesuatu.
...************...
Pertarungan yang terjadi diantara Ethan dan Eclipse membuat suasana menjadi tegang, bahkan Euclide tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pertarungan itu.
Eclipse dan Ethan tidak pernah saling bersinggungan selama ini, keduanya bisa diibaratkan sebagai orang yang sama, tapi jika menilai dari esenai mereka, keduanya seperti saudara. Perkelahian mereka mungkin bukan hal yang aneh, karena bahkan Euclide dan Hades pernah mengalami hal seperti itu. Dan masih banyak lagi saudara-saudara lain yang berkelahi satu sama lain.
Tapi Eclipse tidak pernah seperti itu, dia selalu berdiam diri layaknya bayangan biasa pada diri Ethan. Dia tidak terlalu sering menampakan dirinya, karena itu tidak ada yang tahu seperti apa Eclipse yang sebenarnya. Dan melihatnya yang sekarang bertarung melawan Ethan, bahkan bisa menekannya yang telah mendapatkan perlindungan dari pedang 'Matahari dan bulan', itu hal yang tidak pernah diperkirakan oleh siapapun.
[...Eclipse jauh lebih kuat dari yang kita duga..] Tekanan dan penahanan kekuatan mengikuti Eclipse yang sekarang menjaga tempat ini bersama Violetine, tapi karena Violetine bukan seseorang yang terhubung dengan Ethan secara garis besar, kendali penuh ada pada Eclipse. Itu sangat mengkhawatirkan untuk dilihat.
[Ini akan sulit untuk Ethan yang sekarang.. tekanannya bertambah ke tingkat yang tidak masuk akal bahkan untuk ku.] Euclide menggertakan gigitnya dalam kecemasan.
Ini bukan lagi ujian atau hambatan, melainkan pertaruhan posisi serta hidup dan mati.
" Ah! Ethan kalah..!" suara dari Meliyana menyadarkan Euclide dari pikirannya.
Dan seperti yang ia katakan, ketika ia kembali menatap gambaran yang terjadi didalam ruangan tanpa batas. Ethan terkapar tak berdaya dari kekuatan Eclipse saat ini.
Itu hasil yang benar-benar tidak terduga, [...Tunggu sebentar! Jika kesadaran nya dikalahkan, itu juga akan mempengaruhi kenyataan..] Euclide langsung menoleh kan kepalanya kearah tangga dengan ekspresi panik.
" Eh..?!!"
Oscar dan teman-teman yang lain pun juga sama, dan apa yang dilihat mereka disana adalah hal yang sama mengerikannya dengan apa yang ada didalam ruangan tanpa batas.
" Tidak..."
" ...Ethan."
Mereka tidak bisa menahan keterkejutan dan air mata mereka.
Ia masih disana, berlutut ditempatnya dan berpegangan dengan erat pada tombak yang ada dihadapannya.
Tapi dengan kondisi yang sangat parah.
Tubuhnya penuh dengan luka yang cukup dalam, darah mengucur turun sampai beberapa tangga dibawahnya layaknya aliran air terjun. Dia tidak bisa mengobati dirinya sendiri, sementara luka terus bertambah setiap saat. Ethan terlihat sangat buruk ketimbang saat ia bertarung habis-habisan.
[Jika terus seperti ini, Ethan tidak akan bisa bertahan..] bahkan Euclide bisa memahami situasinya lebih baik ketimbang yang lain.
Seperti yang ia katakan, tubuh Ethan perlahan.. mulai terlihat oleng. Ia kehilangan keseimbangannya dan akan jatuh...
Dan ketika ia jatuh kebawah, dia harus memulai semuanya kembali dari awal...
" Ethan..!!" sebagai seorang ayah, Felice tentu tidak bisa melihat putranya menderita seperti itu. Sama halnya seperti dia... yang lain juga begitu.
Drapp...
Kasih sayang, kepercayaan, kepedulian, dan harapan berkumpul menjadi satu. Mendorong mereka untuk mengambil langkah yang lebih besar...
Melawan dunia...
Melindungi orang yang mereka kasihi..
Tekad mereka melampaui segala halangan yang ada..
Dalam waktu yang bahkan lebih singkat dari kenyataan, ketika tubuh Ethan mulai melayang untuk jatuh. Mereka menggapainya...
Brukk...
Mereka memberikan kekuatan mereka untuk membantunya...
" Anak-anak..." mereka mewakili keinginan Felice.
" Ini bukan waktu nya untuk menyerah disini!!" mereka bersuara dengan keras dan lantang, menegaskan kehadiran mereka ditempat ini.
Apa yang mereka lakukan bahkan berhasil membuat Euclide bergidik ngeri karena semangat pantang menyerah mereka.
[...Mereka memanfaatkan sisa-sisa kekuatan Ethan yang tertinggal disana untuk membuka jalan, dan mengerahkan semua kekuatan mereka untuk sampai diatas dalam sekejap.]
Tidak ada satupun hal ditempat itu, yang bisa membuat mereka gentar setelah mereka membuat keputusan mereka.
Orang yang ada didepan mereka saat ini, orang yang mereka bantu, adalah salah satu orang yang paling berharga dalam hidup mereka. Dengan masing-masing jalan dalam hidup mereka, namun dengan satu makna. Bagi...
Anak yang tersesat...
Arkan memberikan punggungnya, menahan Ethan yang ada dibelakangnya sekuat tenaga yang ia bisa. " Kau sudah janji, bukan?! Kau sudah janji kalau kita pasti bisa kembali ke akademi bersama Quennevia! Kau harus menepati kata-katamu itu, dong!." menunggu kepastian.. dari kepercayaan yang ia yakini.
Dia tidak sendirian, Niu dan Oscar bersamanya, mengulurkan tangan dan memberikan dorongan mereka sendiri.
Kesatria lemah...
" Kita akan selalu bersama, kau yang mengatakan itu."
Orang yang peduli dan curiga..
" Tidak peduli siapapun, dimanapun kita. Kita pasti akan mengenali satu sama lain, kita akan berjuang bersama."
Harapan yang selalu mereka genggam, dalam ketidakpastian dunia. Ethan mengajari mereka untuk merangkul semua perasaan dan kenangan berharga yang mereka miliki. Bersama dengan Quennevia, Oscar dan Niu berhasil mengenali dunia yang baru.
Yuki dan Meliyana disamping mereka, juga melakukan hal yang sama. Tangan mereka yang terulur mendorong bahu Ethan didepan mereka, menjaganya untuk tetap tegak dan mengalirkan kekuatan mereka.
Putri yang putus asa...
" Ethan, kita sudah menghadapi semua kesulitan bersama sejauh ini. Kita pasti bisa mengatasi yang akan datang juga. Selama kita bersama, tidak ada satupun hal yang tidak mungkin bisa kita lewati." melalui tangan lembut Meliyana, kasih sayang dan cinta dari para peri, energi alam yang ia miliki menyembuhkan lukanya dengan perlahan.
Peramal yang kesepian...
" Tidak peduli siapapun lawannya... Manusia, monster, iblis, bahkan dewa. Kita tidak akan mundur dan hanya maju bersama!." kekuatan bintang-bintang yang dibawa Yuki memulihkan kembali energi dalam dirinya.
...Mereka mendapatkan keberanian dan semangat untuk melangkah karena Ethan dan Quennevia ada disana, juga ada dimasa depan mereka.
Mana mungkin...
" BANGUN!!" mereka meninggalkan keduanya.
" JANGAN MENYARAH! BANGUNLAH! ETHAN!!!."
Tekad itu begitu besar dan kuat, meskipun kekuatan mereka masih ada setingkat dibawah Violetine, tapi keinginan dan harapan mereka berhasil membuatnya gemetar.
Violetine merasa seperti tidak berdaya, dihadapan kepercayaan dan semangat yang begitu membara. Mereka berhasil menggetarkan transenden dan salah satu prajurit terkuat dalam sejarah.
" ....Bagaimana bisa.. kalian memiliki keyakinan sebesar itu. Bagaimana kalian... bisa mendapatkan keberanian itu..."