
[Season 2]
Ethan dan yang lainnya berjalan bersama diantara kerumunan orang, bertingkah seolah tidak ada apapun yang terjadi. Dan tepat dibelakang mereka, orang-orang berjubah itu jelas-jelas masih masih mengikuti langkah mereka.
Dan saat Ethan berhenti bersama yang lain, mereka juga ikut berhenti. Ethan dan yang lain kelihatan bicara sesuatu disana, namun karena ramainya orang disana suara mereka pun tidak kedengaran.
Orang-orang itu masih memperhatikan mereka dalam diam, saat kemudian mereka dikejutkan dengan Ethan dan yang lainnya tiba-tiba berlari pergi dan berbelok kearah jalan disela bangunan di tempat itu. Orang-orang itu pun langsung mengejar mereka kearah yang sama, namun ketika mereka berbelok, mereka sama sekali tidak ada disana. Yang ada dijalanan itu hanyalah jalan buntu.
" Ke-Kemana mereka?"
" Menghilang? Mereka pasti masih ada disini, cepat cari!"
" Baik!"
Orang-orang itu pun pergi dari sana untuk mencari mereka. Namun kemudian.. setelah memastikan orang-orang itu benar-benar pergi dari tempat itu, dinding di tempat itu perlahan memudar dan hilang. Ethan dan yang lainnya masih ada disana. Dengan Arkan yang berada paling depan, menyentuh tanah untuk membuat ilusi itu.
" Mudah sekali dikelabuhi ya. " ucap Oscar ketika melihat hal itu.
Sedangkan Ethan yang merencanakan hal itu hanya tersenyum, dan ia pun melepaskan penyamaran yang ia pakai." Yah, jika sedang panik, orang pintar saja bisa bertindak jadi bodoh. " ucapnya menimpali Oscar.
Teman-teman nya pun ikut melepaskan penyamaran mereka, termasuk Mirion. Kini ia lebih mirip dengan Elf pada umumnya dibandingkan sebelumnya, dengan telinga runcing dan rambut pirangnya.
" Lebih baik kita bergegas pergi dari kota ini, agar tidak ada yang mengikuti kita lagi. " usul Mirion kepada mereka semua.
Yang juga diangguki oleh mereka, " Ya, kurasa begitu. " sahut Meliyana kemudian.
" Loh, Ethan??"
Saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu, dihadapan mereka saat ini... berdiri kelompok lain yang sangat mereka kenal.
" Wah, lama tidak ketemu. Bagaimana kabar kalian?" tanya salah satu diantara mereka, Jino.
" Se-Senior?!!" Teman-teman Ethan pun kelihatan sangat syok melihat mereka.
" Ahahah! Kau terlihat baik-baik saja, tapi tinggimu masih sama seperti saat terakhir kita melihat mu! " ucap Jino pula sambil menepuk-nepuk punggung Ethan.
" Ah! Ya, kau juga terlihat baik-baik saja, Senior. " sahut Ethan menimpali.
Dia masih saja bersemangat seperti biasanya, sudah lebih dari satu tahun sejak mereka lulus dari akademi. Dan sejak saat itu, ini pertama kalinya mereka bertemu kembali.
" Bagaimana rasanya menjadi senior disekolah, Oscar?" tanya Arden dengan senyuman ramah nya.
" Ya, rasanya cukup mendebarkan dihari pertama. Kupikir jantungku akan jatuh kebawah. " jawab Oscar dengan santai.
" Kau sudah terlihat lebih kuat, Arkan. Kau pasti berlatih keras sekali. " Sayles mengadu kepalan tangan bersama Arkan.
Dan Arkan pun juga menerimanya dengan baik, " Ya. Aku sudah bersumpah tidak akan jadi yang terlemah lagi!. " ucapnya dengan begitu yakin.
Itu membuat Sayles tertawa ringan, " Haha, itu bagus. Meliyana juga tambah cantik, ya. " ia bahkan masih sempat-sempatnya menggoda Meliyana.
Itu membuat Meliyana tersipu malu, " Aw. Senior bisa saja, tapi maaf aku sudah punya orang yang kusukai. Dia bekerja sebagai panjaga diakademi saat ini. " tapi itulah yang ia ucapkan.
Sayles hanya tersenyum kikuk mendengar itu, masih tidak berubah sama sekali, seperti itulah Meliyana. Disisi lain, ada dua orang dingin yang ada dalam situasi canggung satu sama lain.
" Halo. " sapa Kian.
" Hai, Senior. " jawab Yuki singkat.
Sementara Lilac, dia diam saja melihat semua itu, merasa ada yang kurang dari mereka semua yang ada disana. Kecuali Mirion dan Mira yang jelas adalah orang baru yang ia lihat.
Membuat semua yang mendengar itu langsung terdiam, dan menoleh kearahnya.
" Quennevia...?" alis Mirion terangkat sebelah, ia juga jadi tertarik mendengar hal itu.
Disisi lain, Ethan hanya diam membisu. Teman-teman nya yang melihat itu pun menjadi gelisah.
" Dia terluka..." sampai akhirnya Yuki angkat bicara, membuat orang-orang jadi beralih melihatnya. " Setengah tahun yang lalu dia bertarung dan terluka, karena itu sekarang dia sedang dalam masa pengorbanan, jadi dia tidak bersama kami. " ucapnya.
Berharap semua yang mendengar jadi percaya dengan kebohongan yang baik itu, karena orang yang tidak banyak bicara biasa nya tidak pernah berbohong.
" Begitu ya, sayang sekali. Tapi jika dia terluka apa boleh buat. " sahut Jino sambil mengangkat bahunya dengan santai.
...Itu juga baik untuk diri mereka sendiri. Mereka akan aman sampai beberapa waktu kedepan, karena mereka tidak mengetahui hal itu.
Sementara itu Lilac merasa agak kecewa dengan hal itu, dan Kian pun menyentuh pundaknya. " Jangan terlihat kecewa, kita bukannya tidak bisa bertemu dengannya lagi. " ucapnya dengan wajah datar meski begitu penuh dengan kepedulian.
Lilac hanya diam dan manganggukan kepalanya, dia tahu ucapan Kian benar. Namun tetap saja dia mau bertemu dengan Quennevia, saat itulah, sesuatu tiba-tiba melompat keluar dari gelang Ethan.
" Ah! Kelinci..." bahkan Ethan sendiri terkejut melihat hal itu.
Apalagi Lilac, yang melihat kelinci (Quennevia) itu melompat kearahnya. Sementara kelinci itu langsung memeluk nya dengan kedua kaki kecil nya yang imut.
" Ke-Kalinci dari mana ini??" tanya Lilac agak bingung.
" Bulunya hitam tapi cantik sekali. Dari mana kalian mendapatkan nya??" tanya Sayles penasaran.
" Ahaha... Itu kelinci peliharaan Quennevia, dia memintaku menjaganya. " jawab Ethan sambil membuang perhatian nya, jelas bohong.
Disisi Lilac, dia terus memperhatikan kelinci itu yang kini memiringkan kepalanya menatap Lilac. Dan dia juga mencium bau yang familiar dari kelinci ditangannya itu, seperti bau hutan yang segar.
Itu membuat Lilac jadi gemas dan memeluknya, " Baunya seperti Quennevia. " ucapnya.
Sementara Ethan dan teman-teman nya hanya tertawa canggung dengan itu.
" Haha... Tentu saja, karena dia adalah Quennevia."
" Oh, ngomong-ngomong... kenapa kalian ada disini senior??" tanya Niu yang baru ingat tentang hal itu.
" Kami sedang mengawasi, aku yakin kalian tahu. Konflik dengan klan Retia semakin memanas sekarang, semua kerajaan diseluruh benua sedang dalam kondisi waspada akan penyerangan mereka. Kami dipanggil kembali oleh kepala sekolah dan ikut bergabung dengan aliansi bersama klan Aira dan sedang berpatroli. Karena kami sudah bersama sejak diakademi, kami jadi disatukan dalam satu kelompok agar kinerja kami lebih efektif." jelas Arden kepada mereka.
" Begitu ya. " sahut Niu mengerti situasi nya.
" Lalu, kalian sendiri kenapa ada disini?" tanya Jino kemudian.
" Ah, kami sedang bertemu kenalan untuk melakukan misi. Dia adalah Mirion dan adiknya Mira. " jawab Oscar.
" Hallo. " sapa Mirion pula kepada kelompok Jino.
" Seorang Elf? Misi apa yang kalian jalani, kudengar kalau pusat misi diakademi sedang dihentikan saat ini. " tanya Kian pula penasaran dan terkejut.
" Ini bukan misi dari akademi, tapi... dari penguasa hutan. Karena itu... maaf kami tidak bisa memberitahu kalian." sahut Meliyana menimpali.
" Tidak apa-apa. " jawab Lilac mendengar itu.
Setelah cukup lama berbincang bersama dengan Jino dan kelompok nya, Ethan dan teman-teman pun berpamitan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan dan langsung meninggalkan kota seperti yang direncanakan.
Dan agar tidak menumpuk kecurigaan yang tidak pelu, mereka tidak bisa berlama-lama berada disana. Apalagi jika sampai melibatkan senior-senior mereka dengan hal yang berbahaya, untuk orang-orang mencurigakan tadi... Ethan dan yang lain tidak memberitahukan hal itu lebih dulu, karena mereka masih belum yakin apa orang-orang itu benar-benar klan Retia atau bukan.