Quennevia

Quennevia
Tubuh Fisik Misika



Quennevia pov.


Mulai hari itu, aku pun tinggal dan belajar di sana. Tidak seperti yang aku pikiran ternyata di sana tidak jauh berbeda dengan kediaman, hanya saja disana lebih bebas dan juga sangat nyaman. Tapi jika kuperhatikan ternyata buku-buku di rumah yang ditinggali ibu lebih banyak dan lengkap dari pada di perpustakaan umum sekalipun. Bahkan buku yang usianya lebih dari 1000 tahun yang lalu pun ada dan terawat dengan baik.


Disana aku juga mulai berteman dengan para hewan maupun spirit lainnya, ya memang sejak awal mereka tertarik untuk berada di dekat ku sih. Hewan-hewan itu tidak agresif seperti di hutan lainnya, mungkin karena tempat itu aman dari manusia, mereka jadi tidak takut untuk menghampiri ku yang juga salah satu dari mereka.


Oh, ngomong-ngomong aku juga malah jadi bahan rebutan guru-guru ku di sana, padahal ibu sudah menentukan kalau mereka semua yang akan mengajariku. Dan oh... Aku juga bertemu beberapa dari mereka lagi.


" Dengar semuanya, aku ingin kalian semua mengajari anak ku untuk meningkatkan kekuatan nya. Everon, kau akan mengajar nya tentang api. Mice, ajari dia tentang tanaman. Aqua, ajari dia tentang air. Freea, kau ajari dia tentang cahaya. Zeze, ajari dia tentang sihir kegelapan. Azel, ajari dia tentang angin. Dan..... " ucap ibu kepada mereka, tapi menggantung.


" Hmm... Dimana yang satu lagi??. " tanyanya.


Saat seseorang mengangkat tangannya, " Oh-Oh, aku melihat Wais sedang berkelahi saat dalam perjalanan kemari. " sahut orang yang disebut Azel oleh ibu.


Aku tidak mengenal orang itu, aku jadi bertanya-tanya kenapa ia tidak datang, sementara yang lainnya begitu bersemangat saat tahu kalau aku datang. Hm... Mungkin kah dia orang yang menyebalkan.


" Dia itu, aku jadi ingin menyeretnya kemari. Berani sekali dia tidak memperdulikan kedatangan Queen kita!. " ucap Aqua dengan kesal, atau mungkin memang dia itu orang yang mudah emosi.


" Baiklah, kita bisa memperkenalkan nya lagi lain kali. Kita akan mulai latihan nya besok, jadi kalian saja yang putuskan siapa yang akan mengajari Quennevia terlebih dahulu. " ucap ibu pula, lalu ia pun mengajakku pergi dari sana menuju rumah lamanya.


Ya sudahlah, yang penting sekarang aku punya seseorang yang bisa mengajariku, dan lagi banyak. Tapi ngomong-ngomong apa aku bisa mempelajari teknik mereka, mereka kan memang khusus di bidang mereka.


Everon, sendiri memang naga api. Mice, naga air dan tumbuhan. Aqua, seekor ikan atau mungkin seekor duyung?.. Lalu ada juga Freea, dia kupu-kupu ber-elemen cahaya. Zeze itu seekor kuda bersayap, dia ber-elemen kegelapan. Lalu Azel itu seekor elang, jika dipikirkan lagi itu kan memang karena mereka sudah mendapatkan elemen-elemen itu sejak mereka lahir.


" Ibu, apa aku harus mempelajari itu semua. " ucapku dengan agak malas.


" Tentu sayang, kau ingin segera kuat kan?. " sahut ibu.


" Tentu saja, tapi.... latihan nya terlalu ketat, aku tidak akan punya waktu bermain dengan hewan-hewan imut disini. " gerutu ku.


" Hahaha.... Tenang saja, sayang. Saat kau mulai berlatih bersama mereka kau akan lihat kalau latihan mu itu sangat menyenangkan. " ucapan ibu yang sama sekali tidak kumengerti.


Apa boleh buat, semuanya sudah diatur oleh ibu, aku hanya perlu mengikuti nya saja. Lalu ibu pun membawa ku ke kamar yang akan ku tempati.


" Nah, ini kamarmu, sayang. " ucap Ibu dengan riang.


Kamar itu cukup luas juga bersih, aku penasaran siapa yang membersihkan nya, dan barang-barang di sana juga sangat lengkap. Aku tidak percaya mereka tahu semua yang aku butuhkan dan menyediakan nya.


" Wah... kamar yang sangat bagus. " ucapku.


" Benarkan?? Saat kau jatuh di lubang itu secara tidak langsung akar-akar itu membaca pikiran mu dan kami langsung menyediakan apa yang kau butuhkan. " sahut ibu.


" Hee... begitu juga, ya. Hebat. " ucapku kagum.


" Tentu saja, semua hal bisa terjadi di sini. " jawab ibu. Iya, tempat ibu memang sangat luar biasa. " Sekarang beristirahat saja, ya. " ucap Ibu lagi, tapi kenapa ia berjalan keluar?.


" Ibu, kau mau ke mana??. " tanya ku.


" Mm... ya tentu saja ke kamar ibu. " jawab ibu pula.


Aha... apa dia lupa kalau dia sekarang ini adalah hantu, aku tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran nya.


" Memangnya tidak masalah jika ibu di kamar ibu, sementara kalungnya disini??. " tanya ku lagi.


Haha... sekarang wajahnya seperti baru saja tercerahkan.. " Ahaha... ibu lupa, kalau begitu ibu kembali ke kalung saja ya, selamat beristirahat sayangku. " ucap ibu sambil mencium dahi ku, lalu kemudian menghilang.


Yeah... dia memang tidak bisa di tebak...


******


Author pov.


Saat malam tiba, Quennevia tiba-tiba saja terbangun dari tidur nya, ia pun bangun dari kasur nya dan pergi untuk mengambil air. Di tempat itu sangat gelap hingga Quennevia harus menggunakan lilin untuk menerangi jalannya.


Setelah ia akan kembali dari dapur, ia malah tertarik kepada sebuah pintu di ujung lorong sana. Ia tidak sempat menanyakan nya karena langsung tidur saat sampai di sana, ia pun berjalan ke arah sana dan membuka pintu itu.


Dibalik pintu itu ada sebauh tangga menuju ke bawah, dan di bawah sana lebih gelap lagi dari pada di atas. Karena terlanjur penasaran ia pun turun ke bawah sana untuk melihat apa yang ada di sana.


" Hmm... Lorong panjang yang gelap, mengingatkan ku saat pertama bertemu Everon. " batin Quennevia.


Ia kembali menyusuri lorong itu, entah mengapa itu sampai di sebauh tempat yang mirip gua. Ada juga sungai yang mengalir dari bawah sana, suara airnya menggantikan keheningan yang ada di sana.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat nya masuk tadi, ia melihat sebuah cahaya yang menyinari sebauh tempat. Seperti nya itu cahaya bulan, dan di tempat itu terdapat pohon di danau kecil yang terhubung dengan sungai tadi.



" Hee... tempat apa ini??. " gumam Quennevia sambil celingak celinguk. " Eh... bukankah itu... tubuh milik ibu??. " ucapnya pula, saat melihat ke bawah danau itu.



Quennevia terus memperhatikan tubuh Misika di dalam danau itu, dibawah sana tubuh ibunya berada sementara jiwanya terus bersama dengan nya. Sama sekali tidak ada perbedaan dengan yang ada di ingatan nya, seolah Misika baru saja masuk ke dalam sana, ia bahkan tidak menua sana sekali.


" Kapan ibu bisa di bangunkan, ya??. " gumam Quennevia lagi.


Tiba-tiba saja ada sebuah lengan yang menutup matanya, Quennevia sangat terkejut tapi ia mengenal bau khas yang ada pada orang dibelakang nya.


" Putri kecil harusnya tidak berkeliaran tengah malam seperti ini. " ucap Everon dibelakang Quennevia, iya dia lah orang itu.


" Everon, jangan muncul di belakang seseorang seperti kau adalah orang yang memiliki niat jahat seperti itu. " sahut Quennevia ketus, sambil menyingkirkan tangan Everon dari matanya.


" Salah sendiri keluyuran malam-malam. " jawab Everon pula.


" Humph...... Kenapa tubuh ibu ada di bawah sana?? "


" Itu untuk mencegah agar tubuhnya tidak mengalami kerusakan, lagipula ia terluka sebelumnya jadi sekaligus menyembuhkan nya. "


" Hmm... jadi karena itu racun dari selir pertama waktu itu berpengaruh terhadap ibu. "


Jika saja ibunya tidak terluka selir pertama tidak akan bisa memaksanya memisahkan tubuh dan jiwanya seperti ini, tapi berkatnya juga sekarang semua kejahatan mereka sendiri terbongkar.


" Oh, benar juga. Everon apa benda ini berguna??. " tanya Quennevia.


Quennevia mengambil pil yang ia beli di pelelangan sebelumnya, dan ia menyerahkan nya kepada Everon. Jika saja benda itu tidak berguna, ia akan melelang nya lagi suatu hari.


" Oho.. dari mana kau dapatkan benda berharga ini?? Bukan kau yang buat kan??. " tanya Everon sambil melihat nya dengan seksama.


" Cih, memangnya kenapa jika bukan aku yang membuatnya. Pil itu ku beli dengan harga yang mahal,.... meski harus menerima bantuan dana dari kak Lecht dan si bodoh juga. " sahut Quennevia, ia sangat muram karena kenyataan kalau dirinya tidak cukup mampu membelinya sendiri.


" Si bodoh??. " ucap Everon dengan bingung pula.


" Ethan. " jawab Quennevia.


" Owh... " Pantas saja dia bisa mendapatkan nya, Kira-kira seperti itulah pikiran Everon mendengar itu. " Iya, benda ini akan sangat membantu saat proses penggabungan tubuh dan jiwa nya. Tapi bukankah kau punya cukup uang untuk membeli ini sendiri, kuingat kau memiliki segudang koin emas setelah menjual pil-pil yang kau buat dulu, kenapa kau harus mendapat bantuan dari si bodoh mu itu?? Kalau Lecht sih aku tidak penasaran. " ucapnya pula.


" Itu... Itu karena di pelelangan ada banyak tanaman obat langka, jika saja aku tahu disini ada banyak aku tidak akan membelinya. "


" Pffttt... "


Everon hanya bisa menahan tawanya melihat Quennevia yang sangat frustasi seperti itu, bukankah dia mendapat semua yang ia mau, kanapa malah frustasi. Apa dia malu karena harus mendapat uang bantuan dari Ethan dan Lecht?? Atau dia frustasi karena sudah menyia-nyiakan uangnya demi tanaman yang bisa ia dapatkan di tempat ini.


" Sudah pergi tidur sana, kau akan mulai berlatih besok. " ucap Everon pula.


" Iya, iya, iya. Everon cerewet. " gerutu Quennevia, dan ia pun berjalan pergi dari sana. " Selamat malam, Everon. " ucapnya pula sambil bejalan pergi dari sana.


Everon yang mendengar nya pun tersenyum, " Selamat malam. " sahutnya.