
Akhirnya mereka pun sampai juga di wilayah klan iblis bulan darah, berbeda dengan Quennevia dan juga Ethan yang terlihat biasa-biasa saja Niu dan Oscar benar-benar gugup saat sampai di sana. Hingga rasanya mereka tidak kuat untuk berjalan.
Tapi pada akhirnya mereka pun harus turun dari atas punggung Yue dan mulai berjalan mendekati tempat para tetua, namun sebelum itu ada seseorang yang menghalangi mereka di tengah-tengah jalan itu.
" Hee... jadi dia adalah anak angkat dari pemimpin klan terdahulu. " ucap orang itu dia masih terlihat muda. Oh salah, kan mereka memang selalu terlihat muda.
" Joy, apa yang kau lakukan di sini??. " tanya Yulles kepada orang yang dipanggilnya Joy itu.
" Aku.. hmm.. Aku disini untuk memenuhi keinginan tetua. " ucap orang itu pula sambil tiba-tiba mengarang Quennevia yang masih belum siap itu.
Alhasil dia sampai terdorong cukup jauh ke belakang sana, beruntung sekali Yue langsung menahan nya agar tidak menghantam bangunan dibelakang sana setelah menghancurkan sebuah tembok sebelumnya.
Semua orang sangat terkejut dengan serangan mendadak itu, apalagi serangan yang sangat kuat seperti itu.
" Joy, apa yang kau lakukan?!. " tanya Yulles dengan marah.
" Hah, sudah kubilang aku hanya mengikuti perintah tetua, jika serangan kecil seperti itu saja dia tidak bisa menahannya dia tidak akan bisa menjadi putri dari Nona Emilia..... " ucap orang bernama Joy itu.
Namun tiba-tiba saja Quennevia muncul di belakang Joy, dan melayangkan tangannya kepada Joy hingga membuatnya harus menghindari.
Boommm......
Orang kembali terkejut melihat Quennevia tiba-tiba muncul, apalagi dengan kekuatan serangannya yang sangat kuat itu. Dan jika mereka melihat dengan jelas ekspresi Quennevia, dia terlihat kurang senang dengan penyambutan itu.
" Bagaimana?? Apa kau masih ingin melanjutkan nya??. " tanya Quennevia kepada Joy.
" Haha... tidak, sudah bisa bertahan saja sudah cukup. Tapi kau bisa menyerang ku dengan kecepatan seperti itu, meskipun tidak kena benar-benar mengesankan. " sahut Joy menimpali.
Quennevia pun tersenyum, " Begitu, lainkali tolong beritahu dulu jika ingin menyerang ya. Karena aku ini bukan musuh. " ucapnya.
" Baik, baik. Nah, mari kita temui para tetua. " ajak Joy pula.
Quennevia pun dipandu hingga ke ruang tetua itu, bersama dengan teman-temannya di belakang nya. Selama perjalanan ke tempat tetua juga banyak anggota klan yang memperhatikan nya, nampaknya informasi tentang Quennevia sudah menyebar di antara mereka.
Lalu di tempat tetua itu ada sekitar 5 orang tetua, lebih banyak dari pada para tetua di Akademi.
" Tetua, aku sudah membawa mereka. " ucap Joy kepada para tetua itu, " Quennevia, beri hormat kepada para tetua. " ucapnya pula pada Quennevia.
" Quennevia memberi salam kepada para tetua. " ucap Quennevia sambil membungkuk hormat.
" Hoo... jadi ini adalah putri angkat Emilia ya, cukup menjanjikan. " ucap tetua ketiga sambil memainkan janggut panjangnya.
" Iya, dia masih sangat muda, namun dia sudah ada di level 66. " sahut tetua ke lima pula.
" Bagaimana jika kita uji sedikit lagi. " gumam tetua kedua pula, ia menggunakan kekuatan nya untuk menekan Quennevia.
Quennevia yang merasakan tekanan itu sedikit bereaksi namun kemudian kembali seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi sama sekali selama tekanan itu terus meningkat. Sementara itu yang lainnya di belakangnya terlihat gelisah melihat Quennevia di tekan seperti itu.
" Hoo.. gadis yang tangguh. " ucap tetua ke empat.
" Coba naikkan lagi tekanan nya. " ucap tetua pertama.
" Baiklah, level 29." gumam tetua kedua pula.
Tekanan itu terus saja meningkat sedikit demi sedikit, namun Quennevia masih tenang-tenang saja. Dan itu malah semakin membuat gelisah orang-orang di belakang sana.
" Umm... level berapa sekarang tekanan nya??. " bisik Joy kepada Yulles, dia tidak yakni sudah seberapa tapi ini sudah berlangsung cukup lama.
" Itu... Level 38." sahut Yulles, membuat Joy dan juga teman-teman Quennevia dibelakang sana terkejut.
..." Para tetua ini terlalu berlebihan. " batin Oscar....
" Anu... apa tidak sebaiknya dihentikan saja??. " tanya Niu pula kepada mereka berdua.
" Tidak lanjutkan saja, hanya tekanan seperti itu Master bisa menahan nya. " sahut Yue yang duduk di pundak Ethan.
" Kau yakin??. " tanya Ethan pula, yang diangguki oleh Yue.
Akhirnya mereka tidak memperdebatkan lagi dan hanya fokus memperhatikan saja, disaat yang sama mereka juga kagum karena Quennevia bisa bertahan. Tidak terkecuali para tetua yang juga sama kagumnya.
" Ini... levelnya sudah hampir setara dengan levelnya, apa masih akan diteruskan??. " batin tetua kedua, yang terhubung dengan batin para tetua yang lainnya.
" Baiklah... level 66." gumam batin tetua ke dua pula.
Mereka benar-benar kagum dengan ketahanan Quennevia yang sangat tangguh, bahkan saat para tetua itu terus menekan nya sedikit demi sedikit bertambah lagi dan lagi, namun Quennevia masih belum juga menyerah.
Hingga saat Level tekanan hampir mencapai level 70, Quennevia sudah mulai agak kewalahan dengan tekanan itu. Kekuatan Emilia yang tertidur dalam dirinya pun juga ikut keluar dengan sendiri nya, membantunya untuk bertahan di tengah-tengah tekanan itu.
" Itu... benar-benar kekuatan Emilia. " batin tetua ke tiga.
" Sebaiknya kita hentikan saja. " gumam batin tetua kedua hendak menyudahi nya.
Namun tetua pertama mencegah nya, " Tidak tunggu, dia masih belum menujukan kekuatan nya yang sesungguhnya. " batin tetua pertama.
" Tetapi... tekanan nya sudah jauh diluar batas levelnya, ini hampir pada level 75." batin tetua ke empat.
" Kalau begitu cobalah di level itu. " sahut tetua pertama pula.
" Tetua pertama, ini agak..... Terlalu berlebihan, gadis itu juga sudah kewalahan. " batin tetua ke lima.
Quennevia memang kewalahan dengan itu, meskipun dengan kekuatan milik ibu angkatnya dia masih saja tidak bisa se-tenang seperti sebelumnya. Dan itu pastinya akan membuat yang lainnya merasa cemas, namun dia sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh para tetua itu.
" Jangan khawatir, aku hanya ingin melihat kemampuan nya saja. " batin tetua pertama.
" Baiklah kalau begitu... level 75." batin tetua ke dua pula menyanggupi nya.
Melompati beberapa level terlebih dahulu membuat Quennevia merasa seperti ditimpa baru besar, namun meski begitu ia masih berusaha keras untuk berdiri di tempatnya. Sementara yang lainnya sudah pasti sangat khawatir dengan Quennevia.
" Ini berlebihan!. " batin Ethan.
" Tetua, apa yang anda pikirkan??. " batin Yulles pula.
" Bagaimana ini.... Quennevia.. " gumam Niu dengan sangat khawatir.
Quennevia sudah hampir tidak kuat lagi untuk tetap berdiri, Yue yang melihat nya pun hendak melompat kearahnya untuk membantu, saat sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari tempat Quennevia menghentikan langkahnya.
Tekanan yang diberikan oleh para tetua juga lepas dengan sendiri nya, seolah-olah mendapatkan serangan balik dari Quennevia hingga mereka langsung menghentikan tekanan mereka. Dan Quennevia langsung jatuh terduduk di tempat nya.
Yang membuat terkejut disana itu bukan karena cahaya itu, namun karena Quennevia memperlihatkan empat sayap nya dihadapkan mereka semua. Mereka tidak percaya melihat hal itu di depan mata mereka, seseorang yang bisa memiliki sayap seperti itu.
" Empat pasang sayap!. " batin para tetua dengan sangat terkejut.
" Apa yang terjadi??. " ucap Joy dengan bingung.
" Itu... Itu.... " ucap Oscar tergagap-gagap saking tidak percaya nya.
" Quennevia.... " ucap Niu pula menggantung.
Saking terkejut nya mereka sampai tidak sanggup berkata-kata lagi, sedangkan Quennevia hanya menghela nafas lega karena ujian itu sudah selesai.
" Hufttt..... Itu tadi tekanan yang sangat kuat. " gumam Quennevia, sambil sayap yang ada di belakang nya langsung menghilang.
Perhatian nya teralihkan kepada Ethan yang mengulurkan tangannya kepada Quennevia, " Kau baik-baik saja??. " tanya nya.
Quennevia tersenyum dan mengangguk sebagai respon darinya, ia pun menerima uluran tangan itu dan Ethan membantunya berdiri. Saat Yue juga langsung melompat kepundak nya dengan sangat panik.
" Master, master, anda tidak apa-apa kan??. " tanya Yue dengan benar-benar panik.
" Aku baik kok, jangan khawatir. " sahut Quennevia, membuat Yue menghela nafas lega.
" Ahahaha.... Kau benar-benar penuh dengan kejutan, nak katakan siapa ibumu yang sebenarnya. " ucap tetua pertama kepada Quennevia.
" Ibu ku??... Namanya Misika Yuriana, penguasa dan pelindung hutan York, ratu yang memerintah para spirit animal, peri, Elf, draw dan lainnya yang tinggal di sana. " jelas Quennevia.
Iya, hutan York itu hutan yang sangat besar, bahkan saking besarnya hutan itu lebih luas dari para dua Kekaisaran jika digabungkan. Disana juga ada sih klan-klan yang tinggal di hutan, dimana mereka hidup berdampingan dengan para spirit animal, dan terisolasi dari dunia luar yang sesungguhnya.
" Hohoho... pantas saja kau sangat penuh dengan potensi, kali ini Emilia punya keberuntungan besar. Dan soal sayap itu.... " ucap tetua ke tiga
" Oh, aku sendiri kurang mengerti. Tapi Everon bilang mungkin saja akan tumbuh sayap baru di masa mendatang, seiring dengan pertumbuhan ku sebagai penguasa hutan. Sebenarnya aku tidak diizinkan untuk memperlihatkan nya, tapi tadi itu benar-benar sangat mendesak. " sahut Quennevia.
Iya sejujurnya itu yang membuatnya sangat gelisah, andai saja dia tidak punya takdir yang menyedihkan seperti ini.