Quennevia

Quennevia
Dunia Bawah



[Season 2]


* Di Akademi bintang utara saat ini...


- Ruang internal khusus, pusat laporan benua.


" Tolong ambilkan beberapa kertas yang lain."


" Tetua Kara, ada surat yang datang lagi dari kerajaan Laut Timur dan Gretta. Mereka menanyakan tentang keadaan Putri Empat Dunia dan soal perubahan keseimbangan alam benua?."


" Tulis balasan kepada mereka kalau Putri Empat Dunia sedang berada di 'world borders' untuk bertemu dengan para dewa yang lain mengenai ini."


" Tetua, ada laporan lagi. Para monster semakin liar diwilayah dekat pegunungan Phoenix, dan terjadi angin topan diwilayah utara kerajaan Aquila."


" Kirim pasukan untuk membasmi monster-monster itu, dan lakukan tindakan evakuasi untuk warga diwilayah itu. Aku akan menghubungi spirit guardian untuk pergi ke sana."


Orang-orang disama benar-benar dibuat sibuk dengan apa yang terjadi sekarang. Sejak beberapa bulan yang lalu, setelah Putri Empat Dunia kehilangan sebagian besar kekuatan nya dan tubuh fisiknya. Semua bencana alam mulai terjadi.


Keseimbangan goyah kearah yang tidak terduga dan kehancuran berada didepan mata, disaat yang sama mereka juga harus selalu waspada dengan pergerakan klan Retia disituasi genting ini.


" Sampai kapan ini bisa terus berlangsung? Meski klan Retia tidak menyerang, kita akan kalah lebih dulu oleh bencana-bencana ini.."


Tetua Kara menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab dalam hal ini, sementara itu para tetua yang lain pergi ke negara-negara itu untuk merundingkan keadaan. Namun tidak ada situasi damai dimana mereka bisa bersantai sekarang.


Karena itulah, penguasa hutan dan para klan kuno serta iblis yang ada dibenua harus melakukan aliansi yang tiba-tiba. Demi menekan tingkat kerusakan yang terjadi.


Pihak akademi bahkan sampai menerjunkan semua murid yang ada, dan memanggil kembali para alumni yang telah keluar dari akademi untuk kembali dan membantu.


Mereka semua menjalankan tugas mulia bahkan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga semuanya jadi seperti itu...


[Kara..]


Suara itu membuyarkan lamunan Tetua, saat kemudian ia menolehkan kepalanya. Seekor kupu-kupu yang terlihat bersinar terang terbang dengan lembut kearahnya...


" Ah, penguasa hutan.." Tetua Kara langsung bangkit dari duduknya dan menghadap ke arah kupu-kupu itu. " ...Ada yang bisa aku bantu, Misika?" dan ia pun bertanya.


[Tidak... Bukan hal itu. Sebentar lagi... Tolong tunggulah sebentar lagi, mereka telah sampai pada jalan yang baru. Pohon kehidupan telah mendapatkan kembali kekuatan nya. Anak-anak itu akan berhasil...]


Ah, itu kabar yang sangat menggembirakan. Tetua Kara tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya, murid-muridnya yang baik telah melakukan pekerjaan besar dengan membantu menyeimbangkan kembali keseimbangan yang hancur perlahan-lahan.


" Begitu, kah? Itu bagus, dengan begini dia juga akan kembali, kan?."


[Benar. Karena itulah.. Tolong jangan kehilangan harapan, kami akan membantu kalian.]


" Tentu saja, terima kasih, Misika."


[Karena inilah yang orang itu inginkan.]


Akhirnya yang mereka dambakan akan segera terwujud, dan apa yang harusnya orang itu dapatkan akan terjadi...


***


Sementara ditempat lain, Niu saat ini merasa aneh pada dirinya sendiri. Tubuh nya terasa sangat berat hingga sulit untuk bergerak. Saat tak lama ia pun merasakan tepukan ringan dipipinya, dan suara Oscar pun terdengar ditelinganya...


" Niu.. Hei, Niu. Bangunlah.."


" Nghh..."


Ia terlihat mengerutkan keningnya merasa terusik, dan matanya pun perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Oscar yang sedang mencoba untuk membangunkannya...


"Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" dia bertanya dengan sangat khawatir dan kemudian membantunya bangun.


" Ukh.." Niu merasakan sakit dikepalanya, itu membuatnya pusing dan ada suara berdengung ditelinganya. " ...Aku baik-baik saja, apa yang terjadi?" tanyanya kemudian sambil memegangi kepala nya.


" Kita pingsan setelah memasuki gerbang."


Itu membuat Niu terkejut, ia pun kembali bertanya...


" Apa? Lalu siapa yang membangunkanmu?"


" Ethan yang membangunkanku."


Perhatian Oscar pun teralih kepada Ethan yang sedang membangunkan Meliyana disisi lain, dan ada Arkan yang sedang membantu Yuki berdiri. Tentu saja, hal itu juga membuat perhatian Meliyana ikut menoleh kepadanya.


Dia terlihat baik-baik saja, nampaknya tekanan ditempat ini tidak ada banyak berpengaruh kepadanya. Padahal bagi Oscar sendiri yang membangunkan nya, dia terlihat sedikit lesu. Yah, itu tidak terlalu mengerikan juga, Ethan memiliki darah iblis dalam tubuhnya, itu berasal dari sang ibu. Jadi mungkin wajar jika dia bisa bertahan disini meski tidak memakan pil yang sebelumnya.


" Semuanya, apa kalian baik-baik saja?" tanya Ethan kemudian.


Situasi, kondisi semua yang ada disana memang terlihat sama, namun...


" Kita telah menyebrang, ini sisi lain dari gerbang itu. Tempat nya memang terlihat sama karena dibuat seperti itu." Ethan pun menjawab hal itu.


" Kau terdengar seperti orang yang pernah datang ke sini." Yuki pun berkata seperti itu dan sampat membuat Ethan kaget sendiri.


Tapi ia langsung berdalih terhadap hal itu, " Ah, hahaha.. Aku mendengarnya dari kakekku. Tentu saja aku tahu." ucapnya terdengar canggung.


Sementara teman-temannya hanya menatapnya dengan tatapan aneh...


Meski begitu, mereka tidak memperpanjang masalah itu. Semuanya langsung bangkit berdiri dan bersiap untuk keluar dari gua ini. Selama perjalanan itu juga mereka menyiapkan rencana dan menyiapkan peralatan yang bisa mereka gunakan.


Seperti obat penyembuh tambahan, jubah tembus pandang dan yang lainnya. Hingga tak lama, mereka pun sampai ujung gua itu, satu langkah lagi yang mereka ambil, mereka telah ada diluar.


" Woah, astaga..."


Mereka semua pun langsung terpana dengan apa yang mereka lihat disana, sebuah pemandangan yang langka. Tempat didepan mereka terlihat seperti dibagi menjadi dua, sisi kanan sangat gelap seperti malam yang tidak pernah barakhir.


Sementara sisi lainnya berwarna kelabu, dimana itu tidak gelap tapi juga tidak terang.


Tempat itu terlihat seperti pantai dan lautan, keduanya bersama namun tidak bersatu...


" Ini adalah... Dunia bawah??" Niu bahkan tidak bisa menahan kekaguman nya disana.


Sementara didekatnya, Ethan terlihat membuka kembali buku petunjuk yang ada ditangannya. " Ada peta dibelakang buku ini, asalkan kita mengikutinya kurasa kita bisa sampai ke tempat dimana lily laba-laba emas itu berada." ucapnya masih sambil menatap buku itu.


" Kalau begitu ayo pergi, lebih cepat ditemukan, lebih cepat kita ketempat selanjutnya." dan Meliyana yang menyahuti nya pun hendak mengambil langkah disana.


Ethan yang melihat itu pun tersentak kaget dan langsung panik, " Tunggu, Meliyana-...!!" ia ingin menggapai tangannya untuk menghentikan nya, namun Ethan sedikit terlalu jauh.


" Eh?" Meliyana sendiri langsung menoleh ketika ia mendengar kata-katanya itu.


Saat tangan Arkan kemudian lebih cepat memeluk pinggangnya dan menariknya mundur kembali ke tempatnya, hingga mereka berdua jatuh disana. Teman-teman mereka yang lain terkejut melihat itu, apalagi Meliyana yang ditarik tiba-tiba disana.


" Aduh.." Disaat Arkan mengaduh kesakitan karena itu..


" A-Apa yang terjadi..??" Meliyana benar-benar bingung.


Ethan pun segera menghampirinya dan memegang bahunya, " Meliyana, kau harus berhati-hati disini. Karena tidak akan ada yang tahu kemana kau akan terdampar jika salah mengambil langkah." ucapnya memperingati, meski begitu ekspresi nya penuh rasa syukur karena dia baik-baik saja dan masih bersama mereka.


" Kau tidak ingat..?" Arkan yang ada disamping nya pun bangun dan berkata, " Tuan Velskud baru memperingati kita soal itu juga." lanjutnya kemudian.


" Aku minta maaf."


Meliyana menundukan kepalanya dengan penuh penyesalan, dia lupa tentang itu karena ingin segera pergi dari tempat ini. Pengaruh emotional dari Green juga mempengaruhi hal itu. Roh yang dikontrak akan berbagi perasaan dengan pemiliknya, jika Meliyana tidak punya kemampuan mental yang kuat untuk bertahan, maka bisa saja dia terhanyut dan tidak bisa lagi membedakan mana emosinya dan mana emosi dari roh kontraknya.


" Ngomong-ngomong aku ingin tahu..." suara Yuki terdengar mengalihkan perhatian mereka disana, semua pun jadi berpusat padanya. "...Kemana kita jika terdampar?" dia bertanya seperti itu.


Itu pertanyaan yang bagus...


" Kau mungkin akan terdampar didunia iblis." dan Ethan pun menjawabnya.


Teman-temannya langsung terdiam kaku mendengar itu, kedengarannya itu akan benar-benar buruk. Tapi kenapa... Ethan mengatakan nya dengan ekspresi berseri-seri seperti itu, seolah apa yang ia katakan itu bukanlah apa-apa.


Situasi disana tiba-tiba berubah menjadi dingin. Karena hal itu, Oscar pun memutuskan untuk mengalihkan percakapan disana. " Ja-jadi dunia iblis dan dunia bawah itu berbeda??"


" Secara teknis, iya. Jika dunia bawah yang kau pikir adalah tempat kemana jiwa orang mati pergi, maka itu yang akan kita tuju. Tapi jika dunia tempat iblis tinggal, maka itu dunia iblis." ucap Ethan kemudian menimpali.


" Tapi dua-duanya dipanggil dunia bawah padahal berbeda, jadi kenapa?" Meliyana juga kelihatan nya penasaran dengan hal itu.


" Alah, paling karena pintu masuk dan keluarnya sama." disaat Niu kemudian menyela disana.


Ethan terdiam sebentar ketika mendengar itu, saat kemudian dia memasang ekspresi yang seolah tercerahkan.


" Bagaimana kau tahu?" dan dia pun bertanya.


Disisi lain, ekspresi Niu berubah jadi canggung sendiri karena itu.. " A-apa? Jadi benar?" dia hanya asal menebaknya saja.


Dia bahkan tidak berpikir kalau itu benar dan hanya bicara saja.


" Haha... Jangan khawatir, asalkan kalian tidak salah mengambil langkah, semuanya akan baik-baik saja. Nah, sini, sini, ikuti saja aku. " tapi Ethan sama sekali tidak terlalu menanggapinya dan pergi lebih dulu.


Sementara yang lainnya hanya saling pandang dalam kebingungan melihat itu...