
[Season 2]
Posisi Arkan saat ini, ia berada didalam inti pohon kehidupan. Dia masuk ke dalam mata air kehidupan yang ada disana dan menyelam untuk menemukan kunci masalah dari energi pohon kehidupan yang mulai melemah.
Ketika berada didalamnya, itu berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Rasanya tidak seperti sedang menyelam ke dalam air, namun seperti terbang dilangit. Yah, itu menguntungkannya... karena dia tidak memakan pil yang bisa membuatnya bernafas didalam air seperti sebelumnya, dia jadi tidak perlu menahan nafas lagi.
" Ini sangat luar biasa. Tapi... apa ya gelembung-gelembung ini??" batin Arkan.
Ketika menyusuri mata air itu, Arkan terus melihat gelembung-gelembung besar seperti gelembung udara didalam sana. Namun ketika ia menyentuhnya itu tidak menghilang sama sekali. Dan gelembung-gelembung itu selalu menunjukan gambaran-gambaran orang lain.
" Apa ini ingatan pohon kehidupan??" Arkan bertanya-tanya akan hal itu.
Arkan melihat banyak hal, termasuk dua orang Elf yang selalu datang mengunjungi pohon kehidupan. Dan salah satunya adalah Thesia berarti yang satunya adalah putri Lumia...
" Lihat, Thesia. Ini adalah pohon kehidupan, sumber kehidupan Elf. "
" Wahh... Kakak, apa kakak bisa mendengar suara pohon kehidupan?? Seperti apa suaranya??"
" Hm? Suaranya... seperti seorang ayah. Begitu lembut dan juga hangat, ketika kau mendengar nya membuatmu merasa begitu tenang dan damai. Seolah-olah kau dipeluk oleh seseorang yang tidak akan pernah membiarkanmu terluka."
Itu membuat Arkan sedikit terkejut, karena... selain Ethan dan bangsa Elf sendiri, tidak ada yang tahu kalau putri Thesia punya saudara.
Arkan merenungkan itu untuk waktu yang cukup lama, namun akhirnya ia kembali melanjutkan apa yang ia cari, saat kemudian dia melihat sebuah cahaya dari bawah sana. Jadi ia pun datang mendekati cahaya itu dan keluar dari sana.
Splashh...
" Huh. Ini aneh. " Arkan melihat sesuatu yang tidak biasa didepannya. " Kupikir aku ada didalam pohon kehidupan saat ini.. Dan sekarang aku malah keluar dari dalam danau disuatu tempat." ia terheran-heran dengan hal itu.
Ya, benar. Arkan ada diluar saat ini, disebuah tempat yang ia rasa tidak asing namun tidak ia kenali. Arkan pun berenang ke arah tepian dan keluar dari danau itu, ia kemudian memandangi sebuah rumah besar dihadapannya.
" Rumah itu seperti nya aku kenal..." batinnya.
" Kakak..!"
Saat kemudian perhatiannya teralihkan kepada suara itu. Arkan pun menoleh kearahnya, namun ketika ia melihat siapa itu.. Arkan tersentak dan ia membulatkan matanya tidak percaya dengan siapa yang baru saja memanggilnya.
" ..Balin?" ucapnya sangat terkejut.
Ya, Balin. Dia berlari kearah Arkan dengan begitu terburu-buru dan langsung memeluknya. Tapi tunggu... Arkan merasa ada yang salah, Balin dia.. tubuhnya mengecil! Bukan hanya dia, tapi dirinya juga.
Ia melihat tangannya yang basah dengan terkejut, kemudian ia kembali ke Balin yang masih memeluknya dengan erat saat ini. " Balin, apa yang terjadi...?" tanya nya yang makin bingung dengan situasi ini.
Sedangkan Balin mengangkat kepalanya dengan raut wajah khawatir, " Kakak, kau jatuh dari atas pohon dan masuk ke kolam. Apa kau tidak apa-apa? Terluka tidak?" tanya nya dengan wajah polos.
Arkan tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, yang ada dia makin bingung. Balin menjadi kecil dan dia bahkan sekarang memanggilnya kakak?! Bukankah artinya situasi mereka terbalik saat ini? Bukannya dia yang harus memanggilnya kakak?
" Arkan!"
Dia baru tersadar dari lamunanya mendengar namanya disebut, dan yang ia lihat... ibunya yang berlari kearahnya dengan begitu panik.
" Arkan! Terima kasih dewi, kau telah melindungi anakku! Bagaimana bisa terjadi sayang? Bagaimana kau bisa jatuh?" ibunya itu memeluknya, dan langsung menanyainya berbagai macam pertanyaan dengan sangat khawatir.
" Ah.. tidak. Kurasa aku tergelincir dan jatuh dari pohon. " jawab Arkan tanpa sadar, dia begitu terpaku dengan apa yang baru saja terjadi, sampai tidak bisa memikirkan apapun lagi.
" Ah, syukurlah. Ibu sangat khawatir. " sahut Leana. Kemudian matanya jatuh tertuju kepada Balin yang berdiri tak jauh dari mereka, namun ada yang salah dengan tatapan matanya.
... Tatapan tidak suka.
" Ayo, Arkan kita pergi. " ajak Leana, ia kemudian menarik tangannya pergi dari sana.
" Ah! Ibu, Balin masih ada disana. " ucap Arkan yang menoleh kebelakang sana.
Namun Leana sama sekali tidak bergeming, " Biarkan saja, kau jatuh karena dia 'kan?" dia justru berkata seperti itu.
Arkan yang mendengar itu hanya diam, dia menundukan kepalanya dengan mata penuh tanya..
Ketika ia masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut oleh para pelayan yang mengurusnya. Para pelayan yang sebelum nya bersikap acuh tak acuh, bahkan meremehkan nya, kini bersikap baik seolah mereka adalah orang lain.
Mereka membantunya mengeringkan tubuh dan memakaikan pakaian bagus kepadanya, perlakuan yang tidak pernah ia dapatkan sebelum nya.
" Sudah kuduga posisi kami memang tertukar. Apa yang sebenarnya ingin pohon kehidupan tunjukan kepadaku?" pikir Arkan dengan sangat serius.
Sampai kemudian perhatiannya teralihkan oleh para pelayan itu...
" Kami sudah selesai, Tuan muda. Apa ada sesuatu yang anda butuhkan lagi??" tanya salah satu diantara mereka kepada nya.
Arkan yang mendengar itu menatap mereka semua dengan seksama untuk beberapa saat, tapi kemudian ia tersenyum dengan ramah kepada mereka.
" Tidak, terima kasih." ucap Arkan yang kemudian berjalan kearah meja belajar, " Aku merasa sedikit lelah, bisakah kalian tinggalkan aku sendiri. " lanjutnya pula menyentuh meja itu.
" Baik, Tuan. " jawab mereka kemudian sambil membungkukan tubuh kepadanya.
Setelah itu.. satu demi satu dari mereka keluar meninggalkan Arkan dikamar itu. Arkan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pun kehilangan senyum nya, dan berganti dengan wajah serius.
Ia memikirkannya lagi, hari ini dia banyak merasakan hal baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan ibunya menggenggam tangannya hari ini. Arkan pun mengangkat tangannya dan menatap tangan yang sebelumnya digenggam ibunya.
" Dulu... jangankan memegang tanganku, dia bahkan tidak mau melihat wajahku. Seolah-olah aku ini adalah parasit yang membuatnya jijik."
Arkan merasa aneh, tapi juga senang. Sekalipun itu hanya ilusi, tapi setidaknya dia bisa merasakan hal yang selalu ia inginkan dulu. Ngomong-ngomong soal perasaan aneh... Sejak awal dia masuk ke kamar itu, dia memang merasakan sesuatu.
" Aku merasa sedikit aneh. Perasaan diawasi apa ini? Ada seseorang diluar jendela. " batin Arkan diam-diam melirik jendela yang dimaksudnya.
Ia pun mengambil sebuah buku diatas meja, kemudian duduk dan membaca buku disana. Perasaan itu masih tetap terasa, kelihatan nya dia memang diawasi gerak-geriknya. Bagi anak kecil seperti mereka, pasti tidak akan merasakan hal ini, jadi wajar saja jika dulu dia atau Balin tidak menyadari hal ini.
Tapi Arkan penasaran dengan maksud hal ini...
" Seperti nya aku harus menunggu sedikit lebih lama. " batinnya pula.
Arkan tetap berada di tempat nya sampai malam tiba, dia bahkan tidak pergi ke ruang makan untuk makan melainkan menyuruh pelayan untuk membawakannya ke kamarnya. Dan saat malam mulai larut, dia berhenti membaca kemudian naik ke kasur dan tidur.
Sementara itu diluar jendela Arkan, tepat diatas pohon lebat yang ada disana. Seseorang berjubah hitam memperhatikan itu dalam keheningan.
" Hm, tidak ada yang mencurigakan dari Tuan Muda, dia juga tidak melakukan apapun selain membaca buku. Mengapa dia begitu rajin sekali?? " gumam orang itu
Namun sesaat kemudian, suasananya menjadi tidak terlalu menyenangkan. Orang itu merasa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri merasakan sesuatu mendekat dibelakang nya. Sesuatu yang dingin menyentuh lehernya, ia pun jadi kaku seketika, bahkan untuk menoleh saja dia tidak berani.
Sementara dibelakang nya, Arkan berdiri dengan wajah dingin sambil mengarahkan pisau ke leher orang itu.