Quennevia

Quennevia
Eclipse



[Season 2]


Tempat Ethan saat ini...


Setelah sebelumnya ia merasakan tekanan yang begitu besar dan kesadarannya diambil. Ethan mulai membuka matanya kembali, dan hal pertama yang ia lihat disana... Adalah warna putih. Kabut putih yang menutupi segalanya.


" Ini..."


Ethan tidak bisa melihat apapun disana, sebuah tempat kosong. Ia menatap sekitarnya dengan lebih seksama untuk beberapa saat, dan perlahan mulai melangkahkan kakinya.


Ethan tidak merasakan tekanan lain, dia seperti berjalan biasa dan tidak dihalangi apapun. Meski begitu ia yakin kalau dia tidak ada didunia nyata saat ini. Jadi ia pun menghentikan langkahnya.


Tanpa penghalang yang jelas, sejauh apapun ia melangkah ditempat itu, tubuhnya didunia nyata akan selalu ada ditempat yang sama. Ini hanyalah trik untuk membuat tenaganya semakin terkuras dan ia kembali turun ke bawah.


Ethan tersenyum menertawakan dirinya sendiri,


" Haha... Dasar, kenapa aku terpikirkan membuat hal seperti ini, saat akhirnya aku sendiri lah yang terjebak disini." ucapnya sambil menggaruk kepalanya merasa bodoh.


Yah, dahulu kala. Ethan memasang perangkap sederhana ini untuk menangkap beberapa penyusup yang datang tanpa undangan, penyusup itu harusnya terkurung disana sampai ia menemukannya. Jadi itu bukan hal yang terlalu berbahaya.


Tapi itu dahulu, perangkap ini mudah bagi Dewa Matahari, bukan bagi pangeran kekaisaran yang datang dalam rangka mengambil barang berharga disana.


" Bagaimana ini... Aku tidak punya ide untuk keluar dari sini." gumam Ethan sambil memikirkan itu.


Ini situasi yang cukup sulit...


Bahkan dengan kondisi primanya, dia tidak akan bisa memecahkan segel yang dibuat oleh dewa. Sekalipun dewa itu adalah dirinya sendiri.


Akan tetapi, bukan dirinya jika dia akan memilih menyerah dan berdiam diri saja terkurung disana. Ethan menatap tangan kanannya, dan mengepalkannya kemudian melebarkannya berulang kali. Sekarang dia yakin... Kesadarannya sekarang tidak memegang tombak seperti tubuh aslinya, dan ia tidak bisa memanggilnya masuk.


" Yah... Tidak ada pilihan lain." ucapnya, dan ia pun menarik keluar pedang lain dari dalam gelang ruang miliknya.


'Pedang Pemecah Hukum'-nya ada ditangan ayahnya, Felice. Dan tombak yang ia bawa tidak bisa dipanggil masuk ke dalam segel, yang tersisa sekarang... hanyalah 'Pedang Matahari Dan Bulan' milik Quennevia.


Ethan menarik keluar pedang itu dari sarungnya, menimbulkan bunyi gesekan yang nyaring. Dahinya sedikit berkerut dari perasaan yang muncul ketika ia memegang pedang itu.


Pedang itu terasa sedikit lebih berat dari pada pedang miliknya, dan mungkin.. karena dia bukan pemilik aslinya. Ia tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuh dari pedang itu.


Pedang milik satu dari tiga orang pencipta untaian semesta, dia yang lahir setelah mereka bertiga tentu saja memiliki beberapa batasan yang jelas. Meskipun ia biasa disejajarkan dengan mereka.


" Baiklah, mari kita coba ini."


Ethan tidak punya waktu untuk merenungkan kekurangan atau menyalahkan keadaan, ia mengangkat pedang itu keatas kepalanya. Mengumpulkan semua kekuatan yang bisa ia dapatkan, dan mengayunkan pedang itu dengan kuat. Memberikan tebasan yang harusnya cukup kuat untuk menghancurkan ruang.


Bangg!


Suara benturan keras terdengar nyaring...


Itu bahkan mencapai kedunia nyata, dimana teman-temannya berada.


Brangg!! Bangg!!


Itu tidak hanya sekali, tentu saja selama Ethan berusaha untuk keluar dari sana dengan mencoba menghancurkan ruang yang mengelilinginya.


" Wah, gila..." gumam Arkan ketika melihat usaha keras itu, bukan karena terkesan tapi... " ...Dia ingin menghancurkan ruang itu atau gendang telinga kita?!! Kenapa dia tidak menggunakan otaknya disaat seperti ini?!!" Dia mengeluh karena suara keras yang dihasilkan dari benturan kekuatan itu.


Teman-temannya yang lain juga tidak bisa melakukan apapun soal hal itu. Dan Yuki yang sedang menahan perasaan kesal dan ingin menghantamkan kepala Arkan yang berteriak tepat dibelakang kepalanya.


" Anak inilah yang ingin menghancurkan gendang telinga kita..!!" batin Yuki dengan tangan yang mengepal dengan sangat erat.


Dan disisi lain, Meliyana dan Niu yang harus berusaha menahannya.


" Haha..." Oscar sendiri hanya tertawa canggung karena hal itu. Saat kemudian ia memutuskan untuk beralih kepada sesuatu yang lebih bermakna.


" Apa ada jalan keluar dari sana??" dia bertanya kepada Euclide yang ada disampingnya saat ini.


Euclide yang mendapatkan pertanyaan itupun terlihat memikirkan nya sejenak, sebelumnya ia pun menjawabnya. [..Entahlah. Aku tidak pernah melihat orang yang keluar dengan selamat dari sana, kecuali...]


" Siapa..?"


Sayangnya, jawaban itu menghancurkan harapan Oscar dan teman-temannya untuk melihat Ethan keluar dari sana dengan mudah.


[Jangan tatap aku seperti itu. Kuingat masih ada dua orang lain, meski mereka sama-sama punya hubungan dengan Ethan dan Quennevia, sih. Tapi... akan sulit dipercaya jika Ethan tidak bisa keluar dari ruang ciptaannya sendiri.] lanjut Euclide kemudian.


Perkataannya benar. Jika bahkan Ethan sebagai pembuatnya tidak bisa keluar, itu akan menjadi penghalang mutlak yang paling kuat dan sulit ditembus. Hanya saja... ini bukan waktu yang tepat untuk membanggakan hal seperti itu diwaktu mereka yang semakin menipis.


" Bahkan jika dia bisa keluar, orang itu ada disana."


Suara Violetine mengalihkan perhatian mereka, dia masih diam tak bergerak ditempatnya bersama Felice. Namun satu kalimat darinya menciptakan suasana dingin yang cukup terasa.


[...Kau benar. Kurasa tidak bisa dihindari, karena setiap sisi punya sisi yang lain.] bahkan Euclide tidak menyangkal hal itu.


Sementara Oscar dan yang lainnya bertanya-tanya apa yang mereka maksud.


Sangat berbeda dengan teman-temannya diluar sana yang dibingungkan dengan pernyataan Euclide dan Violetine, Ethan yang masih berkutat dengan percobaannya menghancurkan tampat itu mulai mencapai batasnya. Dia telah mengerahkan semua kekuatan yang tersisa, ia bahkan ragu apa dia masih punya kekuatan untuk menaiki tangga jika dia berhasil keluar dari sana.


" Hah... Hah.. Sial. Kurasa aku tidak membuat tempat ini sekuat ini sebelumnya." gumamnya pada diri sendiri, sembari menyeka keringat yang mengucur dari wajahnya.


["Itu benar, ya. Karena kau yang selalu percaya pada kebaikan dan cahaya tidak pernah ragu untuk percaya kepada semua orang."]


Suara itu memecah keheningan disekitarnya, seseorang baru saja menanggapi perkataan nya. Dan suara yang terdengar itu berhasil membuat Ethan merasa ngeri disatu sisi.


Ia pun langsung menolehkan kepalanya dengan sepontan, melihat sebuah kabut hitam berjalan mengikis ruang putih yang berasal dari cahaya. Seolah kedatangannya menandakan keganjilan, aura dingin menyeruap keluar bagaikan ombak yang menghantam kulitnya dengan kuat.


Ethan tersenyum ditengah perasaan yang dipenuhi kewaspadaan. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah ingin dialami Ethan dimanapun ditengah situasi kritis yang harus ia lewati. Tapi sesuatu yang tidak bisa ia hindari pada akhirnya...


" Ah, aku tidak pernah berharap kau muncul disaat seperti ini. Kenapa kau menghalangiku.... Eclipse?" ucap Ethan menimpalinya kembali.


Seseorang didalam kabut itu menyeringai lebar mendengar pertanyaan Ethan, ia berjalan keluar dari kabut dengan langkah yang teratur. Tak lama, sosoknya pun terlihat dibawah cahaya yang menerangi mereka disana. Dia berhenti tak jauh dari Ethan, berdiri tegap dengan kedua tangan yang ditautkan dibelakang punggungnya, dan sepasang mata hitam yang tajam mengamati dengan seksama.


Disisi lain, Ethan merasa kurang nyaman dengan keberadaan nya saat ini. Dia....


["Halo."]


...Adalah dirinya sendiri.


****


Diluar saat ini, situasi nya benar-benar tidak terkendali. Bukan karena terjadi sesuatu, namun karena...


" Hei, siapapun yang tahu tolong jawab kami!!"


" Tolong jangan diam saja! Siapa laki-laki yang tiba-tiba muncul itu?!!"


Arkan dan Meliyana sangat penasaran dengan siapa yang baru saja menemui Ethan diruang tanpa batas itu. Dan mereka mendesak Euclide atau Violetine, diantara keduanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi disana.


" Dewa agung, kami mohon. Tolong jawablah, sebenarnya apa yang sedang terjadi disana sekarang??" bahkan Oscar juga sama, dia ingin tahu situasinya.


Niu dan Yuki juga tidak jauh berbeda, mereka tidak bisa diam saja dalam ketidakpastian sejak Ethan terjebak disalam sana tanpa alasan yang jelas dan bagaimana caranya keluar dari sana.


[Baiklah, Baiklah. Kalian tenanglah dulu, aku akan menjelaskannya.] Dan Euclide tidak diberi kesempatan untuk menolak hal itu, karena mereka bersikeras. [Sebenarnya, sejak awal segel itu tidak aktif. Jadi harusnya Ethan tidak akan masuk ke dalam ruangan tanpa batas itu saat dia menaiki tangga, tangga itu sendiri telah menyesuaikan dirinya sendiri, dari yang sebelumnya hanya beberapa anak tangga menjadi seribu anak tangga.] ucapnya.


" Jadi kenapa bisa seperti itu??" tanya Niu pula.


Kali ini, Violetine lah yang menjawabnya. " Itu karena pria itu. Dialah alasan kenapa aku selalu ada dilantai bawah, karena dia menguasai semuanya. Dia juga alasan kenapa istana tidak mendengarkan Ethan yang adalah pemiliknya." jelasnya.


" Jadi dia itu siapa??"


" [Eclipse], bayangan dewa matahari. Kegelapan yang menelan cahaya matahari didunia. Dia adalah bayangan yang lahir ketika bulan menghalangi matahari dan menciptakan kegelapan." Felice menjawab itu.


Jawaban itu membuat mereka terpaku, sesuatu terasa familiar dari yang mereka pikirkan. Mereka pernah mendengarkan dan mengalami hal yang sama, meski begitu...


" ... Apa maksud anda 'Gerhana matahari'??" tanya Yuki memverifikasi hal itu.


...Mereka membutuhkan kejelasan yang lebih spesifik.


Dan Felice menganggukan kepalanya menanggapi hal itu, " Seperti Quennevia yang memiliki 'Seraphine' dan Violetine sebagai bayangan, dan bulan yang memiliki sisi terjauh dan tergelapnya, matahari juga memiliki bayangan. Dia adalah orang yang sedang kalian lihat sekarang. Mereka mungkin tidak terkenal sebagai dewa, akan tetapi... kemampuan mereka menyerupai aslinya. Karena mereka lahir, dari keberadaan dewa yang sesungguhnya." lanjutnya kemudian.