
[Season 2]
Sementara itu dibawah laut sana, Meliyana yang masih berusaha melepaskan diri dari ubur-ubur yang menahannya, dibantu oleh Niu yang sudah lebih dulu melepaskan diri.
" Urgghh!!" Niu menarik Meliyana sekuat tenaganya, sampai akhirnya ia benar-benar bisa dilepaskan dari ubur-ubur itu.
" Hah! Terima kasih, Niu." ucap Meliyana kepada nya.
" Tidak masalah. " jawab Niu pula sambil mengedipkan sebelah matanya.
Setelah itu mereka pun langsung berenang mendekati Oscar ditempatnya. Keduanya masih tidak tahu harus melakukan apa, bahkan saat berusaha melepaskan Oscar dari batu kristal yang menjadi wadah embuh darah itu pun tidak bisa. Seolah tangannya menempel dengan batu kristal itu.
" Tidak bisa dilepaskan, kita harus bagaimana??" tanya Meliyana kepada Niu, namun ia sama sekali tidak menjawabnya. Jadi ia pun menoleh kepada nya, " Niu?" panggilnya.
Namun Niu tetap tidak meresponnya, ia justru lebih fokus memperhatikan wajah Oscar yang saat ini ada tepat dihadapan nya.
Sampai akhirnya ia mengeluarkan suara, " Oscar... Apa dia menangis..??" ucapnya kebingungan.
" Eh??" yang disambut oleh raut terkejut dari Meliyana.
Tidak ada satupun yang tahu apa yang ia lihat dan rasakan ketika menyentuh embun darah itu...
***
Situasi Oscar yang saat ini masih terjebak dalam masa lalu Quennevia, setelah melihat pertumpahan darah dalam kemarahan dan kesedihan itu. Ia melihat Adelaide yang saat ini terdiam didekat patung dewi yang roboh, dalam kondisi yang benar-benar tidak baik.
" Adelaide!!" Oscar langsung berlari menghampirinya.
Raut wajahnya penuh kekhawatiran. Ia ingin memeriksa keadaan nya, namun ketika ia akan menyentuhnya... Sama seperti sebelum nya, ia menembusnya begitu saja.
" Hukum dunia sialan! Aku jadi tidak bisa melakukan apapun disaat seperti ini!!" umpat nya dengan begitu marah, meski begitu air matanya turun membasahi pipinya.
" Dia terlihat begitu kesakitan, nafasnya juga tidak teratur. Apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kulakukan?!." Oscar mengepalkan tangannya dengan kuat, kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun saat ini.
Saat Adelaide kemudian membuka mata nya dan pandangannya pun segera jatuh pada Oscar, " Os..car.." Panggilnya dengan suara pelan.
Mendengar suara lemah itu, Oscar pun langsung mengangkat kembali wajahnya yang sebelum nya tertunduk putus asa dan menatap Adelaide.
" Adelaide.. Adelaide!! Bagaimana keadaanmu, bagaimana cara menyelamatkan mu?!." tanya Oscar dengan panik.
" Kukira kau tidak akan kembali lagi." tapi Adelaide tidak langsung menanggapi hal itu.
" Apa itu penting disaat seperti ini?! Cepat jawab, bagaimana caranya?!!" teriak Oscar yang benar-benar putus asa, saat semua air mata pun jatuh dari kedua matanya tanpa henti.
Ia tidak bisa membiarkan orang yang jelas-jelas bisa diselamatkan mati begitu saja didepan matanya. Terlebih lagi ia tahu, kalau orang itu adalah orang yang ia kenal dan berharga baginya, meski hanya bagian dari masa lalu.
Sementara itu Adelaide menatapnya dengan heran, " Apa kau ingin... menyelamatkan ku?? Bahkan... setelah kau melihat apa yang kulakukan tadi??" tanyanya.
" Apa itu hal yang memang harus dipertanyakan?! Jawabannya sudah sangat jelas, bukan?! Dan juga itu bukan salahmu, jika mereka tidak melakukan hal itu, kau juga tidak akan membunuh mereka!! " jawab Oscar pula.
Adelaide terdiam sesaat, lalu ia pun tersenyum dengan lembut kepada Oscar. " Sudah tidak apa-apa, Oscar. Ini akhir bagiku." ucapnya dengan wajah yang terlihat sangat tenang.
" Bagaimana bisa kau-..."
" Akan tetapi..." ucap Adelaide pula yang memotong ucapan Oscar, " ...Ini akan jadi awal bagi kalian."
Adelaide pun bersusah payah mengulurkan tangannya kearah Oscar, meski tahu dia tidak bisa menyentuhnya. Oscar tetap meraih uluran tangan itu. Dan ajaibnya sekarang dia bisa menyentuh tangan yang perlahan berubah dingin itu.
Adelaide pun kembali bicara, " Oscar, kumohon. Aku merasakan kekuatan jahat yang selama ini tertidur mulai bangun, dimasa depan nanti akan ada bencana dari masa lalu yang kembali muncul. Untuk mencegah hal itu terjadi, tolong peringati diriku dimasa depan. Karena aku yakin, dia tidak memiliki seluruh ingatan masalalu. "
" Bencana... Masa lalu.. " Oscar masih bingung dengan bencana yang dia maksud.
Karena jika itu adalah Seretia, itu tidak mungkin. Seretia akan muncul pertama kali beberapa puluh dekade yang akan datang, bahkan lebih. Jadi bencana apa yang dimaksud oleh Adelaide sekarang?
Saat ia tenggelam dalam lemunannya sendiri, suara Adelaide yang masih terus bicara menarik perhatian nya.
" Oscar, kau manusia yang sangat baik. Aku tidak pernah benar-benar melihat orang yang setulus dirimu selain Lylia... Tdk, aku pernah. Hanya saja aku tidak mengingat nya. Tapi kau benar-benar sangat baik dan jujur, aku bisa mempecayai hal itu. " ucap Adelaide.
" Adelaide..." Dan itu membuat Oscar merasa tersentuh sekaligus sedih.
" Aku merasa kalau Casius masih hidup, dia pergi keluar jangkauanku sekarang. "
Oscar yang mendengar itupun langsung mengerutkan keningnya tidak suka, " Casius itu, pendeta yang menjadi sumber masalah mu 'kan? Dia yang membuat keluarga mu terbunuh." ucapnya dengan nada suara terdengar kesal.
" Mungkin. " jawab Adelaide pula, ia pun kemudian menutup matanya merasa lelah dan melanjutkan perkataannya dengan mata tertutup. " ...Dia memiliki kekuatan pesona, sekali kau terjebak dalam kata-kata manis yang ia ucapkan, sulit untuk bisa melepaskan diri lagi. Jika dia bertahan sampai ke masa depan, tolong... Jaga diriku dimasa itu agar aku tidak tergoda oleh perkataannya lagi. Kumohon... Oscar.. Kau mau, 'kan?" pintanya dengan sangat, air mata terlihat turun dari matanya yang tertutup itu.
Suara Adelaide terdengar semakin melemah, dan itu membuat Oscar jadi semakin sedih. " Iya, baiklah. Aku akan melakukan nya, akan kupastikan dia tidak akan bisa mempengaruhimu. " janji Oscar.
Adelaide pun kembali tersenyum penuh kebahagiaan, " Terima kasih... Aku akan menantikan.. Saat dimana... Aku bisa bertemu dengan kalian lagi.. Oscar.." ucapnya, saat kemudian... suaranya tidak pernah terdengar lagi.
Tangannya yang berusaha keras bertahan pun kehilangan kekuatan nya, namun Oscar masih menggenggamnya dengan erat dan sepenuh hati. Disaat kedua matanya masih tertutup rapat... sampai ia terlahir kembali nanti, dia hanya akan mengulangi kemalangan yang sama.
Oscar yang melihat itu tahu, namun ia tetap tidak bisa menerima hal itu. Sembari menahan tangis dan perasaannya yang bergejolak tak karuan, ia menyatukan kedua tangannya masih sambil menggenggam tangan Adelaide,.... ia berdoa untuk kebahagiaan tiada akhir sebagai balasan penderitaanya selama ini.
" Aku mohon lepaskan dia dari penderitaan ini, dewa, malaikat atau siapapun... kasihanilah gadis malang ini..."
Krakk..!!
Saat ia mendengar hal itu, Oscar langsung menoleh dengan terkejut. " Apa.. Ini?!" tanah yang dipijaknya saat ini tiba-tiba saja retak.
Krakk.. Kretak.. Brakk!!
" Argghhh!!.."
Dan itu membawanya jatuh ke tempat lain..
" Ahh!!"
Brukk!!
" Aduh.."
Oscar tiba-tiba jatuh dari langit dan mendarat dihutan yang lebat, berbeda dari sebelum nya saat ia berpindah. Kini ia jatuh dari ketinggian.
Oscar pun segera bangkit sambil menahan sakit ditubuh nya, " Ugh... Dimana lagi ini sekarang..?" ucapnya sembari melihat-lihat sekitarnya yang nampak tidak asing.
" Hm.. Sepertinya aku pernah kesini.." gumamnya pada diri sendiri, saat telinganya kemudian mendengar suara lain. Itu berasal dari balik semak dibelakang nya.
" Baiklah, kami akan pulang sekarang jika kau tidak butuh bantuan."
" Iya, hati-hati dijalan."
" Kau juga. "
Saat ini, Oscar melihat dirinya sendiri dan Niu yang pergi meninggalkan Quennevia dihutan itu. Kini ia ingat dimana dirinya berada dan kapan ini terjadi...
" Pantas saja tempat ini terasa tidak asing.. Tapi kenapa aku dibawa kemari??" gumam Oscar yang bertanya kepada dirinya sendiri dengan pelan.
Ia pun sedikit menggeserkan semak-semak yang menghalangi pandangannya, saat dirinya sendiri mulai sadar dengan apa yang barusan ia lakukan.
" Aku bisa menyentuhnya!!" batinnya kaget, ia pun memikirkan itu. " Benar juga, karena aku ada didunia ini jadi tubuhku saat ini pun juga ada. Dan karena keberadaan ku tidak ada didunia Adelaide, maka aku jadi tidak memiliki tubuh fisik disana. " pikirnya dengan seksama. Hanya itu kemungkinan yang masuk akal sekarang.
Sampai ia ingat tujuan nya adalah untuk mencari tahu, ia mau tahu kenapa dirinya dibawa kesana padahal saat itu adalah masa-masa damai. Tapi... Quennevia juga tidak melakukan apapun setelah berpisah dengannya dan Niu, dia hanya diam mematung ditempatnya sembari melihat sesuatu diatas. Sebuah sarang burung tepatnya...
" Uhh... Kenapa dia melakukan ini..??" Oscar bertanya-tanya sendiri.
Namun ada hal yang bisa disimpulkan nya saat ini, saat melihat Quennevia yang diam saja. Dia mungkin tidak merasakan hadirannya disana. Oscar hendak keluar dan menghampiri Quennevia saja, sampai seseorang datang lebih dulu dan membuatnya menghentikan niatnya.
" Hallo, putri Quennevia. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda disini. " ucap orang berjubah yang baru saja datang ketempat itu.
" Siapa itu?" Oscar penasaran dengannya.
Sedangkan Quennevia, ia hanya menoleh tanpa ekspresi kearah orang itu. Ia juga kelihatan tidak mengenalnya, " Siapa kau?" tanyanya.
Orang itu terdengar tertawa pelan, dan ia pun membuka jubah yang menutupi wajahnya saat ini. Membuat Oscar sedikit terperanjat kaget...
" Anda bisa memanggil saya, Reeth, Tuan putri." ucapnya menjawab pertanyaan Quennevia, iya dia.
" Dan apa maumu?" Quennevia masih menanggapinya dengan tenang.
Reeth tersenyum kearahnya, " Saya dengar anda sedang punya masalah dengan keluarga anda.." ucapnya pula yang membuat Quennevia menyipitkan matanya.
" Hah, apa maksudmu? Aku sama sekali tidak punya masalah, permainan keluarga adalah hal yang wajar bukan?" sahut Quennevia pula sambil tersenyum sinis.
" Hoho.. Jangan waspada seperti itu, Tuan putri. Kabar itu juga sudah menyebar kemana-mana... Layaknya racun yang dituangkan kedalam air sungai. Dan saya tahu siapa yang bisa membantu anda. " Reeth mengulurkan tangannya kepada Quennevia.
Dan Quennevia sendiri sadar dengan maksud nya mendatanginya saat ini, namun menurut sifat dan situasi yang ia miliki saat itu. Melihat orang yang bahkan tidak ia kenal menawarinya bantuan, itu membuatnya agak tersinggung.
" Apa dimatamu aku terlihat seperti orang yang membutuhkan bantuan?" Quennevia memiringkan kepalanya kesal.
Itu adalah saat-saat dimana ia diremehkan dan direndahkan, dan ia tidak bisa percaya kepada siapapun, apalagi orang yang baru ia temui saat itu.
Namun Reeth tetap bersikap tenang dihadapan nya, " Saya pikir anda ingin segera menjadi kuat, apa saya yang salah? " ucapnya yang membuat Quennevia sedikit tersentak.
" Saya tahu siapa yang bisa membuat anda menjadi kuat dalam waktu singkat, apalagi karena sebenarnya anda memiliki potensi tersembunyi. Klan Retia punya banyak cara, obat, teknik dan senjata. Jika anda mengikuti saya kesana, anda pasti tidak akan menyesal. " bujuk Reeth kepada Quennevia.
" Klan Retia..? Sepertinya aku pernah mendengar itu.." ucap Quennevia mengalihkan perhatiannya.
" Jadi bagaimana, Tuan putri?" tanya Reeth pula, yang menarik perhatian Quennevia kembali.
Tentu saja, itu tawaran yang sangat menggiurkan, ditambah Quennevia memang membutuhkan hal itu. Namun ia tidak tahu apa yang harus ia korbankan untuk bisa mendapatkannya.
Tapi ada sesuatu... yang membuat Quennevia merasa harus memegang tangannya. Ia berusaha meraihnya meski ragu, saat...
" Quennevia!!. " Oscar tiba-tiba muncul dihadapannya dan menghalanginya dari orang itu.
Dan itu berhasil membuat Quennevia benar-benar sangat terkejut, " Oscar?!"