Quennevia

Quennevia
Markas Besar Organisasi



Disaat yang sama, di Markas Pusat Organisasi. Saat ini orang-orang penting disana sedang mengadakan rapat dadakan disaat genting seperti ini, suasana ruang rapat begitu ramai dengan suara-suara orang-orang yang tengah berdebat itu.


" Bagaimana ini bisa terjadi?? Bukankah penjagaan pribadi nya juga sangat kuat??. "


" Sebenarnya siapa yang bisa melakukan ini, dia bahkan tidak meninggalkan jejak sedikit pun. "


" Apakah kita pernah menyinggung orang besar??. "


" Tapi siapa??. "


Brakk...


" Semuanya tolong tenang, kita akan membahas masalah ini bersama. " ucap seseorang pula yang seperti nya memimpin orang-orang disana saat ini, Tuan Yukio.


Semua orang pun jadi sedikit lebih tenang dan memperhatikan nya, memang benar jika mereka harus membahasnya bersama daripada melakukan spekulasi sendiri. Sementara itu disampaikan kanan dan kiri tuan Yukio ada dua anak buah kepercayaan nya, Mamika dan juga adiknya Lucy.


" Semuanya, saya tahu kalau kejadian kali ini benar-benar sangat menggemparkan. Apalagi yang dijadikan target oleh orang itu adalah para pejabat pemerintah, akan tetapi... kita juga tidak boleh melupakan keamanan Rakyat. Meskipun sebagian besar dari mereka pasti memutuskan untuk diam dirumah mereka masing-masing, tapi karena masalah ini pasti akan dijadikan peluang bagi orang-orang lainnya untuk melakukan kejahatan lainnya juga, disaat yang sama kita juga harus berhati-hati untuk keselamatan kita. Jadi saya minta kepada semuanya untuk tidak lengah dan hanya berfokus kepada satu hal saja. " ucap Tuan Yukio panjang lebar.


" Tapi... kita bahkan tidak tahu seperti apa wajah pelaku nya, jika begini kita akan kesulitan mengetahui mana orang baik dan mana orang jahat. " ucap salah seorang pula yang ada di sana.


" Itu benar, bagaimana kita bisa menangkapnya??. " tanya satu orang lagi.


" Masalah itu, kita bisa mencari jalan keluar nya setelah melihat rekaman CCTV yang tertinggal dari kediaman Tuan Ryuji ini. " sahut Mamika akhirnya angkat bicara.


Mamika menekan sesuatu di tangannya yang langsung membuat beberapa lampu diruangan itu mati, kemudian monitor dibelakang nya pun menyala, dan dari monitor itulah rekaman CCTV yang dimaksud kan oleh Mamika diputar. Dalam rekaman CCTV itu terlihat lah sosok perempuan berambut hitam yang jadi dalang pembantaian didalam CCTV itu.


Dengan menggerakkan benda-benda disekitar nya baik untuk senjata maupun pertahanan, hingga membuat mereka yang melihat nya ikut tercengang. Lalu.. ketika perempuan dalam rekaman itu mengangkat kepala nya, ia menatap CCTV itu dan kemudian menyeringai, sesaat kemudian rekaman nya terputus begitu saja.


" Seperti yang anda sekalian lihat, rekaman itu terputus begitu saja setelah orang itu menatap CCTV-nya. Dan orang dalam rekaman yang membantai orang-orang itu hanyalah seorang perempuan, akan tetapi dia memiliki kekuatan diluar nalar kita. Dengan menggerakkan benda-benda sesuai keinginannya, atau dengan kata lain seperti Telekinesis. Dan dari semua CCTV yang ada di kediaman Tuan Ryuji hanya ini sajalah yang rekaman nya masih utuh, seperti dengan sengaja.. dia ingin membuat kita melihat nya. " jelas Mamika panjang lebar.


" Lalu.. ada hal lain juga yang kami perhatikan dari si 'pembantai' itu, selain kekuatan spesial nya itu. " ucap Lucy pula.


Ia menatap Tuan Yukio yang mendengarkan penjelasan keduanya itu dalam diam, sama halnya dengan Mamika yang kini ikut menatap Tuan Yukio. Sadar kalau kedua anak buahnya yang pening setia itu meminta persetujuan darinya, Tuan Yukio pun menganggukan kepalanya kepada mereka, yang juga dibalas oleh keduanya.


Kemudian Mamika pun memperlihatkan lagi potongan gambar dari si 'Pembantai' itu, yang sudah mereka perjelas. Semua orang yang melihat nya lagi-lagi harus gempar melihat nya, itu karena wajah dari si 'pembantai' itu adalah wajah dari orang yang sangat dikenal mereka.


" Itu... Tidak mungkin.. Perempuan itu... "


" Mustahil, wajah itu.. Nevia!! Tidak bukan, Nevia seharusnya sudah mati!. "


" Kenapa wajahnya sangat mirip dengan nevia??. "


" Lelucon macam apa ini?!. "


Beberapa dari pejabat itu pun memilih untuk mengalihkan perhatian mereka, agar terhindar dari tatapan tajam dari Lucy, dan itulah yang membuat Lucy, Mamika dan juga Tuan Yukio jadi semakin curiga kalau hal itu memang benar karena adanya keterlibatan para pejabat itu. Berarti sewaktu pendakwaan Nevia itu, mereka juga sengaja melakukan nya.


Ketidaktahuan meraka itu bukan karena mereka tidak peduli, namun karena meskipun mereka bertiga mempunyai pangkat tertinggi di Organisasi, tapi para pejabat lah yang mengendalikan mereka. Dan belum tentu juga para pejabat itu memberitahukan sesuatu yang terjadi atau pun yang dilakukan oleh Organisasi kepada tiap-tiap anggota mereka.


Ketika Lucy akan mempertanyakan hal itu lagi kepada para pejabat tersebut, mereka yang ada di sana dikejutkan dengan sirine tanda bahaya yang tiba-tiba berbunyi. Juga getaran-getaran aneh yang sebelum nya tidak mereka rasakan dari luar.


" Ap-Apa yang terjadi?? Gempa bumi kah??. "


" Sungguh, disaat seperti ini??. "


" Semuanya tenang, tempat ini-... " ucap Tuan Yukio yang terpotong ketika terdengar suara dari ruang kendali utama.


" Ketua... Ketua.. Anda bisa mendengar saya??. " ucap suara itu, yang mana bukan hanya Tuan Yukio saja yang bisa mendengar nya tapi semua orang di ruangan sana.


" Ada apa?? Ada masalah apa??. " sahut Tuan Yukio.


" Masalah gawat... Ketua.. Terjadi penyerangan.. di markas ini...Orang itu berhasil... meledakkan dua pertiga markas.. dan dia terus membantai... Orang-orang yang ada di sini.. " ucap orang itu dengan suara yang terdengar terputus-putus.


" Apa?? Siapa, ada berapa banyak musuh kita??. " tanya Mamika pula.


" Itu... dia hanya.. seorang perempuan.. dan seorang laki-laki.. mereka berdua.. menerobos masuk... Brakk... Jadi kau bersembunyi disini... Ka-Kau.. menjauhlah dariku... Dor.. Dor... Syutt... Jlebb.. Akhh...!!. " suara itu terputus setelah terdengar suara pertarungan sebelum nya.


Itu membuat mereka semua yang mendengar nya jadi merinding, apakah si 'Pembantai' itu sekarang sudah ada di Markas mereka, tapi bagaimana?? Itulah pikiran mereka. Markas itu dirancang khusus dengan sangat kokoh, dan juga banyak orang yang menjaganya dengan sangat ketat, bagaimana bisa tidak ada yang mengetahui nya lebih dulu sebelum orang itu menyerang isi Markas. Dan lagi.. dia datang dengan seorang laki-laki, siapa laki-laki itu, apa pula masalahnya dengan Organisasi ini.


" Bagaimana dengan jalan keluar bawah tanah nya?!. " tanya Lucy pula kepada orang yang sedang memeriksa jalan rahasia itu.


" Ti... Tidak bisa dibuka, jalan tersebut seperti sudah ditutup sejak awal. Kita terjebak. " ucap orang yang menariksa hal itu.


Dan membuat semua orang semakin panik dengan apa yang terjadi, mereka semua benar-benar terjebak di dalam ruangan itu. Meskipun memang benar jika ruangan itu juga adalah tempat teraman, dimana tidak ada yang bisa membukanya kecuali orang dalam yang menggunakan identitas nya.


Namun meskipun begitu hanya beberapa orang saja selain yang ada di dalam saat ini, pemastian identitas untuk bisa masuk ke dalam sana juga membutuhkan cek fisik seperti mata dan cap jari jadi tidak mungkin sembarangan. Jika ada yang memaksa untuk menerobos pun diperlukan lebih dari 10 bom yang bisa digunakan.


Namun pemikiran itu sirna ketika mereka mendengar suara pintu tersebut terbuka, semua orang langsung mengalihkan perhatian kearah pintu tersebut, dan berapa syoknya melihat siapa yang membuka pintu. Dari luar sana terlihat seorang pria yang adalah salah satu pejabat yang tadinya sedang berlindung di banker markas sebelum nya, pria itu berdiri didepan pintu dengan tubuh yang penuh luka tusuk dengan tangan seseorang pula yang mencengkram leher orang tersebut agar bisa tegak.


Brukkk...


" Kyaa.. "


" Ap..apa-apaan ini..?!. "


Sesaat setelah pintu terbuka, orang yang memegangi pria tak bernyawa itu pun melepaskan nya, membuat tubuh pejabat itu jatuh menghentam lantai. Dan sosok yang mereka coba hindari itu tepat ada di depan mata mereka saat ini.