Quennevia

Quennevia
Bubuk Kristal Bintang



[Season 2]


Anak kecil yang Meliyana lihat saat ini adalah dirinya sendiri dimasa lalu, dia menangis memohon kepada dewa untuk memberikan nya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi. Itu adalah tes kekuatan yang telah ia lakukan berkali-kali, tapi setiap kali melakukan nya dia tidak memiliki kekuatan apapun. Karena itulah dia selalu dijauhi oleh orang-orang disekitarnya.


" Aku ingat ini. Saat itu... Beberapa jam sebelum aku melakukan tes kekuatan untuk kesekian kalinya. Aku datang ke kuil lebih dulu dan memohon kepada dewi untuk memberikan ku kekuatan. "


Dalam keluarga kerajaan Lost, anak yang tidak memiliki kekuatan adalah aib bagi keluarga kerajaan. Apalagi Meliyana adalah satu-satunya putri yang ada di kerajaan, sebagai satu-satunya pewaris takhta dia dituntut oleh para bangsawan untuk sebuah kesempurnaan.


Karena itu dia selalu kesepian. Orang-orang itu memandang nya seolah dia bukan manusia, begitu pula dengan Meliyana. Dia selalu melihat wajah asli yang orang-orang itu sembunyikan, juga suara-suara menghina yang diarahkan padanya.


" Meliyana, putriku sayang. Tidak apa-apa, kau tidak sendirian. Ayah dan ibu ada disini. " Ratu Cecile.


" Meliyana, putriku yang membanggakan. Tidak peduli seperti apa dirimu, memiliki kekuatan atau tidak, kau tetaplah putri yang kami sayangi. Kau tetap satu-satunya Ratu masa depan kerajaan ini. " Raja Ludwing.


Syukurlah diantara itu, dia memiliki ayah dan juga ibu yang sangat mencintainya apa adanya, mereka selalu ada untuk Meliyana. Karena itulah dia sangat menginginkan kekuatan untuk melindungi keduanya, juga semua rakyat kerajaan nya.


" Oh, Dewi. Kumohon... Tolong berikan aku kekuatan untuk melindungi negeri ini. Untuk melindungi keluarga ku, dan semua orang yang kucintai. "


Meliyana kecil berlutut dihadapan patung Dewi Dunia Tengah selama berjam-jam, menangis dan memohon dengan sangat, untuk keinginan nya yang paling besar, untuk orang-orang yang dia sayangi. Sampai akhirnya tes kekuatan pun akan dimulai.


Bukan hanya keluarga kerajaan saja yang ada disana, bahkan para bangsawan yang tidak diundang pun sampai datang untuk melihat nya. Sambil terus berbisik-bisik tentang Meliyana.


" Waktu itu aku sangat takut. Kakiku gemetar sampai rasanya akan jatuh. Para bangsawan itu hanya memandang apa yang mereka lihat bagus, dan membenci apa yang tidak mereka sukai. " ucap batin Meliyana yang sekarang, dirinya juga masih berdiri ditempat nya.


Sampai kemudian, pengetesan pun akan dimulai. Meliyana kecil berdiri tepat dihadapan sebuah bola sihir, dia hanya perlu menyentuh bola itu dan orang-orang akan langsung tahu apa dia memiliki kekuatan atau tidak. Dia masih berdoa dalam hatinya, tangan nya pun kemudian terulur ke bola itu dengan gemetaran.


Ia sempat terhenti dan ragu untuk menyentuh nya, tapi sebuah sosok kemudian muncul dibelakang nya dan menyentuh pundaknya. Sosok itu pun kemudian berbisik dengan suara lembut dan hangat.


" Tidak apa-apa. Kau pasti bisa melakukannya.. Meliyana. "


" Hah?! "


Mendengar suara yang memberinya keyakinan itu, ia pun akhirnya menyentuh bola itu. Dan seketika... bola itu pun bersinar dengan terang...


" I-Itu... "


" Kekuatan kuno.. milik keluarga kerajaan! "


" Sang putri memiliki kekuatan itu?!! "


Seketika kuil itu bising dengan suara para bangsawan yang terkejut dan terkagum-kagum. Disisi lain, itu juga sebuah kebahagiaan bagi Meliyana saat itu, kekuatannya akhirnya terbangkitkan. Meliyana pun segera menghampiri orang tuanya dan memeluk mereka dengan perasaan haru dan senang, doa-nya terkabulkan.


Disaat yang sama, bagi Meliyana yang sudah besar... itu adalah sebuah kejutan. Sosok yang membentunya dan meyakinkannya saat itu, dia adalah.... Quennevia.


Meliyana yang mengetahui itu sampai menangis terharu karena nya, " Quennevia... itu sungguh kau... " gumam nya.


Setelah itu, dia pun dibawa kembali ke tempat semula, ke gua dimana altar itu berada juga tempat dimana teman-temannya ditangkap oleh kegelapan. Tangan-tangan hitam itu berusaha merusak pembatas yang ada di sekeliling altar, mereka ingin menangkap Meliyana.


Krekk...


Sampai sedikit demi sedikit, pembatas itu pun mulai hancur...


Krekk... Prangg...


Dan ketika benar-benar hancur, tangan-tangan itu langsung menerjang kearahnya untuk menangkap Meliyana. Tapi sebelum mereka bisa menyentuh nya, tangan-tangan itu tiba-tiba saja terpotong. Tapi setelah tangan-tangan itu hilang, malah ada se-sosok monster yang muncul dari kegelapan itu. Sedangkan disisi Meliyana, tubuhnya mulai dikelilingi oleh cahaya yang kemudian meninggi seolah akan mencapai Bulan diatas sana.


Kemudian ada hal lain yang bersinar diatas sana, menemani Bulan yang memancarkan cahaya nya. Itu adalah Bintang....


Ke-12 rasi Bintang yang ada dilangit bersinar terang dan menghujani Meliyana dengan bubuk yang berkilauan, itu adalah berlian yang ia cari. Saat itu, Meliyana pun mengangkat pedang dikedua tangannya...


" Quennevia... Aku sudah berjanji padamu. Aku tidak akan jadi penakut lagi, aku akan menjadi pemberani sama seperti mu. Dengan begitu aku... aku pasti bisa melindungi mu lagi kali ini!! " ucapnya.


Ia pun menatap monster itu dengan pandangan teguh, kemudian ia pun memasang kuda-kuda dan menerjang monster itu dengan kekuatan penuh. Ia menghindari setiap serangan monster tersebut, hingga setiap gerakan nya pun bersinar layaknya Bintang, dan kemudian Meliyana melompat dan mengangkat pedang nya tinggi-tinggi.


Meliyana membelah monster itu menjadi dua, yang mana monster itu kemudian langsung menghilang ditengah cahaya yang mengikuti Meliyana. Dan Meliyana pun kemudian tidak mengingat apapun lagi.


" Hei, kalian pikir dia tidak apa-apa?? "


" Tentu saja. Memangnya kau ingin Meliyana kenapa, hah?? "


" Kuharap dia tidak mati. "


" Dia belum mati bodoh!! "


Suara-suara berisik di sekeliling nya membuat Meliyana terganggu, hingga ia pun membuka matanya. " Umm.. "


" Ah, dia bangun. " ucap Ethan yang duduk disebelahnya.


" Meliyana, kau baik-baik saja?? " tanya Niu yang kelihatan khawatir.


Meliyana berusaha mengingat-ingat tentang apa yang terjadi, saat kemudian dia tiba-tiba bangun dan mengejutkan mereka semua. " Hah?!! " Ia pun menoleh kearah mereka dengan berlinang air mata. " Ka-Kalian tidak apa-apa?? " tanya nya yang merasa sangat senang.


" Kami baik-baik saja, kok. Lagipula kami itu kuat. " jawab Oscar dengan senyuman lebar.


Saat Meliyana pun kemudian menangis dan langsung memeluk Niu, " Huwaa... Kupikir.. hiks.. aku tidak akan bertemu dengan kalian lagi.. " ucap nya.


" Sudah, sudah. Semua nya sudah selesai, Meliyana. Pasti menakutkan, ya. " sahut Niu pula sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


" Yah, meskipun sejujurnya sejak awal kami memang tidak apa-apa sih. " ucap Ethan pula.


" Apa?? " tanya Meliyana bingung.


Sedangkan Ethan dan yang lainnya hanya tersenyum saja...


Jadi, beberapa saat yang lalu....


Ketika mereka semua tertangkap oleh jebakan-jebakan itu, mereka semua dikumpulkan lagi di satu tempat yang sama oleh sebuah lingkaran sihir perpindahan. Dan tempat itu adalah... titik awal mereka jatuh.


" Hah?!! Kenapa kita semua ada disini?! Meliyana ada dimana?! " tanya Oscar yang kaget.


" Aahh... Gawat, aku meninggalkannya disana. Kupikir jebakan itu bahaya jadi aku mendorong nya ke altar. " ucap Niu yang merasa bersalah.


" Apa?!! " teriak yang lainnya saking terkejut nya.


Mereka semua pun membayangkan sosok Meliyana yang sedang menangis ketakutan itu seperti seekor kucing kecil. Mereka jadi sangat khawatir dan buru-buru kembali, tapi ketika sampai pintu masuk nya malah terkunci. Pintu itu tidak bisa dibuka paksa bahkan setelah mereka menggunakan kekuatan sekalipun.


-- Flashback nya selesai.


Setelah mendengar itu, Meliyana pun terdiam kaku ditempat nya. Padahal dia sudah berpikir kalau mereka mungkin kesulitan, tapi ternyata mereka dikirim ke tempat yang aman.


" Hahh... Sia-sia saja aku khawatir. " gumam Meliyana yang sekarang merasa kalau dirinya sangat tidak berguna.


" Eii, ayolah jangan seperti itu. Berkat mu kita sudah menemukan benda kedua sekarang. " ucap Arkan, yang membuat Meliyana menatapnya bertanya.


Yuki pun kemudian menunjukkan sesuatu dalam sebuah kantung, bubuk yang berkilauan, sama seperti yang menghujani Meliyana sebelumnya.


" Ini.. adalah Bubuk Kristal Bintang yang kita cari. " ucap Yuki sambil tersenyum dengan lembut kepada Meliyana.


" Hah?! Jadi, kita berhasil menemukan nya berkat aku?? " tanya Meliyana lagi memastikan nya, yang kemudian diangguki oleh mereka semua.


" Yeyy... Hahaha... " Meliyana senang sekali dengan hal itu, sampai melompat-lompat kegirangan. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum karena melihat nya sangat senang.


" Nah, kalau begitu kita pulang sekarang. " ajak Ethan pula.


" Oke. " sahut yang lainnya.