
[Season 2]
Oscar dan yang lain nya masih menyusuri labirin tempat mereka berada saat ini, mereka terus mengikuti kupu-kupu untuk menemukan jalan keluar. Dalam situasi tenang yang seperti itu, bagi mereka itu justru agak menyeramkan. Ketika kegalapan dibelakang mereka seolah melahap labirin ini dan membuatnya menghilang tanpa sisa.
Tidak ada yang berani untuk menoleh kebelakang, mereka semua hanya fokus berlari mengikuti jejak cahaya didepan mereka. Keringat dingin membasahi tubuh mereka, ditengah suasana dingin yang terasa hingga menusuk tulang. Sampai kemudian mereka melihat sesuatu diujung jalan...
" Itu jalan keluar! Lari lebih cepat!." ucap Yuki kepada mereka semua.
Yang lain pun mengangguk mengerti, dan masing-masing dari mereka mulai menambah kecepatan lari mereka.
Dan satu langkah terakhir, mereka melewati batas labirin. Mereka berlima keluar dari lebirin itu. Mereka benar-benar bahagia, saat...
...Meliyana tergelincir didepan mereka.
" Uakk!!" dia terjungkal hingga membuat Arkan yang berlari dibelakang nya pun berhenti mendadak, namun Oscar yang tidak sempat melakukan itu menabraknya.
Demi agar tidak jatuh diatas tubuhnya yang kecil, keduanya pun memilih menjatuhkan diri kebelakang. Namun sayang keduanya juga malah menabrak Niu yang berdiri disana.
" Oh, tidak!."
" Gyaa!!"
Brukk..
Mereka jatuh bersama disana...
Kecuali Yuki. Dia yang mendengar suara gedebruk yang keras itu pun langsung menoleh, dan ia mendapati teman-teman nya terbaring ditanah dengan ekspresi kesakitan diwajah mereka.
Namun Yuki hanya menaikan sebelah alisnya dengan hal itu, " Apakah ini waktunya tidur?!" tanyanya dengan santai kepada mereka.
Teman-teman yang mendengar itu hanya menatap nya dengan ekspresi mencela, dia bahkan tidak berpikir untuk membantu mereka yang jatuh tepat dibelakang punggungnya. Benar-benar tidak berperasaan.
" Aduh... rasanya bagian belakangku sakit sekali." keluh Meliyana ketika bagun dari atas tanah.
Dan disaat itu, Niu pun menimpalinya. " Menurutmu bagaimana perasaanku yang ditimpa oleh dua laki-laki ini??" tanyanya.
Sementara Oscar dan Arkan malah pura-pura tidak mendengar hal tersebut. Itu menjengkalkan, tapi ya mau bagaimana lagi... Itu juga adalah sebuah kecelakaan.
" Wah, apa yang aku lewatkan...?" sampai kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu.
Ethan datang mendekat kearah mereka dengan ekspresi cerah, dia tidak merasa kasihan sama sekali dengan apa yang telah terjadi kepada mereka, bahkan tidak bertanya apa mereka baik-baik saja. Dengan santainya dia berkata seperti itu dan tersenyum.
Itu langsung membuat Oscar dan Arkan kesal, terutama Niu yang mendapatkan lebih banyak masalah.
" Oscar, apa kau ingat dengan apa yang kita bicarakan waktu itu??" tanya Arkan kemudian.
Dan Oscar menganggukan kepalanya kepada itu, " Aku ingat." jawabnya.
" Ayo kita lakukan."
Keduanya mengepalkan tangan dengan semangat yang berapi-api dimata mereka yang penuh dendam, sementara Yuki dan Meliyana hanya diam dengan canggung.
Saat, " Aku tidak tahu apa yang kalian sepakati, tapi aku ingin ikut." Niu juga ikut ambil bagian dengan mereka.
Sementara Ethan yang melihat tekad mereka itu jadi terkejut, dia merasakan firasat buruk yang sama dengan sebelumnya kembali dari mereka.
" Te-teman-teman... tunggu, dengarkan penjelasanku dulu.." dia berusaha mengatakan sesuatu, tapi mereka bertiga tidak bisa diajak kompromi lagi.
Pada akhirnya.. Yang bisa Ethan lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari ketiganya.
***
Meninggalkan apa yang terjadi sebelumnya, sekarang Ethan dan yang lainnya berkumpul untuk membahas tempat selanjutnya yang akan mereka tuju. Masih didunia bawah, mereka memutuskan untuk langsung pergi ke tempat itu saja jika memang ada caranya, dari pada kembali terlebih dahulu dan memakan waktu lama.
Meski begitu, Ethan tetap tidak bisa lepas dari tatapan tajam tiga orang disana.
" Um, baiklah.... Jadi, tempat kita selanjutnya.."
" Tunggu! Sebelum kau mengatakan hal itu, karena kita semua sudah melewati ujian kami. Jadi yang terakhir itu milikmu, kan??." Niu kemudian memotong bahkan sebelum Ethan benar-benar mengatakan maksudnya.
" Uhh... Iya." dan Ethan pun menjawabnya dengan agak ragu.
" Katakan dimana tempatnya?" Arkan pun ikut bertanya disana.
Nah, pertanyaan ini, yang tidak ingin didengar oleh Ethan. Ia berbaik hendak pergi, namun teman-temannya yang paham dengan maksudnya langsung menariknya kembali.
" Jangan kabur! Katakan dimana?!" teriak Niu dan Arkan tepat disebelahnya.
" Ahaha... Baiklah, baiklah. Tempatnya ada di dunia atas, istana dewa matahari." Ethan pasrah dengan hal itu, ia tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan teman-teman kepadanya karena itu.
Ethan berpikir mungkin Niu marah karena ujian nya ditempatkan didunia bawah, sedangkan yang lainnya ada didunia tengah. Dan Ethan sendiri ada didunia atas.
Oscar juga terlihat memikirkan hal tersebut, ia menaruh jari nya diatas dagu dan berpikir keras. " Kupikir selama ini kita hanya datang ke tempat-tempat yang berhubungan dengan dewa yang menciptakan putri empat dunia. Meski memang benar kalau dunia atas itu termasuk, bukankah akan lebih masuk akal jika yang dituju adalah istana dewa agung Euclide bukannya dewa matahari??" dia bertanya-tanya dengan hal itu.
Yuki yang mendengar asumsinya pun juga ikut mengangguk setuju, " Itu benar. Kupikir Quennevia tidak ada hubungan nya dengan dewa matahari." ucapnya kemudian.
Ethan terlihat sedikit terkejut dengan itu, tapi kemudian dia menunduk dan tersenyum terlihat masam. " Tidak..." dan dia menampik hal tersebut.
" ... Dewa matahari juga memiliki hubungan dengan Quennevia, lebih tepatnya.. Dengan dewi tengah." lanjutnya kemudian.
Entah kenapa ada sedikit raut kesedihan diwajah Ethan. Apakah itu ada hubungan nya dengan keluarga kekaisaran Foldes yang memang menyembah dewa matahari sebagai dewa pelindung kekaisaran?
Ataukah ada yang mereka lewatkan disini.
Disamping itu, ada yang mengganjal dihati mereka sebenarnya...
Orang yang pertama menyadari hal janggal itu adalah Arkan, dia yang paling peka diantara mereka tentang hal ini.
" Ethan, aku ingin tahu. Jika putri empat dunia mati, apa dia juga akan datang ke dunia bawah??" Arkan bertanya demikian.
Dan reaksi Ethan diluar perkiraan mereka, dia terlihat mengerutkan keningnya terlihat terkejut... Atau, tidak senang akan sesuatu...
" Kau yang pernah berkata kepada kami kalau putri empat dunia sebenarnya adalah satu orang yang sama disetiap generasi, jadi apakah dia harus menyebrang lebih dulu untuk bisa terlahir kembali atau tidak.." tanya Arkan kemudian.
Saat Ethan pun kemudian berkata...
" Tidak. Tentu saja tidak. Kalian tahu bahwa dia adalah roh yang suci, dewa mencintainya dengan segala keberadaan nya, tetapi ini bukan tentang dia. Ini tentang dunia. "
" Tetapi menurut hukum kehidupan yang diajarkan para dewa, mereka mengajari kita bahwa setiap makhluk yang terlahir pasti akan mati, dan mereka akan menyebrangi dunia bawah untuk sampai ke tempat awal segalanya. Seseorang harus melepaskan diri dari dunia sehingga roh nya bisa terbebas." Oscar kemudian menimpalinya seperti itu.
" Banyak orang yang hebat dan bijaksana telah melepaskan diri dan mencapai pencerahan spiritual. Tapi Putri Empat Dunia tidak akan pernah bisa melakukannya..."
Ethan menjeda kata-katanya dalam suara yang penuh kesedihan, dia terdiam dan menarik nafas sejenak seolah sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan.. Dan kemudian ia pun kembali berkata...
".... Itu karena satu-satunya tugasnya adalah pada dunia. Inilah jawaban yang bisa aku berikan pada kalian. Tugas tanpa pamrih memanggil Putri Empat Dunia untuk berkorban, itu adalah tuntutan yang tidak bisa ditolak. "
Ekspresi mereka langsung berubah muram menahan amarah, mendengar jawaban yang diberikan oleh Ethan kepada takdir kejam yang diberikan kepada perempuan itu. Tidak heran jika dia kehilangan akal dan menghancurkan dunia dalam amarah atau merasakan kesepian tiada akhir.
Quennevia kehilangan lebih banyak hal dibandingkan semua orang didunia, dan merasakan kemalangan tanpa ujung selama dia terlahir kembali...
Ethan yang tahu itu bisa menebak apa yang mereka pikirkan juga, lalu ia pun melanjutkan kata-katanya. " Karena dia terhubung dengan dunia itu sendiri, dan diikat rantai reinkarnasi. Dia baru bisa bebas jika..." ucapnya menggantung.
" Jika apa...?" tanya Niu yang benar-benar gemas dengan tingkahnya ini.
" ...." namun Ethan diam kali ini.
" Ethan jangan diam saja!." Meliyana yang sejak tadi diam saja pun kemudian angkat suara.
Ethan tidak langsung menjawabnya, dia tetap diam sampai " ....Dia baru bisa bebas jika pemilik dunia ini kembali. " dia berkata seperti itu.
Itu membingungkan bagi mereka. Namun Niu terkejut ketika sadar dengan sesuatu, ia teringat dengan tulisan yang ia temukan untuk masuk ke dalam tempat ujian sebelumnya. Seperti nya dia sedikit mengerti dengan tulisan itu, lebih tepatnya.. Satu bagian terakhir nya...
" Apa itu ada hubungan dengan kata-kata 'Bintang paling terang yang akan menjadi pembebas takdir'??" tanyanya kepada Ethan kemudian.
Dan Ethan yang mendengar itu pun menatapnya dengan serius, sementara teman-teman nya yang lain bertanya-tanya dengan maksud hal itu.
" Apa maksudmu??" Yuki bertanya penasaran dengan hal itu.
" Aku menemukan tulisan saat masuk ke tempat ujian, disana tertulis... 'Dewi menangis ketika sang hakim mati, awal dari segalanya. Hukuman yang abadi. Dia yang tersegel jauh diperut bumi, dan dia yang telah mengakhiri berbagai peradaban. Bintang paling terang dari tangan ibu, dan pembebas takdir'. .. Menurutmu apa itu?" ucap Niu kemudian.
Semua perhatian pun kembali kepada Ethan, namun yang ditatap kelihatan nya tidak berniat menjelaskan itu, atau...
" Jadi kau menemukan ramalan bagian kedua??" Ethan justru berkata demikian.
" Ramalan kedua??"
" Iyah, ramalan yang dibacakan Yuki sebelumnya belum selesai. Setidaknya, ada sekitar 3 atau empat ramalan tentang masa depan, itulah yang aku tahu."
Itu benar-benar rumit, setidaknya dalam ramalan itu mengatakan kalau akan ada 'Bintang' atau bisa diartikan sebagai seseorang, yang akan menjadi pembebas takdir diantara mereka. Dan bisa saja, Quennevia pun juga terbebas dari tugasnya yang menyedihkan itu...
" Baiklah, hentikan semua ini. Kalian malah membuatku pusing." ucap Arkan kemudian, padahal dirinya lah yang memulai percakapan ini.
Yang lainnya jadi menatapnya dengan tetapan aneh, berbeda dengan Ethan yang hanya tersenyum. Tapi Arkan sendiri tidak peduli dengan bagaimana mereka menanggapinya.
" Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang??" tanya Ethan yang langsung menanggapinya setelah Arkan mengalihkan percakapan ini.
" Iya, ayo lakukan..." dan Oscar setuju dengan hal itu, bukan pusing dengan masalah ramalan itu. Dia justru lebih pusing dengan tingkah teman nya.
Ethan juga mengerti maksudnya. Ia pun kemudian mengeluarkan sesuatu ditangan nya, sebuah kristal berbentuk kerucut. Kristal itu bersinar disana, dan mereka pun langsung menghilang dalam udara kosong. Bahkan tanpa bekas sedikit pun.